Tapi Bukan Aku

Tapi Bukan Aku
Trauma


__ADS_3

"Mas, apa ini tak berlebihan?" Tanya Dara dengan bahasa tubuh yang menunjukkan kalau dirinya sedang merasa tidak nyaman saat ini.


Bagaimana tidak, kepulangannya ke rumah di sambut dengan sangat meriah oleh semua penghuni rumah, kecuali Kamila tentu saja, sejak tadi wanita yang berpotensi besar untuk di tendang Bagas dari rumah itu sepertinya tak kelihatan batang hidungnya, namun Bagas tak peduli, toh acara penyambutan kepulangan istri dan anaknya ini sepertinya akan terasa lebih tenang jika tak ada istri keduanya yang menurut pengakuannya sudah dia talak itu.


"Untuk sementara sambil menunggu renovasi paviliun, kita tinggal di rumah utama dulu, atau kau ingin kita membeli rumah baru, atau tinggal di apartemen?" Tanya Bagas, karena hal ini belum dia diskusikan terlebih dahulu dengan istrinya.


"Ah, tak apa, kita tinggal di sini saja, untuk sementara," jawab Dara, sambil matanya terus saja melihat seisi rumah, rasanya ada yang aneh dari tampilan rumah itu, Dara berpikir keras, ternyata dia baru menyadari kalau yang berbeda dari tampilannya saat ini adalah menghilangnya foto-foto Kamila yang sebelumnya menghiasi hampir di semua dinding ruangan, membuat dirinya saat pertama kali masuk ke rumah itu merasa sedang berada di museum atau pameran fotographi dengan puluhan bahkan ratusan foto yang di pamerkan di sana.


"Mas, kemana barang-barang koleksi mu kenapa sudah tak ada lagi? Bukannya itu barang-barang yang katanya sangat berharga untuk mu?" ledek Dara setengah berbisik, karena dia sedang menggendong Kaisar yang sedang terlelp di dadanya.


"Entah lah, mungkin sudah di buang Anwar," jawab Bagas asal, dia tau arah ucapan Dara pasti sedang membirakan masalah foto-foto Kamila yang kini sudah tak di dapati di mana pun di rumah itu.


"Ish, laki-laki memang begitu, saat masih di cintai di puja-puja, namun saat sudah punya yang baru di singkirkan begitu saja," sindir Dara.


"Oh ayolah, Dara bukan seperti itu, aku selalu berusaha setia, namun jika berkali-kali di hianati ya aku juga punya harga diri dan punya hak untuk mengakhiri kebodohan ku, cinta boleh, bodoh jangan," terang Bagas yang sepertinya sudah menyadari kalau selama ini dirinya di butakan dan di bodohi oleh cinta dan dan perasaannya pada Kamila yang sama sekali tak memakai logika sehingga semua yang di lakukannya sungguh di luar kewarasannya.


"Aku bercanda kali, mas. Eh tapi ngomong-ngomong kemna istri muda mu itu pergi, kenapa tak kelihatan dari tadi." sepertinya Dara tak melihat madunya itu sejak pertama dia masuk ke rumah, tapi itu hanya sebatas kepenasaran nya saja, karena sejatinya dirinya juga tak begitu ingin tau kemana atau apa yang madunya itu lakukan saat ini.


"Entahlah, apa sepenting itu kehadirannya di sini?" sinis Bagas yang lantas membawa Dara dan anaknya ke sebuah kamar yang besar, yang ternyata tadinya merupakan ruang kerja dirinya, namun kini sudah berubah menjadi kamar Dara dan Kaisar dan juga termasuk dirinya tentu saja.


"Wah, kamar Kaisar bagus sekali," puji Dara mengagumi tatanan kamar yang super luas itu dengan di lengkapi space untuk bayi mereka yang di dominasi warna biru langit.


"Kamar kita bertiga!" Bagas seakan tak terima dan meralat kata-kata Dara barusan, sehingga membuat tubuh Dara meremang seketika saat membayangkan harus kembali tidur satu kamar dan satu ranjang dengan suaminya.

__ADS_1


Maklum saja, memorinya tentang 'tidur bersama' dengan Bagas selama ini seingatnya tak ada satu pun yang indah, selain penyiksaan dan pemaksaan.


"Apa kau keberatan? Aku ingin selalu dekat dengan kalian, lagi pula bukankah aku bisa membantu mu dalam mengurus baby Kay, dan sepertinya aku lebih jago ngurus dia di banding kamu lho, aku lebih berpengalaman saat kamu tertidur lama sekali di rumah sakit." ujat Bagas beralasan agar dirinya di perbolehkan untuk tinggal di kamar itu juga bersama istri dan anaknya.


Untungnya Dara menganggukan kepalanya meski pelan dan tampak ragu-ragu atau bahkan mungkin malu.


"Tuan, sudah 3 hari ini nyonya Kamila tidak keluar kamarnya, menurut pelayan yang sering mengantarkan makanan ke kamarnya, katanya nyonya Kamila sedang sakit." lapor Anwar sesaat setelah dia memasukan koper ke dalam kamar itu.


"Bagaimana perkembangan kasus pelempar bom molotov itu? Berani beraninya kau menampakan wajah di hadapan ku dan malah melaporkan hal yang tak penting sama sekali!" Alih-alih menanggapi laporan tentang sakitnya Kamila, Bagas justru malah mempertanyakan tentang pelaku penyerangan paviliun yang hampir saja membuat nyawa istri dan anaknya tak terselamatkan.


"Data pelaku sudah saya serahkan pada pihak kepolisian, tuan, dan polisi sedang bergerak untuk menangkap mereka hari ini." urai Anwar, seperti halnya Panji, kerja Anwar juga selalu bisa di andalkan, hanya anggap saja pada malam nahas itu Anwar sedang apes dan bisa kecolongan oleh para penyerang itu.


Melihat ekspresi wajah Bagas yang biasa saja bahkan terkesan tak peduli saat mendengar kabar sakitnya Kamila dari Anwar, dan malah menanyakan hal lain padanya, hati Dara merasa agak miris juga sebenarnya, mungkin itu salah satu kelemahan Dara, yang selalu tak tegaan pada orang lain, meskipun orang itu pernah berbuat jahat padanya.


"Mas, apa tak sebaiknya di lihat dulu, barangkali keadaan mbak Kamila benar-benar sakit parah dan butuh bantuan mu,"


"Tapi---"


"Ah sudah lah, kau membangunkan bayi kita dengan suara kencang mu," bukannya menuruti anjuran dara untuk melihat keadaan Kamila, justru Bagas malah bergegas mengambil alih bayinya yang menangis di dalam gendongan Dara.


Rasanya tak ada yang lebih penting di dunia ini bagi Bagas saat ini selain Dara dan Kaisar, sehingga membuat dirinya tak ingin peduli dengan apapun selain itu, kecuali pekerjaannya, dia masih bisa berpikir rasional untuk tak mengabaikan pekerjaannya dan tetap melakukan pekerjaannya meski masih harus dilakukan dari rumah, karena menurutnya materi juga sama pentingnya karena tak ada yang gratis di dunia ini untuk membahagiakan anak dan istrinya.


Tak cukup hanya dengan rasa sayang dan cinta untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik, tak cukup hanya dengan cinta untuk memberikan perhiasan dan baju bermerek untuk istrinya, tak perlu munafik dan tak tak bisa di ingkari kalau materi juga punya peranan penting, apalagi di jaman sekarang ini dimana banyaknya materi akan semakin menaikan strata seseorang.

__ADS_1


"Aku akan segera meminta Kamila untuk pergi dari sini secepatnya, mungkin aku akan membelikanya rumah untuk dia tinggali, aku ingin rumah tangga kita sehat dan normal seperti keluarga lainnya, toh aku sudah menalaknya." ucap Bagas saat dirinya sesang menimang putranya.


Mendengar itu semua Dara hanya bisa menghela nafas panjang, dia tak tahu harus menjawab apa, dia juga tak tau apakah dia harus merasa bahagia sekarang ini dengan keputusan Bagas yang ingin menyingkirkan Kamila dari rumah itu dan dari kehidupan rumah tangga mereka, dan haruskah dia merasa berbahagia di atas penderitaan Kamila? Tapi bukankah itu semua karena buah dari ulahnya sendiri yang berselingkuh, lagi pula Dara tak pernah sekali pun menuntut hal seperti itu pada suaminya, semenjak dirinya memutuskan untuk memaafkan dan menerima kembali Bagas karena ketulusannya sikapnya di rumah sakit, dia juga sudah memikirkan dengan matang-matang dan akan siap dengan berbagai konsekuensinya, termasuk jika Bagas ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Kamila, Dara hanya minta kejujuran saja dari Bagas, dan Dara merasa kalau Bagas sudah jujur dan terbuka tentang hubungannya dengan Kamila padanya.


"Kenapa diam? Apa kau tak bahagia mendengarnya?" Tanya Bagas yang tiba-tiba saja sudah memeluk Dara dari belakang, rupanya dia baru saja menaruh bayi mereka yang kembali tertidur ke dalam boks, dan Dara tak menyadari itu karena asik dengan lamunannya.


"Ah,,, emh,,,itu,,, aku tak bisa berkomentar apa-apa mas, itu urusan kalian berdua, sebaiknya aku tidak ikut campur dalam masalah kalian, namun saran ku, sebaiknya kalian selesaikan semuanya dengan baik-baik." ujar Dara gugup,


Pelukan Bagas yang tiba-tiba dari belakang tubuhnya membuatnya merasa sangat canggung, kontak fisik yang selama ini terjadi antara dirinya dan bagas biasanya dilakukan secara kasar dan penuh kekerasan dan pemaksaan, sehingga sangat aneh baginya saat mendapati Bagas memeluknya dengan begitu lembutnya.


"Mas, maaf." Dara melepaskan diri dari pelukan hangat Bagas.


"Kenapa?"


"Apa aku boleh jujur?" tanya Dara takut.


Namun Bagas mengangguk dengan rasa penasaran yang sangat tinggi atas apa yang akan istrinya itu sampaikan padanya.


"Katakanlah!"


"Sebenarnya terkadang aku masih sering merasa takut dan trauma saat mas mendekati ku, bayangan saat mas memperlakukan ku dengan sangat kasar tiba-tiba muncul begitu saja, dan membuat ku sering ketakutan," ujar Dara lirih.


"Demi Tuhan aku sudah memaafkan mu, dan aku juga selalu berusaha untuk melawan rasa takut itu, tapi mungkin butuh proses dan waktu, jadi aku harap mas jangan salah paham dengan apa yang aku ungkapkan ini, aku hanya berusaha jujur," sambungnya lagi.

__ADS_1


Sakit rasanya dada Bagas, mengingat betapa jahatnya perlakuan dirinya pada Dara, yang ternyata menyisakan trauma yang begitu mendalam pada diri istrinya itu, manusia macam apa dirinya yang menyiksa wanita yang lemah itu, kini hanya sesal yang tersisa dalam dirinya dan bersumpah akan memulai semuanya dengan lembaran baru dan memperlakukan Dara dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku, maafkan atas semua sifat kasar ku di masa lalu, aku juga tak tau apa yang menyebabkan diriku berperangai bak monster pada mu, namun pegang janji ku, aku besumpah tak akan menyakiti mu lagi, aku tak akan menyia nyiakan kesempatan kedua yang kau berikan pada ku," lirih Bagas mencoba meyakinkan istrinya jika dirinya menyesal dan dapat mengerti dengan apa yang kini di rasakan istrinya itu.


__ADS_2