Tawanan

Tawanan
Bab 60


__ADS_3

Cicit burung yang saling bersahutan serta hangat mentari pagi yang mulai membelai bumi tak dapat dirasakan oleh ia yang sedang tidur meringkuk dengan kaki dan tangan yang dirantai


Tidak ada bantal, tidak juga alas, ia hanya tidur beralaskan ubin berdebu yang sangat dingin kala malam hari, wajah dan seluruh tubuhnya dipenuhi luka lebam bekas pukulan dan tamparan


Badannya kurus kering, kulitnya kusam dan rambutnya yang gimbal. Mata sembabnya sebagai bukti bahwa ia terlalu lama menangis, menangisi nasibnya yang berakhir tragis


Ia benar-benar diperlakukan selayaknya hewan, bahkan masih mending mereka memperlakukan hewan dari pada dirinya. Makan dan minum sehari hanya sekali, itu pun makanan yang sudah tidak layak disebut makanan


Nasi basi serta lauk pauk yang basi pula yang selalu ia terima, ingin rasanya ia membanting makanan tersebut dihadapan mereka, namun rasa lapar dan haus kembali mengingatkanya agar berhenti bersikap arogan


Hidupnya sudah hancur, ia bahkan sudah tidak bisa berfikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri dari mereka yang menjadikannya tawanan, entah sebutan apa yang cocok untuk statusnya saat ini


Byuuuur


Ia mengerjap kaget karena ada yang menyiram tubuhnya dengan air yang begitu dingin, ia menggigil kedinginan. Rasanya kematian itu jauh lebih baik dari pada yang ia rasakan saat ini


Ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, ia tersenyum memandang lelaki yang sangat dicintainya itu. Sudah sekian lama mereka tidak pernah bertemu dan hari ini mereka akhirnya dipertemukan, semoga saja pria itu bisa menyelamatkanya, pikirnya


"Mahen," Ia berucap lirih, senyum simpul menghiasi wajahnya yang penuh luka


"Bagaimana kabarmu, Dian?" Tanya Dion dengan menyeringai


Ya, wanita tersebut adalah Merry Diana, yang kini sedang menerima hukuman dari Banyu dan Abi. Ia ditempatkan disebuah gudang tua, dan dijaga ketat oleh para bodyguard


"Kumohon lepaskan aku dari sini, Mahen!" Ujarnya memohon


"Jangan pernah memanggilku 'Mahen'! Karena Mahen sudah mati bersama istrinya yang pergi!" Ucapnya dingin dan penuh penekanan


"Kumohon bebaskan aku dari sini, aku takut, mereka hanya datang untuk menyakitiku!" Ujarnya terisak


"Membebaskanmu?" Tanya Dion dengan seringai iblisnya, "Ha ha ha, jangan mimpi!"


Dion semakin mendekat dan berjongkok disebelah Merry, ia mencengkeram dagu Merry dengan kuat, bahkan kuku-kukunya dapat dirasakan Merry menancap dikulitnya


"Kumohon, Mahen!" Ucapnya dengan lelehan air mata yang menganak sungai, "Bebaskan aku dan aku akan pergi jauh, tidak akan mengganggu kehidupan kalian."


"Setelah apa yang kau lakukan, kau ingin aku membebaskanmu?" tanya nya dengan seringai mengerikan


"Maafkan aku, Mahen!" Merry semakin terisak, harapanya hanya kepada Mahen pikirnya


"Apa maafmu bisa menghidupkan kembali istriku? Apakah dengan memaafkanmu bisa mengembalikan semua momen yang hilang antara aku dan putriku?" Teriak Mahen


"Dan apakah dengan maafmu semua kejahatanmu terhapus?" Hardiknya


"Apakah dengan memaafkanmu bisa menghidupkan kembali kakak dan kakak iparmu?"

__ADS_1


"Tuhan memang maha pemaaf, tapi aku tidak!" Ucapnya penuh penekanan


Merry hanya diam tak mampu menjawab ucapan Dion, kini ia hanya mampu meratapi nasibnya karena kebodohannya selama ini


Dion bangkit dan memanggil bodyguard nya, "Andrew, potong lidah jahat wanita iblis ini!" Ujarnya, "karena lidah itulah yang sudah membuat istri dan anakku sengsara!"


Andrew mengangguk dan mengingat apa saja perintah Tuannya itu


"Jangan, Mahen! Aku mohon!" Merry benar-benar ketakutan dengan ancaman Dion


Dion tak menggubris permohonan Merry, hatinya telah dipenuhi amarah dan dendam


"Potong setiap hari satu jari!" Titahnya, "dimulai dari jari tangan. kemudian berlanjut dijari kakinya, kemudian lengan dan pahanya!" Lanjutny kemudian berlalu pergi


"Jangan membuatnya mati dahulu, buat dia sampai menginginkan kematian dari pada hidupnya yang penuh siksaan!" Ucapnya setelah sampai diambang pintu


"Aaaaaaaaaaaaaw"


Terdengar teriakan Merry setelah Dion sampai didepan gudang tersebut. Ia tersenyum menang karena pasti Andrew telah melakukan tugasnya dengan baik


***


Malam harinya, Dion kembali berkunjung kerumah menantunya. Sebenarnya ia masih seperti tak rela bertemu dengan Gendis disaat dia telah menikah


Ia benar-benar kehilangan momen bersama putrinya, ia masih ingin memanjakannya seperti orang tua pada umumnya. Namun apalah daya, putrinya telah dipersunting oleh pria yang sangat mencintainya


Semua yang ada disana mengernyit bingung dengan ucapan Dion yang tiba-tiba meminta Gendis dan Gerhana untuk menikah lagi


"Apakah harus, Yon?" Tanya Hendra


"Iya, bukankah pernikahan mereka sah dimata hukum dan agama?" Timpal Henny


"Benar, Mbak, Mas!" Jawab Dion serius, "tapi aku ingin menjadi walinya, aku sudah kehilangan terlalu banyak momen dengan Gendis, menjadi wali saat putrinya menikah adalah impian setiap orang tua, apalagi Gendis adalah anakku satu-satunya." Lanjutnya menjelaskan


Dion ingin agar dia bisa menjadi wali yang menikahkan putrinya, apalagi pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan jika bisa satu kali seumur hidup. Ia ingin mengulang momen yang terlewat itu


Masa kecil Gendis tidak mungkin bisa terulang kembali, jadi ia fikir pernikahan putrinya kurang afdol karena dia masih hidup dan dia tidak menyaksikannya kala itu


Akhirnya mereka menyetujuinya, karena semua yang ada disana pun tidak mengetahui perihal pernikahan Gerhana dan Gendis yang begitu mendadak. Jadi mereka semua ingin menyaksikan secara langsung pernikahan Gerhana dan istrinya


Dengan kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk melangsungkan ijab qabul Gendis dan Gerhana tiga hari lagi. Hanya ijab qabul, sedangkan untuk catatan sipil mereka tetap menggunakan tanggal dan bulan pernikahan awal mereka


Untuk resepsi mereka sudah memutuskan untuk melangsungkanya secara outdoor di salah satu pantai yang ada di Gianyar Bali, agar lebih terkesan romantis


"Ayah ingin menjenguk Bunda, Nenek dan Kakek. Apakah kamu keberatan jika Ayah mengajak Gendis?" Tanya Dion sebelum pulang

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Yah!" Jawab Gerhana, "kita akan kesana bersama, karena sejak kami menikah belum pernah mengunjungi mereka."


"Jadi kapan kita akan kesana?"


"Bagaimana jika besok?" Tanya Gerhana, "sekalian kami meminta restu kembali."


"Kamu benar, kalau begitu Ayah pamit!"


"Kenapa buru-buru sekali, Yah?" Ucap Gendis yang baru saja kembali dari pantry dengan membawa cemilan


"Ayah, harus menyelsaikan pekerjaan ayah sekarang, karena esok kita akan pergi!" Terang Dion


Gendis yang tidak tahu menahu tentang rencana Ayah dan suaminya yang akan pergi ke Malang hanya bisa melongo dengan tanda tanya besar dikepalanya


"Esok kita akan ke Malang, untuk menjenguk Bunda, Kakek, dan Nenek." Jelas Gerhana lembut, "bukankah kau sangat merindukan mereka? Walau kau tak pernah sekalipun nengucapkannya, tapi aku tau."


Gendis berkaca-kaca, ia memang sangat merindukan keluarganya namun ia masih belum berani mengutarakanya kepada sang suami. Ia kemudian memeluk Gerhana dengan air mata yang berjatuhan


"Terima kasih!" Lirihnya


Gerhana mengusap lembut punggung istrinya, "kenapa malah menangis?"


"Aku terlalu beruntung memilikimu." Ucapnya masih terisak


"Ehem!"


Deheman Dion membuat Gendis dan Gerhana salah tingkah, mereka segera melepaskan pelukannya dan tersenyum kikuk didepan Dion


"Apakah putri Ayah tidak ingin memeluk ayahnya?" tanya Dion pura-pura merajuk


Gendis kemudian berjalan kearah Dion dan memeluknya, Dion menyambutnya dengan mata berkaca-kaca. Walaupun hubungan mereka sudah semakin erat, namun Dion masih saja terharu dengan perlakuan putrinya


Setelah itu Dion berpamitan untuk pulang, Gendis dengan cepat membungkuskan cemilan yang ia dan Henny buat untuk ayahnya


Dion melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Gerhana dengan perasaan yang sulit diungkapkan, rasa bahagia karena sudah bisa bersama putrinya, rasa sedih karena esok ia akan bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai, wanita yang kini sudah terbaring dibawah timbunan tanah, rasa rindu kembali menyesakan dadanya


"Besok kita akan bertemu, Sayang!" Gumamnya, tak terasa bulir bening terjun bebas dari pelupuk matanya


"Aku sangat merindukanmu, apakah kau juga merindukanku?"


***


Maafkan Mawar yang sekarang frekuensi up nya berkurang, karena Mawar sangat sibuk di dunia nyata


Tapi Mawar akan selalu mengusahakan agar bisa tetap up walau tengah malem😁😁

__ADS_1


Salam sayang buat kalian, terimaksih untuk dukunganya


Peluk cium via online🤗😘


__ADS_2