
Pukul lima pagi operasi istrinya selesai, Bagas terus menunggui proses demi proses bahkan bahkan sampai puteranya akhirnya lahir, kelahiran yang seharusnya menurut jadwal bulan depan itu akhirnya harus maju karena insiden ini, sudah banyak yang Bagas rencanakan bersama Dara saat menyambut kelahiran putera mereka, namun ternyata kenyataan berkata lain, puteranya harus lahir dalam keadaan yang masih genting, dimana sang ibu yang belum dinyatakan keluar dari masa kritisnya, keadaan rumah masih kacau, di tambah suasana hati Bagas yang kini bingung harus merasa bahagia ataukah merasa sedih, di satu sisi memang dirinya bahagia karena akhirnya bisa bertemu lebih cepat dari perkiraan dengan putranya yang memang sangat ingin dia temui itu, namun di sisi lain dia juga merasa bersedihkarena Dara belum juga siuman, sehingga dia tak dapat melihat betapa tampannya anak mereka.
Panji akhirnya tiba di rumah sakit pagi itu, dia langsung menuju rumah sakit selepas dirinya sampai di bandara, kabar dari Anwar memang sudah di terimanya sejak semalam, hanya saja tidak ada penerbangan malam dari kota itu ke Jakarta, sehingga harus menunggu penerbangan pertama pukul 4 pagi.
"Tuan, minumlah dulu!" Panji menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Bagas, dia tahu kalau tuannya pasti belum makan atau minum apapun, makanya dia juga membawa beberapa bungkus makanan untuk sarapan Bagas dan dirinya.
Bagas hanya melirik sekilas ke arah asistennya itu, lantas kembali menatap Dara yang kini sudah berada di ruang rawat namun belum juga sadar.
"Tuan, anda harus makan." ujar Panji lagi.
"Kau pikir aku menelan makanan saat kondisi istri ku seperti ini, bahkan anak ku harus terpisah di ruang bayi dan tak bisa menyusu pada ibunya?"
"Tapi tuan, anda tetap harus menjaga kesehatan anda, karena akan banya hal yang anda hadapi dan anda tentu saja perlu energi untuk itu, anda harus sangat kuat saat para peneror sialan itu tertangkap, anda perlu makan agar bisa menghajar mereka tanpa ampun!" Panji memang paling bisa membujuk majikannya itu.
"Para peneror? Maksud mu?" Bagas mulai terlihat tertarik dan antusias dengan apa yang di sampaikan oleh asistennya itu.
"Ya tuan, menurut laporan Anwar, di temukan beberapa pecahan bom molotovdi sekitar paviliun, bahkan beberapa masih utuh dan belum sempat di lemparkan dan teronggok di luar pagar halaman belakang." Terang Panji menguraikan kembali apa yang tadi Anwar laporkan padanya lewat telepon saat dia dalam perjalanan dari bandara menuju ke rumah sakit
"Siapa bajingan-bajingan itu?" geram Bagas.
"Untuk sementara masih dalam penyelidikan, dari kamera pengawas sepertinya mereka sekitar 4 orang dan mereka memakai penutup kepala, sialnya lagi mereka tak mengendarai kenadaraan apapun, sehingga kita tak bisa mengecek nomor kendaraan yang di pakai mereka."
__ADS_1
"Lantas kau dan Anwar akan menyerah hanya karena mereka mengenakan penutup kepala dan tidak menggunakan kendaraan yang tak bisa di lacak?" Bagas menatap nyalang.
"Tentu saja tidak tuan, hanya saja memang perlu sedikit lebih lama untuk menemukan mereka, namun bukan berarti kami menyerah, kami akan berusaha sampai mereka di tangkap." urai Panji sambil membuka dan menyodorkan bungkusan makanan yang di bawanya untuk Bagas.
"Tenanglah tuan, anda hanya perlu fokus untuk istri dan tuan kecil saja, sementara untuk urusan lain biar saya dan Anwar yang mengurusnya, yang penting tuan jaga kesehatan, jangan sampai nyonya harus di jaga dokter Faisal karena tuan sakit dan tidak bisa menjaga nyonya." oceh Panji.
"Sialan kau, mana bisa seperti itu, dia sudah pergi jauh ke luar negeri." ujar Bagas yang segera menyambar bungkusan makanan yang di belikan Panji lalu menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya.
Suasana dalam ruang rawat inap Dara itu kembali hening setelah Panji peri dari ruangan itu, hanya terdengar suara alat pendeteksi janjtung yang terpasang ke tubuh Dara saja di ruangan itu.
Bagas memejamkan ,atanya di kursi sambil terduduk di samping ranjang Dara, bukan karena tertidur atau mengantuk, namun untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruknya yang sempat mampir ke benak pria yang terlihat sangat lelah itu.
"Dara bangunlah, apa kamu tak mau melihat wajah tampan putra kita? Jangan biarkan aku merasa kebingungan seperti ini, karena tak tau harus memilih antara menemani mu di sini atau menemani putra kita, bukankah kita sudah sepakat untuk mengurus bayi kita bersama-sama?" cicit Bagas terus saja mengobrol dengan Dara yang tak bereaksi sama sekali, Bagas terlihat lebih seperti sedang bermonolog saat ini.
Sementara di kediaman Bagas, meski api sudah mati sempurna, namun keadan mencekam masih terlihat di sana, terurtama bagian halaman belakang tempat bangunan paviliun berdiri, bangunan yang tersisa hanya tinggal puing-puing saja.
"Apa anda baik-baik saja mbak?" tanya Yoga saat mereka duduk di ruang tengah rumah menonton aksi Anwar yang tengah mengumpulkan menginterograsi semua pegawai rumah itu
"Apa mata mu buta tak bisa melihat ku se bugar ini, tentu saja baik, lagian si Anwar pagi-pagi udah berisik, ganggu orang tidur saja." kesal Kamila seraya melirik ke arah Anwar yang dengan seriusnya menanyai para pegawai di rumah itu satu persatu terkait kejadian semalam.
"Syukurlah kalau anda baik-baik saja mbak," ujar Yoga, bukannya menghawatirkan keselamatan adiknya yang jelas-jelas semalam di temukan tergeletak tak sadarkan diri dan sampai saat ini masih di rawat di rumah sakit, namun justru dirinya malah sibuk menanyakan keadaan Kamila yang terlihat sangat sehat pagi itu.
__ADS_1
Kamila bergegas menjauh dari ruangan itu saat ada panggilan masuk dari seseorang yang di kenalnya ke ponselnya.
Kejadian penyerangan yang mengakibatkan terbakarnya paviliun rumah Bagas ini memang bisa di katakan merupakan kejadian besar pertama kali yang pernah di alami, karena biasanya Bagas hanya menerima teror berupa surat kaleng yang beisi ancaman atau paket bangkai hewan yang di lakukan oleh beberapa saingan bisnisnya yang tak terima dengan kekalahan saat bersaing dengan perusahaan yang Bagas kelola.
Namun rupanya serangan kali ini bukan hanya masalah bisnis saja, tapi ada motif dendam, karena sudah mengarah ke pembunuhan beencana, bagaimana tidak, dengan terbakarnya paviliun itu, mereka berharap orang yang berad di dalambangunan itu akan tewas terpanggag api.
Beruntungnya Tuhan masih memberikan perlindungan pada mereka semua, meski Dara harus menjadi satu-satunya korban yang parah malam itu.
"Ceria sekali wajah anda nyonya, sepertinya anda baru saja mendapatkan lotre," tegur Panji, mulutnya terasa gatak ingin berkomentar pedas kala melihat Kamila yang baru saja selesai menerima telepon di luar rumah, dan masuk dalam keadaan wajahmua yang cerah ceria.
"Lantas aku harus bersikap bagaimana, nangis-nangis?" tantang Kamila.
."Aku baik-baik saja, lantas semua pegawai juga selamat dan baik-baik saja, tentu saja aku merasa penuh syukur!" keles Kamila, sepertinya dengan sengaja ingin menyampaikan kalau dirinya sama sekali tak bersimpatik dengan apa yang di alami Dara saat ini.
"Hemh,, nikmati keceriaan dan kegembiraan anda selagi bisa, nyonya. Permisi!" Panji bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kamila dengan wajah kesalnya.
"Hey, asisten sialan, apa maksud mu, apa kau sedang mengancam ku?" teriak Kamila tak terima, namun Panji hanya mengendikkan kedua bahunya seolah tak peduli, ingin rasanya Panji mengacungkan jari tengahnya ke hadapan Kamila, yang entah mengapa semua sikap, perkataan dan gerak-geriknya sangat mencurigakan menurut intuisi Panji, namun dia belum bisa menuduhnya karena belum ada bukti kuat yang di kantongi Panji saat ini.
"Arrrggghhh mengapa semua orang di rumah ini sangat menyebalkan sekali, sih!" teriak Kamila
Kesal.
__ADS_1
"Tentu saja tidak semua mbak, bukankah masih ada aku yang tak pernah menyebalkan ini," Yoga menyeringai, dia penasaran karena terdengar suara teriakan Kamila dari luar rumah,, dia agak merasa trauma jika ternyata Kamila di culik lagi oleh ayahnya, namun ternyata keributan itu di sponsori oleh Kamila dan Panji yang beradu argumen pagi itu.
"Cih, justru kau yang paling menyebalkan di antara semua orang yang menyebalkan di rumah ini!" sewot Kamila semakin marah, apalagi saat melihat wajah Yoga yang malah cekikikan seolah tanpa dosa.