Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Apa kamu mencintainya?


__ADS_3

Tangis pedih Dara hanya bisa dia tahan dalam isakannya ketika Bagas mulai memunguti pakaiannya yag berceceran di lantai dan mengenakannya satu persatu, tak sedikitpun dia peduli pada Dara yang meringkuk dengan tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya.


Setelah mendapatkan kepuasannya, Bagas meninggalkan istrinya begitu saja habis manis sepah di buang, sebagai seorang istri Dara merasa seperti lebih hina daripada pela cur yang di tinggalkan pelanggannya setelah di pakai dan di bayar, bahkan tak sepatah katapun keluar dari mulut Bagas ketika dia berlalu begitu saja keluar dari kamarnya.


Lelah sebenarnya Dara terus mendapatkan kekerasan fisik dan mental dari suaminya itu, sehingga tempo hari di titik terendah dalam hidupnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, hanya saja Tuhan sepertinya punya rencana lain untuk Dara, dengan semua cobaan dan kesakitan yang di alaminya ini sedikit demi sedikit menjadikan Dara wanita yang tangguh dalam menghadapi kehidupan kejamnya itu.


"Dari mana, sayang?" tanya Kamila tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Bagas dan mengagetkan pria yang baru saja keluar dari kamar istri pertamanya itu.


"Ah itu, aku berbicara dengan wanita itu!" bohong Bagas, bak maling yang ketahuan mencuri. Rasanya tak mungkin dia berbohong dengan alasan dari tempat lain, sementara jelas-jelas Kamila melihat dengan jelas dirinya baru saja keluar dari kamar Dara.


"Malam-malam begini?" tatar Kamila dengan mata yang memicing.


"Kenapa, ada yang salah? Bukankah dia masih berstatus istriku? Aku rasa tak harus di persoalkan jika hanya aku menyambangi kamar salah satu istri ku, kamu harus tahu posisi mu bukan istri ku satu-satunya disini." Bagas kembali menunjukkan sikap dominannya, dia tak ingin siapapun mengintimidasinya, meskipun itu Kamila, wanita yang dulu selalu dia turuti semua kemauannya itu.


Tentu saja jawaban Bagas itu membuatnya sangat kesal.


**


Satu jam yang lalu,


Kamila tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dia menyadari kalau Bagas tak ada di sisinya, dengan malas dia turun dari ranjang dan mencari suaminya itu ke balkon dan ke toilet yang berada di kamar itu, namun ternyata Bagas tak ditemukan di ruangan manapun di dalam kamar mereka, sehingga akhirnya Kamila memutuskan untuk turun dan mencari suaminya ke ruangan lain di rumah itu.

__ADS_1


Hanya saja entah mengapa saat dirinya hendak mencari Bagas di dapur, kakinya seolah membawa dirinya untuk melewati kamar madunya, meskipun hatinya terus menyangkal jika sang suami ada di kamar wanita yang selalu berpenampilan lusuh itu, namun di dorong rasa kepenasarannya, akhirnya dia memutar melewati kamar Dara.


Langkah Kamila terhenti ketika terdengar samar-samar orang berbicara dari dalam kamar, saat dirinya menempeikan telinganya di pintu kayu yang tertutup rapat itu.


Dapat dia dengar dengan jelas kalau itu suara Bagas, meski tak dapat dia tangkap dengan jelas apa saja yang mereka bicarakan, hanya saja selang beberapa menit berlalu suara obrolan itu menghilang berganti suara geraman dan suara erangan Bagas yang tak perlu lagi Kamila menebak-nebak kegiatan apa yang sedang suaminya lakukan di dalam sana bersama istri pertamanya tentu saja mereka sedang melakukan hal yang belum sempat Bagas lakukan dengannya semenjak pernikahan mereka.


Lamunan Kamila melayang, membayangkan betapa gagahnya Bagas di atas ranjang seperti yang dulu sering mereka lewati, ada rasa kesal bercampur marah dan cemburu, ingin sekali rasanya dia menggedor pintu itu agar kegiatan mereka terhenti, namun sepertinya dia harus bermain cantik kali ini, berbuat barbar seperti itu hanya akan merugikan dirinya jika Bagas sampai marah padanya.


Hampir satu jam berlalu Kamila tetap setia menunggu di depan kamar Dara, dan akhirnya Bagas keluar dari kamar itu, Kamila tak menyangka akan merasa sesakit itu saat melihat wajah bahagia dan gurat kepuasan di raut tampan suaminya saat baru saja keluar dari kamar madunya itu, banyak pertanyaan timbul di benaknya seketika, dan rasa percaya dirinya menurun beberapa persen saat mencari-cari jawaban mengapa Bagas tak memberinya nafkah batin seperti yang dia berikan pada Dara, padahal untuk masalah tampilan, jelas-jelas dirinya merasa lebih menarik di banding Dara dari segi apapun.


'Oke, untuk kali ini aku akan mengalah, namun pembalasan ku akan lebih sakit dari ini Dara!' geram Kamila dalam batinnya.


**


"Aku terima, jika dengan menjadikan ku istri kedua kamu bisa memaafkan ku, aku ikhlas. Dan aku akan menerima jika ternyata kamu menjadikan ku istri kedua mu selamanya, aku tak ingin kembali di jodohkan paksa oleh orangtua ku, cukup satu kali saja, kini aku ingin hidup bahagia bersama pria yang kucintai sepanjang hidupku meski hanya menjadi yang kedua," lanjutnya.


Lagi-lagi tetesan airmata itu dengan mudahnya menetes dipipinya membuat Bagas merasa iba dan merasa bersalah karena hari ini dia telah membuat Kamila menangis lagi gara-gara dirinya.


"Maafkan aku sayang. Tak usah terus-menerus menyalahkan diri mu sendiri, semua akan segera aku selesaikan, aku juga tak mau berada dalam situasi yang seperti ini terlalu lama, kamu pasti tau kalau aku sangat mencintai mu, hanya tolong beri aku waktu,"


Bagas merengkuh tubuh wanita berbalut lingerie hitam menerawang itu tanpa gairah sedikitpun, entahlah, sepertinya tak ada yang salah dengan diri Kamila baik itu riasannya, pakaiannya atau parfumnya, hanya saja dia tak bisa 'turn on' seminim apapun pakaian yang di pakai Kamila, sepanas apapun cumbuan yang di berikan Kamila, sepertinya hatinya mengalami trauma tersendiri dengan Kamila, sementara dengan Dara yang selalu memakai baju tertutup saja dia tak pernah bisa menahan gairahnya sendiri.

__ADS_1


Kegalauan hati Bagas itu terus berlarut seakan tanpa ujung dan kepastian, bahkan dia sendiri pun tak tau mau dibawa kemana kehidupan rumah tangganya dengan dua istri itu.


"Sayang, kenapa kamu tak pernah mau berhubungan badan dengan ku. Apa aku setidak menarik itu di matamu?" tanya Kamila saat dirinya sedang menyandarkan kepala di dada suaminya, saat mereka sudah berbaring di kamarnya dan Bagas sedang bersiap-siap untuk tidur, karena pertempurannya dengan Dara tadi lumayan menguras tenaganya.


"Kamu cantik, kamu juga masih sangat menarik di mata ku,"


"Lalu, kenapa?" kejar Kamila yang keukeuh penasaran dengan alasan Bagas, kali ini dia bermain peran sebagai istri penyabar yang tak mengedepankan emosinya, dan sepertinya itu cukup berhasil, karena Bagas semakin terbuka dan mau di ajak ngobrol dengan tenang.


"Sayang jujur saja, tak ada yang salah dengan diri mu, semua permasalahan berada dalam diri ku sendiri, saat ingin melakukan itu dengan mu, pikiran ku selalu terbayang saat kamu meninggalkan ku begitu saja, meski aku berusaha keras untuk menghilangkan pikiran itu, namun tetap selalu datang tiba-tiba, mungkin aku hanya perlu waktu dan aku harap kamu mau bersabar dengan ku," jujur Bagas seraya mengecup dalam kening Kamila yang merasa sesak dan kesal dalam hatinya, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang, aku ingin bertanya sesuatu pada mu, ini sangat serius" Kamila merubah posisinya, kini dia berhadap-hadapan langsung dengan suaminya'


"Apa kamu mencintai wanita itu?" tanya Kamila menatap dalam ke kedua mata Bagas yang tiba-tiba menghindar dan membuang jauh pandangannya saat pandangan mereka bertabrakan secara langsung.


"Dara maksud mu?" Bagas balik bertanya.


"Tentu saja dia, memangnya ada wanita lain lagi selain dia?"


"Emhh,,, sayang, kamu tau bagaimana tipe wanita yang kusuka, seharusnya kamu bisa menilai kalau dia sama sekali bukan tipe ku!" elak Bagas denga jawaban yang terkesan mengambang.


'Oke, bukan aku atau kamu masalahnya, tapi wanita kumal itu, dan satu satunya cara agar kamu menjadi milik ku seutuhnya dan bisa memaafkan ku adalah menghilangkan wanita itu dari hidup mu, rupanya wanita kumal itu mulai menarik perhatian mu, dan aku tak akan membiarkan itu terjadi.' geram Kamila membatin.

__ADS_1


__ADS_2