Tawanan

Tawanan
Bab 21


__ADS_3

Setelah selesai mengobati luka Gendis, Micko berpamitan untuk pulang


Setelah Micko kembali kerumahnya, Gerhana menatap Gendis tajam, tatapan yang seolah bisa membuat tubuh Gendis berubah menjadi abu seketika


"Mela, bantu dia mengganti pakaiannya!" Ucap nya dingin kemudian meninggalkan Gendis di kamarnya


Mela segera mengambil baju Gendis yang berada dikamarnya, setelah itu ia membantu Gendis mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Mela keluar untuk menaruh baju kotor Gendis


Dia terkejut melihat Gerhana yang berdiri didepan pintu, Mela membungkukkan badannya hendak berlalu. Tapi suara dingin Gerhana menghentikan langkahnya


"Kumpulkan semua pelayan dan bodyguard yang ada dirumah ini sekarang!"


'Ya Tuhan, ada apalagi ini?' Mela hanya dapat membatin tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun


"Apa kau tidak dengar?" Gerhana setengah membentak karena tidak mendapat jawaban dari Mela


"Ba baik, Tuan!" Ucapnya tergagap


Mela turun kebawah dan memberi tahukan kepada Bibi Keke untuk mengumpulkan semua pelayan didepan kamar Gerhana, ia juga memberitahukan hal yang sama kepada Andro dan Exel


Semua pelayan dan bodyguard telah berkumpul didepan kamar Gerhana, Banyu dan Exel pun berdiri dibelakang mereka


Gerhana sengaja membuka pintu kamarnya lebar agar Gendis bisa melihat jajaran para pengawal dan pelayan yang berdiri didepan kamar


Gerhana berdiri disamping ranjang dan menyilangkan tangannya didepan dada, tatapan matanya tajam menatap Gendis


"Apa lo tau hukuman yang pantas bagi seorang pembangkang?" Gerhana bertanya dengan mode dinginnya


Gendis diam tak menjawab, ia begitu takut melihat tatapan mata itu


"Apa lo juga pengen tau hukuman untuk orang-orang yang lalai mengemban tugas?"


Gendis masih menunduk diam tak berani menatap Gerhana


"Exel! Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan" Ucapnya menyeringai


Exel mengambil cambuk dan menyerahkannya ketangan Gerhana


"Kenapa lo kabur?" Gerhana bertanya dengan penuh penekanan


"Maaf!" Hanya itu yang Gendis tulis dilayar ponselnya


"Maaf?" Gerhana mengulangi apa yang Gendis tulis


"Lo tau betapa bahayanya seorang gadis diluar rumah saat tengah malam!" Gerhana berteriak, emosinya nyaris tak terbentung saat mengingat kejadian yang menimpa Gendis beberapa saat yang lalu


Gendis menunduk dengan buliran bening yang mulai berjatuhan


"Exel, cambuk mereka sampai mati karena lalai menjalankan tugasnya!" Ucapnya berteriak

__ADS_1


Sontak ucapan Gerhana bagaikan petir disiang bolong, wajah para pelayan dan bodyguard seketika berubah pucat pasi. Tubuh mereka bergetar, keringat dingin mulai bercucuran


Tak lain halnya dengan Gendis, ia begitu menyesal telah melakukan tindakan bodohnya itu. Bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi nyawa semua pekerja dirumah Gerhana pun menjadi taruhannya


Gendis segera menulis dilayar ponselnya dan segera memberikannya ketangan Gerhana


"Maafkan aku, Tuan! Kumohon jangan hukum mereka karena kesalahanku! Aku yang bersalah! Hukum saja aku"


Gerhana menatap dalam mata Gendis "Jadi?" Tanyanya menyeringai


Gendis hanya bisa mengangguk pasrah


"Sekali lagi gue tanya, apa alasan elo kabur dari sini?" Ucapnya penuh penekanan disetiap kata


Gendis mulai menulis dilayar ponselnya dengan tubuh bergetar menahan tangis


"Aku merindukan nenekku, Tuan! Hanya dia yang kupunya di dunia ini! Aku bisa makan enak dan tidur dikamar yang mewah disini, sedangkan aku tidak tau hari ini apakah nenekku sudah makan, makan apa dia hari ini, apakah dari kemarin nenekku sudah makan? Apakah ada bahan makanan untuk dimasak?


"Aku merantau ke Jakarta untuk bisa menyambung hidup kami, nenekku sudah terlalu tua untuk terus bekerja. Sedangkan selama aku disini aku tak pernah mengabarinya,


"Aku bahkan tidak tau bagaimana keadaannya sekarang, apakah nenekku baik-baik saja disana! Kumohon bebaskan aku, Tuan! Aku janji tidak akan mengatakan apapun yang kulihat malam itu kepada siapapun!"


Gendis terisak, ia begitu merindukan nenek yang telah membesarkannya selama ini


Dada Gerhana begitu nyeri membaca tulisan Gendis, ia tak bisa membayangkan betapa susah kehidupan yang dijalani Gendis selama ini


Hidup berdua dengan neneknya yang sudah tua, pastilah Gendis yang harus menopang beban biaya mereka. Sedangkan Gerhana terlahir dengan sendok emas dimulutnya


Sedangkan Banyu dan yang lainnya hanya bisa melongo menyaksikan adegan romantis bak dinovel-novel online


"Besok gue bakal anterin elo ketemu nenek!" Ucapnya seraya mengusap punggung Gendis


"Dengan syarat lo harus sembuh!"


***


Lain halnya dengan Gendis, para pelayan dan penjaga rumah tetap mendapatkan hukuman. Mereka dicambuk beberapa kali untuk memberikan efek jera dan untuk memberi hukuman pada Gendis agar berfikir ratusan kali untuk kabur


Setelah satu minggu menjalani perawatan, Gendis akhirnya pulih dengan sempurna, kakinya yang terkilir pun sudah sembuh, bahkan luka robek dipahanya pun sembuh tanpa meninggalkan bekas


Entah semahal apa obat yang diberikan Micko pikir Gendis


Sedangkan Gerhana tengah sibuk-sibuknya merampungkan pekerjaannya, karena ia sudah berjanji akan mengantarkan Gendis pulang


Gerhana menghentikan aktifitasnya saat teringat ia akan mengantarkan Gendis pulang, entah kenapa membayangkan tidak akan melihat Gendis lagi membuat dadanya terasa nyeri


Tapi janji adalah janji, yang harus ditepati. Seorang Gerhana Rafardhan Shakeel tidak akan mengingkari janji


"Udah lo siapin semuanya, Nyu?" Ia bertanya kepada Banyu

__ADS_1


"Lo yakin mau ikut ke Malang?" Banyu kembali memastikan


"Hmmm" Hanya itu yang keluarvdari mulut Gerhana


"Kenapa nggak Lo beliin tiket aja, biar dia pulang sendiri!"


"Gue mau memastikan dia sampe rumah dengan selamat!"


***


Hari yang ditunggu-tunggu Gendis pun tiba, hari ini ia akan kembali ke Malang untuk bertemu dengan neneknya tercinta


Gendis dan Gerhana sudah bersiap-siap, Exel yang mengantarkan mereka ke bandara. Sedangkan Banyu sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali untuk meeting menggantikan Gerhana


Mereka tiba di Bandar Udara Abdulrachman Saleh dan langsung dijemput oleh orang-orang Gerhana yang ada di Malang


Saat diperjalan Gendis tertidur, ia sebelumnya telah memberitahu alamatnya kepada sang sopir


Gerhana memandangi wajah damai Gendis kala tertidur, dadanya terasa sesak saat mengingat sebentar lagi ia akan berpisah dengan Gadis kecil yang tertidur pulas dalam pelukannya


Awalnya Gendis tidur sambil bersandar dikursi penumpang, karena tak tega Gerhana menyandarkan kepala Gendis di dadanya dan memeluknya erat


Perjalanan yang ditempuh cukup lama hingga membuat Gerhana ikut memejamkan matanya. Namun suara sang sopir mengembalikan kesadarannya


"Tuan kita sudah sampai di desa, Nona!" Ucapnya sopan


"Lalu rumahnya mana?" Tanya Gerhana


"Nona hanya memberikan nama desanya, Tuan. Tanpa memberi lebih detil alamatnya!"


Gerhana lalu menepuk pelan pipi Gendis untuk membangunkannya


"Gendis, bangunlah!" Ucapnya pelan


Namun Gendis masih tak bergeming


Gerhana mengusap punggung Gendis agar ia terbangun "Gendis!" Panggilnya


Sama seperti tadi Gendis masih tak menunjukkan pergerakannya


'Astaga gadis nakal ini' Gerhana membatin


"Gendis, bangun lah!" Gerhana berbisik tepat ditelinga Gendis


Gendis terlonjak kaget karena hembusan napas Gerhana ditelinganya


***


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes

__ADS_1


Peluk cium via online untuk kalen semua 🤗😘😘


__ADS_2