
"hallo, ci Cici"
tutttt
segera ku akhiri sambungan telepon tersebut aku masi tak sanggup mendengar suara pengkhianat itu
biarlah aku menenangkan hati ku dulu jika nanti suda cukup kuat menerima kenyataan baru lah aku siap mendengarkan penjelasan sang pengkhianat
pak rio kembali menelpon, berulang kali ku tutup telponnya berulang kali ia menelpon lagi aku muak akhirnya ku biarkan saja
banyak dentingan pesan WhatsApp masuk dr pak rio tak satu pun ku buka
aku pikir dia mencoba untuk menjelaskan tp aku benar blm siap untuk mendengarkan itu cukup suda kesimpulan yg ku dapat itu suda membuktikan segalanya
"yan aku lapar"
pesan yg ku kirimkan ke iyan
tak lama iyan menelpon ku
"mau makan apa"
"sate enak jg ni"
"ya udah siap-siap gih aku kesana"
" makasih kakak iyan"
aku kegirangan iyan memang paling bisa mengerti aku
tak lama iyan sampai didepan rumah dia membawa mobilnya aku berlari masuk ke dalam mobil
setelah berkeliling mencari tukang sate disiang hari akhirnya kami bertemu juga maklum dikampungku tukang sate jarang ada kalau siang hari
iyan memesan 2 porsi sate aku tak ingin keluar dr mobil jd kami makan didalam mobil
"kamu mau datang ke undangan nya"
tanya iyan
" iya aku mau lihat dia untuk terakhir kalinya"
"kamu serius, udahlah ngak usah aku nga mau liat kamu nangis lagi"
"nga kok aku nga akan nangis, aku janji deh"
__ADS_1
"aku nga yakin"
" kamu temenin aku ya yan"
" kamu pikir-pikir dulu deh jgn gegabah".
"aku udah bulat yan, aku mau datang"
"ya udah terserah kamu, undangannya kapan"
"eeeh iya kapan ya aku belum liat ni, nanti aku cek lg"
setelah selesai makan kami pulang iyan setujuh akan menemaniku
iyan langsung pamit pulang aku masuk kedalam rumah ku lihat mobil papa teparkir di depan rumah
akhirnya papa pulang pikir ku
ceklek ku buka pintu rumah tanpa mengucapkan salam
tiba-tiba ada yg menyambutku
"eeeh anak papa dari mana" tanya papa basa basi
"abis makan"
"sama temen" jwb ku singkt lalu menaiki anak tangga menujuh kamar ku
tak lama papa memanggil lagi
" ci sini dulu papa mau ngomong"
aku berhenti lalu berbalik
"mau ngomong apa".
"kamu sini dulu"
aku mendekati papa lalu papa menyuruhku ikut duduk
disofa
"papa mau ngasih tau ke kamu kalau"
"kalau apa" tanya ku penasaran
__ADS_1
"ini kamu baca aja ya" papa memberikan ku sebuah amplop coklat
ku buka amplop itu lalu ku baca aku tak kaget dgn isinya aku suda menduga
"oh" jwb ku singkat
"kamu nga papa kan ci, mama sama papa pisah"
"terserah kalian"
"ci"
"mama mana" jawab ku memotong perkataan papa
"mama kamu masi ada urusan mungkin katanya sebentar lagi pulang"
tak lama mama pulang lalu memeluk ku
"maaf kan mama ci" peluk mama sambil menangis
aku tak membalas pelukan mama bahkan aku tak menangis sama sekali
"jd aku tinggal dimana" tanya ku sambil mengakhiri pelukan mama
" kamu mau ikut mama atau papa ci" tanya papa
"ini rumah punya siapa" aku balik tanya
tidak ada yg menjawab " ya udah aku tinggal disini, aku nga minta kalian urusin aku, aku cuma mau uang ku terus ada di rekening ku, oh iya aku mau berenti kursus aku mau kulia di swiss, kalian bisakan biayain aku"
"mama nga setujuh ci di swiss kamu mau tinggal sama siapa"
"memangnya disini aku tinggal sama siapa, sama aja kan kalian jg nga akan ngurusin aku, aku cuma mau minta kalian biayain hidup aku itu aja kok" jawab ku
"tapi ci nanti disana kamu kenapa-kenapa gimana"
"memangnya apa peduli kalian, selama 19 th aku hidup apa kalian sekali pun mikirin aku, apa kalian tau aku lagi sedih aku senang aku sakit nga kan, aku udah biasa hidup sendiri, aky nga mau tau aku mau ke swiss"
aku belari kekamar meninggalkan 2 org yg selalu ku rindukan itu tapi mereka tak pantas untuk ku rindukan
aku tau mereka berdua memang tak saling cinta aku hadir karna mereka dijodohkan aku sering bertemu papa dgn wanita lain begitu pun mama tapi aku diam aku tak ingin ikut campur urusan dan dosa mereka biar mereka menanggungnya
dulu sewaktu kecil aku di urus oleh nenek ku dan bik ita pembantu dirumahku lalu tak lama nenek meninggal diumur ku yg ke 5 th aku diurus bik ita, mama dan papa dulu masi pulang aku masi bisa merasakan kasih sayang mereka setelah aku masuk sekolah dasar bik ita suda sering cuti karna sakit sakitan aku jg akhirnya dititipkan di rumah iyan saat aku kelas 4 bik ita akhir berhenti bekerja karna suda tak sanggup lagi, mama dan papa mencarikan ku pembantu baru tapi dia tidak bisa menginap hanya bisa membereskan rumah, mencuci baju dan memasak, makanya jika malam aku sering dititipan dirumah iyan hingga aku sd smp setelah sma aku memecat pembantu itu karna dia ketahuan sering mencuri dan mengajak laki-laki lain masuk kedalam rumah
aku pura-pura tegar dihadapan mereka sebenarnya aku sakit saat mengetahui mereka suda resmi bercerai mimpiku yg selalu berharap mereka bisa bersatu kembali kini musna aku benar-benar tinggal sendiri
__ADS_1
setelah pak rio lalu kedua org tua ku aku kini tak punya siapa-siapa lagi
tekad ku suda bulat aku akan ke swiss