Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Permintaan


__ADS_3

Pertemuan yang memang sudah di sepakati oleh Bagas dan Faisal itu akhirnya terlaksana juga, mereka berdua kini sudah berasa di salah satu rumah makan tempat biasa mereka bertemu kalau sedang ingin saling bercerita tentang apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka.


Mereka duduk saling berhadapan, namun tak satu pun di antara mereka berdua yang memulai pembicaraan, atmosfeer di sana menjadi terasa sangat dingin dan keduanya tampak kikuk, atau mungkin lebih tepatnya bingung harus memulai pembicaraan mereka dari mana.


Merasa tak betah dengan ke kakuan di antara mereka, akhirnya Faisal memulai pembicaraan dengan sepupunya itu.


"Ada apa kau memanggil ku secara mendadak seperti ini?" Faisal berusaha menguasai dan mengendalikan emosinya agar tetap tenang, meski dalam hatinya jujur saja dia merasa tak karuan, mungkin karena perasaan bersalah pada sepupunya itu karena telah menyembunyikan istri dan anaknya selama berbulan bulan lamanya.


"Kenapa, apa aku sudah tak boleh lagi mengobrol dengan sepupu ku, satu-satunya ini?" Bagas tersenyum miring namun terasa dingin dan hambar, tak seperti biasanya.


Tentu saja Faisal pun merasakan perubahan sikap Bagas itu, terakhir kali bertemu dengannya saat di rumah sakit, Bagas masih bersikap biasa padanya, layaknya adik kakak pada umumnya, meeka juga sering beradu argumen, beda pendapat, bertengkar bahkan saat remaja dulu sering berkelahi satu sama lain, namun beberapa saat akur kembali, tapi saat ini aura yang di tunjukkan oleh Bagas benar-benar berbeda.


"Emh, ya tidak begitu juga, hanya saja--" sungguh Faisal bingung merangkai kata untuk di sampaikan pada sepupunya itu, dia sangat sadar kalau saat ini dia berada di posisi yang salah, bagaimana pun Bagas adalah suami sah dan ayah kandung dari bayi yang di kandung Dara, meskipun dia menerima cerita tentang perlakuan buruk Bagas dari pihak Dara, namun bukankah seharusnya dia tak terlalu jauh masuk dalam ranah rumah tangga sepupunya itu? Apalagi sampai menyembunyikannya selama itu.


Namun, apa yang harus di sesali, semua telah terjadi, dan satu-satunya jalan yang harus dia lakukan adalah dengan menghadapi dan mempertanggung jawabkan keputusannya untuk menyelamatkan Dara beberapa bulan yang lalu.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Bagas lagi, terdengar datar dan santai, namun terasa bagai gemuruh di telinga Faisal.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" elak Faisal.


"Aku yakin kau sangat tau maksud ku, apa aku pernah berbuat salah pada mu? Apa aku pernah menyakiti mu sebagai seorang adik? Aku minta maaf jika memang jawabannya iya." kata-kata yang meluncur dari bibir Bagas mulai sarat degan emosi dan penekanan, matanya terus saja memperhatikan gerak gerik Faisal yang meminum minumannya berulang-ulang, tanda kalau saat ini lawan bicaranya sedang dalam keadaan tidak nyaman atau mungkin saja merasa terintimidasi dengan pertanyaan Bagas.


"Aku tak mengerti kemana arah pembicaraan mu," kelit Faisal.


"Kau tentu sangat tau aku, selama ini aku tak pernah berbohong pada mu, kecuali mengenai pernikahan ku, karena aku yakin kau pasti akan menentangnya, dan aku hanya belum siap memberitahu mu, Cal,,, apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Bagas sekali lagi.


Namun Faisal tetap mengunci rapat mulutnya, tak sepatah kata pun dia ucapkan.


"Baiklah, mungkin sama halnya dengan ku saat itu, kau hanya belum siap membicarakannya dengan ku," kembali hening beberapa detik karena sepertinya Bagas juga berulang kali menghela nafas berat dan panjangnya sebelum melanjutkan pembicaraannya, sementara Faisal masih betah untuk berdiam diri.


Faisal mengangguk meski agak ragu, dia tak bisa membayangkan jika Bagas ternyata sampai meminta dirinya untuk mengembalikan Dara padanya, apa yang harus dia katakan? Di satu sisi dia tak mempunyai hak apa-apa atas diri Dara dan bayinya, namun di sisi lain, dia juga belum siap berpisah dengan Dara yang mulai menyemaikan benih cinta dalam hatinya, meski dia tau itu salah, apalagi sisi egoisnya juga tiba-tiba saja mencuat kuat saat dirinya merasa memiliki bayi itu karena dia ikut hadir dalam tumbuh kembang janin itu selama hampir 8 bulan, tapi lagi-lagi posisinya dalam hal ini tetap saja kalah dan salah sehingga mau tidak mau dia harus siap dengan permintaan apa yang akan di katakan Bagas padanya.


"Aku tak tau apa yang menjadi alasan mu menyenyembunyikan istri ku selama ini, aku juga tak tau, sebagai apa hubungan kalian selama ini, yang jelas aku tak ingin menebak-nebak dan mencari tau, karena aku takut jawabannya akan sangat menyakitkan dan membuat ku kecewa pada salah satu di antara kalian, atau bahkan keduanya.Aku memang selalu mencari keberadaannya selama ini, namun aku juga tak akan memaksakan dia untuk kembali kepada ku, jika dia tak mau. Aku sadar aku telah memberi banyak luka dan kecewa padanya, jika memang dia lebih nyaman dan lebih bahagia dengan mu, tolong jagakan istri dan anak ku, dan sampaikan permintaan maafku untuk mereka, katakan pada mereka aku---Bagas menjeda ucapannya yang kini terdengar bergetar-- Maafkan jika aku baru menyadari kalau mencintai mereka berdua." Urai Bagas dengan susah payah, dadanya terasa sesak, dan tenggorokannya mendadak sakit dengan mata yang mulai terasa panas dan berkaca-kaca.


Sungguh ungkapan panjang lebar perasaan Bagas membuat hati Faisal semakin di landa gelisah dan merasa bersalah, tak pernah di seumur hidupnya dia menyaksikan Bagas berbicara sedalam dan seserius itu, sampai Faisal bisa merasakan betapa besar dan betapa dalam perasaan Bagas untuk Dara.

__ADS_1


Namun tentu saja itu menjadi dilema tersendiri, sungguh dia lebih mengharapkan sosok Bagas yang arogan dan akan marah besar padanya atau bahkan menghajarnya sekalian karena masalah ini, karena hal itu akan menjadi alasan kuat bagi dirinya mempertahankan Dara berada di sisinya, namun ternyata semua di luar prediksi, sikap yang di tunjukkan Bagas saat ini justru malah membuatnya menjadi merasa sangat bersalah dan berdosa karena ternyata telah membuat Bagas menderita sebegitu besarnya atas hilangnya Dara.


"Akan aku coba sampaikan," lirih Faisal pada akhirnya.


"Terimakasih, apa istri dan anak ku bahagia?" tanya Bagas.


"Setahu ku, Dara bahagia, dan untuk jagoan mu, aku rasa dia juga bahagia karena aku tak pernah melihat mimik wajahnya, dia masi di dalam perut istri mu!" kata Faisal mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang masih terdengar garing.


"Jagoan? Dia--?"


"Ya, dari hasil USG sepertinya anak mu laki-laki."


Bagas tersenyum kecut.


"Cal, aku akan menjadi seorang ayah, namun iroisnya mungkin anak laki-laki ku itu tak akan pernah tau kalau aku adalah ayahnya," cicit bagas , tanpa terasa air mata itu tiba-tiba menetes begitu saja dari matanya.


Sontak saja itu membuat batin Faisal semakin teriris, "Fix, aku sudah membuat hati adik ku terluka, dia tak pernah menangisi seseorang, bahkan itu Kamila sekali pun" gumamnya dalam batin.

__ADS_1


Berbicara mengenai Kamila, sepertinya baik Bagas maupun Faisal tak ada yang menyadari kalau sejak tadi Kamila mendengarkan obrolan mereka, instingnya yang mengatakan untuk mengikuti kemana Bagas pergi malam ini ternyata mendapatkan informasi yang sangat besar dan cukup membuatnya tercengang sekaligus wasa-was.


"Ah sial, berengsek, wanita itu masih hidup rupaanya, dan what???! Dia juga sedang mengandung anak Bagas? Ini tak bisa di biarkan, aku harus segera bertindak!" kesal Kamila dari pojokan tempatnya bersembunyi dari Bagas dan Faisal.


__ADS_2