
Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, dan Faisal juga sudah memperhitungkan kalau Dara aman di bawa pergi bersamanya, kemudian dia menghubungi pemilik rumah sakit yang merupakan sahabat ayahnya, dia meminta untuk merahasiakan tentang dirinya yang membawa pergi Dara dari rumah sakit itu, dengan menceritakan semua kejadian yang di alami Dara, beruntungnya permintaan itu akhirnya dapat di penuhi dengan segala pertimbangannya.
Jadilah Dara ikut Faisal malam itu juga, terbang ke Jakarta dengan segala resikonya yang akan mereka dapatkan nanti, untuk saat ini, keselamatan Dara dan bayi yang di kandungnya adalah prioritas utama.
Dara ikut Faisal bertugas di Singapura, tak ada yang tahu tentang hal itu, tak terkecuali kedua orang tua Faisal sendiri, mereka benar-benar menutup rapat rahasia ini agar keberadaan Dara tak tercium oleh Bagas, mereka bisa hidup layaknya orang normal disana, dimana Dara masih bisa berjalan-jalan di taman sekitar apartemen tanpa rasa takut dan was-was, berbelanja dan mengurus kebutuhan Faisal layaknya sebagai asisten, meskipun orang-orang di sana mengira kalau mereka berdua adalah pasangan suami istri, namun mereka hanya menanggapinya dengan santai, lagi pula di sana, para tetangga tak se kepo tetangga di tanah air, mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, bukan sibuk mengurus urusan orang lain.
Beberapa bulan tinggal bersama dalam satu atap yang sama, bohong jika di antara mereka tidak ada benih-benih cinta bersemi, meski keduanya selalu mengingkari dan munafik pada perasaan mereka, namun waktu sepertinya mampu membuat ikatan batin di antara mereka yang sama-sama merasakan perasaan suka namun mereka pendam, sedikit demi sedikit saling menunjukan perasaannya masing-masing meski tak terlalu terang-terangan.
Bagaimanapun Dara masih berstatus istri dari sepupunya, apalagi dia juga sedang mengandung bayi dari Bagas, sepertinya Faisal harus bisa lebih menahan lagi perasaannya, lagi pula seperti halnya Bagas, Faisal juga selalu menampik dengan perasaannya sendiri, hanya saja bedanya Faisal tak pernah berbuat kasar pada Dara meski sikap dinginnya hampir sama dengan Bagas, mungkin sifat dinginnya itu sengaja dia pertegas untuk membentengi perasaannya agar tak terlanjur mendalam, berulang kali dia tegaskan pada dirinya untuk tak terbawa perasaan, dan apa yang di lakukannya selama ini tak lebih hanya sekedar kepeduliannya pada calon keponakannya saja.
Delapan bbulan berlalu, masa kerja Faisal yang tadinya hanya 6 bulan, lalu di perpanjang menjadi 8 bulan itu akhirnya selesai juga, dengan waktu yang selama itu Dara juga sudah mulai bisa berdamai dengan takdirnya, dia sangat mencintai janin dalam perutnya, dia juga menjadi lebih kuat dalam menjalani kehidupan atas support Faisal yang selalu ada di masa-masa berat kehamilannya.
Terkadang Dara berpikir kalau dalam hal ini lebih banyak Faisal yang membantu dirinya dari pada dirinya yang membantu pekerjaan Faisal yang konon katanya Dara berperan sebagai asistennya itu.
Sebenarnya Faisal menawarkan Dara untuk tinggal dan melahirkan dulu di sana, tapi Dara tak mau menjadi beban terlalu banyak untuk Faisal karena Faisal memang sudah harus pulang ke tanah air untuk bekerja di sana, meskipun Faisal mengatakan akan mengajukan cuti sampai Dara melahirkan, namun Dara menolaknya.
Sudah saatnya dia bangkit dan menghadapi kenyataan hidup, dia tak mungkin bersembunyi terus-terusan dari Bagas dan menggantungkan hidupnya dan kelak di tambah anaknya pada Faisal, meskipun Faisal tak pernah keberatan akan hal itu.
Flash back off
**
__ADS_1
Bagas terus saja memikirkan tentang kejadian di rumah sakit tadi, dua kali dirinya mencium aroma tubuh Dara, apa mungkin itu hanya kebetulan, atau hanya halusinasinya yang terlalu merindukan Dara.
Bagas melajukan kendaraannya menuju perusahaan, dia ingin lembur malam ini, dia tak peduli kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, dia juga menghindari Kamila yang sejak tadi mengirimkan pesan mengingatkan kalau malam ini dia sudah menyiapkan berbagai masakan kesukaannya, membuat Bagas semakin malas untuk pulang.
Samapai di kantor, Panji ternyata masih berkutat dengan pekerjaannya, sepertinya dia akan menemaninya lembur malam ini, pikirnya.
"Apa kau ingin menemani ku lembur, malam ini?" seloroh Bagas.
"Ah, maaf tuan, sepertinya tidak, karena malam ini saya ada janji untuk pergi ke klub, makanya akan membereskan pekerjaan secepat mungkin. Apa tuan ingin bergabung?" ajaknya berbasa basi, mereka dulu memang sering pergi ke klub bersama, namun semenjak hilangnya Dara, pribadi Bagas menjadi sangat tertutup dan tak lagi dekat seperti sebelumnya dengan dirinya maupun Anwar, Bagas menjadi lebih senang mengurung diri di paviliunnya seorang diri.
Setelah di pikir-pikir lagi, tawaran Panji lumayan menggiurkan dari pada harus menghabiskan malam berkutat dengan angka angka, lagi pula pikirannya sedang dsangat kacau hari ini, mungkin dengan sedikit menikmati hiburan malam bebannya tak seberat sekarang ini.
"Ah akhirnya, selamat datang kembali ke dunia anda tuan, anda perlu hiburan agar tak terlalu tertekan dengan semua permasalahan anda, kita akan bersenang senang malam ini sampai pagi tuan!" sambut Panji.
"Tuan, bagaimana dengan pencarian istri anda? Tanya Panji agak ragu.
"Dara? Darimana kau tau kalau aku masih mencarinya?" picing Bagas penuh curiga.
"Anda sepertinya sangat tertekan dengan kehilangan istri anda itu, apa anda sangat mencintainya?"
Ditanya seperti itu Bagas gelagapan, tak tau harus menjawab apa, karena dirinya pun tak bisa mengartikan apa yang saat ini sedang di rasakannya, cinta ataukah hanya sekedar perasaan napsu, karena dia berhasil menjadi pelampiasan hasratnya yang selama ini tak bisa lagi bergairah dengan siapapun.
__ADS_1
Tiba-tiba Bagas menjadi serba salah, alih-alih menjawab, dia justru malah mengeluarkan botol wine yang berada di rak ruangan kerjanya dan menuangkannya ke dalam gelas lalu menenggaknya.
"Tuan, anda jatuh cinta pada nyonya Dara?" pancing Panji lagi, dia tak peduli jika nanti Bagas akan mengamuk dan menhajar dirinya karena di anggap lancang mencampuri urusan pribadinya, tapi dia tak bisa tinggal diam lagi saat ini, sebelum Bagas benar-benar hancur.
"Tuan?" Panji masih menunggu jawaban bos yang sudah di anggapnya sebagai saudara itu.
"Kau pergilah ke klub sendiri, aku tak jadi ikut, aku ingin minum sendirian saja," elaknya.
"Saya akan menemani anda minum malam ini di sini," Panji mengambil satu gelas lagi di rak dan menuangkan minuman berwarna merah itu ke gelasnya lalu meminumnya seraya duduk berhadap-hadapan dengan bosnya yang terlihat serba salah namun juga tak melarangnya untuk bergabung minum bersamanya.
"Apa yang kau sembunyikan dari ku?" Bagas cukup paham akan Panji, asistennya itu pasti ada suatu hal yang di sembunyikannya jika dia bersikap seperti itu.
"Jawab dengan jujur pertanyaan saya tadi, baru saya akan mempertimbangkan untuk membicarakannya dengan anda,"
"Sejak kapan kau mulai kurang ajar pada ku?" tatapan mata Bagas mulai galak.
"Tuan katakan pada ku, apa anda mencintai nyonya Dara? Jawaban anda akan menjadi perrtimbangan untuk saya memberi informasi tentang keberadaan nyonya," ujar Panji tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Duaaarrrr,,,,
Serasa ada yang meledak di kepalanya, saat Bagas mendengar Panji ternyata menyimpan informasi keberadaan Dara, perasaan haru, bahagia dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menjadi sebuah gemuruh besar yang entah harus di ekspresikan dengan cara apa, sementara dirinya sangat gengsi untuk mengakui kalau ada perasaan bahagia dia mendengar kabar itu, ada secercah harapan untuknya kembali bersama sang istri.
__ADS_1