
Gendis sudah dipindahkan keruang perawatan VVIP khusus karena kondisinya sudah semakin membaik, walaupun ia masih belum juga siuman
Gerhana dengan setia menemani istrinya, ia tidur disamping istrinya, karena Gendis tidak terbaring dibrankar melainkan diranjang kingsize yang ada diruang perawatannya
Gerhana tidak semenit pun meninggalkan istrinya itu, ia masih terus merasa ketakutan atas kejadian tadi siang. Ia mengusap lembut wajah ayu yang masih nampak pucat itu
Sesekali ia menciumi tiap inci wajah istrinya, ia mungkin tidak akan hidup jika harus kehilangan Gendis, biarlah dikata bucin, tapi pada kenyataannya rasa takut kehilangan lebih besar dari pada rasa cintanya
Sedangkan Dion tidur di bilik yang ada di dalam ruangan itu. Sesekali Dion memeriksa keadaan putrinya dan tersenyum kala melihat Gerhana tak sedetikpun melepaskan tangan putrinya dari genggaman
Perawat pun memeriksa keadaan Gendis setiap satu jam sekali, setiap kali mereka bergantian masuk jiwa jomblonya selalu diuji dengan pemandangan yang 'uwu' antara pasien dan suaminya
'Duuuuh, bersabarlah jiwa jombloku, please jangan meronta-ronta melihat keuwuan mereka. Besok kita cari gandengan yang seperti Tuan Muda' batin suster yang bertugas memeriksa Gendis
***
Gendis mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk kedalam retina matanya, ia merasakan sakit disekujur tubuhnya terutama punggungnya
Ia merasakan ada tangan yang melingkar diperut rampingnya, ia kemudian menengok dan tersenyum menatap wajah tenang suaminya yang tengah terlelap
Gendis menelisik sekeliling ruangan tersebut dan melihat begitu banyak peralatan medis yang menempel ditubuhnya
"Ternyata bukan mimpi." Guman Gendis, ia fikir semua kejadian yang ia lalui adalah mimpi semata namun melihat semua itu membuatnya sadar bahwa itu semua nyata adanya
"Sayang!" Lirih Gendis memanggil Gerhana
Gerhana terbangun, ia mengerjabkan matanya beberapa kali, ia hanya memastikan jika yang baru saja memanggilnya adalah Gendis, bukan halusinasinya saja
Gerhana menatap istrinya, untuk sesaat pandangan mereka terkunci. Mata Gerhana berkaca-kaca karena haru, senyumnya mengembang
"Sayang, kita dimana?" tanya Gendis lirih, ia ingat ini seperti ruangan kala Samuel dirawat di klinik Micko, tapi kenapa brankarnya berubah menjadi ranjang
"Kita di Klinik Micko, Sayang!" jawab Gerhana lembut, ia segera memencet bel untuk memanggil perawar
Ternyata Micko pun datang bersama para perawat. Ia segera memeriksa keadaan Gendis
"Semua udah baik-baik aja, tinggal nunggu proses penyembuhannya!" Ungkapnya dengan tersenyum lega
"Alhamdulillah!" Ucap Gerhana lega, ia melirik Dion yang hanya memandangi mereka dari pintu bilik
__ADS_1
Gerhana memberi kode agar Dion menemui Gendis, namun Dion menggeleng. Ia tidak ingin kondisi putrinya kembali memburul saat ia mengetahui tentang dirinya, ia akan menunggu hingga keadaan Gendis benar-benar pulih untuk mengatakan kebenarannya
Micko mengajak Gerhana masuk kedalam bilik untuk membicarakan tentang Gendis bersama Dion
"Bang, maaf sekali, sebaiknya abang memberitahu kebenaran ini nanti setelah keadaan Gendis pulih, karena yang kita takutkan dia akan shock dan berakibat buruk pada kesehatannya." Terang Micko
Dion mengangguk, "melihatnya baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup!" ujarnya sendu
Gerhana mengusap bahu mertuanya itu, "sabar sebentar ya, Yah!" Ujarnya, ia harus belajar untuk memanggil Dion Ayah, karena biar bagaimana pun Dion adalah ayah kandung istrinya
***
Siang harinya, Dion duduk diluar ruang perawatan karena Gendis sedang makan disuapi Gerhana. Hingga siang ini Gendis masih belum mengetahui jika Dion ikut menjaganya sedari dia datang kerumah sakit
Hatinya terasa sakit, saat harus main kucing-kucingan dengan putri kecil yang kini didepan matanya, ingin sekali ia berlari dan mendekap putri kecilnya itu, tapi kondisinya yang tak memungkin kan Dion untuk memaksakan keegoisannya
Tiba-tiba sworang wanita paruh baya berjalan tergesa menuju ruang perawatan Gendis
"Darimana wanita jahat itu tau kalau putriku dirawat disini" guman Dion
Wanita tua tersebut berjalan kearah Dion, dibelakangnya Royyan sedang berlari mengejarnya
"Ma, sudah ayo kita pulang!" Ajak Royyan ketika bisa menggapai lengan Mamanya. Ya wanita tua itu adalah Ratri, Mamanya Dion
"Nyonya Ratri yang terhormat, bisakah anda pergi dari tempat ini?" Ucap Dion penuh penekanan disetiap kata, "ataukah perlu saya panggilkan satpam?"
"Nak, kamu boleh marah, kamu boleh menghukum mama, tapi tolong izinkan Mama melihatnya sebentar saja." Ratri memohon dengan lelehan air mata yang mulai berjatuhan
Keributan diluar itu terdengar oleh Gendis, "Sayang, ada apa diluar itu, kenapa ribut sekali?" Tanyanya
"Biar aku lihat sebentar ya?"
Gendis mengangguk, Gerhana mencium singkat kening istrinya sebelum keluar ruangan
Gerhana melihat Ratri dan juga Royyan yang ada disana, ia segera berjalan menghampiri mereka
"Ada apa ini?" tanya Gerhana dengan wajah dinginnya
"Tante, eh oma hanya ingin menjenguk istrimu, Ge!" Balas Ratri, ia harus belajar membiasakan diri untuk menyebutnya Oma didepan Gerhana yang merupakan cucu mantunya
__ADS_1
Semua orang yang ada disana mengernyit mendengar penuturan Ratri
Micko yang mendapat laporan jika ada keributan diluar ruang VVIP Tuan Muda pun segera menghampiri mereka. Micko menatap mereka satu persatu sebelum mengatakan sesuatu
"Mohon pengertiannya untuk tidak membuat keributan disini!" Ujar Micko dingin, "Pasien butuh ketenangan untuk bisa beristirahat agar kondisinya lekas membaik!"
"Tante hanya ingin menjenguk cucu, apakah salah?" Ujar Ratri
"Sudah hentikan sandiwara Anda, Nyonya!" Dion menyela, "berhentilah berpura-pura peduli dengan putriku setelah apa yang anda lakukan!" lanjutnya dengan tegas
Gerhana yang tak kunjung kembali membuat Gendis penasaran dan dengan perlahan berjalan keluar, namun ia dikejutkan dengan kehadiran dua orang asing yang sedang berdebat
Gendis terkejut mendengar ucapan Dion, 'Siapa putri yang dia maksud, sedangkan dilantai ini hanya ada satu ruangan dan siapa mereka berdua?' batin Gendis
"Sayang!" Gendis memanggil Gerhana
Semua orang terkejut melihat kehadiran Gendis yang tiba-tiba berdiri didepan pintu dengan memegangi tiang infus. Seketika wajah mereka berubah pucat pasi
Gerhana segera berjalan menghampiri istrinya, "ayo masuk lagi, Sayang!" Ajaknya seraya merangkul bahu Gendis
"Tolong jelaskan dulu siapa mereka? Dan siapa yang dimaksud putri dan cucu?" Gendis menolak ajakan suaminya, ia memandang lekat manik elang suaminya
Ini lah yang dikhawatirkan Micko jika mereka tetap nekat untuk membongkar semuanya disaat kondisi Gendis yang belum pulih akan menyebabkan tekanan pada batinnya dan akan sangat mempengaruhi kesehatannya
Gerhana memandang sekitar untuk meminta bantuan, 'apa yang harus ku jawab?' kurang lebih seperti itu yang mereka tangkap dari tatapan mata Gerhana
Micko berjalan mendekat mencoba untuk membujuk Gendis agar mau masuk kedalam agar tidak terus menanyakan perihal Dion dan Ratri
Namun Gendis dengan keras kepalanya menolak ajakan Micko, ia terus memandang mata suaminya dalam seolah meminta jawaban atas semua yang ia dengar
Gerhana menarik napas dalam sebelum menjawab, ia mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya walau jelas waktunya tidak tepat
"Bang Dion adalah Ayah, Sayang!" Ucap Gerhana
Gendis memejamkan matanya mencoba untuk mencerna ucapan suaminya, ia menggeleng "kamu bohong kan sayang, kamu sedang ngeprank aku?"
Gerhana menggeleng, ia menggenggam jemari lentik istrinya, "Dia adalah ayah kandungmu, Sayang!"
***
__ADS_1
Kira-kira gimana ya reaksi Gendis setelah mengetahui bahwa Dion adalah ayahnya, marah atau langsung menerima orang yang sedari dia membuka mata tak pernah sekalipun ia pandang
Jangan lupa jejak ya gaes