
Waktu dua minggu seperti sebuah bom waktu bagi hubungan pernikahan Bagas dan Dara, baik Bagas maupun Dara sama-sama berdebar dan tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi dua minggu kemudian bertepatan dengan habisnya masa kebersamaan mereka menurut perjanjian yang telah mereka sepakati bersama, meski jauh di dalam lubuk hati mereka masing-masing, tak satu pun di antara mereka yang pernah menginginkan perpisahan itu terjadi, apalagi ada seorang anak yang masih sangat kecil dan sangat membutuhkan sosok keduanya baik itu ibu maupun ayahnya.
"Mila, ayo cepatlah, kita harus bergegas, dokter Rita sudah menunggu kita!" seru Bagas.
"Dokter Rita? Tapi jadwal check up ku masih satu minggu lagi!" ujar Kamila kebingungan karena menurut jadwal, minggu depan dia baru akan periksa kehamilannya lagi.
"Semalam Dokter Rita menghubungi ku, katanya untuk beberapa hari ke depan dia akan tugas ke luar negeri, jadi jadwal periksa di ajukan," terang Bagas.
"Kamu sering telponan sama dokter kandungan ku itu? Untuk apa, naksir?" heran Kamila, setengah menuduh.
"Ishh, tentu saja untuk berkonsultasi tentang seputar kehamilan mu, ngawur kamu, ayo cepat!" ajak Bagas lagi tak sabaran, dia bahkan sengaja tak berangkat ke kantor hari itu demi untuk mengantar Kamila periksa ke rumah sakit.
"Bagas, kapan kamu tidur di kamar ku lagi, setiap malam kamu tidur di kamar Dara, aku juga mau tidur di temani kamu," rajuk Kamila sambil menyandarkan kepalanya ke lengan Bagas yang asik mengemudikan kendaraannya dan serius melihat jalanan.
"Tapi kan aku juga menemani mu sampai tertidur setiap malam, kasihan Dara kalau harus begadang malam saat Kai menangis malam-malam, seharian dia lelah mengurusi Kai sedirian," ujar Bagas santai.
"Terus kamu gak kasian sama aku? Lagian salah sendiri sok-sokan mau urus anak sendiri gak pake pengasuh, ujung-ujungnya malem kamu yang di repotin!"
"Tapi kan waktu ku sama kamu lebih banyak setiap harinya, mereka hanya dapat sisa waktu ku setelah bersama mu seharian penuh kalau aku tidak ke kantor, kadang kalau sedang di kantor pun aku langsung pulang kalau kamu sedang ingin aku temani,"
Kamila terdiam, karena apa yang di katakan Bagas hampir semuanya benar, mungkin ini hanya karena rasa serakahnya saja yang tak ingin berbagi Bagas dekat dekat dengan anak dan istrinya, dan berharap dirinya menjadi satu-satunya wanita pengisi hari-hari Bagas seperti dulu.
"Baiklah, aku akan mengerti, tapi aku ingin kita rujuk lagi, sekarang ini status ku gak jelas, bukan istri mu tapi hamil anak mu,"
"Iya!" jawab Bagas singkat.
"Nikah resmi, gak siri, aku gak mau anak ku kelak sulit mengurus surat surat untuk akte dan lain-lain," sambung Kamila lagi semakin ngelunjak.
__ADS_1
"Iya, aku akan melakukan yang terbaik untuk anak ku, itu pasti, ap[apun aku lakukan demi anak ku!" jawab Bagas dengan mata nanar menerawang entah memikirkan apa atau siapa.
"Kapan?" desak Kamila.
"Secepatnya, pasti secepatnya, sabar!"
Suasana hati Kamila kini sangat bahagia dan berbunga-bunga, langkahnya saat melewati lorong rumah sakit pu terasa sangat ringan, tangannya tal lepas menggandeng tangan Bagas yang terus menemani serangkaian pemeriksaan yang lumayan melelahkan.
"Syukurlah, bayi kita sehat, kamu dengar, kan tadi detak jantungnya kencang sekali, tapi tangan ku masih sakit bekas di ambil darah tadi, lagian pake ada acara periksa darah segala, udah tau aku takut jarum suntik," oceh Kamila sepanjang jalan menuju pulang ke rumah setelah selesai pemeriksaan di rumah sakit.
"Dokter lebih tau, kita hanya perlu mengikuti apa yang di anjurkan saja, demi kebaikan mu dan janin di perut mu," ucap Bagas santai meski terlihat sangt lelah, semalaman dia tak tidur karena putranya rewel, dan dia menyuruh Dara untuk istirahat saja karna istrinya terlihat sangat kelelahan dan ngantuk.
"Aku mau belanja dulu sebelum pulang, aku ingin membeli baju-baju baru karena badan ku sudah mulai melebar," dalihnya, padahal badannya masih terlihat sama saja perutnya juga belum terlalu kelihatan membuncit, toh kehamilanya masih baru mau berjalan dua bulan.
"Ya," angguk Bagas yang seakan tak punya jawaban lain untuk semua permintaan Kamila selain iya, oke, baik.
"Apa kalian hidup di zaman batu, tidak tau ada barang yang namanya ponsel untuk mengabari ku hal-hal sepenting ini, huh?" kesal Bagas yang langsung berlari ke kamar atas untuk melihat keadaan Dara.
Sebetulnya dia masih ingin menumpahkan kemarahan dan kekesalan pada dua asistennya itu, hanya saja memikirkan keadaan Dara yang kata Anwar sedang sakit membuatnya ingin segera bergegas melihat keadaan istrinya itu.
"Dara, sayang, apa yang---badan mu panas sekali!" Pertanyaan Bagas di awal kedatangannya di kamar itu terhenti beguitu saja saat dia menempelkan punggung tangannya di kening Dara yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah pucat.
"Aku tidak apa-apa, hanya pusing, mungkin masuk angin," Dara menutupi wajahnya dengan bantal agar tak melihat wajah panik Bagas yang saat ini sedang menghawatirkan keadaannya.
"Badan mu panas, kamu demam, aku panggilan dokter ya, atau mau ke rumah sakit?" tanya Bagas menggeser bantal yang sengaja di tutupkan Dara ke wajahnya.
Namun dara hanya menggeleng, "Aku sudah minum obat, bentar lagi juga sembuh." tolaknya.
__ADS_1
"Tapi--"
"Tidak ada tapi, kalau berniat ingin membantu ku, lebih baik kamu pegang Kai saja, karena aku tak punya tenaga untuk mengurusnya hari ini,"
Bagas melirik Kaisar yang sedang tertidur di boksnya dan di tunggui oleh seorang asisten rumah tangga di sebelahnya,
"Kamu boleh pergi dan melanjutkan pekerjaan mu yang lain," titah Bagas menyuruh asisten wanita itu pergi.
"Istirahatlah, aku akan berada di sini dan menjaga kalian," lirih Bagas seraya tangannya meraih betis Dara dan memberinya pijatan pelan agar istrinya itu merasa rileks.
Namun beberapa saat kemudian Bagas menghentikan kegiatan nya memijat kaki sang istri saat samar-samar dia mendengar isak tangis sang istri dari balik bantal yang menutupi wajahnya.
"Kenapa, apa pijatan ku membuat mu bertambah sakit?" tanya Bagas yang saat menyingkirkan bantal dari wajah istrinya, mata Dara sudah terlihat sembab, bahkan bantal itu pun sudah basah karena air matanya.
Dara hanya menggeleng pelan.
"Apanya yang sakit? Sebelah mana?"
Namun Dara malah menepuk dadanya sendiri, tanpa sepatah kata pun.
"Dadanya sakit?" tanya Bagas lagi.
"Hem, dada ku sakit karena aku bingung dengan sikap mu, apa kamu sadar kalau kamu sedang mencintai, menyanyangi dan menyakiti ku secara bersamaan? Gak konsisten, seharusnya kalau mau menyakiti ya sakiti aja kaya dulu di awal-awal pernikahan kita, jadi aku juga tak merasa berat saat nanti berpisah dengan mu, apa kamu sengaja berbuat baik seperrti ini agar aku terlena dan merasa ketergantungan pada mu? Tolong jangan siksa aku dengan cara se manis ini!"
Air mata Dara kembali menganak sungai melewati sudut matanya di sisi kanan dan kirinya berjatuhan ke atas kasur.
"Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mu tanpa luka, sungguh aku tak tau cara lain selain cara yang ku tempuh ini, dan aku yakin kamu tau kalau aku sama terlukanya seperti mu saat ini, tolong beri aku waktu untuk memperjuangkan kita, demi Tuhan tak ada niat ku untuk menyakiti mu sedikt pun, namun jika dalam perjalanannya ternyata kamu harus ikut terluka, sungguh aku minta maaf, meski mungkin kesalahan ku sulit untuk di maafkan, tapi aku menyayangi mu, sungguh, itu tak perlu kamu ragukan, aku berani bersumpah atas nama apa pun." Urai Bagas dengan tangannya yang sibuk menyeka air mata di pipi Dara yang seperti tak bisa berhenti menetes.
__ADS_1
"Entahlah, aku bingung, aku tak tau sikap mana yang sebenarnya ingin kamu tunjukan pada ku, kamu seperti menjadi dua orang yang berbeda dalam satu waktu bersamaan, kadang tak peduli pada ku, mengabaikan ku demi mantan istri mu, kadang juga kamu begitu baik, manis dan menyanyangiku seperti sekarang ini, tolong cukup mas jangan buat aku bingung lagi, tolong kasihanilah aku, aku tak sanggup.!" ucap dara sesenggukan.