
"Faisal kembali bertugas di luar negeri, dia berangkat dua hari yang lalu," ujar Bagas yang seperti mengerti kalau saat ini Dara sedang mencari-cari sosok Faisal yang sejak kemarin tak pernah terlihat batang hidungnya itu.
Ada gurat kekecewaan di raut Dara, bagaimana bisa Faisal pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya, atau Jangan-jangan Bagas melarang Faisal untuk menemuinya? Tuduh Dara dalam batinnya, sehingga membuat rasa kesal dan benci itu semakin menumpuk di dadanya yang tertuju untuk Bagas seorang sebagai tertuduh dan selalu jahat pada dirinya itu.
"Aku akan memgantar mu pulang," ucap Bagas membereskan barang-barang Dara ke dalam tas.
Betapa amazingnya seorang Bagas yang apa-apa biasanya hanya tinggal tunjuk dan tinggal perintah itu membereskan barang-barang milik istrinya seorang diri, dengan tangannya sendiri, tangan yang orang bilang katanya tangan emas karena mampu menghasilkan uang puluhan bahkan ratusan juta hanya dalam sekali tandatangan kontrak kerjasama.
"Tidak usah, aku bisa pulang naik taksi online bersama kakak ku," Dara melirik ke arah Yoga yang entah mengapa sejak kemarin masih saja menungguinya di sana, padahal biasanya Yoga tak pernah se perhatian itu padanya, apalagi ibu dan bapaknya sudah pulang ke kampung terlebih dahulu.
"Gak mau, aku ingin merasakan naik mobil mewahnya adik ipar ku ini, yang atapnya bisa terbuka sendiri itu, pasti sangat keren dan mengasyikan, kapan lagi coba ngerasain naik mobil kaya gitu, aku mau foto-foto di sana!" ocehnya dengan senyuman tak jelas, sepertinya Yoga sedang membayangkan dirinya berada dalam mobil suv meewah milik Bagas yang pernah di bawa Bagas ke kampungnya itu.
"Kak, jangan norak deh! Aku pinjem ponsel mu untuk pesan taksi online," kesal Dara, yang ponselnya tertinggal di apartemen saat dirinya pungsan.
"Gak, bodo amat mau di bilang norak, kek, kampungan kek, udik kek, pokoknya kamu harus wujudin mimpi kakak untuk naik mobil itu."
Meski sangat kesal, namun akhirnya Dara mengalah juga, rasa tak tega melihat kakaknya yang begitu mendamba mencicupi naik mobil mewah itu membuat Dara yang selalu mengutamakan kebahagiaan keluarganya di banding dirinya sendiri itu akhirnya luluh juga.
"Tunggu-tunggu, kenapa lewat sini, ini bukan arah pulang ke apartemen, tapi ke--" protes Dara, pantas saja sejak tadi hatinya tak tenang, ternyata Bagas membawanya pulang ke rumahnya.
"Apa-apaan ini? Siapa yang menyetujui kalau aku pulang ke rumah anda tuan?" lagi, tatapan kemarahan itu terlempar begitu saja untuk Bagas.
"Aku khawatir kalau kamu tinggal sendiri di apartemen, lagipula Faisal tidak ada, jadi lebih baik kamu tinggal di sini, kakak ku juga akan tinggal di rumah ini, jadi kau tak perlu takut jika terjadi apa-apa kau bisa langsung minta bantuan kakak mu,"
__ADS_1
"Iya dek, tenang saja, aku sudah di tugaskan untuk menjaga mu dari orang-orang yang akan menjahati mu, ssstttt,,,, aku juga di bayar dengan gaji yang sangat besar hanya dengan menjaga mu saja,!" bisik Yoga di akhir kalimat sambil menyeringai.
"Yang perlu kakak hawatirkan akan menjahati ku justru adalah orang yang membayar kakak dengan gaji besar itu, bukan orang lain!" ketus Dara.
"Aku berjanji tak akan melakukan hal-hal yang dapat mencelakai dirimu dan juga anak kita, kamu pegang janji ku!" ucap Bagas penuh percaya diri.
"Aku ingin pulang ke apartemen saja, lagi pula istri tuan pasti akan sangat marah jika tau aku kembali ke sini," tolak Dara, membayangkan dirinya ahrus tinggal satu atap dengan Kamila membuatnya merasa enggan duluan.
"Kau juga istri ku, aku belum pernah menalak mu dan tak akan pernah sampai kapan pun!" geram Bagas.
"Tapi nyonya Kamila sangat membenci saya, tuan." Terbersit di pikirannya, bagaimana jika Kamila mencoba mencelakainya, kali ini bukan hanya dirinya yang akan celaka, naamun ada bayi yang tak berdosa yang mungkin juga bisa ikut teena imbasnya.
"Kau akan tinggal di paviliun di bawah pengawasan ku, Anwar dan Yoga, sehingga Kamila tidak bisa mengusik mu, dan satu lagi, jangan panggil dia nyonya, karena kau juga nyonya di rumah ini, kau juga jangan panggil aku dengan sebutan tuan lagi, akan sangat buruk jika di dengar anak kita kelak jika sudah lahir," urainya mulai jengah dengan panggilan Dara padanya, sementara Faisal saja di panggilnya dengan sebutan 'mas'.
"Cih, bukannya dulu anda sendiri yang meminta saya memanggil anda dengan sebutan Tuan? jadi orang kok mancla mencle, gak konsisten!" cibir Dara.
Namun untuk saat ini tak ada pilihan lain, selain mengikuti kemauan suami otoritermya itu.
Mobil Bagas sengaja di parkir di halaman belakang, sehingga saat dirinya dan Dara masuke paviliun tak harus melewati rumah utama terlebih dahulu dan kemungkinan akan bertemu dengan Kamila.
Sayangnya sepertinya Kamila yang sedang berada di teras belakang melihat Bagas pulang bersama Dara yang perutnya membuncit, mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang tengah menantikan hadirnya sang buah hati, apalagi wajah Bagas yang biasanya kusam itu terlihat sangat sumringah, dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Sontak saja rasa panas membara di hatinya langsung membawa Kamila menghadang jalan mereka bertiga, dia bahkan tak pernah menyangka jika madunya itu akan bersedia di bawa kembali ke rumah oleh Bagas.
__ADS_1
"Sayang, apa-apaan ini, kenapa kamu membawa wanita ini kembali ke rumah ini?" Protes Kamila dengan wajah yang sama sekali tak bersahabat dan memandang sinis Dara juga kakak laki-lakinya.
"Menyingkir dari jalan kami, apa yang salah? Aku membawa istri ku pulang, tidak ada yang salah bukan?" Rupa Bagas yang tadi sumringah itu langsung berubah menjadi menakutkan seketika, tatapannya seperti ingin memakan Kamila saat itu juga.
"Dek, itu siapa? Kenapa wajahnya sangat mirip dengan mu? kalian sangat mirip, meskipun umur kalian tidak bisa di bohongi perbedaannya," seloroh Yoga lirih, namun masih bisa di dengar oleh Kamila yang langsung berang di buatnya.
"Apa maksud mu? Apa kau mau mengatakan kalau aku ini tua? Sialan kau, orang asing tak sopan, aku ini istrinya Bagas!" teriak Kamila seraya menunjuk-nunjuk wajah Yoga yang masih terpana dengan kemiripan wajah antara Kamila dan adik perempuannya, wajah Yoga yang terbengong terus saja membolak balikan pandangannya dari Kamila ke Dara.
"Pergi, jangan bikin keributan, kau tau aku bisa berbuat nekat jika kau tak menuruti perintah ku!" Ancam Bagas, yang ternyata ancamannya berhasil smengusir Kamila dari hadapan mereka.
Dara terpana bukan main saat dirinya masuk ke bangunan paviliun yang dulu sempat di tinggalinya selama beberapa hari itu, tempat kesuciannya di renggut secara paksa oleh Bagas dan berakhir dengan perutnya yang membuncit sekarang ini. Terdapat karangan bunga yang sangat besar dengan tulisan 'Welcome home', sepertinya Bagas memang sudah merencanakan semua ini, meskipun yang menghias semuanya pasti bukan dirinya, karena sekali pun Bagas tak pernah meninggalkan ruangan dimana Dara di rawat dari awal sampai akhir.
Masuk lagi ke kamarnya, Dara tak kalah terkejutnya, karena barang-barang nya yang berada di apartemen milik Faisal kini sudah pindah semua ke ruangan itu,
"Ke-kenapa barang-barang ku ada di sini semua?" cicit Dara merasa kebingungan.
"Faisal menyewakan apartemen nya pada salah satu temannya, dan kebetulan Faisal juga akan lama di luar negeri, jadi dia memutuskan untuk menyewakannya." terang Bagas.
Meskipun tak masuk akal, karena Faisal bukan orang yang kekurangan uang sampai-sampai harus memyewakan apartemen nya segala,
namun Dara tak ingin berdebat terlalu lama dengan suami arogannya itu, dia lebih memilih merebahkan dirinya di atas kasur, yang tercium wangi colonge bayi yang biasa dinpakainya.
Kondisi hamil besar membuatnya menjadi sering cepat merasa kelelahan dan tertidur tiba-tiba seperti saat itu, dirinya yang niatnya hanya ingin meluruskan punggungnya dengan rebahan itu malah terlelap dengan begitu tenangnya, membuat Bagas tersenyum sendiri melihatnya.
__ADS_1
Akhirnya dia bisa melihat sosok istrinya kembali di kamar itu, kamar yang hanya ada kenangan tentang dirinya dan Dara saja, tidak ada yang lainnya lagi.
"Terimakasih Tuhan, akan ku jaga mereka berdua, dengan seluruh kekuatan yang ku miliki," ucapnya lirih seraya mencium kening istrinya yang kini tengah berada di alam mimpi, mungkin dalam mimpinya dia juga merasakan sedang di cium seseorang di sana, meski tanpa di sadarinya kalau itu bukanlah mimpi, namun sebuah kenyataan.