
Bagas termenung sendiri di taman belakang rumah sambil memandangi puing-puing bangunan paviliun yang kini mulai di bangun kembali, asap rokok mengepul dari mulutnya menemani kesendiriannya di malam itu, dia memang biasa berada di sini jika jika ingin menikmati gulungan tembakau yang sudah jarang di hisapnya setelah kehadiran bayinya, namun malam ini dirinya tak bisa tenang, kepalanya terus berpikir tak bisa berhenti, jadilah setelah menidurkan baby Kai dia turun dan termenung di sana dengan rokoknya, sengaja dia memilih tempat itu, selain merupakan tempat terbuka, letaknya juga agak jauh dari kamar nya, sehingga asapnya tak akan mengganggu anaknya.
Memikirkan kembali kata demi kata saran yang di sampaikan Dara padanya tentang sikap yang harus di ambilnya dalam menghadapi masalahnya itu membuat di menghabiskan hampir satu bungkus rokok sambil berdiam. Sungguh dirinya merasa sangat yakin kalau dia tak pernah berhubungan badan dengan istri ke dua yang telah di talaknya itu, tapi bagaimana jika malam itu dirinya benar-benar melakukan itu dengan Kamila di luar kesadarannya dan bayi itu ternyata benar-benar darah dagingnya?
Ah, mengapa semua ini justru terjadi saat dirinya ingin berubah ke arah yang lebih baik, apa se sulit itu menjadi manusia baik?
"Tuan,"
Suara Panji tiba-tiba membuyarkan semua lamunannya.
Bagas menoleh ke sebelah kirinya dimana Panji kini sedang berdiri tepat di sisinya.
"Saya sudah memeriksa cctv dan juga memastikan dengan benar, kalau beberapa bulan terakhir ini semenjak perselingkuhannya dengan para berondong terkuak, nyonya Kamila memang tak pernah keluar rumah, sehari-hari dia menghabiskan waktu di rumah, bahkan hampir semua kebutuhannya di beli secara online, dan nyonya juga tak pernah berhubungan dengan pria lain lagi setelah itu," urai Panji melaporkan apa yang di telitinya tentang Kamila atas perintah Bagas.
"Apa itu berarti kau juga ingin mengatakan kalau bayi yang di kandung dia adalah anak ku?" Bagas menatap kesal ke arah Panji yang tertunduk tak berani melawan tatapan tuannya.
"Ini semua juga salah mu, kenapa kau antarkan aku ke rumah utama malam itu saat aku mabuk?" Bagas balik menyalahkan asistennya itu yang ceroboh menyerahkan dirinya yang sedang mabuk berat itu ke tangan srigala betina seperti Kamila yang kapan saja bisa menerkamnya.
"Siap tuan, saya salah. Saya minta maaf!" jawab Panji, baginya tak akan ngaruh juga jika dirinya membela diri dengan mengatakan kalau malam ittu dirinya memang ingin mengantarkan tuannya ke paviliun, namun Kamila bersikukuh akan mengantarkan suaminya, tentu saja posisi Panji saat itu serba salah, karena yang memintanya adalah nyonya rumah dan merupakan istri dari tuannya, Panji tak tau kalau Kamila sudah di talaknya jauh-jauh hari saat itu.
"Hanya maaf dan pengakuan salah, apa bisa merubah semua yang kini terjadi? Kau sudah benar-benar memastikan menanyakan pada dokter yang memeriksanya kalau dia benar-benar sedang hamil?" Bagas menanyakan hasil pemeriksaan dokter yang sengaja dia panggil ke rumah untuk memeriksa Kamila, dia tak mau percaya begitu saja dengan hasil pemeriksaan yang di lakukan Kamila.
"S-sudah tuan, nyonya memang sedang mengandung, usia kandungannya sudah menginjak satu bulan."
__ADS_1
"Kapan Kamila trakhir kali berhibungan dengan para pria bayaran nya itu?" Bagas seperti tak ingin menerima kenyataan.
"Sekitar empat bulan yang lalu tuan!" jawab Panji lagi dengan yakin.
Lemas sekali rasanya Bagas mendengar jawaban Panji, semua petunjuk seolah semakin mengarah padanya dan menjadikan dirinya satu-satunya tersangka sebagai ayah dari bayi dalam perut Kamila.
"Ah,,, sial!" umpat Bagas, dia melempar puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya dengan ujung sandalnya penuh emosi.
"Apa rencana tuan setelah ini?" tanya Panji, ada sorot iba yang di hantarkan asisten pribadi itu lewat pandangannya pada tuannya, baru saja dia ikut berbahagia dengan perubahan sikap tuannya yang menjadi lebih baik dan kehidupannya yang semakin teratur, namun ternyata semuanya tak berlangsung lama, karena tuannya kini harus di hadapkan lagi pada sebuah masalah yang tidak sederhana.
"Kalau aku tau apa yang harus aku lakukan, aku tak akan se kacau ini, belum beres masalah penyerangan paviliun, malah ada lagi masalah baru yang lebih rumit," ujar Bagas seperti sedang meratapi nasib buruknya.
"Ah iya, masalah para penyerang itu, beberapa di antara mereka ternyata karyawan gudang yang yang di berhentikan secara tidak hormat karena mereka menggelapkan ratusan karton barang dari gudang, mereka juga menukar barang-barang yang kadaluarsa untuk mengecoh para pegawai gudang lain agar jumlah barang di gudang tetap terlihat utuh, namun efeknya banyak konsumen mengeluh kalau barang yang kita kirim beberapa ada yang kadaluarsa, intinya menurut pihak yang berwenang, mereka melakukan itu semua karena dendam, dan tak terima di pecat dari pekerjaan dan merasa di permalukan." beber Panji melaporkan, mumpung tuannya sedang membahas masalah penyerangan itu.
"Oke, tadinya aku akan ke kantor polisi untuk melihat mereka hari ini, tapi masalah tentang Kamila ini tak bisa aku anggap sepele, karena jujur saja sangat mengganggu pikiran ku, aku tak mau kehilangan Dara lagi, aku juga tak mau terpisah darinya lagi, apalagi sekarang sudah ada bayi mungil di antara kami, aku benar-benar takit masalah ini berpengaruh pada keluarga kecil ku yang baru saja aku bina."
Bagas memang terbiasa berterus terang dalam segala hal dengan asistennya itu, Panji seperti 'tempat sampah' baginya, tempat dirinya mengeluarkan semua unek-uneknya, marahnya, kesalnya meluapkan bahagianya, semuanya.
"Sepertinya jalan satu-satunya hanya menunggu sampai bayi itu lahir, dan melakukan tes DNA, saya rasa solusinya hanya itu."
"Itu berarti masih lebih dari 8 bulan lagi aku harus mengalami stress seperti ini." keluh Bagas membuang nafasnya kasar.
**
__ADS_1
"Tuan, nyonya Kamila muntah-muntah dan tak mau makan, dia meminta tuan untuk memanggilkan anda," ucap perawat wanita yang sengaja di sewa Bagas untuk mengurus Kamila, salah satunya dia ingin menghindari hal-hal seperti ini, dia tak mau Kamila menjadikan alasan kehamilannya untuk membuat dirinya manja pada dirinya.
"Lantas apa tugas mu disini, jika hal-hal seperti itu saja kau harus laporan pada ku dan meminta ku untuk mengurusnya!" Bagas membanting sendok yang sedang sedang di gunakannya untuk menyantap sarapannya pagi itu di meja makan hingga suara yang di timbulkan akibat bantingan sendoknya ke lantai itu membuat suasana di meja makan menjadi tegang.
"Mas," lirih Dara, seraya menempatkan telapak tangannya di atas punggung tanggan Bagas.
Bagas balas mengusap punggung tangan Dara dengan lembut, hanya wanita itu yang kini menjadi 'pawangnya' yang bisa membuat emosinya turun dan mereda seketika, hanya dengan kata lembut dan tatapan teduh Dara, Bagas bisa langsung menurunkan volume suaranya.
"Ah, maafkan aku, sayang, perawat ini terlalu bodoh dan membuat ku marah!" ucap Bagas.
"Mas, orang hamil itu hormonnya kacau, bisa tiba-tiba marah, tiba-tiba sedih, keinginannya pun kadang tak masuk akal, mungkin yang sering orang sebut ngidam, jadi kamu harus banyak bersabar menghadapi wanita hamil." urai Dara menjelaskan.
Namun mendengar itu semua mata Bagas justru malah berkaca-kaca, tangannya terulur meremas tangan Dara yang masih bertengger di punggung tangan kirinya.
"Maafkan aku, aku tak ada di saat-saat kamu mengalami semua itu, apa saat itu kamu sangat tersiksa? Kamu ngidam apa saat sedang hamil Kai?" tanya Bagas yang kini sudah menggeser kursinya berhadapan dengan Dara, mengabaikan si perawat yang kini di punggunginya dan melengos pergi kembali ke kamar Kamila karena tak ingin mengganggu obrolan tuannya pagi itu.
"Mas, sudah lah, aku baik-baik saja saat itu, dokter Faisal mengurus ku dan calon keponakannya dengan baik di sana, dia juga rela berkeliling mencari resto yang menjual masakan indonesia di sana seharian, karena aku yang ngidam gado-gado hari itu." Dara bercerita, matanya menerawang mengingat-ingat masa-masa kehamilanya saat itu.
"Stop! Aku tidak suka mendengarnya, harusnya aku yang melakukan itu semua," Bagas memberengut kesal, dadanya tiba-tiba terasa panas membayangkan Faisal mengurus Dara dalam masa kehamilannya, membuatnya merasa iri sekaligus cemburu .
"Sebenarnya ada hal yang masih mengganjal dalam benak ku, untuk apa hari itu kamu ke pelabuhan, dan menaiki kapal?" ujar Bagas menyampaikan pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan dan menjadi pertanyaan besar sampai saat ini.
Saking menikmati kebahagiaan karena bisa berkumpul kembali dengan istrinya itu, dia sampai melupakan pertanyaan yang sebetulnya sangat membuatnya penasaran selama ini, karena sangat tidak mungkin jika Dara datang ke pelabuhan itu tanpa tujuan, apalagi sampai menaiki kapal, sampai ada insiden tercebur segala.
__ADS_1