Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Kata keramat


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam saat Bagas dan Kamila pulang makan malam yang rencananya akan makan bertiga, dan akhirnya hanya mereka berdua saja yang pergi akibat Dara tak di ketahui keberadaannya.


Langkah kaki Bagas langsung menuju kamar belakang, namun lagi-lagi tak di temukannya sosok Dara disana, Bagas mulai merasa ada yang janggal, rasanya tak mungkin jika Dara pergi sampai selarut itu.


"Apa dia belum pulang juga, sayang?" Karina menunjukkan wajah tanpa berdosanya, seolah dirinya benar-benar tak tau menahu dengan hilangnya Dara saat ini.


"Aku rasa aku harus membuat laporan kehilangan ke kantor polisi," Bagas menyambar kembali kunci mobil yang tadi dia geletakan di meja.


Mendengar kata polisi, membuat seluruh bulu di tubuh Kamila terasa meremang hebat, bayangan dirinya akan di tangkap karena kasus hilangnya Dara saat ini yang jelas-jelas akibat ulahnya itu membuat wanita itu tampak sangat ketakutan, belum lagi jika ternyata Dara di temukan tak bernyawa, bukan tidak mungkin dirinya akan terseret atau bahkan menjadi tersangka terlebih jika sampai dia tak membayar ganti rugi sebesar 1,5 milyar itu, sudah dapat dipastikan kalau pria itu akan membuaka mulutnya dan dirinya jelas akan berada dalam masalah yang sangat besar.


"Sayang tunggu, apa tidak sebaiknya kita menunggu dia pulang sampai besok pagi?" tahan Kamila mencoba mencegah niat Bagas yang hendak ke kantor polisi.


"Tidak, ini sudah sangat larut, aku rasa dia tak mungkin pergi selama ini, aku yakin kalau terjadi sesuatu padanya, dan aku harus segera melapor agar polisi segera mencari dan menemukannya." keukeuh Bagas.


"Tapi sayang, kita tak bisa melaporkannya karena dia hilang belum 24 jam, dan polisi tak akan menerima laporan kita, paling kita di suruh menunggu,"


Bagas terdiam, sepertinya apa yang di ucapkan Kamila ada benarnya juga, namun dia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Dara saat ini, meskipun sekuat tenaga dia sembunyikan semua rasa itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita istirahat dulu saja, kamu pasti lelah, setelah perjalanan panjang, lalu kamu langsung bertemu klien dan makan malam, kamu bisa sakit jika tubuh mu tak mendapatkan istirahat yang cukup." bujuk Kamila agar suaminya itu mau menemaninya beristirahat malam ini,


"Tidak, aku akan mencari dia di sekitaran sini, kau istirahat saja, mungkin aku akan mencarinya sampai ketemu, jadi tak usah menunggu ku pulang," tolak Bagas, membuat Kamila merasa sangat kecewa dengan keputusan Bagas yang memilih untuk mencari istri kumalnya di bandingkan tidur dan bermesraan dengannya,


bukankah rencana mereka ke tempat ini untuk bulan madu? Namun sialnya rencana mereka harus berantakan akibat ulahnya sendiri.


Rasanya sudah sangat jauh pria berusia 30 tahun itu berjalan mencari-cari keberadaan istri pertamanya yang sejujurnya sangat tidak dia inginkan, namun anehnya dirinya merasa se cemas itu saat mengetahui kalau Dara menghilang.


Raut wajah Bagas terlihat mendung, kacau, hari sudah hampir terang, namun tak ada tanda-tanda dirnya akan menemukan Dara, mencari Dara tanpa tau arah dan tujuan kemana mencarinya, bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami, setiap tempat rasanya sudah dia singgahi, hingga akhirnya dia merasa putus asa dan memutuskan untuk melapor ke kantor polisi saja pagi itu.


"Ini pak, fotonya, sepertinya ciri-ciri yang bapak sebutkan sangat mirip dengannya," seorang polisi menyodorkan selembar foto yang sontak saja membuat lutut Bagas merasa lemas dan pandangannya menghitam untuk beberapa detik.


Selembar foto yang memperlihatkan seorang wanita yang Bagas yakini kalau itu adalahj Dara sang istri sedang tergeletak lemas di pantai, menurut keterangan polisi, seorang nelayan yang sedang melaut tadi malam menemukan tubuhnya terapung di laut dan nelayan itu lantas membawanya ke daratan.


"Dimana is-is-stri saya sekarang berada, pak?" kaku rasanya untuk menyebut Dara sebagai istrinya, namun gemuruh kalut dan khawatir akan keselamatan istrinya tak urung membuatnya akhirnya mengucapkan kata keramat itu, untuk pertama kalinya dia mengakui pada orang lain kalau Dara itu adalah istrinya.


"Tadi malam langsung di bawa ke rumah sakit, karena keadaan nya cukup kritis, apalagi menurut dokter yang bertugas malam itu, korban juga di duga sepetinya sedang hamil muda, jadi perlu penanganan yang khusus." terang polisi itu.

__ADS_1


Duarrrr


Bagai tersambar petir di siang bolong, selain harus menerima kabar buruk tentang Dara yang tiba-tiba di ketemukan mengapung di laut entah apa penyebabnya, kini dia juga harus menerima kabar kalau kemungkinan Dara sedang mengandung yang tentu saja itu merupakan buah hatinya.


Hati Bagas bagai di remas sekencang mungkin saat ini, nyeri, sesak, dan bagai di hantam batu raksasa sekeras mungkin, hampir saja dia limbung mendengar apa yang di ucapkan polisi itu padanya.


"Tolong antarkan saya ke rumah sakit tempat istri saya di rawat pak, saya mohon!" lagi-lagi untuk pertama kalinya Bagas berbuat di luar kebiasaannya, Bagas yang selalu terkesan sombong dan arogan itu memohon pada orang lain hanya karena dia ingin di pertemukan dengan istrinya.


Tangan Bagas mulai mengetikan sesuatu di ponselnya, mengirim pesan pada Panji sang asistenn untuk segera terbang menyusulnya saat ini juga, dia bahkan tak punya tenaga hanya untuk berbicara pada asisten pribadinya itu.


Langkah Bagas terlihat sangat lebar dan tergesa saat menghampiri resepsionis rumah sakit di temani dua orang polisi bersamanya, untuk menanyakan informasi tentang keberadaan sang istri yang saat ini mungkin sedang mengandung buah hati mereka, meski itu belum pasti, tapi mendengar kabar itu pertama kali dari pak polisi, jujur saja batin Bagas sempat sedikit menghangat beberapa saat, meski akhirnya harus tenggelam kembali dalam perasaan cemasnya karena memikirkan keadaan Dara.


"Maaf tuan, ada salah satu kerabat korban yang membawa pasien ke rumah sakit yang lebih besar, baru sekitar dua jam yang lalu pasien atas nama Dara Jelita di bawa pergi," terang resepsionis itu menunjukkan surat-surat yang di tanda tangani orang yang konon katanya mengaku sebagai kerabat Dara itu dalam mempermudah prosedur pemindahan pasien.


"Kerabat? Tapi aku suaminya, dan istri ku tak punya kerabat atau siapapun di sini, kami hanya sedang berlibur, kalian telah teledor memberikan ijin pada orang asing untuk membawa istri ku pergi, aku akan menuntuk rumah sakit ini jika sampai terjadi sesuatu pada istri ku!" amuk Bagas yang tak dapat menerima kenyataan jika ternyata ada orang lain yang mengaku kerabat Dara mendahuluinya membawa istrinya.


Bagas juga sangat yakin kalau Dara tak punya teman, saudara, atau siapapun di tempat ini, namun anehnya mengapa ada orang yang mengaku-ngaku kerabat istrinya dan membawa Dara pergi bahkan pihak rumah sakit tak tahu menahu kemana istrinya itu di pindahkan.

__ADS_1


__ADS_2