Tawanan

Tawanan
Bab 16


__ADS_3

Hari-hari yang Gendis lalui terasa begitu lambat, ia selalu berdo'a agar bisa segera terlepas dari tempat mengerikan ini. Hanya do'a, ya hanya do'a yang mampu Gendis lakukan. Menunggu sebuah keajaiban datang


Entah Gerhana yang akan membebaskannya atau orang lain yang akan menolongnya. Tak henti Gendis memohon kepada Sang Pencipta agar bisa membukakan pintu hati seorang Gerhana untuk melepaskannya


Gerhana baru pulang kerja tepat jam setengah delapan, ia lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Saat didepan kamar Gerhana meninta Nana untuk memanggilkan Gendis


"Panggilkan, Gendis!" Ucapnya dingin


"Baik, Tuan!" Nana kemudian mebcari Gendis dikamarnya


Gendis sengaja membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka saat ia sedang beribadah, bukan untuk pamer atau semacamnya. Tapi agar saat ada yang mencarinya mereka tinggal masuk saja tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu


Nana yang melihat kalau Gendis sedang sholat, lalu naik kembali untuk memberitahukan kalau Gendis sedang sholat isya'


Tok Tok Tok


Nana mengetuk pintu kamar Gerhana


"Masuk!" Teriaknya dari dalam


"Mana Gendis?" Tanya Gerhana karena tak mendapati Gendis bersama Nana


"Nona sedang sholat isya', Tuan" Ucapnya sopan


"Baik, keluarlah!" Perintahnya


"Baik. Tuan?! nana berucap sembari mengangguk hormat dan meninggalkan kamar Gerhana


Gerhana turun untuk melihat Gendis, saat hendak mengetuk pintu ia melihat pintu yang tidak tertutup sempurna


Gerhana melihat wajah tenang Gendis saat bersujud. Ia terus memandangi Gendis hingga gadis itu selesai dengan urusannya kepada sang pencipta


Gendis terlonjak kaget saat mendapati Gerhana tengah menatapnya dengan tubuh bersandar didinding dan tangan dimasukkan kedalam saku


"Siapkan air mandi untukku!" Ucapnya seraya meninggalkan kamar Gendis


Gendis mengangguk lalu mengikuti Gerhana ke kamarnya, ia segera masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat didalam bathtub seperti biasa, tak lupa pula ia meneteskan aroma terapi lavender didalamnya


Setelah dirasa cukup, Gendis segera bergegas ke ruang ganti untuk menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Gerhana nanti


"Airnya sudah siap, Tuan!" Tulis Gendis dilayar ponselnya. Ah iya Gendis sudah dibelikan ponsel oleh Tuan Muda, agar mempermudah saat berkomunikasi dengan dia dan yang lainnya


"Hmm" Hanya itu yang keluar dari bibir sexy Gerhana, tanpa menatap Gendis


Gendis kembali ke kamarnya untuk beristirahat


Ketika sudah hampir jam dua belas malam, tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang menarik kasar tangannya. Gendis seketika terjaga dan menatap penuh tanya kepada si pelaku yang tak lain adalah Gerhana

__ADS_1


'Apalagi salahku, Ya Allah?' Ucap Gendis dalam hati


Gendis hanya bisa pasrah saat Gerhana menyeretnya paksa menuju kamarnya yang terletak di lantai dua, Apa kesalahannya pun Gerhana tidak menjelaskannya, sungguh hati Gendis sudah terasa kebas akibat ulah Gerhana


Setelah sampai dikamar, Gerhana masih menyeret Gendis dengan kasar menuju kamar mandi miliknya. Ia dengan teganya mendorong Gendis masuk kedalam bathtub dan menguyurnya dengan air dingin


Ingin bertanya apa salahnya pun rasanya tak mungkin, Gendis hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan tidak manusiawi Gerhana kepadanya


"Dingin kan?" Gerhana menyeringai "Elo nyuruh gue buat mandi air sedingin ini malem-malem begini? Elo sengaja kan mau bunuh gue biar elo bisa bebas!" Gerhana terus menghardik Gendis dengan kejam


'Jadi ini masalahnya? Bagaimana tidak dingin, Tuan. Saat saya menyiapkannya sedari sebelum jam delapan dan anda mandi tengah malam seperti ini!' Namun ucapan itu hanya mampu ia telan mentah-mentah didalam hatinya


Penderitaan Gendis masih belum berakhir saat Gerhana dengan teganya meninggalkan Gendis dikamar mandi sendiri dan mengunci pintunya


Keringat dingin Gendis mulai bercucuran saat Gerhana mematikan lampu kamar mandi tersebut, ia semakin ketakutan tapi ia hanya bisa menangisi nasib malangnya. Bahkan disaat seperti ini Gendis pun masih membenci suaranya


Gerhana dengan sengaja meninggalkan Gendis sendiri dan ia malah peegi ke ruang kerjanya. Karena terlalu lelah ia ketiduran disofa ruang kerjanya, bahkan ia masih mengenakan setelan kerja yang masih lengkap


Gerhana terbangun karena mimpi buruk yang selalu menghantuinya selama ini


"Kenapa mimpi itu terus saja datang!" Ia mengusap wajahnya kasar


Ia menengok jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima pagi


"Shit! Gadis bodoh itu!" Ia baru teringat telah mengunci Gendis dikamar mandinya


Betapa terkejutnya ia melihat Gendis yang tak sadarkan diri dengan tubuh memucat


"Astaga!" Ia segera membopong Gendis dan meletakkannya diatas ranjang


Ia berteriak memanggil para pelayan, tak butuh waktu lama para pelayan pun telah berbaris rapi dihadapannya dengan wajah yang ketakutan


'Apa yang terjadi dengan Tuan Muda, kenapa berteriak sepagi ini!' Batin salah seorang pelayan


'Ya Tuhan lindungi kami!' Batin pelayan yang lain


"Mela, cepat gantikan pakaian Gendis! Dan yang lainnya segera buatkan bubur untuk Gendis" Gerhana memerintah


"Baik Tuan!" Jawab mereka kompak lalu kembali ketugas masing-masing


"Ada apa sih, Ge? Masih pagi buta juga udah teriak-teriak?" Tanya Banyu sembari menguap malas


"Cepat telpon Micko! Jika dalam lima belas menit dia tidak datang ku pastikan bonus akhir tahunnya hangus!" Ucapnya menatap tajam Banyu


"Gila! Mana bisa?" Banyu tak habis pikir, sedangkan dari rumah Micko ke kediaman Gerhana butuh waktu setengqh jam itu pun ditempuh dengan kecepatan tinggi


"Sekarang!" Ucapnya tegas

__ADS_1


"Maaf, Tuan! Kami akan menggantikan pakaian Nona terlebih dahulu!" Sela Bibi Keke yang melihat Gerhana malah berdebat dengan Banyu


"Baiklah!" Gerhana dan Banyu lalu keluar dari kamar


Bibi Keke dan Mela kemudian menggantikan pakaian Gendis dengan hati-hati


Hatinya terasa perih melihat kondisi Gendis yang sudah seperti mayat


"Salah apa sebenernya anda, Nona? Kenapa Tuan Muda selalu menyiksa anda!" Ucapnya seraya menghapus air matanya


Mela pun sama, ia sampai meneteskan air matanya melihat keadaan Gendis


Saat sudah diluar kamar, Banyu menatap tajam Gerhana. Seolah meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi


"Cepet telpon sekarang, Nyu!" Ucap Gerhana penuh penekanan


Banyu segera menelpon Micko dan memintanya untuk segera datang. Dan jika terlambat bonus akhir tahun yang menjadi taruhannya


Sedangkan Gerhana kembali keruang kerjanya, saat ia membuka lemari hendak mengembalikan dokumen tiba-tiba


Bruk


Sebuah figura berukuran kertas a4 terjatuh dari dalam lemari dan tepat mengenai kepalanya


"Aduh, Sial*n! Apaan sih ini?" Ia mengumpat kesal dan berjongkok mengambil pigura yang jatuh tengkurap tersebut


Ia membaliknya dan menatap isi pigura tersebut yang tak lain adalah selembar sketsa, ia teringat kala menemukan sketsa tersebut. Sketsa yang berisi gambar seorang gadis cantik dengan tersenyum bahagia dengan seorang pemuda tampan yang juga tengah tersenyum


"Gendis!" Gumamnya sambil terus menatap sketsa tersebut


"Kenapa dia sangat cantik saat tersenyum!"


"Kenapa dia nggak pernah memperlihatkan senyumnya?"


"Kapan terakhir gue liat dia tersenyum sebahagia ini? Ya saat dia bareng Abimana!"


Entah mengapa hati Gerhana terasa tercubit saat mengingat Gendis bisa tersenyum begitu manis didepan Abimana, sedangkan di depannya hanya wajah murung yang selalu ia perlihatkan


"Ck... Dasar murahan, baru juga putus dari nih bocah! Terus begitu cepetnya dapet ganti baru!" Gerhana berdecak kesal


Gerhana mengira Gendis baru saja putus dari pemuda yang ada dalam sketsa, yang tak lain adalah Samuel. Kemudian Gendis membuang sketsa tersebut kejalan. Setelah itu Gendis menjalin hubungan dengan Abimana


Gerhana kembali memasukkan pigura tersebut kedalam lemari dan ia segera menghampiri Gendis didalam kamarnya


***


Jangan lupa tinggalkan jejak yae gaes, biar Mawar makin semangat up eps barunya

__ADS_1


Salam sayang selalu dari Mawar, peluk cium via online untuk kalian semuaaa🤗😘😘


__ADS_2