
Kita tidak bisa memilih kapan, dimana, dan dengan siapa cinta itu terus tumbuh dan berkembang. Kita juga tidak bisa dengan mudah memangkas cinta yang tumbuh dan perlahan bersemi ~ Gendis Alamanda Maheswari
Gerhana terlonjak kaget karena Nenek Tini menepuk pundaknya
"Nenek!" Ucap Gerhana kaget
Nenek Tini mengajak Gerhana untuk duduk di meja makan, ia ingin menceritakan tentang cucunya
"Gendis itu tidak bisu," Ucap Nenek Tini
Gerhana memandang Nenek Tini penuh tanya
"Ada seseorang yang begitu jahatnya yang membuat Gendis membenci suaranya dan semua yang ada pada dirinya," Nenek Tini menjeda ucapannya, "Gendis hanya mau berbicara dengan Nenek, almarhum Kakek dan Samuel." Lanjutnya
Gerhana mencerna setiap kata yang diucapkan Nenek Tini
"Samuel dan Gendis sudah bersahabat sejak mereka kelas satu SD, hanya Samuel yang bisa menerima Gendis dengan segala kekurangannya
"Samuel yang selalu menjaga dan melindungi Gendis selama ini, saat Gendis diejek bisu karena ia tak pernah mau mengeluarkan suaranya, saat teman-teman sekolahnya selalu menghina karena Gendis miskin
"Bahkan dulu ketika SMA, Gendis dicemooh karena dianggap anak haram. Gendis terlahir dari pernikahan yang sah, tapi karena suatu kesalahpahaman yang membuat orang tua Gendis berpisah
"Bundanya pergi bahkan saat Gendis belum sempat merasakan halus lembut belaian tangannya dan hangat dekapannya
"Gendis sudah cukup menderita sedari masih didalam kandungan. Hanya Samuel yang mampu membuatnya bahagia selain Nenek dan Almarhum Kakek
"Samuel sangat mencintai Gendis, begitupun Gendis! Tapi ada dinding tak kasat mata yang membuat mereka tidak bisa bersama
"Gendis tetap menggenggam erat tasbih ditangannya, sedangkan Samuel tidak mungkin melepaskan salib dilehernya"
Gerhana mendengarkan penuturan Nenek Tini, hatinya seperti diremas saat mengetahui betapa susahnya hidup Gendis. Dan ia dengan teganya menambah penderitaan Gendis dengan menjadikannya tawanan serta menyiksanya seperti seorang yang tak punya hati
"Apakah kamu menyukai cucuku, Nak?"
Pertanyaan Nenek Tini yang tiba-tiba sontak mengejutkan Gerhana, apakah dia menyukai Gendis, ia pun tidak tau jawabannya, perasaannya masih terlalu abu-abu untuk dimengerti
"Jika belum, belajarlah untuk menyukainya!" Pintanya
"Maksud Nenek?" Gerhana bertanya
"Kita tidak pernah tau sampai kapan usia kita. Jika Nenek tiada, lalu bagaimana dengan Gendis? Dia akan menjadi sebatang kara." Ucapnya sendu
__ADS_1
Gerhana semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan wanita tua dihadapannya ini
"Menikahlah dengannya, dia gadis yang baik. Jaga dan lindungi dia dari orang-orang yang berniat menyakitinya. Nenek mohon!" Ucapnya dengan buliran bening yang mulai menetes
"Nenek pasti sembuh, jangan berbicara yang tidak-tidak! Apa Nenek tidak kasian melihat Gendis seorang diri?" Gerhana menggenggam jemari keriput Nenek Tini
"Nenek sudah terlalu lelah, nenek ingin istirahat. Nenek mohon nikahilah dia, agar ketika nenek tiada, Nenek bisa pergi dengan tenang," Ucapnya memohon
"Bahkan nenek tau siapa yang dicintai Gendis, dia tidak akan mau menikah denganku, Nek,"
"Dia pasti akan menuruti keinginan terakhir Nenek! Dia memang mencintai Samuel tapi mereka tidak akan pernah bisa bersama. Mencintai tidak melulu harus memiliki"
Pembicaraan mereka terpotong saat Gendis dan Samuel masuk, Samuel hendak berpamitan dengan Nenek Tini dan ingin mengucapkan terima kasih kepada Gerhana karena sudah menyelamatkan Gendis. Tapi permintaan Nenek Tini membuat ia mengurungkan niatnya
"Duduk, Sam!" Pinta Nenek Tini, Samuel pun duduk begitupun dengan Gendis
"Nenek mohon kamu ikhlaskan Gendis, Nak," Pintanya seraya menatap sendu Samuel
"Maksud Nenek?" Samuel mengernyit bingung
"Biarkan Gendis menikah dengan Gerhana."
Sontak ucapan Nenek Tini membuat Gendis dan Samuel membelalakan mata tak percaya. Berbeda dengan Gerhana, pria yang selalu pandai menyembunyikan ekspresi
(Dalam artian saat memang hatinya merasa lebih nyaman untuk berpindah keyakinan, itu diperbolehkan. Tapi jika hanya karena cinta kepada manusia lalu mengorbankan keyakinannya, yang ditakutkan adalah ketika Tuhan berkendak lain dengan tidak menjodohkan mereka lalu membuatnya menyesal telah berpindah keyakinan)
"Nenek hanya ingin ada yang menjaga dan melindungi kamu saat nenek tiada, Nduk." ucapnya seraya memeluk Gendis yang menangis terisak
"Kita tidak tau sampai kapan usia kita, Nenek mohon, Nduk!" pintanya dengan air mata yang berjatuhan, sungguh membayangkan bagaimana hidup cucunya saat ia tiada tanpa ada yang menjaga dan melindunginya membuat dada Nenek Tini semakin sakit
Gendis melirik Samuel, berharap Samuel akan menolongnya. Samuel hanya mengangguk pasrah. Benar apa yang dikatakan Nenek Tini, ia tidak mungkin meninggalkan keyakinannya hanya karena manusia bukan hatinya yang terketuk untuk berpindah.
Bukan tak ingin memperjuangkan cintanya kepada Gendis, tapi dinding tak kasat mata yang menjadi penghalang mereka sedari dulu itulah yang membuatnya harus bisa merelakan Gendis
Ia teringat akan perkataan Gendis dahulu ketika ia mengutarakan perasaannya
Flashback On
Disebuah taman yang indah, dengan berbagai hiasan bunga yang sedang bermekaran duduk dua orang remaja putra dan putri yang masih mengenakan seragam sekolahnya
"Nda!" panggil Samuel, ya dua remaja tersebut adalah Samuel dan Gendis
__ADS_1
Gendis menengok menatap lelaki disebelahnya
"Apakah aku salah jika memandangmu sebagai seorang wanita bukan seorang sahabat, dan menginginkan kamu memandangku sebagai seorang pria bukan sahabat?" Samuel bertanya
"Maksud kamu apa, El?" Gendis balik bertanya
"Aku mencintaimu," Samuel menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Entah sejak kapan perasaan itu muncul, yang jelas aku nyaman saat bersamamu dan aku takut kehilanganmu." Jelasnya
"Aku pun begitu, El! Tapi kamu taukan, dinding tak kasat mata yang tak mungkin untuk kita tembus?" Gendis bertanya dengan sendu
Samuel diam, ia tau betul tentang dinding itu, ia adalah cucu seorang pastur yang tak mungkin meninggalkan keyakinannya demi seorang manusia
"Untuk apa menjalin hubungan jika tidak bisa berakhir dipernikahan, El? Itu semua hanya akan membuang-buang waktu kita percuma, yang pada akhirnya akan meninggalkan luka yang teramat sangat menyakitkan untuk kita berdua
"Lebih baik kita biarkan seperti ini, maka kita akan tetap bisa bersama sampai kapanpun. Bukankah itu lebih baik?" Tanya Gendis
Samuel mengangguk sendu
"Apakah kamu sudah bosan menjadi sahabatku?"
Samuel menggeleng "Tidak akan pernah!" Tegasnya
"Tetaplah seperti ini sampai kita tua nanti, El." Ucap Gendis
"Aku tidak yakin saat kita memiliki pasangan masing-masing nanti,"
"Kita tetap akan bersahabat selamanya, El"
Flashback off
Akhirnya Gendis mengangguk sebagai tanda setuju, walau dalam hatinya menjerit menahan tangis. Tapi ia tak mungkin jadi cucu durhaka, dia harus menuruti keinginan Nenek yang sudah membesarkan dan merawatnya selama ini
"Susah payah aku ingin kabur dan terbebas darinya, tapi mengapa seolah takdir tak mengizinkan aku pergi darinya!" geram Gendis dalam hati
Samuel kemudian memeluk Gerhana sebelum pulang "Tolong jaga dan lindungi Gendis, Kak! Jadilah penjaga dan pelindungnya, serta berikan cinta dan keluarga yang bahagia yang selama ini tak ia dapatkan." Ucapnya dengan bulir bening yang tanpa bisa dibendung, sungguh hatinya perih mengatakan ini tapi takdir yang memaksanya untuk ikhlas
***
Nyesek banget gaes kisah hidup Gendis!
Mawar nulisnya sambil mewekðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Jangan lupa dukung Mawar biar tambah semangat, dengan like, komen dan vote
Peluk cium via online🤗😘