Tawanan

Tawanan
Bab 59


__ADS_3

Sebelas hari sudah Gendis dirawat dirumah sakit, sebenarnya kondisi Gendis sudah teramat sangat baik namun Gerhana belum mengizinkannya pulang dengan alasan demi memudahkan Micko memantau keadaan Gendis


Namun hari ini Gendis memaksa untuk pulang karena sudah tidak betah hanya rebahan diranjang ruang perawatanya. Akhirnya dengan berat hati Gerhana mengiyakan keinginan istri kecilnya itu


Gendis diperlakukan layaknya putri ketika tiba dirumah, semua pelayan berjajar rapi untuk menyambut kepulangannya, orang tua Gerhana pun ikut menyambut, tak ketinggalan Banyu dan para sahabat ikut berbaris menyambut kedatangan tuan putri dan pangeran abal-abal itu


Henny mendekati Gendis dan memeluknya, "bagaimana keadaanmu, Sayang?" Tanya nya setelah melepas pelukanya


"Sudah jauh lebih baik, Ma." Jawab Gendis sembari tersenyum


Setelah acara penyambutan mereka makan siang bersama, Henny dibantu oleh para juru masak dan juga pelayan menyiapkan berbagai macam hidangan untuk menyambut anak mantunya itu


***


Malam harinya Dion datang bersama Royyan ke kediaman Gerhana, Dion memandang takjub bangunan yang lebih mirip istana berdiri megah dihadapannya. Ini adalah kali pertama Dion menginjakan kaki di rumah Gerhana


Semua orang menyambut kedatangan mereka, tak terkecuali Gendis yang hubunganya semakin erat dengan Dion


Setelah acara makan malam bersama selesai Gerhana mangajak Dion keruang kerjanya, sedangkan Gendis kembali kekamarnya


Dion sudah mendudukan bokongnya disofa, sedangkan Gerhana berdiri didepan jendela besar yang ada diruang kerjanya sambari menatap langit malam yang bertaburan bintang


"Apa kau sudah menghukum wanita itu?" tanya Dion membuka percakapan


Gerhana menggeleng, matanya masih terus menatap kerlap kerlip bintang dilangit malam, "aku bahkan tidak ingin melihatnya lagi, walau hanya dalam mimpi sekalipun." Jawab Gerhana lalu berjalan dan duduk disebelah Dion


Dion mengernyit, "lalu?"


"Silahkan, Ayah yang memberinya hukuman, karena disini pihak yang paling tersakiti adalah Gendis, tapi aku tau dia tidak akan mungkin menyakiti orang lain!" Jawabnya mantap


"Baiklah kalau begitu," Dion meletakan cangkir tehnya, "apakah Gendis sudah tau tentang wanita itu?" sambungnya dengan menatap manik elang menantunya


Gerhana menggeleng, "biarlah ini menjadi urusan kita, Yah! Istriku jangan sampai mengetahuinya!"


Dion mengangguk sebagai jawaban


Tak lama kemudian Hendra, Banyu, dan Royyan masuk kedalam ruang kerja Gerhana. Mereka lalu duduk berjajar disofa


"Kapan kalian akan melangsungkan resepsi?" Tiba-tiba pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Hendra


"Bagaimana jika bulan depan?" Sahut Dion dengan menatap menantunya


"Bagaimana baiknya saja," balas Gerhana santai, "aku dan Gendis hanya terima beres, biar Papa, Mama, dan Ayah yang mengurusnya!"

__ADS_1


"Enak banget lo, lo yang mau acara kok orang lain yang suruh ngurus!" Cibir Banyu


"Bukan orang lain, Nyu!" Ralat Royyan


"Ya ya ya," Banyu memutar bola matanya malas


"Jadi mau acara dimana baiknya, Mas?" Dion bertanya kepada Hendra


"Kalau soal begituan lebih baik tanya Mamanya anak-anak saja, Yon!" Jawab Hendra santai, "dia yang lebih tau kalau urusan begituan!" Sambungnya


Mereka lalu mengalihkan topik untuk membahas pekerjaan. Mereka terus mengobrol hingga pukul sebelas malam, kemudian Dion berpamitan untuk pulang, sebelum pulang ia menengok sejenak putrinya yang sudah terlelap


Air mata Dion tiba-tiba jatuh meluncur bebas tatkala menatap wajah tenang Gendis yang mengingatkannya pada mendiang istrinya, ada rasa sesal dan amarah di dalam hatinya, sesal karena telah kehilangan Anggi untuk selama-lamanya dan marah ketika mengingat perlakuan buruk Merry kepada putri dan juga istrinya


Dion mengecup lembut puncak kepala Gendis sebelum keluar kamar, "tidurlah yang nyenyak, Sayang! Sudah tidak akan pernah ada lagi yang bisa menyakitimu, maafkan Ayah!" Ucapnya dengan mengelus lembut surai panjang Gendis


Dion kemudian keluar dan berpamitan dengan menantunya serta sang besan. Setelah itu Royyan melajukan mobilnya menuju kediaman Dion


***


Sinar mentari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai, sinar hangatnya membelai lembut pipi mulus wanita muda yang masih terlelap dibawah selimut tebalnya


Gerhana tersenyum menatap wajah damai istrinya yang masih terlelap, ia sengaja tidak membangunkan istrinya untuk menunaikan kewajiban bersama karena ia tahu sang istri sedang datang bulan


Cup


Cup


Cup


Cup


Gendis menggeliat karena merasa terganggu, ia membuka netranya perlahan dan tersenyum saat menatap mahakarya Tuhan yang begitu sempurna didepan matanya


"Morning Sayangku!" Sapa Gerhana dengan senyuman yang begitu manis dimata Gendis


Gendis tersenyum seraya mengulurkan tangannya, "Gendong!" Ucapnya manja


Gerhana yang gemas menciumi kembali wajah istrinya, "Morning kiss!" Ucapnya lalu menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi


Setelah mandi bersama, Gerhana segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ia sudah sangat lama sekali tidak pergi ke kantornya sejak Gendis diculik Merry


"Apakah Nyonya muda tidak mengizinkanku pergi kekantor hari ini?" Goda Gerhana saat Gendis sedang memakaikan dasi dilehernya

__ADS_1


"Bicara apa anda Tuan Muda? Pergilah bekerja dan kumpulkan uang sebanyak mungkin jika ingin mempunyai anak yang banyak, karena aku tidak akan mau jika nanti anak-anakku hidup kekurangan!" Balasnya tersenyum


Gerhana yang gemas mencubit hidung istrinya, "baiklah, Nyonya Muda. Suami hanya bisa patuh!"


"Sudah ayo sarapan, Papa, Mama, dan Kak Banyu pasti sudah menunggu kita!" Ajak Gendis kemudian mengapit lengan suaminya dan mengajaknya turun kebawah


Setibanya di ruang makan ternyata semua orang sudah berkumpul disana, Papa dan Mama nya tersenyum menyambut mereka, sedangkan Banyu mencebikkan bibirnya seperti biasa


"Udah deh uwu-uwuan nya, buruan kita udah laper!" Ketus Banyu


"Bilang aja lo sirik," ledek Gerhana, dengan sengaja ia mencium pipi istrinya singkat


Seketika pipi Gendis bersemu merah karena ulah suaminya itu, sedangkan Hendra dan Henny semakin melebarkan senyumnya kala melihat keromantisan putra dan menantunya itu


"Liatin tuh, Ma, Pa! Dia malah sengaja ngeledek aku," Banyu merengek mengadu seperti anak kecil, "Nggak kasian sama para pelayan dan bodyguard yang jomblo dipamerin begituan tiap hari!"


"Termasuk kamu juga?" Hendra menimpali


"Makanya buruan cari calon, Nyu! Inget umur, mau sampe kapan?" Sahut Henny, bukanya mendapat pembelaan, Banyu malah semakin terpojok


Gerhana tersenyum puas melihat wajah Banyu yang kesal


Setelah selesai sarapan, Banyu segera menuju ke parkiran sedangkan Gerhana berpamitan dahulu kepada istrinya dan tak lupa menitipkan pesan kepada orang tuanya untuk menjaga Gendis selama ia tidak dirumah


"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" Ucap Gerhana


Gendis mengangguk, "pulanglah dengan membawa sebongkah berlian!" Ucapnya dengan tersenyum


Entah kenapa setiap apa yang dicandakan istrinya membuat Gerhana Gemas, ia segera mel*mat bibir istrinya



"Udah deh, buruan! kalau mau romantis-romantisan dilanjut nanti pulang kantor!" Ucap Banyu ketus, ia kembali menyusul Gerhana karena sudah menunggu terlalu lama dan malah mata suci jomblonya ternoda dengan pemandangan yang diciptakan Gerhana dan istrinya


***


Gimana kabar gaes? Sehat selalu kan?


Jangan lupa selalu patuhi protokol kesehatan saat kalian bepergian ya, dan jangan lupa selalu berdo'a agar pandemi ini segera berlalu


Jangan sampai tahun ini terulang kembali, 'Covid memutus silahturahmi' saat hari raya. Cukup tahun lalu 'kartonyono medot janji, lalu covid medot silahturahmi'


Salam sayang dari Mawar buat kalen semua, peluk cium bia online🤗😘

__ADS_1


Jangan lupakan jejak


__ADS_2