
Pagi yang indah dengan sinar mentari yang merambat membelai bumi, seorang perempuan cantik sedang duduk dikursi dengan kuas ditangan kanan dan kanvas yang telah bertengger didepannya
Harum bunga-bunga yang bermekaran serta gemericik air mancur menambah suasana damai yang begitu menenangkan pikiran, kicau burung yang saling bersahutan dan ditambah angin yang berhembus manja menyapu kulitnya yang mulus, membuatnya betah berlama-lama melukis di taman rumahnya
Setangkai bunga mawar putih dengan bercak merah di beberapa kelopaknya dan seekor burung pipit yang terbang dengan sayap yang patah diatasnya hingga membuat darahnya menetes mengenai kelopak bunga mawar putih tersebut. Sungguh menjadi lukisan indah yang begitu syarat akan makna
Lukisan tersebut seolah mengisyaratkan arti yang begitu mendalam dan menyakitkan, begitu besar cintanya si burung pipit untuk mawar putih, namun bunga mawar sadar pada batasan yang tak mungkin bisa menyatukan mereka, hingga ia memberi syarat yang seakan tak mungkin dipenuhi oleh si burung pipit
Mawar putih tersebut menginginkan ia bisa berubah menjadi mawar merah, namun tak pernah ia duga bahwa si burung pipit melukai sayapnya agar darahnya bisa untuk mengubah si bunga mawar, walau ia tau pada akhirnya ia tidak akan bisa selamat setelah itu
Namun rasa cintanya yang begitu besar membuatnya mengabaikan rasa sakit bahkan nyawanya untuk membahagiakan si mawar putih
Lukisan tersebut seolah menggambarkan kisah cintanya bersama Samuel, beruntungnya mereka bisa saling mengikhlaskan hingga tak sampai terjadi seperti Mawar putih dan burung pipit
Gendis menghela napasnya yang terasa menyesakkan, walaupun ia sudah berusaha keras melupakan Samuel, namun bayang senyum menawannya seringkali berlarian dipikirannya. Terkadang rasa bersalah kepada suaminya seolah menamparnya agar kembali tersadar pada kenyataan yang ada
Dia sekarang sudah hidup bahagia dengan pria yang begitu mencintainya dan akan melakukan apapun untuk membahagiakannya, sungguh sangat berdosa baginya jika masih memikirkan pria lain saat bersama dengan pria yang selalu berjuang untuk kebahagiaanya
Grep
Gendis terlonjak karena tiba-tiba dua tangan kekar melingkar diperut rampingnya, ia mengelus lembut pipi suaminya yang tengah bersandar dipundaknya
"Kenapa melukis seperti itu, Sayang?" Tanya Gerhana yang matanya sibuk memperhatikan setiap detail lukisan istrinya
Gendis menengok dan tepat pula saat suaminya menengok untuk melihat ekspresi wajah Gendis, menimbulkan ciuman singkat tanpa sengaja, membuat pipi keduanya bersemu merah
"Hanya ingin saja," jawab Gendis santai
"Apakah ini menggambarkan kisah cinta menyakitkanmu dengan Samuel?" Tanya Gerhana dengan pandangan tak teralih dari istrinya
"Bukan, Sayang!" Elak Gendis kemudian berdiri menghadap suaminya
"Jika aku kurang sabar, beritahu aku! Agar aku bisa berubah," ucap Gerhana dengan menggenggam jemari istrinya, "Jika kamu kurang nyaman, beri tahu aku! Agar aku bisa lebih mengertikan keinginan mu!
"Apapun kemauanmu, pasti akan aku turuti! Jika kamu meminta satu, maka akan aku berikan dua. Jika yang kau minta masuk akal
"Namun jika yang kau minta sesuatu yang tidak masuk akal, maka aku akan menjadi orang yang tidak masuk akal, asal bisa memuaskanmu
"Aku akan melakukan apapun asal kau tetap berada disisiku dan jangan pernah berfikir untuk pergi. Aku akan menunggu sampai hari dimana kamu bisa mencintaiku dan menyerahkan seluruh hatimu untuk ku jaga
"Berjanjilah untuk terus bersamaku!" Ungkap Gerhana seraya memeluk istrinya
__ADS_1
"Aku janji, akan terus bersamamu, menua bersamamu, sehidup sesurga bersamamu dan anak-anak kita kelak!" Ucap Gendis seraya membalas pelukan suaminya
"Terimakasih! Karena mau menerima pria arogan dan banyak kekurangnya ini" Gerhana semakin mengeratkan pelukannya
Setelah itu mereka duduk bersebelahan dibangku taman, menikmati suasana pagi yang begitu menyejukkan hati
"Sayang!" Panggil Gendis
Gerhana menengok menatap istrinya
"Ngomong-ngomong, kata-kata romantis yang baru kamu ucapkan tadi itu pasti dapat dari baca komik di aplikasi MangaToon yang ada diponselku kan?"
Ha ha ha
Geehana tertawa lepas karena ketahuan sering membaca komik lewat ponsel pintar istrinya, "tapi semua itu tulus dari hatiku, Sayang!" Ucapnya setelah tawanya mereda
***
Keesokan harinya, Gendis sedang duduk dibalkon kamarnya setelah mengantarkan suaminya yang akan pergi ke kantor
Triing
Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Gendis, ia segera menggeser layar ponselnya untuk membuka kunci dan melihat siapa yang mengiriminya pesan
Om Royyan
Gendis mengernyitkan dahi setelah membaca pesan dari Adik ayahnya itu, tidak biasanya ia akan meminta Gendis untuk menemuinya, karena biasanya ia yang akan datang berkunjung kerumahnya
Gendis segera mengetik balasan pesan tersebut dan mengirimnya
Gendis
Hal penting apa, Om? Apakah kita akan makan siang bersama Ayah dan Suamiku?
Tak sampai dua menit, ia sudah menerima balasan pesan dari Royyan
Om Royyan
Tidak, hanya kita berdua. Kamu tenang saja, nanti Om yang akan meminta izin dengan Gerhana
Gendis
__ADS_1
Baiklah, aku akan minta izin juga terlebih dahulu, Om
Om Royyan
Baiklah, nanti om jemput jam 11
Gendis segera mengirim pesan untuk suaminya, ia tak ingin terjadi salah paham karena bertemu dengan Royyan. Walaupun semua orang tahu kalau Royyan adalah adiknya Dion yang tak lain adalah ayahnya Gendis, namun dengan sifat posesif yang mendarah daging dalam diri suaminya, ia tak ingin mengambil resiko
To : My King
Sayang, bolehkah aku pergi makan siang dengan Om Royyan? Jika tidak boleh, maka aku tidak akan pergi!
Tak berapa lama pesan balasan pun dikirim oleh suaminya
My King
Pergilah, Om Royyan tadi juga sudah menelponku. Tapi ingat, harus tetap ada batasan walaupun ia adalah Adiknya Ayah!
Setelah menerima pesan balasan, Gendis segera berganti pakaian dan sedikit mengoles liptint agar bibirnya tidak terlihat pucat
Tak berapa lama Royyan pun tiba untuk menjemput keponakannya, Gendis segera berpamitan dengan Mama mertuanya sebelum pergi
Royyan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah keponakannya duduk di sebelahnya. Hanya deru mobil yang menemani sepanjang perjalanan mereka, Gendis sibuk dengan pikirannya, begitupun Royyan
Kurang lebih 30 menit, mobil yang dikendarai Royyan telah tiba diparkiran restaurant X. Royyan segera mengajak Gendis untuk masuk dan duduk di balkon agar Gendis bisa menikmati pandangan dibawahnya
Gendis segera memesan makanan, begitupun Royyan. Setelah pelayan tersebut pergi, Gendis memberanikan diri untuk membuka suara
"Sebenarnya, apa yang ingin Om katakan denganku?" Tanya Gendis menatap Royyan yang duduk dihadapannya
Royyan menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Gendis, tenggorokannya terasa tercekat, dadanya terasa sesak seolah ada sebongkah batu yang menghantam bagian dadanya
Namun, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang sibuk mengabadikan gambar Gendis dan Royyan seraya beranjak pergi dengan senyum menyeringai
***
Kabarnya gimana gaes? Sehat kan?
Mawar lagi kurang sehat, jadi baru bisa menghalu hari ini๐๐๐
Jangan lupa Jejak ya gaes, biar Mawar tambah semangat
__ADS_1
Salam Sayang buat kalen swmua, peluk cium via online๐ค๐