Tawanan

Tawanan
Bab 67


__ADS_3

Setelah saling berkenalan, Austin mengajak Gerhana untuk keluar ruangan tersebut dan membiarkan Gendis membaur bersama Anne dan Carolina. Awalnya Gerhana menolak, namun Austin ingin membahas sesuatu yang privat bersama dengan Gerhana hingga akhirnya ia menyetujuinya


"Lo ngapain ngajak Carol kesini?" Tanya Gerhana saat sudah duduk di luar ruangan


"Ya gue pikir elo kesini sendiri, makanya gue nyuruh Anne ngajak si Carol!" Jawab Austin sedikit merasa bersalah


"Lo tau kan sifat dia, apalagi malah elo ngajak gue keluar begini!" Ujarnya sembari menghembuskan napas kasar, "gue nggak mau kalau sampe dia nyakitin istri gue!"


"Aelah, Ge! Nggak mungkin lah, kan ada Anne juga disana!" Balas Austin santai, "kayaknya lo cinta banget sama istri lo?"


"Jelas lah, ngapain gue nikahin kalau nggak cinta!" Sewot Gerhana


Sementara Gerhana mengobrol dengan Austin di luar, Gendis dan Anne serta Carol sedang asik menikmati makan malamnya


"Anne, kenapa kamu sudah makannya?" Tanya Carol saat Anne menyudahi makan malamnya


"Aku harus menjaga pola makan agar tetap terlihat langsing dan ideal!" Balas Anne santai


Carol melirik sinis kearah Gendis yang masih menikmati makan malamnya, "ya, memang perempuan itu harus pandai menjaga pola makan, bukan malah jadi pemakan segala." Ucapnya dengan menekan kan kata "pemakan segala"


Gendis yang menyadari bahwa Carol menyindirnya pun dengan santainya menjawab, "Kalau aku memang Tuan Muda yang memintaku untuk makan lebih banyak, katanya aku terlalu kurus saat dipeluk!" ujarnya sambil terkekeh


Sontak jawaban Gendis membuat wajah Carol menjadi terlihat semakin kesal, hal itu malah membuat Gendis semakin senang untuk melanjutkan aksinya


"Kau tau, Kak Anne? Lihatlah mata pandaku ini karena apa?" Tanya Gendis melirik Anne


"Kenapa? Apa karena sering begadang?" Anne balik bertanya


"Tepat sekali!" Balas Gendis tersenyum licik, "Tuan Muda ku bahkan tidak membiarkan aku untuk memejamkan mata barang semenit!" Lanjutnya sambil melirik ekspresi wajah Carol yang semakin memerah


"Ternyata dia bisa sebuas itu, ya?" Ucap Anne sambil tertawa


"Ups!" Gendis menutup mulutnya, "kurasa kurang pantas membicarakan perihal 'Ranjang' dengan Nona Carol yang masih melajang, Kak!" Lanjutnya menekan kata Ranjang sambil tersenyum mengejek Carolina


Carolina semakin merasa kesal karena Gendis bisa membalas setiap ucapannya, ia merasa bahwa Gerhana hanya pantas bersanding dengan dia, wanita yang sudah menyukai Gerhana sedari kuliah. Bukan Gendis si gadis bau kencur itu

__ADS_1


"Aku heran," Ucap Carol sambil melirik sinis Gendis, "kenapa Gerhana bisa tertarik dengan gadis bau kencur dan tidak beradab seperti ini, sedangkan ia adalah seorang Tuan Muda, seharusnya bisa memilih gadis yang punya etika dan bermartabat yang jauh lebih baik darinya!


"Entah umpan apa yang sudah ia berikan sehingga Gerhana mau menikahi gadis seperti dia!" Lanjut Carol dengan tersenyum mengejek


Ucapan Carol benar-benar membuat kesabaran seorang Gendis seolah hangus terbakar, namun ia harus tetap bisa menjaga sikap demi suaminya


Gendis bangkit dan berjalan mendekat kearah Carol dengan seringai yang mengerikan, bukan untuk menampar dengan tangan yang akan membuat suaminya malu, tapi dengan cara yang lebih elegan menurut Gendis


"Apakah Nona Carolina bersedia mengajariku tentang etika dan adab?" Ucap Gendis tersenyum mengejek


"Sayang sekali, Nona Carolina yang beretika, beradab dan bermartabat tinggi ini, namun sama sekali tidak pernah dilirik oleh Tuan Muda ku," Ucapnya menekan setiap kata, "dia malah lebih tertarik denganku, si gadis bau kencur, tidak beradap dan bar-bar ini." Lanjutnya kemudian berjalan keluar


Ucapan Gendis yang menohok itu membuat api amarah dalam diri Carolina semakin berkobar, ia segera bangkit dan hendak menyiramkan jus yang ada ditangannya


Namun secepat kilat Gendis dapat menghindar dan balik menyiram Carolina dengan semangkuk sup yang ada didekatnya


Carolina yang tak terima pun segera mengangkat tangannya untuk menampar Gendis, namun lagi-lagi Gendis lebih cepat menangkap tangan wanita tersebut dan memelintirnya


"Jangan pernah macam-macam denganku, Nona Carolina yang beradap dan bermartabat tinggi!" Ucap Gendis dengan seringai iblisnya, "Atau kau ingin aku mematahkan tangan mulusmu ini?"


Carolina tak menyangka bahwa Gendis yang terlihat seperti kucing kecil yang manis bisa berubah seperti singa lapar, ia hanya bisa menahan rasa sakit dihati dan tangannya


"Kak Anne, mohon untuk mengajari wanita terdidik ini caranya menghargai orang yang lebih muda!" Ucapnya kemudian menghempaskan dengan kasar tangan Carol


Gendis kemudian berjalan keluar untuk mencari suaminya


Anne tak menyangka kalau Gendis bisa membalas lebih pedas setiap ucapan Carol. Ia berjalan mendekati Carolina dan menamparnya keras


Plak...


"Apa-apaan kamu, Anne?" Ucap Carol marah dengan tindakan Anne yang tiba-tiba menamparnya


"Ini masih tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan!" Ucap Anne tak kalah garangnya, "kau benar-benar membuatku malu telah berteman lama denganmu!" Lanjutnya kemudian berlalu meninggalkan Carol yang sedang memegang pipi mulusnya yang kini memerah


****

__ADS_1


Setibanya diluar, Gendis segera mengirim pesan untuk Gerhana. Memberitahukan bahwa ia sudah berada diluar restaurant tersebut


Setelah menerima pesan dari Gendis, Gerhana segera berpamitan dengan Austin untuk pulang. Ia menghawatirkan istrinya karena tiba-tiba mengajaknya untuk pulang


Setelah Gerhana berjalan keluar, Anne datang dan menghampiri suaminya. Ia pun segera mengajak Austin untuk pulang


"Something wrong, Honey?" Tanya Austin menatap istrinya


"Ya, Carol membuat ulah dengan mengganggu Gendis." Jawab Anne terlihat kesal


"Apa yang terjadi?"


Anne kemudian menceritakan secara rinci setiap kejadian yang baru saja dilihatnya. Sedangkan Austin hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan istrinya


"Gendis bisa berbuat seperti itu?" Tanya Austin masih seolah tak percaya


"Benar! Aku bener-bener nggak nyangka dia bisa seperti itu!"


"Ibarat semut jika diinjak pasti dia akan balas menggigit yang menginjaknya, bukan?" Ucap Austin, "apalagi manusia yang punya akal, sabar tetap ada batasnya. Apalagi Gendis hanya manusia biasa!" sambungnya


Anne hanya bisa mengangguk, benar semua yamg dikatakan suaminya bahwa seorang yang sabar bisa berubah bar-bar jika terus merasa tertindas


Austin kemudian mengajak Anne pulang, meninggalkan Carol yang masih merasa begitu kesal dan membiarkannya membayar seluruh tagihan makan malam mereka, sebagai kompensasi untuk tindakannya yang tidak mencerminkan sikap wanita dewasa yang berpendidikan


"Sialan!" Umpat Carol kesal


"Kalian semua sialan!"


"Kalian semua akan tanggung akibatnya karena telah mempermalukan seorang Carolina Muhtar!" Ucapnya menyeringai


Saat kekesalannya belum mereda, tiba-tiba pelayan datang dan memberikan kertas tagihan makan malam mereka


Sesaat Carol melongo tak percaya karena dia yang harus membayar semuanya, kemudian ia mengambil dompet dari dalam tas jinjingnya, dan mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar semuanya


Ia terus saja mengumpati kesialannya yang berkepanjangan itu, bahkan pelayan yang tak tau apa-apa pun ikut terkena dampaknya

__ADS_1


***


Uuuuh gumus deh Mawar kalau ada modelan pelakor begini pen Mawar hempaskan jauh-jauh dari muka bumi ini


__ADS_2