
Gerhana, Banyu dan Gendis telah tiba diballroom hotel x, salah satu hotel berbintang di Jakarta tempat Tuan Regatra menggelar pesta ulang tahun putri tunggalnya
Gerhana menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin seperti es, "Tenanglah, ada aku disini." Ucapnya menenangkan
Gendis menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum mengangguk dan mengikuti langkah suaminya dengan Banyu dan Exel berjalan mengekor
Mata Gendis dibuat takjub melihat pesta yang begitu mewah, ini adalah kali pertama bagi dirinya datang ketempat sebagus ini.Tapi ia berusaha untuk memasang wajah datarnya agar tidak membuat malu Gerhana
Semua mata memandang takjub, melihat Gerhana dan Gendis, seorang pria tampan berjalan menggandeng gadis yang sangat cantik melebihi sang empunya pesta
Gerhana segera mengajak Gendis untuk menemui Tuan Regatra beserta istrinya, senyum mereka merekah tatkala melihat sosok Gerhana mau datang kepesta putrinya. Tapi senyum itu perlahan meluntur saat melihat Gerhana berjalan bersama seorang gadis
"Selamat malam, Tuan, Nona" sapa Tuan dan Nyonya Regatra sopan
"Dimana Alice?" Tanya Banyu dengan wajah datarnya
"Dia sedang berbincang dengan teman-teman kuliahnya, Tuan, " jawab Nyonya Regatra
"Siapakah Nona cantik ini, Tuan?" Tuan Regatra penasaran melihat Gendis
"Dia adalah Nyonya Gerhana, Tuan." Banyu yang menimpali, Gerhana adalah sosok yang dingin dan arogan, ia sangat enggan berbasa-basi
Nyonya dan Tuan Regatra melotot kala mendengar jawaban Banyu, kapan mereka menikah kenapa tidak ada yang tau pikirnya. Padahal mereka sangat berharap Alice lah yang akan menjadi Nyonya Gerhana
Mereka berbincang sebentar kemudian Tuan dan nyonya Regatra mengajak Gerhana dan yang lainnya untuk duduk sembari menikmati kudapan yang disediakan
Ternyata Harris, Micko dan Royyan pun hadir disana, karena Alice adalah adik kelas mereka ketika SMA dulu
Baik Harris, Micko, dan juga Royyan dibuat takjub melihat sosok bidadari cantik yang duduk disebelah Gerhana. Mereka tak menyangka jika Gerhana akan mengajak Gendis menghadiri pesta tersebut
Dan penampilan Gendis berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya, membuat mereka semakin dibuat takjub dengan kecantikan dan aura yang dipancarkan olehnya.
"Makin cantik aja bini lo, Ge!" celetuk Harris dan mendapat lirikan tajam dari Gerhana
"Gue nggak nyangka kalau Gendis bisa seperfect ini." Jujur Micko
"Berhenti memuji istriku" balas Gerhana dingin
Mereka terus berbincang-bincang dengan santai tanpa memperdulikan Tuan Rumah yang sibuk menyapa tamu undangan yang begitu banyaknya
"Ge, ada Mr. Gerald dilobby!" ucap Banyu. Mr. Gerald adalah salah satu kolega Gerhana dari Jerman
"Apakah tidak bisa menunda pertemuannya?" tanya Gerhana dingin
__ADS_1
"Besok pagi dia sudah harus terbang ke Jerman," jawab Banyu seraya menyesap jus jeruk ditangannya, "lagian kita yang salah, karena memang hari ini kita ada pertemuan dengan dia, bukan?"
"Baiklah, kita temui dia dulu," ujarnya dengan dingin, ia lalu meminta izin kepada istrinya untuk menyapa Mr. Gerald terlebih dahulu, "apa kamu mau ikut, Sayang?" ajaknya
Gendis menggeleng, ia akan menunggu Gerhana disini saja, ia tak mau jika nanti Gerhana akan malu seandainya mereka tau istri Tuan Muda seorang gadis cacat
"Baiklah, aku tidak akan lama!" Ucapnya kemudian mengecup bibir istrinya singkat kemudian berlalu
Pipi Gendis seketika bersemu merah karena kelakuan suaminya, namun Gerhana selalu bersikap biasa saja seolah tanpa dosa, benar-benar membuat Gendis gemas
"Suek, lo Ge! Sengaja pamer sama jajaran jomblo ngenes ini." ucap Micko dengan kesal
"Kamu disini saja, Xel! Jaga Nyonya!" ujar Banyu sebelum berjalan menyusul Gerhana
Exel hanya mengangguk sopan sebagai jawaban
Gendis duduk dengan Exel, sedangkan Micko dan Harris pergi untuk menemui teman-teman mereka yang juga hadir disana, begitupun Royyan yang pergi menemui salah satu rekan bisnisnya yang juga mendapat undangan
Gendis yang merasa haus, kemudian bangkit untuk mengambil jus dimeja yang disediakan lumayan jauh dari tempat diduknya
"Nyonya mau kemana?" tanya Exel
"Saya haus, saya ingin mengambil minum," tulis Gendis
"Baiklah, maaf merepotkanmu!" tulis Gendis, sungguh ia merasa tak enak jika harus menyuruh orang lain untuk kebutuhannya sendiri
Sesaat setelah Exel pergi untuk mengambil jus pesanan Gendis, tiba-tiba beberapa wanita menghampiri Gendis yang duduk sendirian. Mereka duduk dikursi kosong satu meja dengan Gendis
"Siapa namamu, Nona?" tanya salah seorang wanita, yang diketahui adalah siempunya pesta, "kurasa aku tidak mengenalmu, aku pun tidak pernah melihatmu sebelumnya?" lanjutnya
Gendis mengambil ponsel didalam tas jinjingnya, dan mulai mengetik namanya, "Gendis" tulisnya kemudian menyerahkan kepada wanita tersebut
Wanita tersebut mengernyit
"Apakah anda seorang bisu, Nona?" tanya salah satu teman Alice
"Apa lo ngundang seorang yang cacat disini, Lice?" sahut wanita lainnya
"Gue nggak pernah ngundang seorang yang bisu diacara pesta gue, hanya tamu berkelas dan berpendidikan tinggi yang gue undang!" jawab Alice dengan sombongnya
"Lalu siapa, Nona bisu ini?" timpal yang lainnya, "kalo dari penampilannya sepertinya dia adalah wanita simpanan, makanya bisa datang kesini." Lanjutnya menatap tajam Gendis
Alice mengamati Gendis dari ujung rambut sampai ujung kaki, "gue nggak suka kalau acara ulang tahun gue tercemar dengan adanya wanita simpanan disini!" ucapnya penuh penekanan
__ADS_1
Kemudian ia menyiramkan jus jeruk yang ada ditanganya kebaju Gendis, sasarannya adalah wajah Gendis, namun meleset karena Gendis lekas berdiri untuk meninggalkan tempat tersebut
Sungguh inilah yang ditakutkan Gendis, ia takut akan membuat Gerhana malu karena diejek semua orang gara-gara dia. Gendis masih mencoba bersabar, ia kemudian berjalan hendak meninggalkan mereka
Namun baru tiga langkah Gendis berjalan, rambutnya sudah ditarik seseorang dari belakang. Gendis menghela napas dalam untuk menyabarkan dirinya sendiri
'Lawan Gendis, lawan! saat ada orang yang menindasmu! Jangan lemah, karena semakin lemah mereka akan semakin menginjakmu' Gendis teringat perkataan Samuel yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya
Segera tangan Gendis memegang tangan seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang, kemudian...
Brak
Gendis membanting orang tersebut, yang tak lain adalah Alice. Sungguh Gendis tak ingin dikuasai amarah seperti ini, ia selalu berusaha sabar setiap menghadapi cemoohan orang, tapi ia tak ingin membuat Gerhana malu karena membiarkan orang lain menginjak harga dirinya
Saat Gendis hendak berjalan, tiba-tiba ada yang mencekal lengannya. Seseorang itu adalah Naomi, sahabat Alice
"Lepaskan tangan mulusmu dari lenganku yang kotor ini!" ucap Gendis pelan dan dingin, sudah seperti suaminya
"Berani-beraninya elo ngebanting sahabat gue!" balas Naomi hendak menampar Gendis
Namun secepat kilat Gendis menangkap tangan tersebut dan membantingnya kasar, "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan mulusmu itu!" Ucapnya dingin
Exel yang baru tiba terkejut melihat keributan yang melibatkan, Nyonya Mudanya. Segera ia mendekat namun Gendis memberi kode untuk 'jangan kesini dulu'
"Jadi seperti ini perlakuan orang-orang yang katanya kelas atas dan berpendidikan, memperlakukan seorang bisu sepertiku?" Gendis sudah benar-benar terlihat dingin seperti suaminya
Exel terkejut karena baru pertama kali mengetahui kalau Nyonya Mudanya tidak bisu, "Jadi, nyonya tidak bisu selama ini" batinnya
"Sunngguh jauh dari kata memanusiakan manusia lain" Gendis kemudian kembali berucap
Gerhana yang melihat keributan didekat istrinya segera berlari menerjang orang-orang yang berbaris melihat adegan itu
"Ada apa ini?" tanyanya dingin setelah berada semakin dekat dengan sumber keributan
"Dia membanting Alice, padahal Alice hanya ingin berkenalan dengannya!" jawab Naomi sambil menunjuk Gendis
"Benar, kak! Dia bahkan memaki-maki aku" tambah Alice dengan wajah dibuat semelas mungkin
Gerhana berjalan dan menatap tajam Gendis
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes, biar Mawar tambah semangat
__ADS_1
Salam sayang untuk readers tercinta, peluk cium via online🤗😘