Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Berontak


__ADS_3

"Panggil dia kesini,!" Titah Bagas pada Anwar.


Tanpa harus menyebutkan siapa yang harus dibawanya, Anwar sudah mengerti kalau Dara lah yang dimaksud Bagas untuk di bawanya menghadap pada tuannya.


Sejak semalam Anwar sudah di perintahkan untuk membawa kembali Dara ke kamarnya dan tak lagi di perbolehkan tinggal di paviliun, tak peduli meski keadaan Dara masih lemah saat ini, Bagas terlanjur marah dan kesal dengan sikap Dara yang selalu saja menentangnya, darah Bagas selalu di buat mendidih kala wanita itu menentang semua yang di katakannya dan selalu memandang dirinya sebagai musuh yang membahayakan, meskipun memang kenyataannya Bagas sangat membahayakan bagi diri Dara.


"Siapa yang menyuruh mu duduk di sana!" Teriak Bagas saat Dara hendak menduduki kursi kosong di meja makan itu, membuat Dara menghentikan langkahnya dan berdiri terdiam di tepi meja makan dimana Bagas dan Kamila sedang duduk dan bersiap menikmati sarapan mereka.


"Layani kami, siapkan makanan dan tuangkan minuman untuk ku dan istri ku," tatapan mata Bagas mengunci pada sosok Dara yang mengangguk patuh lalu menjalankan semua apa yang di perintahkan padanya tanpa protes sedikitpun, raut wajahnya bahkan tak terlihat marah atau kesal sama sekali.


"Sayang, dia menumpahkan jus jeruk pada baju yang baru saja kamu belikan kemarin!" Adu Kamila yang sengaja menyenggol tangan Dara yang masih terbalut perban sehingga pitcher kaca berisi jus jeruk itu sedikit tumpah karena tangannya yang goyah akibat menahan sakit, dan mengenai lengan baju Kamila.


"Bersihkan itu dan minta maaf padanya!" Perintah Bagas pada Dara dengan tatapan membunuhnya, dia tau dan melihat dengan jelas kalau Dara tak salah, karena tadi Kamila lah yang sengaja menyenggol tangan kiri Dara yang terluka, namun kemarahan Bagas terhadap Dara seakan membutakan matanya sendiri, dan tetap meminta Dara untuk meminta maaf juga membersihkan baju Kamila.


Sementara Kamila tersenyum puas karena akhirnya Bagas kembali seperti dulu yang selalu membelanya apapun yang terjadi, lirikan jahatnya pun sengaja dia layangkan pada madunya yang tak berani berkutik karena di bawah tekanan Bagas yang tak oernah berpihak padanya meskipun dirinya sama-sama berstatus istri sah nya di rumah itu.


"Ahh, sudah sudah! Bukannya bersih kau malah membuat lebih kotor baju ku," dorong Kamila hingga Dara terhuyung beberapa langkah ke belakang, tubuhnya masih terlalu lemah, jalannya masih terpincang akibat menginjak pecahan kaca, untung saja dia bisa menyeimbangkan badannya dan tak sampai jatuh ke lantai.

__ADS_1


Namun seakan tak hanya cukup sampai di sana saja, saat Dara berjalan hendak berjalan menuju ke arah Bagas dan menyiapkan sarapan suaminya, Kamila menjegal langkah pincangnya, hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki Bagas.


Nyer,,,,


Hati Bagas berdesir sangat kencang saat melihat Dara jatuh tersungkur di bawah kakinya, ingin rasanya dia memeluk dan membantunya berdiri, hanya saja ego dalam dirinya membentengi semua perasaan itu, diam dan pura-pura tak peduli adalah sikap yang di pilih Bagas saat ini dalam menghadapi situasi sulit yang terjadi tepat di depan matanyaa itu.


Tak ada perlawanan sama sekali dari diri Dara, meskipun dirinya tau kalau Kamila tengah mengerjainya, bahkah Bagas juga terkesan membiarkannya, sehingga membuat wanita itu semakin berani merundung dirinya.


Bagas membuang pandangannya jauh-jauh dari sosok Dara yang kini bersimpuh di lantai,


"Sayang, kau ikut temani aku sarapan di luar, aku sudah tak berselera lagi sarapan di rumah!" ajak Bagas seraya bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Dara yang sedang susah payah berusaha bangkit dari lantai di bantu Anwar yang mengulurkan tangannya karena merasa iba.


"Sayang, usir saja wanita itu dari rumah mu, aku tak suka melihat dia berada di sekitar mu, aku takut kamu khilaf dan tergoda olehnya." bujuk Kamila menunjukkan sikap manjanya, dan memanfaatkan situasi karwna di rasa saat ini Bagas sedang sangat berbaik hati padanya dan kelihatannya suaminya itu juga sedaang sangat kesal pada madunya itu.


"Aku sudah mengatakan berulang kali pada mu untuk tidak usah mencampuri urusan ku, aku lebih tau apa yang harus aku lakukan, jadi stop untuk ikut campur masalah pribadi ku!" ucap Bagas dingin, membuat Kamila merasa kalau Bagas sepertinya tak mau kalau Dara pergi dari rumahnya.


Namun Kamila sudah memikirkan banyak cara bagaimana agar Dara bisa pergi selamanya atau bahkan terusir dari rumahnya Bagas, semua itu hanya tinggal menunggu waktu saja untuk melancarkan semua rencananya.

__ADS_1


Sementara di rumah kediaman Bagas, Dara hanya bisa menangis tanpa air mata, sudah kering rasanya air mata Dara hanya untuk menangisi nasib buruknya ini, dia kini sungguh berada dalam posisi dan situasi yang sangat menyulitkan dirinya, sungguh ingin dirinya berontak dan melawan, namun bagaimana jika Bagas melakukan ancamannya mengenai keselamatan keluarganya di kampung, tapi kalau dirinya terus berpasrah diri dan membiarkan Bagas yang tak hanya menyakiti hatinya dan perasaannya saja namun juga menyakiti pisiknya, ditambah lagi sekarang ada Kamila yang ikut menambah penderitaannya, sepertinya Dara tak akan sanggup menjalani ini semua, dia tetap harus mencari jalan agar dirinya bisa terbebas dari jeratan Bagas dan keluar dari rumah terkutuk itu.


Sampai malam tiba Dara hanya duduk merenung di kamarnya memikirkan semua kemungkinan yang bisa dia lakukan untuk pergi, namun tak juga dia mempunyai jawaban atas semua pertanyaan yang di berikan pada hatinya sendiri, semua seolah tak mungkin, dan semuanya dirasa Dara terlalu sulit, mengingat banyaknya penjaga di rumah ini dan belasan asisten rumah tangga yang seolah menjadi mata ke dua setelah cctv di setiap sudut ruangan rumah itu.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Dara sudah bisa menebak siapa yang datang, siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya dengan leluasa kecuali Bagas dan Kamila tentu saja, hanya dua manusia itu yang selalu bersikap sewenang-wenang padanya.


Tebakan Dara benar, kali ini Bagas yang datang menemuinya. Dara sudah bertekad tak ingin lagi di injak-injak oleh Bagas maupun Kamila, pokoknya dia tak akan mengalah lagi pada pasangan suami istri sakit jiwa itu.


"Ada apa lagi Tuan, kenapa setiap malam selalu menemui saya, apa istri tuan yang sangat tuan cintai itu tak mampu melayani tuan, atau justru tak membuat anda bergairah?" tanya Dara dengan bernada mengejek.


"Kau, kenapa mulut mu semakin kesini semakin lancang dan berani saja, hem?" Bagas mencapit dagu Dara dengan sebelah tangannya, sehingga kini Dara terlihat sangat menantang dan menggoda karena wajah dan tatapan dinginnya yang kini mulai berani membalas tatapan matanya seolah-olah mengajaknya bersitegang.


"Jika anda tak ingin ada orang yang lancang dan berani pada anda, maka seharusnya anda mengusir saya sedini mungkin, sebelum saya semakin berani dan semakin lancang pada anda, untuk masalah uang, aku akan mencicilnya!" ucap Dara tanpa ada takut sedikit pun,dia merasa putus asa menghadapi Bagas, ibarat pepatah 'menang jadi abu, kalah jadi arang' atau dengan kata lain, apapun yang dia lakukan dalam melawan Bagas, dia tau hasil akhirnya pasti dia lah yang akan kalah, namun sayangnya kali ini dia sedang tak mau mengalah.


"Tidak semudah itu, karena aku lebih suka mengajari kucing liar seperti mu agar menjadi penurut pada ku," Bagas melum mat bibir Dara yang berada tepat di hadapannya, gairahnya tak bisa di bohongi, rasa itu mendadak muncul dan tak terkendali, godaan bibir Dara yang merah dan basah membuat dirinya goyah.


Dara berontak, sungguh dia tak ingin mengulang kembali apa yang Bagas lakukan padanya saat dia merenggut kesuciannya tempo hari.

__ADS_1


"Percayalah, sampai kiamat pun kau tak akan bisa mencicil uang yang ku berikan pada orangtua mu sebanyak 20 kali lipat, namun kau bisa membayarnya dengan tubuh mu, aku akan melepaskan mu dan menganggap hutang mu lunas jika aku sudah tak menginginkan tubuh mu lagi!" Bagas menyeringai penuh napsu setan, membuat Dara merinding mendengar semua ucapan Bagas yang berniat menjadikannya pemuas nafsunya, bagaimana bisa dirinya terjebak dengan monster se buas dan se kejam Bagas yang dengan teganya menjadikan dirinya pela cur berkedok pernikahan.


__ADS_2