
Ancaman yang di lontarkan Dara sepertinya cukup sukses membuat nyali Kamila ciut, dia sudah tak bisa memakai cara intimidasi atau kekerasan lagi pada Dara, karena wanita itu kini sudah tak sepolos dan selemah dulu.
Bahkan kini berbalik dirinyalah yang berada di bawah ancaman Dara, sungguh tak main-main akibatnya jika sampai Dara benar-benar membocorkan masalah itu pada Bagas, karena bukan hanya kehilangan suami dan kemewahan yang kini di dapatnya, namun dia juga terancam akan kehilangan kebebasannya, karena dapat di pastikan kalau Bagas tak akan terima dengan perbuatan jahatnya itu, jelas dia tak akan segan untuk melaporkannya pada pihak yang berwenang.
"A-pa yang kau bicarakan? Jangan asal menuduh, aku tak mengerti arah pembicaraan mu!" sangkal Kamila mengelak, meski sikap dan bahasa tubuhnya terlihat agak gugup sehingga mempertegas kalau tuduhan Dara padanya itu benar adanya.
"Kau boleh menyangkal semua perbuatan ku dari ku dan dari semua orang di muka bumi ini, namun kau tak bisa menyangkal dari karma Tuhan!" bisik Dara tepat di telinga Kamila sambil berlalu meninggalkan Kamila yang wajahnya seketika memucat itu.
"Sialan, kau akan menyesal karena telah berurusan dengan ku, wanita kampung!" geram Kamila kesal.
"Ada apa mbak?" tanya Yoga yang baru saja datang ke sana berniat ingin menemui Anwar dan adiknya.
"Tak usah ikut campur urusan ku, urus saja adik perempuan mu yang tak tau diri itu, dasar pelakor!" bentak Kamila menumpahkan kekesalan dan kemarahannya pada Yoga yang baru saja datang dan tak tahu apa yang terjadi di sana.
Yoga hanya bisa mengangkat bahunya cuek ketika Kamila melengos dan pergi begitu saja, setelah memaki dirinya yang tak punya salah apa-apa padanya selain hanya bertanya tentang apa yang terjadi saja.
"Hem dasar wanita aneh, kemarin baik, sekarang jutek lagi, tapi menarik juga," gumam Yoga dengan seringai liciknya.
Terbiasa di temani Bagas saat malam hari, membuat Dara tak bisa terpejam bahkan sampai lewat tengah malam, Yoga dan Anwar berjaga di sekitar paviliun atas perintah Bagas sebelum berangkat tadi pagi, mungkin lebih tepatnya hanya Anwar yang berjaga, karena Yoga tertidur pulas di sofa tempat biasa Bagas tidur.
__ADS_1
Namun tiba-tiba terdengar suara ledakan di atap dan samping kamar yang kini Dara tempati persis, membuat Dara yang memang belum terttidur itu langsung bangun dari ranjangnya karena kerasanya suara ledakan itu.
Tak berapa lama asap mulai masuk ke kamar melalui celah-celah jendela dan ventilasi kamar, membuat Dara yang berjalan tertatih menuju pintu untuk keluar itu terbatuk-batuk karena sesak.
"Nyonya,,,Nyonya,,,dek,,,!" suara teriakan Anwar dan Yoga saling bersahutan dari luar kamar yang terkunci.
Tak berapa lama para pekerja lain yang tadinya segan untuk datang ke sana karena larangan dari Bagas akhirnya mau tak mau berhamburan dan berlarian menuju paviliun saat api terlihat mulai membesar dan melahap sebagian bagunan paviliun itu.
Setelah banyak orang membantu, akhirnya pintu kamar Dara bisa di buka secara paksa dengan cara mendobraknya, sayangnya Dara sudah di temukan tergeletak di lantai tak sadarkan diri, sehingga Yoga dan Anwar di bantu beberapa orang lainnya langsung membopong tubuh Dara keluar dari sana, Anwar yang sejak tadi gagal menghubungi ponsel Bagas menjadi kebingungan, namun melihat kondisi Dara yang sepertinya semakin melemah, membuat Anwar memutuskan untuk membawa Dara ke rumah sakit meski belum ada pesetujuan dari tuannya, sementara untuk urusan di rumah dia serahkan pada Yoga, karena Anwar juga tak bisa meminta bantuan Panji, karena asisten tuannya itu juga sedang tugas di luar kota.
Sungguh kejadian tak terduga ini seperti sengaja di lakukan saat penjagaan lemah dimana hanya ada Anwar yang berjaga, dan begitu bertepatan dengan Bagas dan Panji yang sedang berada di luar kota, Anwar merasa kalau ini bukan hal yang kebetulan.
Dara langsung di bawa ke ruang UGD di antar Anwar sampai muka pintu, dia tak di perbolehkan untuk masuk, sehingga pria itu hanya terus saja mondar-mandir sambil menghubungi Bagas lagi dan lagi, berharap tuannya mengangkat panggilannya dan segera pulang.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, sekitar tiga puluh menit kemudian Bagas terlihat berlari menghampiri Anwar, tanpa ba bi bu lagi satu bogeman mentah mendarat di rahang kiri Anwar sehingga dia langsung terhuyung, tak ada protes sedikitpun dari Anwar, dia sadar dengan kelalaiannya, dan pukulan semacam ini sudah biasa dia terima dari Bagas saat dia melakukan kesalahan ataupun jika bosnya itu sedang merasa kesal.
"Tuan, maafkan sa---"
"Diam, dan jangan membuat ku semakin marah dengan ocehan mu, kau pulang dan cari tau apa yang terjadi, sampai semuanya jelas, jangan muncul di hadapan ku jika belum ada kejelasan tentang kejadian ini, kecuali kau ingin masuk ruang itu juga!" marah Bagas sambil menunjuk pintu ruang UGD yang tertutup.
__ADS_1
Bagas langsung mendekatkan wajahnya ke arah jendela kaca kecil di pintu UGD, melihat apa yang sedang para dokter lakukan pada istrinya saat ini.
Pantas saja sejak dari tadi sore perasaannya terus saja tak enak, dan teringat pada Dara terus, tadinya dia pikir dia hanya merindukan istri dan anaknya itu, laporan dari Anwar setiap jam dengan menyertakan foto kegiatan apa saja yang di lakukan Dara juga padahal tak ada yang aneh dan tak ada yang menghawatirkan, menurut laporan semua aman terkendali, namun hatinya terus saja gusar, sehingga selepas jamuan makan malam dengan kliennya dia memutuskan untuk terbang kembali ke ibukota.
Namun saat dia sampai di rumah keadaan sudah kacau balau, bahkan dia tak dapat menemukan Dara di rumahnya yang ternyata sudah di bawa Anwar ke rumah sakit, dan sialnya posnel miliknya juga ternyata mati kehabisan daya.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang dokter keluar mencari keluarga pasien.
"Saya suaminya dok," jawab Bagas dengan wajah harap-harap cemas, sungguh dia tak akan sanggup jika harus menerima kabar buruk dari dokter itu.
"Keadaan istri anda kritis karena menghirup banyak asap, dan itu juga akan berpengaruh dengan bayinya, sehingga kami tim dokter memutuskan untuk mengeluarkan dan menyelamatkan bayi anda, namun kami perlu tanda tangan persetujuan dari anda selaku suaminya, bagaimana?" terang dokter itu panjang lebar, namun jelas dan sangat mudah di pahami oleh Bagas yang meski saat itu sedang kalut sekalipun.
"A-apa istri dan anak saya bisa di selamatkan? Apa mereka berdua akan baik-baik saja setelah operasi?" Bagas tak dapat lagi menyembunyikan ke gugupannya.
"Tentu kami akan berusaha semaksimal mungkin, hanya saja untuk urusan hasil akhir, bukankah itu urusan Tuhan, jadi sebaiknya anda banyak berdoa, karena sama halnya dengan anda, kami juga sangat berharap ibu dan bayinya bisa selamat." jawab dokter itu, yang sepertinya terdengar seperti ketidak pastian di telinga Bagas, karena ternyata dengan operasi pun sepertinya dokter tak bisa memberi jaminan keselamatan anak dan istrinya.
Namun meski begitu Bagas tetap menanda tangani persetujuan untuk operasi penyelamatan istri dan anaknya itu, sekecil apapun itu, harapan akan selalu ada pada orang yang yakin dan mau berjuang sambil diiringi berdoa.
Biarlah para dokter berjuang di dalam ruang operasi dan dirinya berjuang lewat doa, karena saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan, bahkan untuk menangis pun Bagas sudah tak mampu, hatinya kini seakan hancur, baru saja dia menjalani hidup bahagia bersama Dara, namun Tuhan harus memberinya kejutan lain.
__ADS_1
Berkali-kali juga Bagas menyalahkan dirinya sendiri yang meninggalkan Dara untuk dinas ke luar kota, semua marah dan penyesalan itu kini memenuhi isi kepalanya, berjejalan dengan jutaan harap agar istri dan anaknya dapat terselamatkan.