Tawanan

Tawanan
Bab 70


__ADS_3

"Sayang, bangun!" Gerhana mengguncang perlahan pundak istrinya, sudah tiga kali ia membangunkan istrinya tapi Gendis masih tak bergeming


Gendis yang biasa akan bangun pukul 04:00 pagi untuk mandi dan menjalankan kewajibanya, namun kali ini ia benar-benar enggan untuk bangun, jangankan bangun, untuk membuka mata saja ia sangat malas


Akhirnya Gerhana mengeluarkan jurus terakhirnya, ia menciumi semua bagian wajah istrinya. Biasanya jurus itu selalu digunakan istrinya saat membangunkan dirinya


Dan benar saja, Gendis yang merasa terganggu akhirnya membuka matanya dengan malas. Seketika senyumnya mengembang tatkala melihat suaminya sudah rapi dengan baju koko dan sarung yang melekat ditubuhnya


"Cepet mandi, terus kita sholat bareng!" Ajak Gerhana, ia lalu menggendong istri kecilnya yang berubah manja akhir-akhir ini


Setelah istrinya menyelsaikan ritual mandinya, ia segera mengambil wudhu kemudian sholat berjama'ah dengan istrinya, Mereka kemudian lanjut mengaji bersama seperti biasanya


"Aku ngantuk!" Ucap Gendis setelah menutup Al-Quran yang dibacanya


"Jalan-jalan ketaman, yuk!" Ajak Gerhana kemudian melipat sajadahnya


"Tapi aku males jalan!" Ucap Gendis manja


"Nanti aku gendong." Balas Gerhana


Gendis menyandarkan kepalanya dibahu sang suami, sedangkan tangannya ia kalungkan dileher Gerhana. Mereka berjalan-jalan disekitar kediamannya. Ralat bukan mereka tapi Gerhana, karena Gendis menempel dipunggungnya sedari keluar rumah


"Apa kamu lagi nggak enak badan, Sayang?" Tanya Gerhana lembut, saat mereka duduk dikursi taman


Gendis menggeleng, "aku baik-baik saja, hanya sedikit lesu!" Jawabnya


"Aku panggil Micko ya?" Tanya Gerhana, ia tak tega melihat istrinya yang lesu dan wajahnya sedikit pucat


"Nggak usah, Sayang!" Tolak Gendis lembut, "nanti juga baikan kalau udah tidur lagi." Sambungnya tercengir


"Tapi.... "


"Serius, nanti bakal baikan kalau aku bangun tidur!" Gendis memotong ucapan suaminya


Akhirnya Gerhana mengalah, ia kemudian mengajak istrinya untuk masuk kedalam, karena ia harus bersiap untuk berangkat kekantor


Saat Gerhana sedang mengganti pakaiannya, Gendis tanpa sengaja membuka pesan dari nomoe tak dikenal di ponsel suaminya, karena ponsel Gerhana sedari tadi ia pegang untuk bermain game


+44xxx


Ge, kamu ada waktu buat jemput aku di bandara?


Aku baru nyampe bandara sekarang dan tidak ada yang jemput


Seketika Gendis mengepalkan tangannya, wajahnya memerah karena kesal. Ia lalu menghapus pesan dan memblokir nomor tersebut


"Dasar sundel!" Geram Gendis, ia tahu betul siapa orang tersebut, "kita lihat, sejauh mana kamu bakal ngejar suamiku!"


Ia lalu kembali melanjutkan game nya yang tertunda tapi pikirannya masih tertuju ke pengirim pesan tersebut, hingga suaminya keluar dari ruang ganti ia tak menyadarinya


"Serius banget, Nyonya main gamenya!" Sindir Gerhana yang sudah duduk disebelah istrinya

__ADS_1


"Maaf, Sayang!" Ucap Gendis tersenyum paksa, "ayo sarapan!" Ajaknya menarik tangan suaminya


Gerhana mengambil tas kerjanya sebelum turun kebawah untuk sarapan, disepanjang jalan menuju meja makan tak sekalipun ia melepaskan tautan jemarinya dengan Gendis


Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi keluarganya, hanya saja Banyu masih selalu usil untuk menutupi kerapuhan hatinya yang selalu kosong seperti rumah angker


"Awas, Neng! Ada truck dipengkolan sana!" Cibir Banyu


"Banyuuuu!" Henny memperingati agar tidak berlanjut perdebatan unfaedah antara putra-putranya


"Abisnya di dalem rumah juga gandengan, dikiranya mau nyebrang kali!" Sewot Banyu


"Kalau iri bilang aja!" Timpal Hendra


Banyu benar-benar merasa tak punya dukungan dikeluarganya, setiap kali ia mencibir pasti akan dipukul telak oleh orang tuanya, hanya Gendis yang tidak pernah mencibirnya karena masih melajang diusia sekarang ini


Setelah menyelsaikan sarapannya, Gerhana dan Banyu berangkat ke kantor bersama Exel, sedangkan Hendra diantar oleh Jasson


Gendis memutuskan untuk kembali kekamar ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda, namun matanya tetap tak mau terpejam, pikirannya selalu tertuju kepada wanita ular yang mengirimkan pesan kepada suaminya


"Iiiiih kesel kesel kesel!" Teriak Gendis dengan memukul-mukul spring bed nya


Ia kemudian turun kebawah untuk mencari Mama mertuanya, ia mencari ke kamarnya namun Henny tak ada disana


"Nora, kamu ada lihat Mama?" Gendis bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang membersihkan rumah


"Saya lihat tadi Nyonya Henny pergi ketaman, Nyonya!" Jawabnya sopan


Dan benar saja, Henny sedang duduk dibangku taman dengan tangan memegang majalah. Gendis segera berjalan mendekat dan berjongkok kemudian kepalanya ia sandarkan di pangkuan Henny


"Ada apa, Sayang?" Tanya Henny dengan tangan terulur mengelus rambut menantunya


"Apa Mas Ge, beneran sayang sama aku ya, Ma?" Tanya Gendis masih bersandar dipangkuan Henny


"Tentu saja, Sayang!" Jawab Henny, "apa kamu masih ragu dengan ketulusannya?"


"Nggak, Ma!" Ucap Gendis sendu, "aku cuma takut dia bakal ninggalin aku kalau ada yang lebih segala-galanya dari aku." Sambungnya, tak terasa bulir bening menetes begitu saja


Henny mengangkat kepala menantunya agar mau menatapnya, "itu tidak akan pernah terjadi, Mama tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Ucap Henny dengan jari mengusap lembut air mata menantunya


"Aku takut, Ma!" Ucapnya menunduk, "Wanita itu sekarang ada di Jakarta!"


Henny mengernyitkan dahinya, " wanita siapa yang kamu maksud, Nak?"


"Carrot, si supermodel itu, Ma!"


Henny malah tertawa, "jadi kamu takut tersaingi dengan wanita ular itu?" Tanya Henny, "dan ya, namanya Carolina, Nak. Bukan Carrot!"


Gendis tercengir karena tidak terlalu mengingat nama Carolina


Henny kemudian membisikkan sesuatu ditelinga Gendis

__ADS_1


"Mama yakin ini bakal berhasil?" Tanya Gendis ragu setelah mendengarkan ide mertuanya


"Tentu saja!" Balas Henny mantap, "sekarang kamu cepat hubungi Rico dan Yolanda suruh mereka kesini membawa para asistennya."


Gendis kemudian menelpon Yolanda dan memintanya agar segera datang ke kediamannya dengan mengajak Rico dan membawa serta asistennya


Tak berapa lama Yolanda dan teamnya datang. mereka kemudian melakukan perawatan full-body untuk Gendis. Setelah melakukan perawatan selama berjam-jam dengan berbagai macam treatment akhirnya Gendis selesai dengan perawatan tubuhnya


Ia merasa lebih fresh dan relax sekarang, Yolanda dan Rico berpamitan untuk pulang setelah mendandani Gendis, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambutnya


Setelah Rico dan Yolanda pulang, ia sudah bersiap untuk pergi bersama dengan Henny, namun sebelum itu ia meminta izin terlebih dahuku kepada suaminya


***


Tring


Suara notifikasi pesan dari ponselnya membuat Gerhana mengalihkan sebentar pandangannya dari laptop


My Empress


Sayang, hari ini aku ingin jalan-jalan dengan Mama, apakah boleh?


Gerhana tersenyum membaca pesan dari istrinya, kemudian ia segera mengirim pesan balasan untuk Nyonya


My King


Pergilah! Kau akan diantar oleh Mela dan Max


Tapi ingat, jangan melirik-lirik dan genit dengan orang lain!


Mela dan Max sudah bisa kembali bekerja untuk Gendis karena lukanya sudah benar-benar pulih


Setelah mengirimkan pesan balasan yang berisi persetujuan dan ancaman, ia meletakkan kembali ponselnya diatas meja kerjanya. Kemudian ia fokus kembali menatap layar laptopnya


Ceklek


Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangan Gerhana terbuka dan sosok perempuan tinggi langsing dan cantik menyembul dibelakangnya


Perempuan tersebut berjalan mendekati Gerhana dan dengan semaunya tiba-tiba duduk dipangkuan Gerhana


***


Kira-kira siapa yang permpuan yang duduk dipangkuan Babang Ge?


a, Mawar


b, Gendis


c, Pelakor


Jangan lupa dukung Mawar biar tambah semangat dengan like, komen dan vote. Jadikan favorit kalau kalen suka dengan kisah cinta Babang Ge dan Gendis

__ADS_1


Salam Sayang buat kalen semua, peluk cium via online🤗😘


__ADS_2