Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Suami terbaik


__ADS_3

Yoga terlihat mondar mandir di lantai atas, tepatnya depan pintu kamar adiknya, baru saja dia hendak mengetuk pintu kamar adiknya itu, namun ternyata Dara sudah duluan membuka pintu kamarnya dari dalam.


Dara yang saat itu hendak turun untuk membawa putranya berjalan-jalan di taman belakang rumahnya terkejut saat dirinya membuka pintu dan mendapati sang kakak ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang kusut dan seperti memikirkan banyak masalah dalam hidupnya.


"Ishhh, kak Yoga. Bikin kaget saja!" Dara mengusap-usap dadanya yang rasanya hampir saja melompat dari tempatnya itu.


"Dek, ada yang mau kakak bicarakan, soal---"


Belum saja kakaknya selesai mengatakan apa yang ingin di katakannya, Dara sudah menariknya menjauh dari sana, dia teringat perkataan suaminya tentang lantai atas yang di pasangi kamera pengawas di setiap sudutnya itu.


"Kita bicara di taman bawah saja," ucap Dara.


"Lagian, kenapa kakak tak berabgkat ke kantor?" tanya Dara, ini masih jam kerja dan kakak nya masih bebas berkeliaran di rumah.


"Kakak tak bisa konsen bekerja, dek." cicitnya.


"TIdak konsen bekerja bagaimana maksudnya kak? Tolong jangan aneh-aneg deh, kak. Mas Bagas sudah memberikan kesempatan yang baik untuk kakak menjalani kehidupan normal layaknya pria dewasa, pekerjaan yang kakak dapatkan dengan mudah ini pun, ribuan orang di luar sana sangat menginginkannya kak, kakak itu beruntung." Tutur Dara memcoba menasehati kakak laki-lakinya agar sifat malasnya tak kembali kambuh.


"Aku tau dek, tapi mana bisa aku konsen kerja kalau pikiran ku terus saja memikirkan tentang kemungkinan bayi yang di kandung Kamila itu benar-benar anak ku, jika itu benar-benar anak ku, apa kamu tega menelantarkan keponakan mu sendiri, dek?" kata Yoga dengan wajah yang di buat se memelas mungkin, dia tau kalau adiknya itu berhati lembut dan tidak tegaan.


"Lantas apa mau kakak?" tanya Dara.

__ADS_1


"Tolong bujuk Bagas agar memberikan cuti untuk ku, aku ingin mencari keberadaan Kamila, aku ingin memastikan kalau anak yang di kandung Kamila itu benar anak ku atau bukan," ujarnya mengungkapkan kegalauan hatinya yang terus saja mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


"Aku akan coba, tapi aku tidak janji akan berhasil, aku juga gak enak kak, kakak baru bekerja di sana belum ada dua bulan sudah minta cuti." Dara akhirnya menyetujui permintaan Yoga itu, meskipun jujur saja dia pun harus ikut merasa pusing dan bingung bagaimana cara dia menyampaikan permintaan itu pada suaminya, sungguh dia merasa tak enak hati karena merasa terlalu banyak merepotkan Bagas.


Sore harinya, saat Bagas baru saja pulang dari kantor, dia langsung memberikan secarik kertas pada Dara.


"Apa ini mas?" tanya Dara kebingungan.


"Itu alamat tempat tinggal Kamila sekarang, berikan pada kakak mu. Suruh dia menemui wanita itu dan segera selesaikan masalahnya." Kata Bagas dengan santainya lantas bermain-main sebentar dengan putranya yang kini semakin aktif dan sehat.


"Emh,,, mas,, apa mas mendengar lagi pembicaraan aku dengan kak yoga tadi siang di taman? Apa di sana juga di pasangi kamera pengawas seperti di lantai sini?" gugup Dara.


"Tidak, di sana memang di pasangi kamera pengawas dan bahkan di beberapa titik di sudut rumah ini, tapi hanya kamera lantai atas saja yang aku prioritaskan dan aku sambungkan dengan ponsel ku," jawab Bagas tenang, wajahnya terus di buat se jenaka mungkin sehingga putranya terus saja tergelak saat melihat wajah ayahnya.


"Lihatlah boy, wajah ibu mu terlihat makin cantik jika sedang cemburu," Ledek Bagas berbicara dengan putranya yang jelas saja belum mengerti apapun tentang apa yang di bicarakan ayahnya itu dan hanya bisa menjawab perkataan ayahnya dengan tawa dan ocehan tak jelas yang hanya dirinya sendiri dan Tuhan saja yang mengerti.


"Mas, aku bertanya serius!" cebik Dara.


"Oh ayolah sayang, jangan mencurigai ku seperti itu, kakak mu tak masuk kerja sudah tiga hari, dan aku menyuruh seseorang untuk mengikutinya, ternyata dia sedang mencari-cari Kamila tanpa tujuan, lantas Panji aku utus untuk mencari keberadaan Kamila, dan itu hasilnya, kertas di tangan mu itu, hanya itu yang bisa aku bantu untuk penyelesaian masalah kakak mu, selebihnya biar dia yang menyelesaikannya sendiri." Urai Bagas menarik tangan istrinya agar bergabung di atas ranjang bersama dirinya dan putra mereka.


"Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan seperti yang aku rasakan seperti saat ini, memiliki kalian dalam hidup ku dan bisa memeluk kalian setiap hari baggi ku sudah merupakan kebahagiaan dan anugerah terindah dalam hidup ku, aku bahkan seperti tak membutuhkan kebahagiaan yang lain selain ini semua, jangan pernah berpikir aku akan berpaling apalagi meninggalkan kalian, karena itu hal yang tak mungkin aku lakukan, kecuali Tuhan yang memisahkan kita karena kematian." Urai Bagas memeluk erat istri dan anaknya, satu-satunya harta yang paling berharga dalam kehidupannya kini.

__ADS_1


Ah, lagi-lagi hati Dara meleyot dan luluh mendengar ucapan Bagas yang selalu berhasil membuat dirinya terbang ke awang-awang hanya karena ucapan manis suaminya itu. Bagaimana Dara tak semakin sayang dan takut kehilangan jika perlakuan Bagas selalu membuat hangat hatinya dan membuat darahnya berdesir hebat, rasa-rasanya dia tak akan sanggup jika harus kehilangan suami romantisnya itu, dia yang selalu di manjakan oleh Bagas membuatnya semakin ketergantungan dan tak pernah bisa membayanmgkan jika sampai Bagas berpaling dari dirinya yang telah di buat jantuh cinta se cinta-cintanya pada pria yang dulu bahkan sangat di bencinya itu.


Benar kata pepatah lama, jika cinta dan benci itu batasnya hanya sebatas sehelai rambut saja, karena terkadang kita tak bisa membedakan mana cinta mana benci, kalau kata orang tua dulu, jangan terlalu benci nanti bisa jatuh cinta, dan sebaliknya jangan terlalu cinta, karena sekalinya kecewa, bencinya sampai akar dan gak ada obat.


**


Berbekal alamat yang di berikan Dara padanya, Yoga langsung mendatangi rumah yang kini menjadi tempat tinggal Kamila, hanya sebuah rumah kontrakan sederhana yang kini menjadi tempat berteduh wanita yang sebelumnya selalu hidup dalam kemewahan itu harus menerima tinggal di rumah kontrakan kecil yang bangunannya sudah terlihat usang itu.


Yoga merasa miris dengan apa yang harus di alami Kamila sekarang ini, langkahnya sedikit ragu, apa benar alamat yang di berikan adiknya itu merupakan alamat tempat tinggal Kamila, bahkan dirinya sampai lupa bertanya pada adiknya bagaimana dia bisa mendapatkan alamat itu karena saking senangnya, dia langsung meraih kertas itu dan langsung bergegas pergi, bahkan dia juga lupa mengicapkan terimakasih pada adiknya yang sejak dulu selalu berkorban untuk keluarganya itu, menjadi tulang punggung keluarga menggantikan tugas ayahnya yang tak bertanggung jawab dan hanya mau bermalas-malasan dan dirinya sebagai anak tertua pun tak pernah berkeinginan untuk membantu meringankan beba adiknya, bahkan sering kali dirinya malah meminta uang rokok atau uang jajan pada adiknya itu.


Yoga berjalan meski dengan langkah kaki yang gamang, mendekati pintu kayu rumah itu yang catnya sudah memudar.


Ketukan pintu ke empat kalinya baru terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dari dalam, setelah terdengar pintu anak kunci yang di putar, pintu itu terbuka perlahan, nampaklah sosok wanita yang sepertinya baru bangun tidur itu mengucek matanya.


"Yoga? Darimana kamu tau kalau aku tinggal di sini?" tanya Kamila kaget, dirinya yang masih setengah sadar dan merasa nyawanya belum genap mengumpul itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan kalau yang berada di hadapannya itu bnenar-benar Yoga.


"Aku mencari mu mbak, aku pikir aku tak akan pernah bertemu lagi dengan mu, aku khawatir dengan keadaan mbak dan juga keadaan---" Yoga mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap wajah wanita itu kini beralih ke perut rata Kamila.


"Keadaan siapa?" mata Kamila memicing.


"Keadaan dia mbak, aku merasa kalau dia adalah anak ku, apa itu benar? Tolong beritahu aku mbak!" ucap Yoga yang masih berdiri di ambang pintu karena belum di persilakan masuk oleh si empunya rumah.

__ADS_1


Kamila menarik nafas sangat dalam, sepertinya wanita itu sedang memikirkan sesuatu dan memilih kata-kata apa yang akan dia sampaikan pada Yoga saat ini.


__ADS_2