
Suara nyaring tembakan membahana di seluruh ruangan, bahkan suara letusannya dapat di dengar oleh Bagas dan kawan-kawannya yang sudah berhasil meringkus semua kawanan penjarah di gudang, membuat mereka semua saling bertatap-tatapan satu sama lain dengan wajah bingung, dan bertanya tanya dari mana arah suara letusan senjata itu berasal.
"Apa yang terjadi?" tanya Bagas melirik ke arah kedua asistennya yang juga terlihat kebingungan.
"Sepertinya suara letusan itu berasal dari dalam kantor, tuan." Tebak Panji.
"Baiklah, ayo kita periksa bersama, untuk kekacauan di sini, biar Anwar yang menangani." Ajak Bagas yang lantas di angguki Panji dan langsung berlari menejar tuannya yang sudah terlebih dahulu melesat dengan cepatnya meninggalkan gudang menuju ke arah kantor.
Saat di dekat ruang kerjanya, dia melihat sosok yang jelas sangat di kenalnya, Kamila, dia baru saja keluar dari ruang kerjanya, namun saat dia hendak mengejar mantan istrinya itu, suara jeritan minta tolong dari dalam ruang kerjanya yang dia sangat yakini kalau itu suara Dara membuatnya mengurungkan diri untuk mengejar Kamila dan berhambur menuju sumber suara yang memang berasal dari ruang kerjanya itu.
Betapa kagetnya saat baju Dara kini sudah di lumuri darah segar, dia terduduk dengan Yoga yang tergeletak di pangkuannya, kedua kakak beradik itu sama-sama berlumuran darah, Dara bahkan langsung menangis histeris saat melihat sang suami masuk ke ruangan itu.
"Tolong,,,, tolong,,,,!" Teriaknya, hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.
__ADS_1
Lemas rasanya kaki Bagas bagai tak bertulang seperti jelly, saat menyaksikan pemandangan yang sungguh tak ingin di liatnya bahkan dalam mimpi sekalipun.
"D-Dara, sayang,,, apa yang terjadi?" cicit Bagas mendekati tubuh istrinya, benar-benar dia tak menduga nya sama sekali, jauh dari bayangannya , dia tak menyangka jika istrinya tiba-tiba berada di sana, dan kini berlumuran darah.
"A-aku tidak apa-apa, tapi kak Yoga,,, tolong dia, cepat selamatkan dia,,," rengek Dara memohon pada suaminya yang masih diam mematung seakan tergugu dengan keadaan di hadapannya.
Sampai akhirnya Panji datang ke ruangan itu dan langsung mengambil alih semuanya, dengan cekatan dia menelpon ambulance dan menyadarkan tuannya yang masih terlihat syok.
"Kamila, dia,,, wanita itu,,, tadi aku lihat dia keluar dari ruangan ini, perintahkan semua anak buah mu untuk mencari dan menangkapnya, pastikan jangan sampai di serahkan dulu pada pihak kepolisian jika wanita itu tertangkap, aku ingin berbicara dan sedikit memberinya kenang-kenangan." Ujar Bagas yang sudah mulai tersadar kembali dari rasa keterkejutannya, dirinya mulai membantu Dara untuk berdiri dan memeriksa beberapa bagian tubuh istrinya, memastikan kalau tak ada cedera ataupun luka pada tubuh istrinya itu.
Setelah itu Bagas mendampingi istrinya yang bersikeras untuk ikut ke rumah sakit menyusul Yoga yang beberapa menit yang lalu di bawa mobil ambulan.
"Kak Yoga menjadikan tubuhnya sebagai tameng saat Kamila hendak menembak ku, mas. Aku akan merasa sangat bersalah dan berdosa jika sampai terjadi sesuatu pada kak Yoga, ini semua salah ku!" Tangis Dara semakin menjadi saat dirinya menceritakan apa yang terjadi pada kakak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Tenanglah, percayakan semuanya pada dokter yang sedang berjuang menyelamatkan kakak mu di ruangan sana, kita hanya perlu berdoa untuk keselamatannya," Bagas mengusap usap kepala Dara yang bersandar di dadanya, sungguh dia sangat penasaran dan ingin bertanya pda istrinya itu, bagaimana bisa dia berada di kantor tadi, namun semua itu harus dia tahan, sementara sambil menunggu kabar baik dari dokter yang sedang menangani Yoga di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya.
Hampir satu setengah jam berlalu, mereka harap-harap cemas di depan ruang operasi, berbagai doa mereka lantunkan demi keselamatan Yoga, akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Dara langsung terlonjak berdiri dari kursi tempatnya duduk, lantas bergegas menghampiri dokter itu di susul oleh Bagas yang juga ikut membuntuti istrinya itu.
"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" tanya Dara dengan suara terbata menahan tangis yang sejak tadi tak bisa dia hentikan.
Dokter itu menarik nafasnya dalam,
"Mohon maaf, kakak anda tidak bisa bertahan, peluru mengenai organ vital di tubuhnya, sehingga beliau akhirnya tidak dapat di selamatkan, meski kami sudah melakukan upaya maksimal, kami turut berduka,"
Mendengar ucapan dari dokter yang baru saja menangani kakaknya, kini tubuh Dara lunglai, pandangannya tiba-tiba menghitam, sungguh dia tak mampu lagi mendengar penjelasan dokter lebih lanjut, semuanya terlalu menyakitkan baginya, rasanya dia tak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya dan kini dia tak sadarkan diri, untung saja Bagas dengan sigap menahan tubuh istrinya agar tak sampai terjatuh ke lantai.
__ADS_1