Tawanan

Tawanan
Bab 73


__ADS_3

"Gendis!" Panggil Royyan hati-hati


"Iya, Om?"


"Apa kamu tidak pernah ingin bertemu dengan Oma?" Tanya Royyan ragu


"Tentu saja ingin, Om!" Balas Gendis tersenyum, "tapi, apakah beliau ingin bertemu dengan ku?" Sambungnya menatap kosong ke arah bawah balkon


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku hanya cukup tau diri, Om!" Gendis menghela napasnya berat, "aku takut, beliau masih tidak bisa menerimaku sama seperti tidak bisa menerima Bundaku!" Lanjutnya masih menatap kosong


"Jika dia ingin bertemu denganmu, apakah kamu akan bersedia untuk menemuinya?" Tanya Royyan, "apakah kamu akan memaafkannya karena telah membuatmu dan Kak Anggi menderita?"


Gendis tersenyum getir, "untuk apa menyimpan dendam? Hanya akan menyakiti diriku sendiri! Dan itu semua sudah terjadi, untuk disesali pun sudah tak ada gunanya."


Royyan hanya diam mencerna setiap kata yang diucapkan Gendis


"Bundaku sudah tenang dialam sana, dendamku tidak akan bisa mengembalikannya lagi, bukan?" Ucap Gendis seraya menengok menatap Royyan


"Kalian disini?" Tanya Dion yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Gendis


"Eh iya, Bang!" Jawab Royyan gugup, ia tak ingin kalau sampe Dion tau bahwa ia dan Gendis sedang membahas Mamanya. Royyan sangat paham dengan karakteristik abangnya yang berpegang teguh dengan apa yang diucapkannya


Sejak Anggi meninggalkannya karena ulah sang Mama, Dion langsung memutuskan hubungan dengan Mamanya saat itu juga. Rasa kecewa dan sakit hatinya mendarah daging hingga saat ini


Oleh karena itu, Gendis tak pernah diberitahu perihal Ratri. Sedangkan Ratri tak pernah diizinkan untuk menemui Gendis


"Loh ada ayah juga ternyata!" Tiba-tiba Gerhana muncul dari belakang Gendis juga


Gerhana langsung menyalami mertuanya, ia bisa merasakan suasana canggung yang menyelimuti diantara mereka. Ia segera duduk disamping istrinya, sedangkan Dion duduk disebelah Royyan


"Maaf ya, Sayang! Aku datang sedikit telat karena tadi banyak kerjaan!" Ucap Gerhana dengan mengedipkan mata


"Emmm ti tidak apa, Sayang!" Balas Gendis sedikit gugup


"Jadi kalian ini janjian makan siang bertiga?" Tanya Dion yang masih sedikit menunjukkan kecurigaan

__ADS_1


"Iya, Ayah!" Jawab Gerhana, "tapi karena harus meeting terlebih dahulu, jadi aku sedikit terlambat." Sambungnya meyakinkan


Gerhana kemudian mengajak mereka untuk pindah keruangan khusus agar bisa lebih leluasa membahas hal yang sedikit sensitif itu


Beberapa saat kemudian


Brak


Dion menggebrak meja dengan kuat


"Aku nggak setuju kalau putriku bertemu dengan wanita itu!" Tegas Dion berapi-api, setelah mendengar penuturan Gendis dan Royyan bahwa Gendis ingin bertemu dengan Ratri


"Ayah!" Gendis berjalan mendekati ayahnya, tangannya terulur mengusap lembut jemari ayahnya, "Seberapa besar kebencian yang Ayah tanamkan dalam hati, Oma tetaplah ibu kandung, Ayah! Wanita yang telah melahirkan, Ayah. Yang membuat Ayah bisa melihat terang dunia


"Membuat Ayah bisa bertemu Bunda, walau dalam waktu yang singkat. Seberat apapun hukuman yang Ayah berikan, tidak akan mampu membuat Bundaku kembali kedunia ini, tidak akan bisa memngembalikan semua momen yang hilang selama ini


"Lepaskan, dan ikhlaskan semua yang telah terjadi. Biarkan Bunda tenang dialam sana, tanpa beban karena Ayah belum bisa mengikhlaskannya. Gendis tidak meminta Ayah untuk melupakan semua yang telah terjadi, tapi Gendis minta, Ayah untuk berlapang dada melepaskan semua beban dan rasa bersalah yang selalu menggerogoti hati Ayah.


"Gendis minta, Ayah mengikhlaskan segala yang sudah terjadi dengan Gendis dan Bunda, serta mengambil hikmah dari semua yang sudah ditakdirkan Allah untuk kita."


Gendis memeluk Dion untuk melepaskan segala rasa yang semakin menyesakkan dadanya, ia menangis tersedu dipelukan ayahnya, hatinya terasa sakit saat mengingat betapa susah jalan yang harus ia tempuh selama ini


Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang paling dicintainya, ia bisa merasakan betapa tersiksanya hidup dalam angan dan penantian panjang, namun kenyataan begitu kejam, penantian selama berpuluh tahun lamanya ternyata kenyataan pahit yang ia dapatkan


***


Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuannya dengan sang Ayah dan Omnya. Ia sudah memberi waktu untuk Ayahnya merenungkan segala yang telah terjadi


Hingga hari yang paling mendebarkan bagi Gendis pun tiba, ia sudah bersiap untuk pergi kerumah Royyan untuk makan malam


"Sayang, apa kamu gugup?" Tanya Gerhana dengan menggenggam jemari istrinya


"Iya, aku sangat takut kalau Oma tidak menerimaku dengan baik!" Jawab Gendis lesu


Gerhana mengecup jemari Gendis yang berada dalam genggaman, "jangan pesimis dulu, kalau Oma tidak mau menerima, untuk apa Om Royyan berusaha keras agar kamu mau bertemu beliau?"


Gendis menunduk, "ini pertama kalinya aku bertemu dengan Oma, aku takut!" Lirihnya

__ADS_1


Gerhana segera memeluk Gendis untuk menenangkan, "jangan takut, aku akan selalu ada disampingmu, untuk selalu melindungi dan mendukungmu!"


Setelah Gendis tenang, Gerhana mengajak istrinya untuk turun dan segera berangkat kerumah Royyan. Gerhana lebih memilih untuk mengemudikan kendaraannya sendiri agar bisa mengurangi kegelisahan istrinya


Tak berapa lama, mobil yang dikemudikan Gerhana pun tiba dihalaman rumah Royyan yang luas. Ia segera memarkirkan mobilnya, kemudian bergegas turun dan membukakan pintu untuk istrinya


Gerhana berjalan beriringan dengan Gendis, tangan Gendis terasa begitu dingin dan sedikit gemetaran, Gerhana yakin saat ini istrinya pasti merasa takut dan gugup karena ini kali pertama ia akan bertemu dengan Oma nya


"Tenanglah, jangan gugup!" Ucap Gerhana seraya mengeratkan gengggaman tangannya, "apapun yang terjadi, aku akan tetap berada disampingmu!"


"Kalian udah dateng?" Sapa Royyan, "Mari-mari cepet masuk dan duduk!" Sambungnya antusias


Gerhana dan Gendis mengikuti langkah Royyan dan duduk diruang tamu. Setelah mempersilahkan Gendis dan Gerhana untuk duduk, Royyan segera naik keatas untuk memanggil Mamanya


Tak berapa lama, Royyan bersama dengan seorang wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik berjalan kearah Gendis, wanita tersebut langsung memeluk Gendis erat, ia menangis terisak


Gendis mematung, ia masih belum bisa mengontrol diri dan hatinya, ia yakin bahwa wanita tersebut adalah Omanya. Rasa sakit seketika menyeruak tatkala bayangan-bayangan masa lalu menari dalam pikirannya


Hati kecilnya terasa begitu sakit, air matanya pun tak dapat dibendung lagi. Ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengontrol emosinya, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang terjadi adalah berkat campur tangan takdir ia harus bisa menerima kehendak Sang Esa dan mengambil hikmahnya


"Oma minta maaf, Oma sudah jahat sama kamu dan Bundamu selama ini!" Ratri terisak masih memeluk Gendis, "kalau saja Oma tidak egois, mungkin saat ini ia masih bersama ditengah-tengah kita!"


"Yang sudah berlalu biarlah berlalu, Oma! Kita tidak akan bisa memperbaiki masalalu, namun kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran agar tidak akan terulang di masa yang akan datang!" Gendis membalas pelukan Ratri


"Ternyata hatimu begitu lapang, sama seperti Bundamu!" Ujar Dion yang baru saja tiba


Dion berjalan mendekati Gendis dan memeluknya, apa yang dikatakan putrinya semuanya adalah benar. Ia harus belajar mengikhlaskan semua yang terjadi, dan belajar untuk bisa memaafkan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya


"Ge, peluk gue, Ge!" Ujar Royyan yang ada disebelah Gerhana, "Gue juga mau pelukan kaya mereka!" Sambungnya dengan mata berbinar


"Ogah amat pelukan sama elo!" Balas Gerhana sewot, hatinya menghangat melihat istrinya dengan begitu dewasa bisa memaafkan segala kesalahan orang-orang yang telah menyakiti dan membuatnya menderita


Gerhana merasa begitu bersyukur bisa mendapatkan bidadari tak bersayap seperti istrinya


***


Ada yang kangen sama Mawar? Uuuh Mawar kangen sama kalian semua

__ADS_1


Jangan lupa jejak ya gaes, salam sayang buat kalen semua😘🤗


__ADS_2