
Mentari pagi sudah mulai menampakkan sinar hangatnya, menggantikan sang bulan untuk kembali keperaduannya. Cicit burung yang saling bersahutan terdengar merdu, wewangian bunga yang mulai bermekaran serta harum aroma rerumputan yang hijau terawat, begitu memanjakan panca indera
Srek
Seorang pemuda tampan dengan senyum mengembang membuka tirai dan jendela, membiarkan hangat sang mentari masuk menyapu wajah ayu yang masih terlelap dibawah selimut tebalnya
Cup
Satu kecupan mesra mendarat dikening mulus Gendis, membuat sang empunya perlahan membuka mata indahnya
"Sayang, aku masih mengantuk." Ucap Gendis dengan suara serak khas bangun tidur
"Ayo kita jalan-jalan pagi, biar sikecil sehat didalam sana!" Ujar Gerhana dengan menarik lembut tangan istrinya, memaksanya untuk segera bangun
"Gendong!" Pinta Gendis manja, dengan masih menutup matanya
"Uuuh istriku yang manja." Ucap Gerhana dengan mencubit pelan hidung mancung istrinya, kemudian ia menggendong Gendis menuju kamar mandi
Setelah mencuci muka, Gendis berganti pakaian dan bersiap untuk berjalan-jalan pagi dengan sang suami yang sudah bersiap menunggunya diluar ruang ganti
***
Setelah puas berjalan-jalan ditaman, Gerhana mengajak istrinya untuk menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh Bibi Keke dan para pelayan
Namun baru menikmati dua suapan nasi goreng kesukaannya, Gendis segera berlari kedalam kamar mandi yang terdekat dari ruang makan dan memuntahkan semua yang ada didalam perutnya
Geehana segera berlari untuk menyusul istrinya dengan khawatir dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam oleh Gendis
"Sayang, buka pintunya!" Teriak Gerhana dengan masih terus mengetuk pintu kamar mandi
"Sayang, apa kamu baik-baik saja didalam?" Gerhana masih terus mengetuk pintu kamar mandi dengan khawatir
"Tuan, muntah dipagi hari bagi ibu hamil itu adalah hal biasa terjadi, Tuan tidak perlu khawatir!" Ujar Keke mencoba menenangkan kepanikan Gerhana yang terus mengetuk pintu
"Tapi Gendis tidak menjawab sama sekali, bagaimana bisa aku tidak khawatir, Bi!" Balas Gerhana semakin khawatir karena Gendis masih tak menjawab, hanya terdengar suaranya yang terus memuntahkan isi perutnya
Setelah beberapa saat akhirnya Gendis membuka pintu kamar mandi dan melihat wajah penuh khawatir milik suaminya
"Aku baik-baik saja, Sayang!" Jawab Gendis lemas
Jawaban Gendis tidak cukup membuat Gerhana tenang, saat melihat wajah pucat istrinya. Ia segera berjalan menghampiri Gendis dan menggendongnya kembali ke kamar
__ADS_1
"Lain kali saat kamu muntah seperti tadi, jangan mengunci pintunya dan biarkan aku masuk untuk membantu memijat tengkukmu, Sayang!" Pinta Gerhana setelah ia membaringkan istrinya diatas ranjang
Ia segera mengambil minyak kayu putih dan segera mengusapkannya keperut dan punggung Gendis, ia pun memijit serta mengolesi dengan minyak kayu putih tengkuk istrinya
"Tapi itu sangat menjijikkan, Sayang." Lirih Gendis
"Tidak ada kata menjijikkan! Kamu adalah istriku, tidak ada hal yang menjijikkan darimu!" Tegas Gerhana masih terus memijit tengkuk istrinya
"Baiklah." Balas Gendis pasrah
"Setelah merasa baikan, kita ke klinik Micko, ya?" Pinta Gerhana dengan lembut, ia sungguh tidak tega melihat kondisi istrinya
"Tidak perlu, Sayang. Sebentar lagi juga akan segera membaik." Tolak Gendis lembut, ia merasa tidak perlu harus ke klinik karena hanya muntah biasa selayaknya perempuan hamil pada umumnya
"Tidak ada penolakan!" Tegas Gerhana, "lagian, aku juga ingin lihat bagaimana kondisi calon anak kita." Sambungnya melembut
Setelah dirasa kondisinya sudah lebih baik, Gendis segera berganti pakaian dan bersiap untuk ke klinik bersama sang suami
Gerhana sengaja mengemudikan mobilnya sendiri, ia ingin menjadi suami siaga yang bisa diandalkan untuk menjaga istrinya tanpa mengandalkan orang lain
Tak sampai tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan Gerhana sudah terparkir sempurna diparkiran klinik milik sahabatnya, ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya
"Selamat, bayi kalian kembar, tapi untuk jenis kelaminnya belum bisa diketahui karena usia kehamilannya yang baru menginjak lima belas minggu." Terang Dokter setelah melakukan USG Gendis
"Kembar, Dok?" Ujar Gerhana terkejut
Sedangkan Dokter tersebut hanya mengangguk seraya tersenyum ramah
"Alhamdulillah!" Ucap Gerhana dan Gendis kompak, Gerhana segera memeluk dan menciumi istrinya
"Lalu bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Gerhana setelah mampu mengendalikan dirinya dari kebahagiannya yang luar biasa
"Kondisi ibu dan bayi sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" Ucap Dokter yang diketahui bernama Adelia tersebut, "harus lebih memperhatikan pola makan, untuk mengurangi mual sebaiknya jangan minum yang dingin tapi lebih baik minum air hangat, dan jangan terlalu kelelahan
"Paksakan makan sedikit-sedikit tapi sering, biarpun mual harus tetap dipaksakan untuk makan, nanti saya resepkan obat dan vitamin untuk mengurangi mualnya."
Gerhana dan Gendis mendengarkan dengan seksama semua saran dari Dokter Adelia
"Perbanyak makan sayur dan buah-buahan, minum susu untuk ibu hamil, serta vitaminnya jangan sampai tidak diminum ya, Nyonya!" Ucap Dokter Adel lembut
"Baik, Dok!" Jawab Gendis seraya tersenyum ramah
__ADS_1
"Untuk Tuan Gerhana harus lebih memperhatikan kondisi dari Nyonya Gendis. Suasana hati perempuan hamil gampang berubah, seperti cuaca di Ibukota yang pagi panas, siang hujan, dan malam rindu." Ujar Dokter Adel seraya tersenyum
"Bucin, Dok?" Balas Gerhana dengan tertawa, sedangkan Gendis hanya membalasnya dengan tersenyum
"Sedikit intermeso agar tidak terlalu tegang," Ucap Dokter Adel tersenyum, "terkadang tertawa bahagia, lalu bisa tiba-tiba menangis, intinya harus lebih bersabar menghadapi perubahan hormon pada ibu hamil." Sambungnya terus menjelaskan panjang lebar
Setelah berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan, Gendis dan Gerhana kembali kerumah, tapi sebelum itu Gerhana telah mengambil obat dan vitamin untuk istrinya di apotek dahulu
Sebelum kembali kerumah, Gerhana mengajak istrinya untuk berbelanja pakaian dan juga susu untuk perempuan hamil, serta semua yang Gendis inginkan
"Sayang, bukankah terlalu dini kalau kita memilih pakaian dan perlengkapan untuk sikecil?" Tanya Gendis ketika baru turun dari mobil
"Beli pakaian untuk kamu, beli semua keperluan yang kamu butuh dan inginkan, Sayang!" Jawab Gerhana santai
Ia segera mengandeng istrinya ke toko pakaian dan menemani Nyonya Gerhana memilih semua pakaian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu hamil
"Tolong bungkus semua pakaian yang disentuh oleh istriku, lalu kirimkan kealamat saya!" Pinta Gerhana kepada pelayan toko tersebut
"Sayang, tidak perlu semua, itu terlalu berlebihan!" Ucap Gendis berbisik ditelinga suaminya
"Tidak ada yang berlebihan!" Jawab Gerhana santai lalu mencium lembut kening dan pipi istrinya
Gendis menyikut perlahan perut suaminya, "Sayang, ini tempat umum, tolong jaga kelakuanmu!" Ucap Gendis dengan wajah merona karena malu
Gerhana hanya tersenyum simpul dan tetap stay cool, seolah tidak ada orang lain yang melihat mereka
Setelah berbelanja pakaian, Gerhana mengajak istrinya untuk membeli apapun yang diinginkan oleh Gendis
"Sayang, ini semua sudah terlalu banyak dan aku sudah lelah berjalan sedari tadi!" Ucap Gendis lesu, ia sudah tidak tahan karena Gerhana terus saja memborong semua yang dilihat oleh Gendis, seolah-olah memindahkan seluruh isi mall tersebut kerumah mereka
***
Kabarnya gaes? Sehat selalu kan?
Ada yang rindu sama Mawar? Atau malah rindu sama Babang Ge dan Gendis?
Maafkeun Mawar yang udah sekian lama kagak up ya readers, mungkin malah banyak yang udah mulai lupa sama alurnya, saking terlalu lama kagak up
Mawar sangat sibuk di dunia nyata, sampai sulit sekali menyempatkan waktu berselancar di dunia halu
Peluk cium via online buat kalen semua readersku tercintaaah 🤗😘
__ADS_1