Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Mantan Ratu


__ADS_3

Tuan, ponsel anda terus berdering, apa tak sebaiknya di terima dulu panggilannya, barangkali ada hal yang penting dan mendesak," kata Dara yang mulai terganggu dengan suara dering ponsel yang terus saja berbunyi sedari tadi tapi tidak Bagas pedulikan.


Namun alih-alih mengangkat teleponnya, Bagas justru malah mematikan ponselnya tersebut, apalagi saat tulisan yang tertera di layar ponselnya menunjukkan dengan jelas bahwa yang menghubunginya berulang-ulang itu tak lain adalah Kamila, yang tanpa dia ketahui sedang di bawa paksa oleh ayahnya.


Dara tak memprotes dengan apa yang dilakukan suaminya itu, terserahlah suka-suka Bagas mau bertindak seperti apa, selama itu tak mengusik atau menyakitinya.


Suasana hati Bagas sedang sangat bagus hari ini, dia baru saja melihat perkembangan calon bayinya dari monitor saat Dara melakukan USG, tadi, Bagas juga sekuat tenaga menahan tangis nya saat pertama kali mendengar detak jantung anaknya yang sudah tak sabar ingin segera di temuinya itu, jadi dia tak mau suasana hatinya yang sedang bagus ini di rusak oleh panggilan-panggilan telepon yang sama sekali tak penting baginya.


Sementara itu Kamila terus saja menangis saat Jamal, sang ayah membawanya dengan paksa untuk menemui Aryo, teman bisnisnya yang sangat ingin menjadikan Kamila istri ke tiganya, dia berani membayar dengan harga yang sangat tinggi jika Jamal si ayah matrealistis itu mau menyerahkan Kamila padanya, bahkan meski hanya untuk sekedar mencicipi tubuhnya saja jika Kamila tak bersedia di persuntingnya, Aryo tetap menawarkan sejumlah uang yang sangat menggiurkan bagi Jamal.


Dengan meminjam motor milik salah satu asisten rumah tangga di rumah Bagas, bak pahlawan kesiangan Yoga mengejar mobil Jamal yang membawa Kamila dari rumah itu, jiwa heroik nya tiba-tiba muncul begitu saja dan sangat berharap bisa menolong Kamila.


Mobil Jamal masuk ke parkiran sebuah rumah, disana sudah ada Aryo menunggu kedatangan mereka, pria tua gendut dan botak itu menyeringai penuh kemenangan sangat Jamal ternyata turun dari mobil tak sendirian, ada wanita yang selama ini sangat dia tunggu-tunggu kedatangannya itu.


"Selamat datang di rumah ku, cantik! Rumah ini akan menjadi milik mu jika kau setuju menikah dengan ku." sambutnya, membuat Kamila merasa mual dan jijik hanya dengan melihat tampangnya saja.


"Cih, jangan mimpi, tua bangka!" decih Kamila dengan tatapan sinisnya.


"Hahaha, aku sangat suka dengan wanita galak seperti mu, sangat menggairahkan dan membuat adrenalin ku merasa tertantang!" selorohnya membuat Kamila semakin merasa muak dengan tingkahnya itu.


"Jangan banyak protes, cepat pergi dan temani Tuan Aryo sekarang juga!" titah Jamal seraya mendorong tubuh Kamila ke arah Jamal.


"Ayah, aku sangat penasaran, apa aku ini benar-benar putri mu? Kenapa kau perlakukan aku seperti barang dagangan saja, seolah aku ini barang tak berharga bagi mu," lirih Kamila.


"Oh sayang, tentu saja kau sangat berharga bagi ayah mu, karena aku membayar mu padanya degan harga yang yang cukup tinggi," tangan Aryo menjawil dagu Kamila yang langsung menepis tangan pria tua itu dengan kasar.


Namun Aryo malah terlihat semakin besemangat menyeret Kamila yang terus berontak ingin melepaskan diri.


"Lepaskan dia!" teriak Yoga tiba-tiba, membuat Aryo menghentikan langkahnya.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


Wajah Aryo dan Jamal pias seketika saat menyadari Yoga tak datang sendirian, namun bersama beberapa warga, ada sekitar 20 orang warga yang ikut bersama Yoga, mulai dari pengemudi ojek online sampai tukang dagang keliling yang kebetulan sedang berdagang di sekitar sana dan Yoga mintai pertolongan.


"Si-siapa kau? Kenapa ikut campur masalah keluarga ku, dia putri ku!" Jamal mencoba membela diri.


"Tapi kau menculiknya dari rumah suaminya, kau ingin menjual putri mu pada pria tua itu!" tunjuk Yoga asal namun tanpa dia sadari kalau apa yang dikatakannya itu adalah benar.


"Kau jangan asal bicara, putri ku seorang janda dan belum menikah lagi, dia calon suaminya!" tunjuk Jamal ke arah Aryo yang sejak tadi tak berani bicara, apalagi warga sekitar mengetahui kalau Aryo sudah punya dua istri saat ini.


"Ayah, dari tadi aku sudah bilang, kalau aku sudah menikah dengan Bagas, tapi ayah tak percaya, ayah pikir untuk apa aku tinggal di rumah itu kalau aku tak ada hubungan apa-apa dengan nya?" terang Kamila.


"Cih, bukannya dari sejak dulu kalian berpacaran kau sudah sering tinggal di rumahnya sampai aku harus menyeret mu pulang? Aku tak suka dengan pria sombong, arogan, dan kere itu!"


"Ayah, Bagas sudah sukses sekarang, dia sudah tak kere lagi, kenapa ayah masih saja membencinya?"


"Aku akan tetap membencinya dan tak merestui pernikahan kalian sampai kapan pun, dan di mata ku dia tetaplah pria kere yang sombong!" tepis Jamal.


"Siapa pun tolong aku," merasa putus asa akhirnya Kamila berteriak minta tolong agar para warga yang datang ke sana segera menolongnya.


"Bubar kalian semua, wanita itu sudah aku bebaskan, aku tak tau apa-apa, dia yang menawarkan putrinya pada ku!" Aryo seolah mencuci tangannya dan melempar semua kesalahan pada Jamal yang kini terlihat celingukan dan ketakutan kalau-kalau warga emosi dan menghajarnya.


"Ah, sialan kau, dasar berengsek, kenapa jadi melimpahkan semua masalah pada ku, dasar tua bangka hidung belang tak tau diri!" umpat Jamal seraya bergegas meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam mobilnya dengan sorak sorai warga yang mencemoohnya tanpa ampun.


"Terima kasih atas bantuannya para warga dan teman-teman semua!" ucap Yoga sambil menganggukan kepalanya dengan kedua tangan yang menyatu di depan dadanya.


"Apa mereka semua teman-teman mu?" cicit Kamila penasaran.


"Ish, tentu saja bukan nyonya, mereka warga sini, aku hanya minta pertolongan mereka saja, beruntung jadi orang kampung seperti aku yang senang menyapa dan gampang akrab dengan orang baru, sehingga tak susah meminta pertolongan meskipun mereka orang asing." ucapnya menyombongkan diri.


"Jadi orang kampung kok bangga, sombong!" cibir kamila, tak ada sedikit pun keinginannya untuk berterima kasih pada pria yang sudah menolongnya dari predator tua hidung belang itu.


"Ayo!" ajak Yoga yang kini sudah berada di atas motor matik pinjamannya itu.

__ADS_1


"Hah? Maksud mu aku di suruh naik motor bersama mu saat panas terik begini?" protes Kamila.


"Terserah, atau anda ingin kembali ke rumah pria tua yang gendut dan botak itu untuk mengantarkan anda dengan mobil mewahnya?" ujar Yoga sangat percaya diri.


Namun kepercayaan dirinya ternyata benar juga, karena pada akhirnya Kamila walaupun terpaksa mau di bonceng olehnya.


"Nyonya, anda pernah ke anyer?" tunjuk Yoga ke arah tempat wisata yang di lewatinya itu.


"Hemh, tentu saja!" jawab Kamila malas.


"Aku belum pernah, bagaimana kalau nyonya menemani ku melihat pantai, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong anda!" seloroh Yoga.


"Nolong kok pamrih!" gerutu Kamila kesal, namun dirinya tak banyak protes saat Yoga benar-benar membelokan sepeda motornya ke arah tempat wisata pantai itu, sepertinya Kamila juga sadar kalau memang Yoga sudah sangat berjasa menolong dirinya, lagi pula kalau hanya menemaninya beberapa menit di pantai sebahai ucapan terimakasih, rasanya tak akan menjadi masalah besar baginya, dirinya juga butuh me refresh otaknya, siapa tau duduk di pinggir pantai akan mengembalikan kewarasannya yang selama ini hampir selalu error.


"Nyonya, anda pasti lelah, minumlah!" Yoga menyodorkan sebotol air mineral dingin yangbaru saja di belinya di warung sekitar sana.


"Menangis saja nyonya, jangan di tahan jika anda merasa sedih, aku juga siap mendengar semua keluh kesah mu!" oceh Yoga saat melihat Kamila yang duduk terdiam dengan tatapan kosong dan matanya berkaca-kaca, sepertinya wanita yang berwajah mirip dengan adiknya itu menyimpan banyak sekali beban kegalauan dan kepedihan dalam hidupnya.


"Sok tau,!" Ketus Kamila mengelak, namun Yoga hanya tersenyum saja, membuat Kamila menjadi bingung, sejak awal dirinya selalu bersikap ketus, judes bahkan sering menghina dengan kasarnya pada pria muda itu, namun seingatnya Yoga selalu membalasnya dengan senyuman, tak pernah sekali pun memasukannya dalam hati, bahkan saat dirinya dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan seperti tadi pun, tak di sangka-sangka hanya Yoga si pria kampung yang sering di hina dan di sikapinya dengan ketus itu yang rela menolongnya.


Bahakan Anwar yang sebetulnya sangat bisa menolongnya pun tak melakukan itu, apalagi Bagas, boro-boro menolongnya, sekedar menerima panggilan telepon darinya pun tidak, dia semakin sibuk dengan istri pertama dan calon anaknya, sehingga dirinya yang dulu menjadi ratu di hati dan kehidupan Bagas itu semakin tersisihkan dan hanya bergelar sebagai mantan ratu di hati Bagas.


"Terimakasih sudah menolong ku!" cicit Kamila lirih, terasa berat bibirnya untuk mengatakan semua itu, namun hatinya mendorongnya untuk mengatakannya.


"Tak perlu sungkan nyonya, sebagai sesama manusia bukankah kita berkewajiban untuk saling tolong menolong,"


"Jangan panggil aku nyonya, usia kita hanya terpaut sedikit, aku hanya tiga tahun lebih tua dari mu," ujar Kamila.


"Baiklah apa aku harus memanggil mu mbak, atau Kamila saja?"


"Terserah, yang penting jangan Nyonya, aku jadi berasa sangat tua di panggil seperti itu." kata Kamila datar, dia juga sudah mulai tak ketus lagi saat berbicara dengan Yoga.

__ADS_1


__ADS_2