Tawanan

Tawanan
Bab 76


__ADS_3

Mobil mewah keluaran terbaru yang dikemudikan Jasson sudah terparkir sempurna dihalaman luas kediaman Gerhana. Dua orang pemuda tampan dengan setelan jas yang masih terlihat rapi, turun dari mobil dengan elegan


Mereka berjalan beriringan menuju kedalam, para pelayan sudah berjajar rapi menyambut kepulangan mereka. Dua pemuda yang hampir sempurna itu hanya membalas senyum para pelayan yang menyapanya


"Dimana Nyonya Muda?" Tanya salah seorang pemuda yang tak lain adalah sang pemilik rumah


"Nyonya sedari tadi tidak keluar kamar, Tuan!" Balas kepala pelayan


"Apa Nyonya mengeluh tidak enak badan?" Gerhana kembali bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran


"Kami kurang paham, Tuan!" Jawab Bibi Keke sedikit ragu, "karena Nyonya sedari tadi melarang kami masuk kekamar."


Tanpa banyak bertanya lagi Gerhana segera berlari menaiki anak tangga untuk memeriksa keadaan sang Nyonya Rumah. Sedangkan Banyu dan Bibi Keke serta para pelayan lainnya hanya tersenyum simpul melihat kekhawatiran Gerhana


Cklek


Gerhana membuka pintu kamarnya dengan perlahan, kekhawatirannya semakin bertambah karena kamarnya masih dalam keadaan gelap gulita. Ia segera mencari saklar lampu dan menghidupkannya


Lalu berjalan mendekati ranjang, ia melihat istrinya tidur meringkuk dibawah selimut tebal. Tangannya terulur untuk menyingkap selimut yang membalut tubuh mungil sang istri


Grep


Namun ia dikejutkan dengan istrinya yang tiba-tiba bangun dan memeluknya erat. Gerhana semakin dibuat bingung dengan kelakuan tak biasa istrinya, ia hanya bisa membalas pelukan hangat Gendis dengan pikiran bertanya-tanya


Gendis melepaskan pelukannya dan mulai menghujani wajah Gerhana dengan ciuman bertubi-tubi


Cup


Cup


Cup


"Sayang?" Panggil Gerhana hati-hati sambil menatap istrinya yang terlihat semakin cantik dengan balutan gaun berwarna maroon dan riasan tipis yang menghiasi wajah ayunya


Tanpa membalas panggilan suaminya, Gendis menarik tangan Gerhana dan mengajaknya turun kebawah lalu terus berjalan menuju taman di belakang rumahnya


Gerhana memandang takjub taman yang biasanya dihiasi aneka ragam tumbuhan dan bunga, kini disulap menjadi tempat makan malam yang romantis. Dengan lilin-lilin kecil yang mengelilingi meja serta dua kursi yang sudah tertata manis dilengkapi dengan berbagai hidangan yang telah tersaji diatasnya


Hatinya menghangat melihat kejutan yang disiapkan istrinya, tangannya masih dalam genggaman erat sang istri. Ia pun terus mengikuti langkah kaki Gendis dengan mata yang berkaca-kaca


Rasa haru bercampur bahagia menyelimuti hatinya, sudah sekian lama ia tak pernah merayakan hari ulang tahunnya, tepatnya sejak kedua orang tuanya tiada. Namun kini, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan apa yang telah disiapkan wanita yang paling dicintainya


"Selamat ulang tahun, Sayang!" Ucap Gendis dengan memeluk erat Gerhana, "semoga panjang umur, sehat selalu, dan semoga, apa yang disemogakan, segera tersemogakan." Sambungnya lalu mel*mat mesra bibir suaminya sambil berjinjit

__ADS_1


Gerhana tak mampu berkata-kata untuk menggambarkan kebahagiaannya saat ini, ia membalas cium*n istrinya dengan rakus hingga Gendis memaksa untuk melepaskan cium*nnya karena merasa sudah kehabisan napas


Gendis mengambil kotak berwarna merah maroon yang tergeletak diatas meja dan segera memberikannya kepada Gerhana


"Aku tidak bisa memberikan kado yang istimewa untukmu, karena kamu sudah memiliki segalanya," ucap Gendis dengan memberikan kotak merah tersebut ketangan Gerhana, "semoga kamu menyukai hadiah dariku!" Sambungnya


"Kamu tau kalau hari ini ulang tahunku saja, itu sudah lebih dari cukup untukku!" Balas Gerhana sambil menerima kotak hadiah pemberian istrinya


"Bukalah!" Pinta Gendis


Gerhana dengan mata berbinar segera membuka kota tersebut, matanya membulat sempurna melihat hadiah yang diberikan istrinya


"Sayang?" Ucap Gerhana dengan menatap manik indah istrinya


Gendis hanya mengangguk sebagai jawaban


Airmata nya tumpah, dengan senyum mengembang, ia segera memeluk Gendis, "Terimakasih telah menyempurnakan hidupku!" Ucapnya dengan tangan mengusap perlahan perut ramping istrinya


Airmata Gendis pun tak dapat dibendung melihat suaminya yang begitu terharu dengan hadiah yang ia berikan, sebuah kotak berwarna merah dengan alat test kehamilan yang menunjukkan dua garis merah didalamnya


Gendis sebenarnya telah mengetahui perihal kehamilannya tiga hari yang lalu karena Henny yang memaksanya untuk pergi kedokter setelah melihat Gendis yang nampak tak bersemangat dan muntah-muntah dipagi hari


Namun ia meminta Henny untuk merahasiakannya dari Gerhana dengan alasan untuk memberikan kejutan dihari ulang tahun suaminya


Banyu, Royan, Harris, serta Micko berjalan mendekati Gerhana dan Gendis yang masih saling memeluk


"Bukannya ini makan malam kita berdua, Sayang?" Tanya Gerhana dengan menatap istrinya


"Seharusnya begitu!" Balas Gendis sedikit bingung karena rencana makan malam romantis dengan suaminya terancam gagal karena kehadiran sahabat-sahabat kocak mereka


"Apa kita adalah tamu tak diundang?" Tanya Micko dengan sedih yang dibuat-buat


"Apa kalian nggak mau berbagi kebahagiaan dengan kami?" Harris pun tak mau ketinggalan memojokkan Gendis dan Gerhana dengan mimik wajah yang sedih


"Seharusnya kalian tau sitkon dong!" Balas Gerhana kesal


"Sudahlah! Karena semua sudah berkumpul disini, lebih baik kita barbeque an!" Gendis menengahi, "bagaimana?" Sambungnya menatap mereka secara bergantian


"Patuh saran, Nyonya!" Jawab Gerhana lesu


"Oh iya, selamat buat kalian berdua, ya!" Ucap mereka kompak


"Terimakasih" balas Gendis seraya tersenyum manis

__ADS_1


"Kalian kapan mau nyusul gue?" Ujar Gerhana menatap mereka bergantian


"Gue mau nunggu Gendis junior aja, deh!" Ucap Micko dan langsung mendapat toyoran dari Royyan


"Mimpi aja!" Ujar Royyan, "cucu gue masih muda dan elo udah jadi kakek-kakek." Sambungnya sewot


"Lagian ya, gue juga ogah punya mantu seumuran gue!" Sahut Gerhana


"Woy, kalian yakin kagak mau jadiin gue mantu?" Tanya Micko


"Yakin." Balas Royyan dan Gerhana kompak


"Gue tajir, ganteng, mapan, penyayang dan kandidat calon mantu paling sempurna kayak gue kenapa ditolak mentah-mentah?" Ujar Micko berlagak sedih


"Gue lebih kaya!" Sahut Gerhana sewot


"Udah-udah! kalau ribut terus kapan mau makan-makannya ini?" Sela Banyu memutus bibit-bibit perdebatan unfaedah mereka


Banyu, Harris, serta Royyan sibuk menyiapkan daging yang akan dibakar, sedangkan Gerhana dan Micko sibuk menyiapkan bumbunya


Mereka saling bantu membantu untuk mempersiapkan acara makan-makan. Untuk para orang tua, mereka sedang mengadakan perjalanan bisnis keluar negeri


Gendis hanya bisa menonton segala macam kegiatan mereka tanpa diperbolehkan membantu walau hanya sedikit saja. Gendis diperlakukan layaknya seorang ratu oleh mereka


"Bau apa ini?" Tanya Gendis seraya berjalan mendekat kearah Harris dan Micko yang sedang memanggang daging


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Harris, "kamu duduk aja, biar kami yang mengerjakan semuanya!"


"Benar, Ndis!" Sahut Banyu yang sedang menyiapkan piring, "disini banyak asep, nggak baik buat kesehatan calon keponakan kita." Sambungnya


"Tapi itu...." Ujar Gendis sedikit ragu sambil menunjuk daging bakar yang sedang dikipas Harris


"Harris!" Teriak Banyu dan Micko kompak, setelah melihat daging panggang yang mulai menghitam


***


Kabarnya gaes? Sehat selalu kan?


Ada yang kangen Mawar? Atau kangen sama Babang Ge dan Gendis?


Jangan lupa jejak ya readers, biar Mawar makin semangat


Peluk cium via online buat kalen semua 🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2