
Niat hati mau ngeprank malah didemo nih Mawar🤣🤣🤣🤣
Ok lah kalau begitu, mari kita lanjut
Happy reading All
***
Gerhana segera berlari masuk keruang operasi, dipandanginya wajah pucat sang istri, ia semakin mendekat dan tangannya terulur mengusap wajah istrinya dengan hati-hati, seolah wajah Gendis adalah barang yang mudah pecah
Air matanya sudah tak bisa dibendung lagi, ia kecup lama puncak kepala Gendis untuk menyalurkan segala rasa yang berkecamuk didalam hatinya
"Bangun, Sayang!" Ucapnya dengan mengusap lembut pipi istrinya, "udahan donk bercandanya, ini sangat nggak lucu." Sambungnya dengan tertawa miris
"Apa kau tak ingin kita memiliki anak yang lucu-lucu?" tangan Gerhana menelusuri wajah ayu yang kini berubah pucat
"Apa kau tak ingin menua bersamaku?" Dada Gerhana terasa sesak, air matanya masih terus menetes tanpa bisa dibendung
"Apa kau ingin menghukumku karena dulu selalu menyakitimu,jadi sekarang kau akan meninggalkanku?" ucapnya terisak pilu
"Kita akan cari rumah sakit terbaik diseluruh dunia ini untuk menyembuhkanmu!" Gerhana membopong tubuh lemah istrinya dan membawanya keluar dari ruang operasi
"Ge! Mau dibawa kemana Gendis!" Cegah Banyu
"Hust, jangan keras-keras, istriku sedang tidur." Jawab Gerhana dengan senyum yang terlihat menyedihkan
"Mau kamu bawa kemana Gendis, Ge?" Henny mencoba menenangkan putranya
"Aku akan membawanya berobat keluar negeri, Ma. Aku akan mencari rumah sakit dengan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan istriku." Air matanya kembali menetes
Henny hanya bisa menangis melihat betapa hancur putranya
"Apapun akan aku berikan asalkan dia bisa sembuh, biarlah kami hidup kekurangan asalkan dia tidak meninggalkan ku, Ma."
"Sadarlah, Nak. Ikhlaskan dan bersabarlah." Ucap Hendra menepuk bahu Gerhana
Gerhana terduduk dilantai dengan masih memeluk istrinya
"Bangunlah, Sayang. Nanti kita akan tinggal didesa bersama anak-anak kita kelak, kita akan membangun rumah kecil didesa, aku setiap pagi keladang, dan kau datang untuk mengantarkan makan siang bersama anak-anak kita nanti." Gerhana terus meracau seperti orang yang kehilangan kewarasannya
Dion berjalan gontai mendekati Gerhana yang masih terus meracau sambil memeluk istrinya. Dion memberanikan diri mengusap lembut pipi Gendis
"Bangun, Sayang!" Ucap Dion dengan lelehan air mata
"Apa kau ingin menghukum Ayah yang tidak berguna ini?"
"Apa kau tidak ingin bertemu Ayahmu dan membiarkan Ayah mendengar suaramu?" Dion terisak
"Bundamu sudah meninggalkan Ayah, apa kau juga akan meninggalkan Ayah sebelum engkau tau siapa ayahmu?"
__ADS_1
Lelehan air matanya menetes mengenai kulit tangan Gendis dan.....
***
Gendis POV
Aku membuka mataku yang terasa berat, kuhirup aroma wewangian yang begitu asing bagiku, wanginya terasa sangat lembut dan mampu memberikan ketenangan
Kupandang sekelilingku, ternyata aku sedang terbaring diatas rerumputan hijau dengan bermacam bunga yang sedang bermekaran disekelilingku
Aku duduk dan mataku menangkap sosok wanita cantik bergaun putih dengan surai hitam panjang, lesung pipi menghiasi wajah ayunya yang membuat senyumanya terlihat begitu manis. Aku berjalan mendekatinya dan dia menatapku lembut
Siapa wanita cantik ini pikirku, apakah dia seorang bidadari, lalu dimana aku kini
Dia menepuk tempat duduk disebelahnya dan mempersilahkan aku duduk disampingnya. Tangannya terulur dan mengusap pipiku dengan lembut
Tangannya begitu lembut dan dingin, aku merasakan seolah begitu dekat dan mengenalnya
"Kamu sudah besar, Sayang!" Ucapnya lembut, begitu lembut dan mendayu dayu ditelingaku
Aku memejamkan mata menikmati halus lembut belaiannya, "bunda!" tiba-tiba aku berucap lirih, seolah panggilan itu lolos begitu saja dari bibirku ini
"Kau mengenali bunda, Nak?" tanyanya lembut
Aku langsung membuka mataku dan memeluknya erat, ia mengusap lembut punggungku. Aku menangis terisak dengan memeluknya, ternyata dia adalah wanita yang telah mengorbankan nyawanya demi membiarkan aku terlahir kedunia ini
"Gendis rindu, Bunda!" Ucapku disela isakanku, aku masih memeluknya, menumpahkan segala rasa rindu yang ada didalam hatiku
"Gendis ikut, Bunda!" ucapku seraya mendongak menatap mata teduh yang tengah menatapku sendu
"Pulanglah, masih banyak yang meyayangimu, dan bunda akan selalu menunggumu disini!"
Aku menggeleng, "aku ingin tetap disini bersama, Bunda!"
"Bunda akan selalu ada disisimu, karena bunda ada disini." Ucapnya lembut seraya menunjuk dadaku
Kemudian aku melihat kakek dan nenekku serta seorang Pria seumuran kakeku, mereka berjalan mendekatiku dan mendekap tubuhku
"Pulanglah, Nak!" Ujar mereka kompak dan aku menggeleng
"Belum saatnya kamu ada disini," Ucap Nenekku
Aku melihat dua orang pria tampan mendekatiku, aku mengenalinya dia adalah suamiku, lalu siapa yang berjalan disebelahnya itu, aku tak begitu jelas melihat wajahnya
Suamiku berjalan mendekat dan memelukku erat, aku memandang Bunda, Nenek, Kakek, dan Pria tua disebelah Kakek, mereka mengangguk dan tersenyum kearahku
***
Author POV
__ADS_1
Samuel hanya bisa ikut menangis meratapi kepergian sahabat sekaligus cintanya
Namun netra Samuel menangkap pergerakan jemari Gendis, matanya terus memperhatikan, ia mengerjap beberapa kali untuk memastikan apakah benar atau ia hanya berhalusinasi, ternyata memang benar jemari Gendis bergerak
"Kak Micko, jari Gendis bergerak!"
Sontak ucapan Samuel memancing semua orang untuk menatap Gendis
Micko segera membopong Gendis membawanya kembali kedalam ruangan, ia segera memeriksa keadaan Gendis. Detak jantungnya kembali normal dan ia segera memindahkan Gendis keruang ICU
Sementara Gerhana masih belum bisa diajak berkomunukasi, ia masih terus meratapi istrinya
"Ge, sadarlah!" Banyu menepuk pundaknya, "Gendis sudah kembali!"
Ucapan Banyu bagaikan mata air di gurun pasir bagi Gerhana dan Dion. Mereka kemudian menuju ruang ICU
Micko keluar untuk memberi tahukan keadaan Gendis, "Gendis sudah kembali, tp kondisinya masih kritis!"
"Alhamdulillah!" Ucap mereka kompak
'Puji Tuhan, terimakasih Tuhan, Engkau telah menyelamatkan gadis yang kucintai' batin Samuel lega
Setelah beberapa jam, kondisi Gendis semakin menunjukan tanda-tanda yang positif. Micko setiap setengah jam kembali memeriksa keadaan Gendis
Sedangkan Gerhana dan Dion duduk diluar menunggu, Dion menatap Gerhana dalam. Sementara Gerhana yang belum menyadari jika Dion adalah Ayah mertuanya hanya mengernyit
"Ada apa, Bang?" tanyanya
"Jangan panggil Abang, tapi panggil aku Ayah!" Ujarnya menekan kata 'Ayah'
Gerhana semakin bingung tak mengerti
"Iya keponakanku!" Ucap Royyan seraya menepuk bahu Gerhana, "ternyata dia sedekat ini, tapi aku tak menyadarinya!" Lanjutnya
"Maksud kalian?" Gerhana bertanya bingung
"Aku adalah ayah kandung Gendis, Dion Mahendra!" Tegas Dion
"Sekarang lo harus panggil gue, Om!" Ucap Royyan santai, "Om Yan!"
Ucapan Royyan disambut gelak tawa yang lainnya, mereka sudah bisa bernapas lega karena Gendis sudah melewati masa kritisnya
***
Jangan lupa jejak readers
Salam Sayang buat kalen semua
Dan terimaksih yang udah setia sama Gendis dan Gerhana, buat kalian juga yang udah ngevote trmksh banyak
__ADS_1
Mawar peluk Cium via online🤗😘