Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Overthinking


__ADS_3

Dara menaruh ponselnya di atas meja kecil di dekat ranjang berukuran king size nya, dia baru saja selesai menerima telepon dari Bagas, pria itu mengabari sekaligus meminta izin padanya untuk tinggal sedikit lebih lama di rumah sakit karena Kamila terus merajuk meminta di temani olehnya, suaminya itu berjanji akan pulang ke rumah secepatnya sebelum dia mengakhiri pembicaraan mereka dan menutup teleponnya.


Sebelumnya, pamit Bagas itu terasa biasa-biasa saja, Dara merasa harus mengerti dan memberi mereka waktu, apalagi Kamila memang sedang membutuhkan Bagas di masa-masa seperti itu, sungguh dia sangat tahu dan mengerti bagaimana rasanya menjadi wanita hamil yang sangat butuh dukungan pasangan.


Namun saat hari sudah semakin malam tapi Bagas belum juga pulang, meskipun Dara yang berusaha untuk tetap tenang sedari tadi dan menyembunyikan rasa gelisah karena sebenarnya sangat menanti kepulangan Bagas, mulai merasa gusar, terbersit dalam benaknya kalau saat ini Bagas sedang memperlakukan Kamila dengan manis dan penuh perhatian sebagaimana sikap Bagas yang di tunjukkan padanya saat dirinya sedang di rawat di rumah sakit saat itu, Dara bahkan berpikir kalau cinta lama Bagas terhadap Kamila kini sedang bersemi kembali, karena bagaimana pun cinta asli Bagas adalah Kamila, dirinya merasa dirinya hanyalah tiruan wajah asli Kamila yang sebelumnya sudah terpatri di hati suaminya itu.


"Apa aku cemburu?" Gumam Dara bertanya pada dirinya sendiri, "Ah, tidak---tidak, mana boleh aku cemburu, aku yang datang merusak hubungan mereka, aku tak boleh egois," Dara menepis pikirannya sendiri.


"Sayang, Kai menangis, kenapa hanya di tonton saja?" tegur Bagas yang tiba-tiba sudah berada di ruangan itu, dia merasa aneh dengan sikap Dara yang membiarkan bayi mereka yang menangis sementara Dara hanya terbengong dengan tatapan kosong.


"Dara, apa kamu baik-baik saja?" sambung Bagas meraba kening istrinya, namun tak terasa demam.


"A-aku baik baik saja, mas. Kapan kamu pulang?" gugup Dara seraya langsung menggendog bayinya untuk memberinya susu.


"Aku pulang dari satu jam yang lalu, hanya saja aku mandi dan bersih-bersih dulu di bawah, aku tak mau masuk ke sini dengan membawa kuman penyakit dari rumah sakit," jawab Bagas sambil mendekati dan memandangi putranya yag sedang menyusu, agak di pertanyakan sih, sebenarnya melihat putranya yang sedang menyusu atau memperhatikan pabrik ASI yang sedang di sadap putranya dan begitu menggodanya.


Baby Kai seperti sedang meledek ayahnya yang tak lagi bisa menikmati apa yang kini sedang di nikmatinya.


"Mas!" Panggil Dara, kini gantian Bagas yang gugup karena sedang melamunkan hal yang seharusnya tak di lamunkannya.

__ADS_1


"Ya, aku sedang melihat bayi kita, seharian tak bertemu dengannya rasanya aku kangen berat," ujar Bagas yang kini menemukan alasan yang pas kenapa dirinya memandang ke arah sana tanpa berkedip.


"Hanya bayi kita?" kat-kata itu tiba-tiba keluar dari bibir Dara, meskipun setelahnya dia merasa menyesal dan meruntuki dirinya sendiri karena merasa sangat murahan dan genit sekali mengatakan kalimat tanya seperti itu.


"Ibunya Kaisar juga, kangen banget malah, pengen aku peluk tapi takut di tolak," ujar Bagas yang merasa sikap dara agak lain dari biasanya, jika biasanya istrinya itu terkesan datar bahkan kadang dingin, kali ini dia sudah bisa memancing dirinya untuk lebih berani mengungkapkan keinginannya.


Pipi Dara yang putih itu seketika merona, wanita itu merasakanhawa panas di sekitar wajahnya hanya karena gombalan sederhana dan receh Bagas, 'fix sepertinya aku mulai kena pelet Bagas' gumam Dara lagi meski hanya dia ucapkan dalam hatinya.


"Kenapa belum tidur, hem? Apa nungguin aku pulang?" Tanya Bagas seraya mendudukan diri di sofa tempat kini Dara duduk dan mengasihi putranya.


"Emh, tidak,, aku sudah tidur dari tadi, hanya saja kebangun karena tangisan Kai," kilah Dara berbohong, padahal tebakan Bagas itu sangat benar, dia tak bisa memejamlan mata karena menunggu Bagas pulang.


"Emh, anu tadi masih loading akunya, nyawanya belum kumpul semua, baru bangun banget, jadi masih bingung." Cengir Dara mencari-cari alasan.


"Cantik banget kalo senyum gitu, maaf ya, kalo selama ini aku gak pernah bisa bikin kamu tersenyum, dan cuma jagonya bikin kamu nagis," Bagas memandang teduh wajah istrinya, manik coklat muda di mata Dara seakan semakin bersinar terang saat wanita itu tersenyum.


"Jadi kalau gak senyum gak cantik ya?" bibir Dara mengerucut.


"Cantik, selalu cantik, tidak pernah tidak cantik." sambar Bagas.

__ADS_1


"Cantiklah, mirip mantan pacar, kalo gak mirip mantan pacarnya mana mau!" Dumel Dara yang meski lirih tapi di jamin Bagas pasti masih bisa mendengarnya.


"Sayang, tolong jangan mulai lagi, aku lelah, ngantuk, lebih baik kita tidur, baby Kai juga sudah tertidur lagi, besok pagi aku harus ke rumah sakit lagi, aku ada janji ketemu dengan dokter kandungan Kamila." ucap Bagas seraya menyudahi percakapan mereka yang sepertinya akan berujung huru-hara, jadi sebelum itu terjadi, ada baiknya Bagas mengakhiri sesi obrolan manisnya tadi agar tak berujung pahit.


Entah kenapa ada rasa sedikit kecewa di diri Dara saat mendengar kalau besok pagi suaminya itu akan kembali ke rumah sakit, bahkan Bagas bilang akan bertemu dokter kandungan Kamila, mungkin benar dugaannya, kebersamaan Bagas dan Kamila seharian membuat hubunga mereka membaik kembali, lantas bagaimana nasib dirinya jika Bagas kembli ke pemilik aslinya bukan kw seperti dirinya?


"Apa ada masalah serius dengan kandungan Kamila?" tanya Dara berbasa basi sesaat sebelum dirinya merebahkan diri di kasur dan bersiap untuk tidur.


"Tidak, dia hanya perlu bed rest saja karena kandungannya lemah, jadi aku ingin berkonsultasi dengan dokter kandungannya besok pagi terkait kandungannya yang lemah itu." terang Bagas.


"Emmmmh,," hanya itu kata terakhir yang keluar dari bibir Dara, setelah itu dia terdiam dan memejamlan matanya, namun percayalah, dia tidak tertidur melainkan sedang bergelut dan berdebat dengan pikiran-pikiran yang di simpulkannya sendiri, bahkan Dara sampai memikirkan kemana dirinya dan bayinya akan pergi jika Bagas kembali rujuk dengan Kamila, dia tak ingin menjadi bayang-bayang di antara hubungan mereka.


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" tanya Bagas menoleh ke arah samping kirinya, seperti biasa mereka masih tidur berjauhan dengan guling sebagai pembatas di tengah tempat tidur mereka, Dara masih belum bisa kontak fisik yang terlalu intimselain hanya sebatas pegangan tangan atau usapan di kepanya, selain itu Bagas pun belum berani melakukan lebih, dia juga tak ingin memaksakan keinginannya pada istrinya itu sehingga intrinya malah merasa tersiksa, meskipun terkadang dirinya ingin sekali memeluk atau mengecup istrinya itu.


Melihat tak ada reaksi dari Dara atas pertanyaannya barusan, Bagas menyimpulkan kalau istrinya itu telah terlelap, dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya Bagas sedikit bergeser mendekati tubuh istrinya, lantas menngecup kening istrinya itu dalam "I love you," bisiknya, lantas kembali ke tempat semula dan menata kembali guling pembatas yang baru saja di laluinya.


Dara yang sejatinya belum tertidur hanya pura-pura memejamlan mata itu sebenarnya sangat kaget dengan ciuman hangat Bagas, di tambah lagi dengan bisikan cinta yang di ucapkan pria tampan itu, sungguh saat ini tubuhnya meremang, dan darahnya berdesir dengan hebatnya.


Ingin sekali Dara membalas bisikan Bagas dengan pelukan hangatnya, agar dia tahu kalau saat ini dirinya pun mulai merasakan apa yang namanya jatuh cinta pada suaminya yang sebelumnya sempat dia sumpah serapah kalau dirinya tak akan pernah jatuh cinta pada pria yang telah memberinya seorang putra yang wajahnya copy paste ayahnya itu.

__ADS_1


Sungguh Dara ingin memberi tahu Bagas kalau dirinya kini sudah siap membuka hati untuknya, namun mengingat kedekatan kembali antara Bagas dan Kamila, sepertinya Dara harus bisa lebih menahan diri, jangan sampai dia yang mulai jatuh cinta itu langsung merasakan apa yang di namakan patah hati, karena Bagas memilih untuk kembali bersama Kamila, biarlah rasa itu dia simpan sendiri saja dalam hatinya, dia tak ingin terkesan menghalang-halangi hubungan Bagas dan Kamila yang akan kembali membaik.


__ADS_2