Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Cinta buta


__ADS_3

"Mbak, aku sudah membeli baju yang mbak inginkan kemarin di mall itu, sesuai dengan permintaan mbak Kamila, warna merah, ukuran M," Yoga memberikan sebuah paper bag berlogo merek baju terkenal dan mahal ke hadapan Kamila yang matanya langsung berbinar saat melihat apa yang di bawa Yoga siang ini.


Kemarin saat mereka berjalan-jalan ke mall, dan berbelanja kebutuhan Kamila, wanita itu marah besar karena yoga tak menuruti permintaannya untuk membelikan nya dress cantik yang harganya selangit itu, Yoga beralasan kalau uangnya tidak cukup untuk membelinya karena dia sudah membelikan kebutuhan Kamila sangat banyak hari itu.


Namun dengan ide Kamila agar Yoga menyelundupkan beberapa barang di gudang dan menjualnya, akhirnya Yoga bisa membelikan dress itu untuk Kamila dari hasil uang haram itu.


Entah bagaimana ceritanya Yoga bisa menjadi se penurut itu pada setiap ucapan Kamila, dengan senjata bayi yang di kandungnya, Kamila bila membuat Yoga bagai kerbau yang di cocok hidungnya.


"Terima kasih Yoga, aku senang kamu menuruti semua permintaan ku, aku bahagia sekali." ucapnya seraya mengecup sekilas pipi Yoga.


Pria muda itu hanya mengangguk dengan senyum samarnya, "Apapun, untuk ibu dari anak ku aku akan mengusahakannya." Ujarnya menatap dalam Kamila yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya itu.


"Tapi aman, kan? Gak ada yang tau tentang penyelundupan barang itu, kan?" tanya Kamila khawatir.


Bukan apa-apa, sebetulnya bukan Yoga juga yang dia khawatirkan, namun jika sampai pria itu ketahuan atau bahkan sampai tertangkap, maka dia akan kehilangan sumber uang cuma-cumanya, meskipun tak banyak, tapi lumayan lah kalau hanya unttuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan membeli barang-barang mewah yang dia inginkan sesekali, karena dia juga bisa mengukur seberapa kemampuan pria muda itu, selain tenaga dan tekadnya yang kuat, tak ada hal lain yang bisa di perasnya dari Yoga, hanya saja dia bisa dengan gampang di peralat untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.


"Mbak, kapan jadwal periksa kehamilan, aku ingin ikut dan melihat perkembangannya." Tanya Yoga seraya mengelus perut rata Kamila.


"Ah itu, masih beberapa hari lagi, tapi biaya periksa kehamilan di rumah sakit kan lumayan mahal, belum lagi vitamin dan lain-lainnya aku tak mau jika hanya yang murahan, jadi daripada sibuk memikirkan kapan jadwal periksa, lebih baik kau fokus untuk mendapatkan uang yang banyak guna membayar tagihan rumah sakit nanti, belum lagi untuk biaya lahiran, aku mau kau siapkan dari sekarang, jangan nanti pada saatnya baru kalang kabut mencari uang." Oceh Kamila seraya berlenggak lenggok di depan cermin, memperhatikan dirinya sendiri yang kini sedang mencoba baju yang baru saja di belikan Yoga untuknya.

__ADS_1


"Hemh, baik mbak, aku akan berusaha lebih giat lagi dan menabung mulai dari sekarang." Jawab Yoga.


"Apa kata mu, menabung? Sampai tahun berapa kau akan mengumpulkan uang segitu banyaknya kalau hanya mengandalkan uang gaji mu yang tidak seberapa dengan jabatan yang ecek-ecek itu, yang perlu kau lakukan itu, kau harus lebih giat lagi menyelundupkan barang dari gudang, sebanyak mungkin, sesering mungkin, baru bisa untuk membiayai anak mu nanti, apa kamu mau anak mu nanti di tahan di rumah sakit karena ayahnya tak dapat membayar biaya persalinan?" hardik Kamila dengan mata yang membelalak.


"Aku jamin itu tak akan terjadi kak, aku akan melakukan semua yang mbak perintahkan, demi anak kita." Lagi-lagi Yoga hanya bisa pasrah dan mengiyakan semua yang di katakan Kamila padanya.


"Bagus, karena jika kira-kira kau tak mampu, lebih baik pergi menjauh dari ku dari sekarang-sekarang, jangan memberi harapan palsu pada ku."


**


Beberapa minggu kemudian,


"Kak,,, kak Yoga tunggu, aku perlu bicara!" panggil Dara, dia tak peduli Bagas melemparkan tatapan tak setujunya saat Dara mengatakan ingin berbicara dengan kakaknya, rasanya hatinya sudah sangat jengkel dan tak bisa menahan lagi untuk tidak membahas masalah kelakuan kakak laki-lakinya yang semakin hari semakin menjadi.


Dara juga merasa kesal dan geram dengan suaminya yang seolah terus saja melakukan pembiaran saat Yoga melakukan kesalahan yang menjurus ke tindak kriminal, dia tau Bagas berdiam diri karena melihat dirinya, dia yakin kalau yang melakukan pencurian itu bukan kakaknya pasti Bagas akan langsung bertindak sangat tegas.


Setiap kali Dara membahas tentang hal itu dengan suaminya, Bagas selalu beralasan kalau dirinya punya cara sendiri, dan selalu mengatakan kalau belum saatnya menegur Yoga.


'Cih belum saatnya terus, mau sampai kapan? Sampai kakak laki-lakinya benar-benar gelap mata dan menjadi kriminal besar?' Batin Dara,

__ADS_1


Untuk hal ini dia tidak sepemikiran dengan Bagas, karena baginya, saat ada orang salah dia harus segera di tegur agar segera memperbaiki kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar, jangan sampai berlarut-larut.


Namun menurut Bagas, menyadarkan Yoga yang kini dalam posisi cinta buta pada Kamila itu harus dengan persiapan yang matang, selain bukti yang mungkin akan mematahkan argumen Yoga dalam beralasan, karena orang yang sedang dalam jatuh cinta seperti Yoga ini akan merasa dirinya di musuhi jika ada yang memberi nasehat tanpa bukti yang kuat. Bagas juga ingin semua hal jelas dulu dari berbagai sisi permasalahan, sehingga sekali bertindak semua beres seakar-akarnya sehingga tak menyisakan masalah yang lain.


Ya begitulah drama rumah tangga, meski terlihat akur dan saling mencintai satu sama lainnya, tetap saja akan ada beberapa gesekan kecil dan perbedaan pendapat, dan itu sangat wajar terjadi.


"Ada apa dek? Kakak terburu-buru, ini." Jawab Yoga menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah adik perempuannya.


"Buru-buru kemana? Ini masih pukul setengah tujuh pagi, kantor saja belum buka, apa terburu-buru menemui Kamila?" ujar Dara sedikit bernada sinis.


"Apa maksud mu dek?" Yoga terlihat emosi saat Dara menyebut nama Kamila.


"Kak Yoga mau menemui Kamila, kan? Kak yoga selama ini diam-diam berhubungan dengan Kamila, kan? Kak,, Kamila itu bukan wanita yang baik, aku yakin kakak hanya di mafaatkan saja oleh dia," sambung Dara.


"Dek, jangan mentang-mentang kamu sekarang menjadi nyonya besar dan merasa memberi ku tumpangan untuk tinggal, lalu suami mu memberi ku pekerjaan , lantas kamu bisa seenaknya ikut campur dalam masalah pribadi ku, kamu tau apa tentang Kamila? Wanita yang kalian usir seperti sampah dan layaknya binatang itu sedang mengandung anak ku, keponakan mu, apa aku tega membiarkan semua itu?"


Benar apa yang di katakan Bagas, cinta benar benar membuat Yoga buta dan dia balik menyerang, bahkan saat di ajak bicara baik-baik.


"Aku akan keluar dari rumah ini, aku tak punya privasi hanya karena aku menumpang di rumah mewah mu ini, terimakasih atas semua kebaikan mu dek!" ketus Yoga yang langsung berlalu pergi meninggalkan Dara yang urung mengucapkan apapun karena Yoga dengajn cepatnya menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2