
"Aku pulang!" ujar Dara dengan wajah datar dan nada bicara yang dingin.
"Apa tak ingin menemani ku makan siang sekalian, lagi pula kalian baru sampai, kenapa tidak pulang bareng saja nanti sore? Aku masih kangen." Kata Bagas yang tak menyimpan kecurigaan apapun dengan perubahan sikap Dara yang tiba-tiba dingin padanya.
Namun Dara keukeuh menolak, dan bersikukuh untuk pulang saja, hatinya terlanjur kesal dan marah atas penemuan foto itu, membuat dirinya yang tadi sangat bersemangat dan sangat ingin bertemu dengan suaminya itu tiba-tiba saja menghilang begitu saja.
Tanpa ingin memperpanjang masalah yang akan menimbulkan persebatan panjang nantinya, akhirnya Bagas mengizinkan istri dan anaknya yang baru saja tiba di ruang kerjanya itu untuk kembali pulang.
Saat sampai rumah Bagas baru merasa ada yang ganjil dengan sikap Dara, istrinya itu menjadi lebih banyak diam dan mengabaikannya,
"Sayang, apa aku melakukan kesalahan, atau menyinggung perasaan mu?" tanya Bagas, sungguh sikap Dara yang terus-terusan menghindari berdekatan dengannya membuat dia merasa kalau benar-benar ada yang tidak beres dengan Dara.
Sayangnya tak ada jawaban dari istrinya itu, bahkan sekedar gelengan atau anggukan kepala pun tak dia dapatkan.
"Sayang, tolong. Beri tahu aku jika aku melakukan kesalahan, aku tak mau di diamkan seperti ini, aku tak tau kenapa kamu jadi mendiamkan dan mengabaikan ku seperti ini, apa yang sudah aku lakukan, sungguh aku tak tau di mana letak kesalahan ku," wajah Bagas sudah terlihat kebingungan setengah mati.
"Tak tau dimana letak kesalahan mu? Oke!" ketus Dara semakin menampakan raut tak bersahabatnya.
"Oh, ayolah sayang, katakan saja apa kesalahan ku, aku bukan peramal yang bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran mu, tolong jangan mempersulit keadaan." Bagas memelas.
"Aku? Mempersulit keadaan?" nada bicara Dara sudah mulai naik satu oktaf.
"Lantas jika seorang suami diam-diam masih menyimpan foto mantannya itu bukan masalah buat mu, suatu kewajaran? Kenapa gak sekalian kamu tempeli lagi saja dan penuhi dinding rumah mu dengan foto mantan mu seperti dulu!" omel Dara dengan ceroscosannya yang tiada henti.
__ADS_1
Bagas mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat apakah ada foto Kamila yang masih tertinggal dan belum di buang oleh Anwar, dia sangat yakin jika foto mantan yang Dara maksud itu adalah foto Kamila, tapi sungguh dirinya sudah memerintahkan Anwar untuk membersihkan semua sudut rumah dari foto Kamila, dan sepanjang yang dia tahu, tak ada lagi foto Kamila tersisa di rumah maupun di kantornya.
"Aku akan bertanya pada Anwar, barangkali ada foto yang lupa belum dia bereskan." Ujar Bagas seraya berlalu hendak memanggil Anwar dan menanyakan hal yang membuat istrinya jadi merajuk itu.
"Untuk apa bertanya pada Anwar, tak usah melimpahkan kesalahan pada orang lain, lagi pula Anwar tak akan tau, karena foto yang masih tersimpan bukan di rumah, tapi di kantor, kamu sengaja kan, masih menyimpannya di kantor karena merasa kalau aku tak akan pernah tau karena aku tak pernah ke ruang kantor mu? Pantas saja kemarin kamu terlihat sangat kaget saat tau aku tiba-tiba datang ke kantor mu,"
Bukannya tambah reda, kemarahan Dara malah semakin menjadi-jadi, membuat Bagas semakin berpikir keras akaan tuduhan istrinya itu, sungguh dirinya sangat teramat yakin jika dia sudah tak menyimpan foto Kamila di kantor.
"Sayang, aku berani bersumpah kalau aku sudah tak menyimpan foto dia atau siapapun lagi di kantor kecuali fotokita bertiga, foto mu dan juga Kai." Bagas sangat bersemangat membela dirinya, karena dia yakin dengan apa yang di katakannya itu.
"Tak usah bersumpah, lantas ini apa!" Dara memberikan selembar foto Kamila yang dia temukan dan dia pungut dari lantai ruangan kantor Bagas tadi siang.
Bagas meringis dan langsung menyadari jika ini semua ternyata karena kecerobohannya tadi saat membereskan foto-foto hasil pengamatan Panji yang dia masukan ke laci meja kerjanya secara terburu-buru dan sepertinya tercecer dan akhirnya di temukan oleh istrinya.
"Oke,,,oke,,, foto ini dan ada beberapa yang lain di laci meja kerja ku memang sengaja di ambil secara diam-diam oleh anak buah Panji," ungkap Bagas dengan hati-hati.
"Ada beberapa lagi?" pekik Dara dengan mata yang melebar.
"Sayang, dengarkan aku dulu, aku belum selesai memberi penjelasan pada mu, aku memang memerintahkan Panji untuk melakukan pengintaian pada Kamila, tapi jujur saja itu semua bukan untuk kepentingan pribadi ku," kelit Bagas.
"Mas, bukankah mas yang mengatakan pada ku kalau mas sudah tidak peduli dan tidak mau berurusan lagi yang bersangkutan dengan Kamila, lalu apa artinya ini semua, mas?"
"Aku belum bisa menceritakan semua ini pada mu, demi Tuhan apa yang aku katakan tentang perasaan ku pada Kamila itu memang benaradanya dan aku sudah tak peduli lagi dengannya, ini semua di luar perasaanku, di luar kepentingan pribadi ku,"
__ADS_1
"Aku tak akan percaya jika kamu tak menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi," ketus Dara lagi tak mau menyerah begitu saja.
Bagas malah terlihat kebingungan, beberapa kali dia megusap wajahnya dengan kasar, bahkan menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan cemas.
"Mas, ceritakan atau kamu gak usah tidur di kamar atas!" Ancaman pamungkas Dara sepertinya cukup ampuh juga, terbukti dengan Bagas yang sontak langsung terperangah mendengar ancaman istrinya yang sangat mengancam kesejahteraan kelaki-lakiannya.
"Iya iya iya, aku akan cerita, tapi kamu harus berjanji kalau setelah mendengar cerita ini jangan sampai ada efek atau berpengaruh pada hubungan kita!"
"Tergantung, aku tak mau berjanji," tolak Dara.
"Kakak mu menggelapkan barang-barang dari gudang," ungkap Bagas pada akhirnya meski dengan berat hati, sebenarnya dia tak ingin mengatakan semua ini pada istrinya karena dia yakin Dara akan merasa tak enak hati atau malah akan menjadi permasalahan baru di antara mereka.
"Lalu apa hubungannya dengan mengintai Kamila? Untuk kerugian yang di timbulkan kakak ku, aku akan menggantinya dengan uang ku sendiri, uang hasil bisnis online ku!" wajah Dara sudah mulai tak enak.
"Bukan masalah ganti atau apa, karena ini bukan sekedar nominal, tapi menurut pengintaian Panji dan anak buahnya, itu semua kakak mu lakukan demi untuk memenuhi gaya hidup Kamila yang selalu mewah. Aku takut jika kakak mu hanya di manfaatkan saja, makanya aku sengaja mencari tahu tentang semua ini," terang Bagas.
Dara mulai mengendur, wajahnya tak lagi kencang, kini dirinya juga mulai merasa tak enak hati dengan kelakuan kakaknya yang tega menghianati kepercayaan yang di berikan Bagas padanya.
"Maafkan kakak ku, maafkan keluarga ku, maafkan aku, yang hanya bisa menimbulkan masalah dan membuat mu susah," ucapan Dara kini mulai lirih.
"Sayang, jangan berkata seperti itu, keluarga mu adalah keluarga ku juga, kalau yang di manfaatkan Kamila bukan kakak mu juga aku tak akan ambil pusing, tapi ini menyangkut kakak mu, aku jelas harus turun tangan, aku sungguh tau kelicikan wanita itu, aku tak mau kakak mu hancur di tangan wanita siluman itu." Beber Bagas.
Membuat Dara semakin merasa bersalah karena lagi-lagi dirinya selalu berprasangka buruk pada suaminya itu, bahkan dirinya sudah memaki-maki Bagas dengan penuh emosi, namun ternyata pria itu selalu memikirkan tentang dirinya, bahkan tentang semua keluarganya.
__ADS_1
"Kamu tak usah banyak pikiran atau apapun itu, untuk masalah ini, biar aku yang menanganinya, serahkan pada ku dan Panji, aku hanya ingin kakak mu tak terjerumus lebih dalam lagi dalam jeratan tipu daya Kamila." pungkas Bagas seraya menarik tubuh istrinya dan menenggelamkan dalam pelukannya, rasanya lega sudah mengatakan hal selama beberapa minggu ini dia pendam dan sembunyikan dari istrinya dengan segala pertimbangan itu, namun ternyata berkata jujur pada istrinya adalah pilihan yang paling tepat.