Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Kenyataan yang pahit


__ADS_3

"Aku hamil, dan ini adalah anak mu!" tegas Kamila dengan sorot mata yang tajam menatap wajah Bagas yang kini sedang mengerutkan keningnya, bertanya-tanya apa dirinya tak salah dengar?


Brakk,,,,


Suara sesuatu yang jatuh dari balkon membuat Bagas spontan berdiri dan berlari ke arah sumber suara, memastikan kalau tak ada yang terjadi pada istri dan anaknya.


"Ada apa, kalian baik-baik saja?"


Mata Bagas terus menelisik seperti sedang menscan dari ujung kepala sampai ujung kaki Dara, memastikan kembali kalau wanita itu dan juga anaknya tidak mengalami suatu hal buruk apapun.


"Emhh,, ka-kami baik-baik saja, aku hanya tersandung pot bunga tadi," gugup Dara, badannya tiba-tiba bergetar hebat dan kakinya lemas seperti tak bertulang saat mendengar pernyataan Kamila tadi, bukan maksudnya untuk menguping, namun pisisinya yang berada tak jauh dari tempat Bagas dan Kamila mengobrol memaksa telinganya untuk menyerap semua pembicaraan mereka.


"Ah, bajingan, siapa yang menaruh pot bunga ini disini, sangat membahayakan!" umpat Bagas tangannya langsung terulur dan menyambar pot bunga tak berdosa itu dan melemparkannya ke luar sampai bunyi pecahan pot yang sangat kencang itu membangunkan bayi mereka yang sedang tertidur lelap.


"Mas," wajah Dara mulai pucat dan terlihat ketakutan melihat sikap Bagas barusan, bayangan saat Bagas melakukan kekerasan padanya kembali terngiang di kepalanya hingga membuat tangannya tremor seketika, untung saja Bagas sigap dan mengambil alih bayi mereka ke dalam pelukannya.


"D-Dara, maaf,,, aku tak bermaksud," Bagas memeluk istrinya dengan panik, dia tau istrinya sangat trauma dengan kekerasan yang dirinya lakukan di waktu lampau, namun tadi Bagas hanya merasa kesal, kesal entah pada siapa, apalagi mendengar pengakuan Kamila yang tak masuk akal tadi.


Bagas membawa istri dan anaknya ke dalam dan mendudukan Dara dengan perlahan di Ranjang, setelah sebelumnya menidurkan bayi mereka di boks terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagas, pembicaraan kita belum selesai!" ucap Kamila yang tak tahan lagi dengan adegan demi adegan mesra antara Bagas dan Dara yang seolah sengaja di pertontonkan padanya.


"Cukup,! Aku tak mau lagi mendengar omong kosong mu, aku tak merasa pernah meniiduri mu selama kita menikah, tak usah kau mengarang-ngarang cerita hanya untuk merusak rumah tangga ku, pergilah sebelum aku tendang kau dari rumah ini" bentak Bagas penuh emosi, dirinya bahkan enggan beringsut sedikit pun dari sisi Dara yang semakin ketakutan mendengar suara keras Bagas.


"Kau lupa apa yang terjadi dengan kita saat hari umang tahun mu? Malam itu begitu indah," Kamila menyeringai penuh kemenangan, tak lupa dia juga melemparkan sebuah alat tes kehamilan di atas meja yang berada di hadapannya.


"Ah shiiiiit! Kau menjebak ku, dan aku tak ingat apapun saat itu karena aku sedang mabuk, pergilah cepat, kemasi barang-barang mu dan jangan pernah menampakan wajah mu yang menjijikan itu di hadapan ku!" Telinga Bagas bak trbakar mendengar ocehan Kamila, sehingga tanpa basa basi lagi Bagas langsung menyeret Kamila keluar dari kamarnya.


Ada perasaan wanita yang kini harus di jaga, perasaan ibu dari anaknya yang bisa saja terluka akibat perdebatannya dengan Kamila.


"Dara, maafkan aku, tapi aku bersumpah aku tak pernah melakukan itu semua, aku jujur pada mu aku tak pernah berhubungan layaknya suami istri dengannya, meskipun saat kami berpacaran dulu kami sering melakukannya, tapi itu lima tahun yang lalu, percayalah, kau percaya, kan?" Bagas bersimpuh di hadapan istrinya yang masih duduk di tepi ranjang king size mereka.


"Dara, jangan diam saja, kau boleh marah atau bahkan memukul ku kalau kau merasa tak suka," Bagas meraih tangan Dara dan menempelkannya di pipinya seraya mempersilahkan jika istrinya itu ingin memukul atau menamparnya.


"Mas, aku tak marah, aku hanya kecewa dengan sikap mu yang langsung mengusir Kamila begitu saja, bagaimana jika yang di katakan Kamila itu benar, kalau dia sedang mengandung anak mu?" ujar Dara lembut.


Oke, sebut saja kini Dara sedang berusaha menjadi manusia munafik, dimana jauh di dalam hatinya yang terjadi sekarang ini adalah rasa sakit dan kecewa dengan kenyataan yang harus di terimanya, namun dia juga tak mau menjadi wanita jahat yang membiarkan wanita lain yang sedang dalam kondisi hamil harus menerima ketidak adilan, bukannya dia meragukan kejujuran yang di katakan Bagas, hanya saja semua hal bisa saja terjadi, bukan? Apalagi mendengar pernyataan Kamila tadi yang katanya pernah melewatkan malam dengan Bagas, meski Bagas mengklaim kalau semua itu karena dirinya mabuk, tapi bagaimana kalau ternyata itu benar anak Bagas?


"Aku tak pernah merasa tidur dengan nya setelah kami berpisah selama hampir 5 tahun! Apa kau tak percaya dengan ucapan ku? Aku berani bersumpah!" Bagas mengangkat telapak tangannya sejajar dengan wajahnya seraya menunjukkan sikap bersumpah.

__ADS_1


"Aku percaya mas, hanya saja tadi Kamila mengatakan kalau saat ulang tahun mu---"


"Aku sedang mabuk berat saat itu, aku mabuk berat karena baru saja mengetahui kalau kau ternyata selama ini tinggal bersama Faisal, aku bingung, aku kalut, aku tak tau harus berbuat apa, aku pikir kau sudah menikah dengan Faisal dan aku tak mungkin merebut istri dari kakak sepupuku meskipun saat itu kau masih berstatus istri sah ku. Semenjak kehilangan mu, aku selalu menghabiskan waktu ku di paviliun, aku dan Kamila bahkan jarang sekali bertemu walau jarak kami hanya terhalang tembok bangunan belakang, namun entah mengapa hari itu setelah aku mabuk semalaman paginya aku mendapati diri ku tidur di rumah utama, di kamarnya. " urai Bagas mengingat kembali apa yang terjadi saat itu, dimana Panji baru saja menceritakan pertemuannya dengan Dara dan Faisal di bandara.


Dara terdiam, dia bisa merasakan ketulusan dan kejujuran dari cerita yang Bagas sampaikan padanya, rupanya semua ada kaitannya dengan dirinya, kenaifan Dara muncul kembali, dia merasa akan sangat bersalah jika Bagas benar-benar mengusir Kamila yang mungkin saja mengandung anak dari suaminya itu.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan sekarang ini agar kamu percaya dan mau memaafkan ku," seorang Bagas Prawira mengiba, bersimpuh di hadapan gadis kampung yang sebelumnya hanya di pandng sebelah mata olehnya, sungguh cinta bisa merubah segala hal, bahkan melakukan hal terbodoh dan hal paling memalukan sekalipun.


"Mas, aku tidak sedang marah, aku juga percaya dengan semua yang kamu sampaikan pada ku, hanya saja, menurut ku, bukankah sebaiknya di pastikan dulu siapa ayah dari bayi yang di kandung Kamila, aku tak mau kamu menyesal di kemudian hari jika ternyata anak itu benar-benar darah daging mu, adik dari Kaisar, ibunya yang bersalah pada mu, bukan bayinya, tolong pikirkan itu." kata Dara, meski berat untuk mengucapkan itu semua, tapi hal itu memang harus di sampaikan pada suaminya, dia tak ingin ada bayi yang tak berdosa harus ikut menanggung pertikaian antara orang dewasa, sungguh bayi itu tak dapat me


"Tapi Dara, jika pun itu memang benar anak ku, semua itu hasil dari penjebakan, bukan dari keinginan ku, ini semua bukan keinginan ku, aku tak bisa menerimanya!" tolak Bagas.


"Mas, sungguh bayi itu tak dapat memilih dari rahim siapa dia di lahirkan, dari benih siapa dia di ciptakan, dan dengan cara apa ayah dan ibunya membuatnya, cerita apa di balik kehadirannya, tak selayaknya bayi itu memikul tanggung jawab atas itu semua, tolong bicarakan baik-baik, selesaikan selesaikan dan cari kebenarannya, setelah itu baru mengambil keputusan jalan apa yang akan kamu ambil." ujar Dara panjang lebar, dia tak bermaksud menggurui suaminya, hanya saja rasanya dia berkewajiban meluruskan jika jalan yang di ambil suaminya itu adalah sebuah kesalahan.


"Aku akan mempertimbangkannya, tapi mungkin aku juga butuh waktu, terimakasih sudah mau mengerti aku, tak ada wanita lain sehebat mu yang pantas menjadi pendamping ku,"ucap Bagas pada akhirnya, dia belum tau langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya, tapi masukan dari istrinya memang tak ada salahnya, namun begitu dia pun tak seta merta untuk mengikuti semua yang di sarankan Dara padanya, seperti yang dia katakan pada Dara, kalau Bagas akan mempertimbangkan semua yang di sarankan Dara padanya itu.


Bagas kini hanya perlu memikirkan bagaimana kedepannya jika ternyata bayi yang berada di kandungan Kamila itu benar-benar anaknya, sungguh Bagas tak ingin semua itu berpengaruh atau bahkan lebih parah lagi menghancurkan kebahagiaan yang baru saja di rasakan dirinya bersama Dara dan bayi mereka.


Entah rencana apa lagi yang Tuhan persiapkan untuk dirinya, sebegitu jahat dan berdosanya kah dirinya hingga Tuhan tak membiarkan Bagas untuk merasakan kebahagiaan barang sebentar saja.

__ADS_1


__ADS_2