Tawanan

Tawanan
Bab 10


__ADS_3

Sementara itu Guntoro dan Lusi masih dirawat intensif di Rumah sakit, Lusi dan Guntoro telah menjalani operasi pagi tadi. Kondisi Lusi masih kritis, sedangkan Guntoro kondisinya sudah lebih baik


Lusi masih berada di ruang ICU, sedangkan suaminya telah dipindahkan di ruang perawatan


Beruntunglah mereka karena Abi datang tepat waktu, jika terlambat sebentar saja nyawa kedua orang tuanya tak bisa diselamatkan karena banyak mengeluarkan darah


Flashback On


Abi yang pikirannya tidak tenang memutuskan untuk pulang walaupun bisa di pastikan ia akan sampai rumah dini hari


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa segera sampai dirumah. Beruntunglah ia karena jalanan lengang saat tengah malam seperti ini


Sesampainya didepan gerbang rumahnya ia begitu terkejut


"Nggak biasanya gerbang nggak dikunci! Apalagi malem-malem gini" Abi bergumam


Abi masih belum mencurigai sesuatu yang terjadi dengan rumahnya


"Loh kok pintu juga nggak ditutup!" Ia semakin dibuat tak karuan karena pintu yang biasa selalu tertutup tapi malam ini malah terbuka lebar


Ia merasa ada yang tidak beres, ia berlari masuk kedalam rumah, dan betapa terkejutnya ia melihat kudua orang tuanya terkulai lemah bersimbah darah dilantai


Ia segera membawa papa dan mamanya menuju rumah sakit, ia bahkan tak sempat untuk menelpon polisi terlebih dahulu, karena yang ia pikirkan adalah nyawa kedua orang tuanya


Setibanya dirumah sakit orang tuanya langsung disambut oleh beberapa dokter dan perawat


Keesokan harinya barulah orang tuanya menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang didada mamanya serta dipaha papanya


Flashback off


"Bagaimana keadaan papa?" Tanya Abi setelah papanya sadar


"Sudah lebih baik!" Jawab Guntoro seadanya


"Siapa yang melakukan ini, Pa?" Abi bertanya sambil menahan emosi didalam dirinya


"Entahlah, papa tidak tau! Tapi mereka menculik Gendis!" Ungkap Guntoro sendu


"Apa! Jadi mereka menculik Gendis?" Abi berapi-api


"Benar, Papa rasa ini bukanlah kasus perampokan! Kamu jangan melibatkan polisi dulu, Bi!" Guntoro menebak-nebak

__ADS_1


"Papa benar! Mereka menjadikan Gendis sebagai tawanan, agar kita tidak melaporkan mereka!" Ungkap Abi berapi-api


"Apa kamu sudah memeriksa CCTV dirumah kita?" Guntoro bertanya sambil melirik Abi disebelahnya


"Semua CCTV dirumah kita bahkan diseluruh komplek diretas oleh mereka!" Abi menjawab


"Bisa dipastikan mereka bukan orang sembarangan, Bi! Kita harus berhati-hati, jangan sampai salah melangkah dan membahayakan nyawa Gendis!" Terang Guntoro


'Sepertinya ini semua ulah kamu, Nak! Salah paham ini tidak akan ada habisnya sebelum kamu tau siapa pelaku yang sebenarnya!' Guntoro membatin


***


Disudut kamar mewah yang luas, duduk seorang gadis dengan pandangan mata mengarah ketaman belakang rumah. Tapi pikiran gadis itu tidak tertuju ke taman itu, pikirannya kosong, ia merasa kembali menjadi manusia paling tidak beruntung didunia ini


Hingga air mata pun enggan untuk menemaninya, sesekali ia pandangi pergelangan tangan putihnya yang terdapat gambar jari melingkar berwarna keunguan


"Sampai kapan hamba harus seperti ini, Ya Allah!" Gendis berucap lirih, sangat lirih hingga hanya dia yang mampu mendengarnya


"Mengapa takdir begitu kejam?"


"Apa salahku?"


"Apakah segitu tidak pantasnya aku untuk bahagia, ya Allah?"


"Makanlah! Pelayan bilang, kau tak makan sedari tadi siang!"


Ucapan Pria tersebut mengembalikan kesadaran Gendis dari lamunannya, ia lalu menengok memandang sekilas pria tersebut, kemudian kembali menatap keluar jendela


"Jangan membuat Gerhana marah, cepatlah makan!" Ucapnya datar


"Tuan, kenapa kalian menjadikan aku sebagai tawanan? Aku mohon bebaskan aku, Tuan! Aku ingin pulang" Tulis Gending dengan segenap keberanian yang tersisa


"Maafkan aku, Gendis! Aku tidak punya keberanian untuk membebaskanmu!" Banyu berucap datar, menutupi hatinya yang perih melihat perempuan cantik dihadapannya


"Keluargaku bahkan tidak punya uang untuk menebusku, Tuan! Neneku harus bekerja keras agar kami tak kelaparan, lalu bagaimana mungkin seorang miskin sepertiku menjadi tawanan?" Tulis Gendis mencurahkan isi hatinya


"Ini semua bukan perkara uang! Cepat makanlah, sebelum Gerhana kemari!" Ucap Banyu kemudian berlalu pergi


Gendis menatap pungunggung Banyu yang semakin menghilang dengan sendu, sampai kapan ini akan berakhir pikirnya


***

__ADS_1


Senja telah menghilang dari cakrawala, dan rembulan telah menyapa sang malam. Bintang bertaburan dengan kerlap-kerlipnya, menambah syahdunya malam ini


Seorang gadis telah tidur meringkuk dibalik selimut tebal, matanya sembab menandakan ia usai menangis. Menangisi hidupnya yang malang ini


Seorang pria masuk dengan membawa gelas berisi anggur, ia pandangi wajah tenang gadis tersebut sambil menyesap minuman ditangannya


Kemudian pria tersebut semakin mendekat kearah gadis yang sedang tertidur pulas itu, sesaat kemudian


Byur


Pria tampan itu menyiramkan anggur yang dibawanya tepat diwajah sang gadis malang itu


Sontak hal itu membuat sigadis terbangun karena terkejut, saat melihat siapa yang telah menyiramnya, seketika wajahnya berubah pucat pasi, ia kemudian beringsut mundur dan hendak berlari


"Lo mau kemana?" Tanya pria tersebut dengan seringainya


Gendis bergidik ngeri menatap wajah Gerhana, ya gadis itu adalah Gendis dan pria tampan itu adalah Gerhana


Gendis semakin beringsut mundur, dan secepat kilat Gerhana menarik kaki Gendis dengan kasar. Akibat tarikan tersebut paha putih dan mulus Gendis terekspos sempurna karena ia hanya mengenakan dress selutut


Gerhana yang melihat pemandangan indah tersebut hanya dapat menelan ludahnya dengan susah payah, bak ada bongkahan batu yang tersangkut ditenggorokannya


"Lo sengaja mau godain gue?" Gerhana menatap tajam Gendis


Gendis menunduk ketakutan melihat tatapan mata itu, kemudian ia segera menarik dresnya agar menutupi paha putihnya


'Aku bahkan tidak melakukan apapun' Gendis membatin


"Cuih dasar perempuan murahan!" Ucap Gerhana kemudian meninggalkan kamar Gendis


Setelah Gerhana pergi, Gendis terduduk lemas. Ada rasa lega karena Gerhana telah pergi, tetapi ada rasa sakit yang begitu luar biasa akibat ucapan Gerhana


Gendis kembali menjatuhkan air matanya, entahlah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan selama tinggal dirumah Gerhana


Ingin sekali ia bisa kabur dari neraka ini, tapi apakah daya saat penjaga terlalu banyak diluaran sana. Jangankan Gendis manusia sebesar ini, nyamuk saja seolah tidak bisa lolos begitu saja dari para penjaga


Karena terlalu lelah menangis akhirnya Gendis terlelap kembali menuju dunia mimpi yang terpotong akibat adegan kekerasan beberapa menit yang lalu


***


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya readers

__ADS_1


Dengan cara tekan like, komen dan vote. jika kalian suka dengan cerita Gendis ini klik jadikan favorit agar tau setiap kali up


Salam samyang dari author amatiran, peluk cium via online untuk reader tercintaaaaa 🤗😘


__ADS_2