Tawanan

Tawanan
Bab 29


__ADS_3

Seorang pemuda tampan dengan senyum menawan ditambah dengan lesung pipi yang semakin membuat manis senyumannya, membuat banyak wanita menggilainya termasuk juga para mahasiswi dan para dosen muda dikampusnya mengajar


Dia adalah Alexander Leonidas, atau akrab disapa Leon. Seorang pemuda blasteran Korea dan Jawa. Senyum khas pemuda Jawa yang manis ditambah wajahnya yang lebih dominan keturunan Korea, membuat siapa saja betah memandangnya


"Maaf membuat anda menunggu lama, Tuan," Ucap Banyu yang baru turun dari lantai dua, "biasa drama sepasang pengantin baru." Lanjutnya setengah bercanda


Leon terkekeh mendengar candaan Banyu, 'ternyata Tuan Banyu tidak semenyeramkan rumor yang beredar.' Leon membatin


Banyu mengajak Leon berbicang-bincang sambil menunggu Gerhana, hingga akhirnya selang lima belas menit Gerhana turun menemui tamunya


"Selamat pagi, Tuan!" Leon menyapa seraya tersenyum


"Apakah anda sudah menunggu lama, Tuan?" tanya Gerhana


"Tidak, Tuan. Hanya mungkin saya saja yang datang terlaku pagi." Balasnya seraya terkekeh


Saat mereka tengah berbincang, Gendis datang bersama Mela. Gerhana mematung memandang Gendis yang nampak lebih ayu dari biasanya. Dengan mengenakan dress motif bunga-bunga, serta rambut yang dikepang satu, membuat Gendis nampak lebih mempesona


"Perkenalkan, ini istriku namanya Gendis," Gerhana memperkenalkan, "dia sangat pemalu, dan jarang berbicara, hanya orang-orang tertentu yang diajaknya berbicara menggunakan suara." Jelas Gerhana


Leon pun mengangguk, "selamat pagi, Nyonya!"


Gendis hanya tersenyum sebagai jawaban


"Dia adalah Leon, gurumu melukis," Ucap Gerhana menatap Gendis, "apa kau senang, Sayang?"


Banyu membelalakan matanya mendengar Gerhana memanggil Gendis dengan sebutan 'sayang', 'selain jadi pengusaha sukses elo seharusnya jadi aktor juga, Ge' Banyu membatin


Gendis mengangguk


Leon mengajari Gendis tehnik dasar melukis dengan telaten, sedangkan Gerhana dan Banyu duduk sebagai penonton


***


Keesokan harinya, Gendis menerima telpon dari sahabatnya, yang mengatakan bahwa dia akan datang berkunjung. Tapi sebelum itu, Gendis akan meminta izin terlebih dahulu dengan Gerhana


Tok Tok Tok


Gendis mengetuk pintu ruang kerja Gerhana


"Masuk!" Sahut Gerhana dingin


Gendis lalu masuk, ia meremas ujung gaun santainya. Ia ingin meminta izin, tapi ia sangat takut jika nanti pria arogan didepannya ini mengamuk seperti banteng gila


"Ada apa?" Tanya Gerhana yang melihat Gendis hanya diam sambil meremas ujung dress yang dikenakannya


"Apakah boleh jika sahabatku berkunjung kemari, Tuan?" Gendis menulis dan menyerahkannya kepada Gerhana

__ADS_1


Gerhana mengangguk, dan mendapat senyum merekah dari Gendis. Ia begitu bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan sahabatnya itu


Gerhana menatap Gendis yang sedang tersenyum bahagia, tapi entah kenapa hatinya malah terasa begitu perih


***


Seperti yang sudah dijanjikan, Samuel datang untuk berkunjung. Saat baru memasuki kediaman suami sahabatnya, mata Samuel dibuat takjub melihat rumah megah bak istana milik Gerhana


Untunglah Samuel ingat yang dikatakan Gerhana, sehingga ia tak kesulitan untuk masuk kerumah suami Gendis


Melihat para pengawal dan pelayan yang berjejer rapi membuat mental Samuel menciut, ia takut jika nanti Gendis sudah tak sudi bersahabat dengan pemuda sederhana seperti dirinya


Namun dugaan Samuel salah, Gendis tetaplah Gendis, sigadis sederhana yang selalu rendah diri


Gendis sangat bahagia melihat sahabat yang teramat sangat dirindukannya telah tiba, dengan senyum merekah ia mengajak Samuel untuk duduk ditaman, banyak hal yang ingin ia bagi dengan pemuda tampan yang kini duduk disebelahnya


"Bagaimana kabarmu, El?" Tanya Gendis sambil melirik sahabatnya itu


"Seperti yang terlihat, Nda," Balasnya seraya tersenyum, "aku selalu baik-baik saja, asalkan kamu juga begitu."


"Kamu memang selalu pandai membuatku tersenyum dengan gombalanmu itu, El." Balas Gendis seraya mencubit gemas pipi Samuel


"Tapi semua itu selalu berhasil membuatmu tersenyum, Nda." Jawab Samuel santai


"Ya, ya, ya," Gendis mengiyakan, "bagaimana kuliahmu, El? Apakah sudah ada Gadis kota yang menarik hatimu?"


Gendis mengernyit


"Aku menyesal telah mengambil kuliah kedokteran, Nda," Samuel menatap kedepan, "tugas yang dosen berikan seolah tiada habisnya."


"Bukankah itu dulu kemauanmu, El," Gendis menatap Samuel, "Lalu kenapa kamu sekarang merasa bosan?"


"Dulu aku ingin menjadi dokter karena ingin menyembuhkanmu, Nda!" Balas Samuel


"Aku bahkan tidak sakit, El."


"Aku ingin menyembuhkan luka dihatimu, Nda" ungkap Samuel, "aku ingin kau sembuh dari dari toxic yang diberikan seseorang itu. Dan aku ingin ketika kau sakit, akulah orang pertama yang mengobatimu."


"Kalau begitu, teruslah belajar agar bisa menjadi dokter muda yang berprestasi," Gendis menyemangati, "dan orang pertama yang akan menyembuhkan aku ketika sakit"


Samuel tersenyum, memang hanya Gendis yang mampu menjadi mood booster untuknya, "apa kau bahagia, Nda?"


Gendis menatap lekat sahabatnya itu, kenapa dia bisa bertanya seperti itu pikirnya, "Seperti yang kau lihat, El. Aku sangat bahagia." Jawabnya berbohong


"Jangan pernah mencoba untuk berbohong kepadaku Gendis Alamanda Maheswari." Samuel mulai serius


"Aku bahagia, El!" Ucap Gendis seraya tersenyum simpul, "Mas Gerhana memperlakukan aku selayaknya seorang 'Nyonya'." Jujur Gendis

__ADS_1


"Syukurlah," Balas Samuel, sebenarnya ia tau betul kalau sahabatnya ini menyimoan begitu banyak luka. Tapi ia tak ingin memaksa Gendis bercerita, sebelum ia ingin menceritakan kisahnya sendiri


"Apa kamu sudah berbicara dengan Kak Gerhana menggunakan suaramu, Nda?" El bertanya setelah hening beberapa saat


Gendis menggeleng


"Kenapa, Nda?"


"Entahlah, El!" Gendis menatap kosong, "mungkin karena belum terbiasa." Lanjutnya tersenyum


"Kamu harus mencobanya, Nda!" Ucap Samuel serius, "biar bagaimana pun Kak Gerhana adalah suamimu"


"Iya, Samuel Gionino Petrus!" Jawab Gendis seraya tersenyum, ia begitu bersyukur memiliki sahabat seperti Samuel yang selalu bisa membuatnya tersenyum


Samuel dan Gendis tertawa bersama, nampak mereka sangat sangat bahagia dengan momen kebersamaannya. Dari kejauhan, ada seseorang yang memandang mereka dengan tersenyum miris, tersenyum karena melihat Gendis bahagia, dan miris karena yang membuat Gendis tersenyum bukanlah dirinya


"Apakah bocah kecil itu salah satu saingan elo?" Tanya Banyu seraya menepuk pundak Gerhana


Gerhana kaget dan menengok menatap Banyu


"Dia tampan, dan bisa membuat Gendis tersenyum sedari tadi!"


"Dia sahabatnya." Terang Gerhana


"Sahabat? Antara lelaki dan perempuan itu tidak ada yang benar-benar sahabat, Ge!" Tegas Banyu


"Mereka memang saling mencintai tapi tak mungkin bisa saling memiliki."


"Apa lo yakin kalau mereka nggak bakal bisa saling memiliki?" Tanya Banyu serius


Gerhana mengangguk


"Seyakin itu kah elo, Ge?" Banyu meyakinkan "cinta itu bisa menghapus perbedaan, bahkan menyatukan perbedaan. Apalagi saat dia tidak merasa bahagia bersamamu, tentu ia akan memilih bersama dengan seseorang yang lebih lama dengannya dan tentu bisa membuatnya bahagia."


Gerhana mencoba untuk mencerna setiap kata yang diucapkan Banyu, benar siapapun pasti akan memilih untuk bersama dengan orang yang bisa membahagiakan dari pada bersama dengan orang yang hanya bisa menorehkan luka


"Gue harap elo nggak akan menyesal dikemudian hari, Ge!" Ucapnya seraya kembali menepuk pundah Gerhana dan berlalu pergi


Gerhana kembali memandang Gendis dan Samuel yang masih terlihat asik berdua


***


**Kalau menurut readers, Gendis itu termasuk selingkuh nggak sama Samuel?


Jangan lupa dukung Mawar biar makin semangat up eps baru nya gaes**


Dengan cara selalu tinggalkan jejak

__ADS_1


peluk cium via online untuk readersku tercintaaaaa🤗😘


__ADS_2