
"Apa yang kau lakukan di sini?" bentak Bagas saat pagi-pagi dirinya mendapati Kamila yang terlelap di atas kasur dan di dalam selimut yang sama dengan dirinya.
"Ah, kamu sudah bangun sayang?" Kamila menggeliat malas saat mendengar suara Bagas yang membentak-bentak dirinya.
Kamila sudah bisa memprediksi kalau hal ini pasti akan terjadi saat kesadaran suaminya sudah kembali pulih, makanya dia menanggapi omelan Bagas dengan santai pagi itu, lagi pula matanya masih terasa berat dan belum ingin terbuka di pagi buta ini.
"Hentikan kekonyolan mu, berhenti panggil aku dengan sebutan itu, sekarang kau pergi dari sini sekarang!" titah Bagas dengan suara membahananya.
"Oh ayolah, ini baru pukul 5 pagi, jangan membuat keributan di pagi buta seperti ini, lagi pula, kamu yang datang sendiri ke kamar ku, apa kamu masih mabuk? coba lihat lagi, dimana kamu sekarang ini?" Kamila mulai mengarang bebas.
"Ah, sial,,,!" umpat Bagas saat mulai menyadari kalau dirinya berada di kamar Kamila di bangunan utama, lebih tepatnya kamar yang dulu sempat mereka tempati bersama, dan bukanlah di paviliun tempat biasa dirinya tinggal selama berbulan-bulan ini.
Rahang Bagas semakin mengeras begitu dia menyadari kalau dirinya tak memakai sehelai benang pun di balik selimut, begitu pun dengan Kamila, mereka sama-sama polos di balik kain tebal yang melindungi tubuh mereka dari dinginnya hembusan AC.
Bagas kembali mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya semalam, dia hanya ingat kalau dirinya sedang mengobrol masalah Dara di kantornya, kemudian dirinya mabuk berat akibat tak mampu menanggung beban pikiran dimana dirinya baru saja mendapat kabar kalau Dara kini bersama Faisal, entah hubungan seperti apa yang terjadi pada istri dan sepupunya itu, yang jelas semua itu sukses membuatnya hilang kontrol sampai hilang kesadaran semalam.
Bagas bahkan tak dapat mengingat apa yang dia lakukan bersama Kamila semalam, karena Kamila sama sekali tak ada dalam rekaman memorinya semalam meski dia berusaha keras untuk mengingatnya.
"Hemhhh,,, kau terlalu menikmati kegiatan kita semalam rupanya, sampai kau seperti linglung begitu," Kamila malah terus semakin memprovokasinya membuat kepala Bagas seolah mau meledak pagi ini.
"Cih, mungkin kau hanya berhalusinasi, karena meski aku dalam keadaan tak sadar pun tubuh ku tak mungkin mau dengan mu yang bekas di pakai banyak pria!" kesal Bagas bergegas turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya yang masih tersisa di lemari kamar itu, dan segera melangkahkan kaki keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Hanya aku, dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi di antara kita semalam," Kamila menyeringai dengan liciknya.
"Sayang, terimakasih! Kau selalu hebat seperti biasanya!" seru Kamila saat Bagas memutar handle pintu kamar dan hendak melangkahkan kaki ke luar.
Sayangnya tak ada reaksi apapun dari Bagas, bahkan menolehpun sepertinya sama sekali tak sudi.
Kamila tersenyum getir sepeninggal Bagas dari kamarnya, bahkan dirinya sampai rela menjatuhkan harga dirinya sejatuh-jatuhnya pun, Bagas tetap tak meliriknya, oke,,, kesalahannya mungkin terlalu besar dan sulit untuk di maafkan oleh Bagas, karena setelah Bagas memberinya kesempatan kedua setelah dirinya meninggalkan dia demi menikah dengan pria lain yang lebih kaya raya dia masih saja melakukan kesalahan lagi dan lagi.
Namun saat mengingat racauan dan igauan Bagas semalam yang yak henti memanggil-manggil nama Dara membuatnya merasa sangat marah, dimana menurutnya semua ini adalah kesalahan Dara, andai saja Dara tak datang di kehidupan Bagas, suaminya itu pasti akan selalu memaafkan apapun kesalahan yang di perbuatnya karena dirinya satu-satunya wanita yang di cintai Bagas.
Namun semenjak Dara datang dan seolah menjadi pembanding untuk dirinya, semua perhatian dan cinta Bagas seolah teralihkan semua untuk wanita yang baru di kenalnya hanya karena kemiripan wajah dengannya.
"Sial,,,Dara sialan! Semoga kau benar-benar mati dan tak akan pernah kembali lagi ke kehidupan Bagas, pergi dan membusuklah kau di neraka!" teriak Kamila bak orang kehilangan kewarasannya, memaki, mengamuk dan melempar semua barang yang berada di sekitar jangkauannya.
Sementara di tempat lain, Dara yang kini tinggal di apartemen milik Faisal tiba-tiba terbayang lagi saat-saat pertemuan dengan Bagas di rumah sakit tempo hari, sempat terbersit tanya dalam benaknya mengapa Bagas harus ribut hanya karena bau colonge yang biasa di pakainya itu, apa ayah dari anaknya itu masih mengingat wangi tubuhnya?
"Ah,,, tidak--tidak, tolong jangan gila, dia hanya pria kejam yang hanya memanfaatkan tubuh dan wajah kuyang mirip dengan wanita yang di cintainya saja, tak mungkin jika dia menaruh perhatian sebesar itu untuk ku," gumam Dara lirih, dia terus saja berdebat dengan dirinya sendiri.
"Hey, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau berbicara sendiri seperti orang tak waras saja!" tegur Faisal yang ternyata sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu di belakangnya.
"Ah, dok, kenapa mengagetkan ku!" kejut Dara yang sama sekali tak menyadari kedatangan Faisal sore itu.
__ADS_1
"Ish, masih saja memanggil ku dengan sebutan 'dok' risih aku mendengarnya," kesal Faisal.
"Maaf, mas," ralat Dara.
Pria itu memang tak tinggal di apartemennya, dia memilih untuk tinggal di kliniknya, hanya saja saja hampir setiap hari kalau dirinya sedang tak bertugas di klinik maupun di rumah sakit, dia pasti datang menemui Dara di apartemen miliknya yang kini di tinggali oleh Dara, hanya sekedar memeriksa bagaimana kabarnya dan mengantarkan beberapa bahan makanan sehat, meskipun Dara sering sekali melarangnya, karena Dara merasa tak enak hati harus selalu merepotkan dokter penyelamat hidupnya itu.
Sudah lebih dari cukup bantuan Faisal selama ini, dari perhatian, finansial, pria itu juga tak hanya memberinya uang, tapi mengajarkan bagaimana cara berbisnis, sehingga dirinya tidak harus selalu bergantung pada kemurahan hati Faisal saja.
Dara di ajari berbinis secara online sehingga dia bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah, tak harus selalu keluar, dan hasilnya lumayan bisa Dara sisihkan sebagian untuk menabung setelah semua kebutuhan hidupnya yang sebagian besar masih di tanggung Faisal itu terpenuhi.
"Aku sudah mengucapkan salam saat masuk ke sini tadi, hanya saja sepertinya kau sedang asik melamun, siapa yang kau lamunkan sebenarnya?" goda Faisal, lantas mendudukan diri di sofa ruang tengah dimana Dara juga sedang duduk di sana.
"Bagaimana keadaan jagoan di perut mu, apa dia tak menyusahkan mu?" mata Faisal memandang intens ke arah perut Dara yang sudah sangat membesar itu, membayangkan seperti apa rupa bayi yang menurut hasil USG berjenis kelamin laki-laki itu, sungguh Faisal seperti sudah mempunyai ikatan batin yang sangat erat dengan bayi yang di kandung Dara itu, rasanya seperti sedang menantikan anaknya sendiri.
Bagaimana tidak, Faisal mengikuti perkembangan bayi itu dari semenjak perut Dara rata sampai membuncit sebesar itu, membuatnya sangat tak sabar menunggu persalinan yang di prediksi sekitar kurang lebih satu bulan lagi itu.
"Dia baik-baik saja, dan tak pernah menyusahkan ibunya, paling menyusahkan om nya," cegir Dara.
"Bagas meminta bertemu dengan ku malam ini," ujar Faisal ada sorot kegelisahan di matanya.
"Lalu? Bukankah kalian saudara sepupu dan katanya sangat akrab, ya itu suatu hal yang wajar, kan?" ucap Dara mencoba bersikap tenang dan berpikiran positif.
__ADS_1
"Hemh, harusnya seperti itu, tapi entah mengapa aku merasa tak enak hati," adunya mengungkapkan kegelisahannya.
"Semoga itu hanya perasaan mu saja, mas." ucap Dara yang kemudian di angguki Faisal.