
Beberapa jam yang lalu saat Dara tiba-tiba pingsan di apartemen, Faisal langsung membawa Dara ke rumah sakit, dia tak mau hal yang lebih serus terjadi pada Dara maupun bayi yang di kandungnya.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Faisal merasa kalau saat ini dalah waktu yang paling tepat untuknya memberi tahu Bagas mengenai keadaan Dara, dan sepertinya waktu yang tepat juga untuk mempertemukan mereka, meskipun jujur itu berat, namun sepertinya itu hal yang terbaik yang harus dia lakukan, setidaknya dia mencoba untuk menyatukan kembali keluarga adik sepupunya yang terberai itu, masalah nanti kalau ternyata Bagas melakukan hal yang menyakiti Dara lagi, itu akan lain ceritanya, tentu saja dia tak akan melepaskan pantauannya begitu saja, dan tak akan membiarkan Dara mengalami kesakitan itu lagi.
Kurang dari 20 menit Bagas sudah langsung berada di rumah sakiit tempat kini Dara di rawat, wajahnya terlihat sangat panik, setengah berlari dia menghampiri Faisal yang memang sudah menunggunya di lobi rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada istri dan anak ku?" tanya Bagas serius.
"Dara pingsan saat tadi berdebat dengan orang tuanya di apartemen," terang Faisal menceritakan kronologi apa yang terjadi di apartemennya.
"Ini yang aku takutkan, makanya aku tak pernah memaksanya untuk kembali bersama ku lagi, aku takut dia tertekan dan berakhir seperti ini, bagaimana bisa orang tua Dara tau keberadaannya?" kesal Bagas menyayangkan apa yang terjadi, namun Faisal hanya mengangkat bahunya seolah ingin mengatakan kalau dirinya juga tak tau dengan apa yang terjadi, dan bagaimana orang tua Dara bisa sampai di sana.
"Sudahlah, lagipula semua sudah terjadi, aku rasa ini waktunya untuk mu menjaga anak dan istri mu, luluh kan hatinya, yakinkan hatinya kalau kau benar-benar mencintainya, dan jika sampai aku tau sekali saja kau menyakitinya lagi, sekecil apapun itu, aku akan membawa pergi istri dan anakmu ke tempat yang tak mungkin bisa kau temukan dimanapun." ancam Faisal.
"Aku mengerti, dan aku tak akan mungkin melakukan kesalahan yang sama, aku mencintai mereka, lebih dari apapun, aku akan menjaga mereka, meski nyawa ku sebagai taruhannya, dan jangan harap kau bisa membawa mereka dari sisi ku." meski sedikit tak yakin dirinya akan mampu menaklukan hati Dara, namun dia akan berusaha sampai tetes darah penghabisan untuk mewujudkan semuanya itu.
"Baik, ku pegang kata-kata mu, ingatlah pria sejati tak akan mengingkari janjinya sendiri." ucap Faisal setuju.
**
"Dara, aku rasa sudah saatnya kamu memberi Bagas kesempatan untuk memperbaiki semuanya, ingat, ada darah dagingnya di dalam perut mu, dan dia juga perlu figur seorang ayah," ucap Faisal mencoba bernegosiasi dengan wanita yang hatinya sudah di tutupi kabut benci dan marah pada suaminya itu.
"Aku bisa jadi ibu sekaligus ayah untuk anak ku, sekali pun tanpa bantuan dari mu atau dari siapapun, apalagi dia!" mata Dara menatap tajam ke arah Bagas yang masih duduk namun dengan kepala yang tertunduk tak mampu melawan tatapan mata istrinya, sungguh saat ini dia sadar kalau apqpun yang di kqtakannya akan salah di mata sang istri, karena memang terlalu banyak kesalahan tang sudah Bagas perbuat pada istrinya itu
"Kau jangan egois Dara, jangan sombong, bagaimana pun anak itu butuh ayahnya, kau tak boleh memutus haknya untuk mengetahui siapa ayahnya, jangan keras kepala!" Tuti menyela pembicaraan di antara Faisal dan putrinya.
"Mak, jangan ikut campur, emak tak tau apa yang aku alami di sana, kesakitan apa yang aku terima di rumah mewah namun bagai neraka bagiku, yang emak pikirkan hanya uang, bukan? Apa emak au dan peduli kalau aku hampir mati disana,? Apa emak peduli aku di siksa disana?" emosi Dara pun tak bisa tertahankan lagi, lelah rasanya menjadi orang yang selalu diam dan menelan semua kepahitan seorang diri, bukankah dia juga berhak dan layak untuk bahagia?
__ADS_1
"Dasar anak durhaka tak tau diri, berani kau bentak-bentak ibu mu seperti itu, huh? Ingat, surga mu ada pada ku, ketika aku murka dan mengucapkan hal-hal yang tidak pantas karena sakit hati ku, maka Tuhan akan mengabulkan semua ucapan ku!" tunjuk Tuti tak kalah berapi-apimya dari Dara.
"Jangan terlalu percaya diri kalau surga berada di telapak kaki mu, mak. Karena emak sendiri lah yang telah menciptakan neraka untuk anak mu, selama ini aku diam di perlakukan tidak adil dan selalu mengikuti apa yang emak katakan, meski aku harus menahan perih ku dalam diam, tapi untuk masalah ini, aku tidak bisa menuruti mu. Semoga aku bisa meraih surga ku sendiri dengan tetap menghormati mu sebagai orang tua ku!" tegas Dara yang akhirnya tubuhnya kembali melemah sesat setelah mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya yang sudah puluhan tahun tersimpan di dadanya, Dara kembali tak saarkan diri.
Bagas terlihat sagat panik dan hawatir dengan apa yang di lihatnya kini, bahkan dia bersikeras tak mau meninggalkan ruangan saat dokter kandungan akan memeriksa Dara dan meminta semua orang untuk keluar ruangan, untungnya Faisal memberikan izin dan memberi pengertian pada rekan dokternya untuk membiarkan Bagas tetap berada di sana.
Dokter mengatakan kalau kondisi Dara saat ini lemah, dia juga tak boleh berpikir yang terlalu berat karena itu akan berpengaruh pada kandungannya.
Bagas menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia mendengarkan semua yang di katakan dokter dalam merawat Dara kedepannya.
Karena efek obat yang diberikan dokter pada Dara, wanita itu tertidur lelap, sementara Bagas masih setia menunggui istrinya itu sambil sesekali mengecek pekerjaannya di laptop yang di antarkan Panji tadi sore padanya.
Lewat tengah malam Dara akhirnya terbangun, Bagas yang memang belum terpejam sedikit pun langsung sigap menyimpan laptop yang di pangkunya di meja kecil sebelah ranjang pasien.
"Kenapa, apa ada yang sakit? Sebelah mana?" tanya Bagas agak kebingungan, rasanya sangat canggung berbicara tanpa ketus dan marah pada istrinya itu.
"Kenapa, apa ada yang perlu aku bantu?" tanya Bagas lagi tak patah semangat.
"Kak, kak Yoga!" teriak Dara malah memanggil kakaknya dan mengabaikan pertanyaan dan keberadaan Bagas.
Bagas hanya menghela nafasnya berat dan dalam, Dara memang spesial, seumur hidupnya baru pernah dia di abaikan oleh lawan bicaranya.
Di teriakan ke tiga, Yoga baru bangun dari tidurnya itu pun setelah Bagas menggoyang-goyangkan tubuh kakak iparnya yang pengangguran dan pemalas itu untuk bangun, dia tak tega jika istrinya terus berteriak memanggil kakaknya sedari tadi.
"Apa sih dek, aku tuh cape nungguin kamu dari siang, pengen tidur sebentar saja pake di bangunin segala!" protes Yoga, berjalan ke arah Dara sambil mengomel tanpa henti dengan mata yang masih setengah tertutup, dan tangan yang mengucek kedua matanya yang seperti di bubuhi lem super kuat, sehingga membuatnya sudah untuk membuka kedua matanya.
"Aku mau pipis, mana emak, suruh bantuin aku!"
__ADS_1
"Ya elah dek, timbang mau pipis bangunin kakak segala, lah itu suami mu nganggur di sebelah mu, emak sama bapak udah pulang kampung tadi sore, besok mau panen jagung!" kesal Yoga.
"Ya udah, kakak yang bantuin!" pinta Dara.
"Ogah! Ngantuk, lagian kau itu udah gede, masa mau pipis minta anter kakak laki-laki, sono minta anter suami mu aja, ngantuk aku !" Tolak Yoga.
Alih-alih mau mengantar Dara, Yoga malah kembali ke sofa dan melanjutkan tidurnya.
"Ayo aku bantu," Bagas memegang bahu Dara mencoba ingin membantunya duduk dan bangkit dari ranjang.
Namun tanpa dinyana Dara malah memenjauhkan tubuhnya dan menepis tangan Bagas.
"Aku panggil perawat saja," ketusnya.
Namun Dara yang memang masih ndeso meski berbulan-bulan tinggal di luar negeri dan tinggal bersama Faisal yang notabene seorang dokter itu malah kebingungan sendiri, karena tak tau bagaimana cara memanggil perawat.
Akhirnya, karena merasa sudah tak kuat lagi ingin ke toilet, Dara nekat bangun dan mencoba turun dari ranjangnya sendiri, sungguh dia benar-benar tak ingin di bantu oleh Bagas yang sejak tadi merasa waswas takut kalau Dara sampai terjatuh.
Merasa tak tahan lagi melihat dara yang berjalan terseok-seok, Bagas bangkit dari tempat duduknya dan tanpa basa-basi lagi langsung mengangkat tubuh istrinya dengan mudahnya, tubuh Dara masih kurus seperti dulu, hanya perutnya saja yang membuncit.
"Auh, apa-apaan ini , lepas, turunkan aku, tuan!" teriak Dara berontak.
"Diamlah, kau akan jatuh dan melukai anak ku jika kau terus berontak!" ucap Bagas mengeluarkan lagi sisi dominannya.
"Maaf tuan, tapi dia juga anak ku, jadi aku tak mungkin mencelakainya, selama ini aku juga merawatnya sendiri." ketus Dara yang tak lagi berontak.
"Oke, anak kita, dan mulai sekarang sampai seterusnya kita akan sama-sama merawatnya!" ucap Bagas lagi.
__ADS_1
"Cih, anda terlalu percaya diri tuan! Aku tak butuh bantuan mu dan buktinya aku bisa melakukannya sendiri tanpa anda selama ini."kesal Dara.