
Teriakan dan jeritan Dara sungguh terdengar sangat memilukan, hanya saja mirisnya tak ada seorangpun yang menghiraukan jeritan pilu Dara yang sangat membutuhkan pertolongan itu, seakan tak ada orang lain di atas kapal itu, atau kalaupun ada, mereka mungkin sedang berpura-pura buta dan tuli saat ini.
"Tolong tuan, lepaskan saya,,,, saya mohon!" tintih Dara mengiba, entah dosa apa yang di lakukannya di kehidupan sebelumnya, sehingga hidupnya kini seakan terus di rundung pilu.
Rasanya tak ada harapan baginya untuk meminta pertolongan pada siapapun di atas kapal itu maupun di sekitarnya, karena saat ini mereka sedang berada di atas laut lepas, dimana sejauh mata memandang hanya ada hamparan air dengan gelombang yang terkesan begitu tenang.
Tak ada harapan untuk Dara terlepas dari cekalan pria yang sedang berusaha ingin menggagahinya secara paksa itu, Dara berpikir lebih baik dia mati dengan cara terhormat daripada hidup dalam keadaan terhina, maka tanpa pikir panjang lagi, saat dirinya mendapatkan kesempatan untuk terlepas dari cekalan pria jahat itu, Dara lari sekencang mungkin ke arah pinggir kapal, berpegangan pada pagar besi pembatas yang hanya setinggi dadanya saja, tanpa pikir panjang lagi dan tanpa pertimbangan apapun, Dara menaiki pagar itu dan melompat ke lautan, tak peduli akan dirinya yang tidak bisa berenang, tak peduli jika kemungkinan terburuk yang akan menimpa pada dirinya adalah dirinya bisa saja mati tenggelam, dia hanya ingin terlepas dari pria yang berusaha merudapaksanya saja.
"Arrgghhh shiiiit, gadis bodoh, kenapa dia malah memilih mati dari pada bersenang-senang dengan ku!" kesalnya seraya melongok ke arah lautan dimana tadi Dara melompat, namun tak terlihat tubuh Dara mengapung di sekitar kapal, membuat pria itu diliputi rasa kesal yang teramat sangat hingga tanpa sadar kepalantinju tangannya menghantam pagar besi pembatas kapal beberapa kali hingga punggung tangannya memerah.
"Kamila, kau harus membayar semua kerugian ku ini!" geram pria itu lantas mengeluarkan ponselnya, lalu terdengar memaki-maki seseorang yang dia hubungi di ujung telepon sana.
**
Di tempat lain,
Kamila terlihat mondar-mandir di teras kamarnya yang langsung menghadap pantai dan lautan lepas itu, entahlah bukannya saat ini seharusnya dia merasa senang karena mendapat kabar kalau Dara menceburkan diri ke lautan lepas dan kemungkinan tak terselamatkan, namun alih-alih merasa bahagia, Kamila justru kini merasa ketakutan dan kebingungan karena orang yang membeli Dara kini meminta uang ganti rugi sebesar sepuluh kali lipat dari uang yang dia keluarkan untuk membeli Dara, dia juga meminta uang ganti penyewaan kapal dan kerugian karena dia sudah menawarkan Dara pada para koleganya untuk di jual, total kerugian yang pria itu minta jumlahnya tidak main-main hampir mencapai 1,5 milyar, jika tidak Kamila penuhi, maka pria itu akan membocorkan permasalahan ini pada Bagas, dan bahkan pada pihak kepolisian atas tuduhan human trafficking dengan ancaman hukuman penjara yang tidak main-main.
__ADS_1
Dari mana uang ganti rugi sebanyak itu akan dia dapat, sementara kalau meminta Bagas dia pasti akan bertanya peruntukan uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, meskipun dia yakin bagi Bagas itu bukan uang yang besar, hanya saja tetap saja Kamila perlu berhati-hati dlam hal ini, salah-salah,,, bukan hanya bisa bermasalah dengan suaminya itu, namun dia juga bisa bermasalah dengan hukum.
"Sayang, kamu belum bersiap-siap? Ayo kita berangkat sekarang," suara Bagas yang tiba-tiba saja berada di belakangnya membuat wanita itu merasa sangat kaget sekaligus gugup secara bersamaan.
"Ah iya, aku sudah siap kok, hanya tinggal mengganti pakaian saja." Gugupnya.
"Oke, aku tunggu di luar!"
Bagas keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kamar belakang dimana tempat Dara seharusnya berada, selama dirinya berbincang dengan kliennya tadi pikirannya terasa tidak tenang, dan anehnya entah mengapa bayangan wajah Dara terus-menerus membayangi di depan pandangannya, membuat dirinya menjadi agak sedikit tidak fokus dan mempercepat pertemuan bisnisnya itu agar dirinya bisa segera bertemu dengan Dara dan memastikan kalau wanita yang terus mengganggu konsentrasinya itu baik-baik saja.
Namun saat dirinya memasuki kamar yang sedikit lebih sempit di banding kamar utama yang di tempatinya bersama Kamila itu, kening Bagas berkerut, karena istri pertamanya itu tak ada di tempat, dia lantas memeriksa toilet dan ruangan lain di villa itu, namun sosok Dara tak juga bisa dia temukan. Bagas juga bahkan sampai berjalan mengitari luar villa, barangkali Dara ternyata sedang berjalan-jalan di sekitar sana, namun tetap nihil.
"Sayang, apa kamu tau kemana perginya wanita itu?" tanya Bagas.
"Wanita itu?" Kamila pura-pura tak mengerti meski dia tau kalau wanita yang Bagas maksud adalah Dara.
"Istri pertama mu?" lanjut Kamila yang lantas di angguki oleh Bagas yang wajahnya mulai terlihat kecut.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, dari tadi aku tak keluar kamar." kilahnya seolah sok suci.
"Arrghhh,,, kemana dia,!" gumamnya dengan sangat kesal.
Bagas mengeluarkan ponselnya, mencari-cari sesuatu di kontak ponselnya, namun dia lupa, kalau selama ini bahkan dia tak pernah tahu nomor ponsel Dara yang katanya berstatus istrinya itu, suami macam apa yang bahkan nomor ponsel istrinya saja dia tak punya.
Tak kehabisan akal, dia lantas menghubungi Panji, asisten pribadinya itu bagaikan buku ensiklopedia baginya, yang selalu tau apapun yang tidak dia ketahui.
Benar saja tak sampai menunggu lima menit, nomor ponsel Dara di kirim Panji langsung melalui pesan pada bosnya itu.
Beberapa kali di hubungi, panggilan Bagas pada istrinya tak juga diangkat, bahkan puluhan pesan yang Bagas kirimkan pada istrinya tak satupun yang di balas, membuat tempramen pria itu kembali meninggi.
Prang,,,,!
Sebuah gelas di meja dia banting begitu saja ke lantai sampai tercecer saking putus asanya karena tak juga bisa mengetahui dimana keberadaan Dara saat ini.
"Sayang, sudahlah, mungkin dia pergi jalan-jalan di sekitar sini, lebih baik kita makan berdua saja, semoga saja nanti ketika kita sudah pulang, dia juga sudah ada di sini lagi." Kamila mencoba membujuk Bagas agar mau pergi dengannya saja berdua, dan meredakan emosi suaminya yang kini sedang meledak-ledak.
__ADS_1
Meskipun jujur agak berat, namun akhirnya Bagas menyetujui usulan Kamila, lagi pula dia sangat tahu kalau Dara tidak mempunyai uang, dia sengaja tak memberinya uang karena menghindari agar Dara tak bisa kabur dari sisinya, sementara Bagas juga yakin kalau Dara tak punya saudara, teman atau kenalan siapapun di sini, jadi sepertinya istrinya itu tak akan pergi jauh.