Tawanan

Tawanan
Bab 39


__ADS_3

Minggu telah berlalu, yang artinya segala rutinitas telah menati untuk dijalani. Begitupun dengan Samuel yang sudah memulai untuk berperang kembali dengan tugas yang tiada habisnya


Setelah jam kuliahnya selesai, Samuel bergegas untuk pulang ke kosan. Saat hendak menstarter motor Gedenya, tiba-tiba suara seseorang yang familiar terdengar memanggil namanya


"Samuel!"


Samuel menengok, "Cia!" gumamnya, "ada apa?" tanya nya dingin, ia tidak begitu akrab dengan Cia walaupun hari itu dia pernah mengantarkannya pulang, ia menganggap Cia sama seperti teman satu kelas lainnya


"Boleh gue nebeng?" tanyanya dengan tersenyum, "mobil gue sedang dibengkel,"


Samuel nampak berfikir terlebih dahulu sebelum menjawab, "kan bisa pesan taksi online!" jawabnya sedikit jutek


"Sekali ini saja," pintanya sedikit memohon, "apa lo tega, ngeliat temen sekelas lo kenapa-napa karena naik taksi online yang nggak bener sopirnya?"


"Jangan menilai seseorang dari covernya, Cia!" tegas Samuel, "apa lo yakin gue nggak bakal ngapa-ngapain elo nantinya?"


Pricilia menggeleng, "Ayo lah, Sam!" pintanya merengek


Karena malas berdebat, akhirnya Samuel mengalah, "Naik!" ujarnya ketus


Setelah Cia duduk dijok belakang, Samuel melajukan motornya menuju rumah Pricilia, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengikuti mereka sedari keluar kampus


"Ternyata dia orangnya!" Geram seseorang yang mengikuti Samuel dan Pricilia, "liat aja apa yang bakal gue lakuin!"


***


"Mampir dulu, Sam!" tawar Pricilia setelah sampai didepan gerbang rumahnya


"Gue langsung aja, banyak tugas!"


"Ya udah, hati-hati ya, Sam!" ujar Cia, "makasih juga udah dianterin." Sambungnya


Samuel mengangguk kemudian melajukan motornya membelah jalanan komplek perumahan Pricilia. Ia terus melajukan motornya melewati jalanan menuju kosan


Namun saat tengah dijalan yang sepi, tiba-tiba segerombolan pemuda menghadang jalannya


"Siapa mereka," batin Samuel, "apa mereka begal?" Samuel terus membatin


"Turun lo pecundang!" Ucap salah satu dari mereka yang Samuel perkirakan adalah bosnya


Samuel menyetandardkan motornya, kemudian menaruh tasnya diatas tangki dan turun. Samuel menatap mereka satu persatu tapi semua memakai masker dan topi, tak ada satu pun yang bisa Samuel lihat

__ADS_1


"Gue nggak ada urusan sama kalian, sebaiknya kalian minggir! Gue mau pulang!" Ucap Samuel tegas


"Ha ha ha, pulang lo bilang?" ujar seseorang tersebut seraya tertawa, "pulang tinggal nama!" Lanjutnya menyeringai


Mereka kemudian menyerang Samuel secara bersama-sama, awalnya Samuel masih bisa menangkis serangan mereka karena Samuel dan Gendis adalah anak karate dulu di sekolah mereka


Mereka secara membabi buta menyerang Samuel, ia pun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dengan kejam mereka menginjak-injak tubuh Samuel dengan brutal. Bagaimana mungkin satu orang mampu melawan enam orang yang menyerang secara bersamaan


Salah satu dari mereka mengambil samurai yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Ia berjalan mendekati Samuel dengan menyeret samurainya ketanah, wajahnya menyeringai dengan liciknya


"Hyaaaaaaaa........ " Teriaknya dengan tangan mengangkat samurai keudara dan bersiap menghunuskannya ketubuh Samuel yang tak berdaya dengan bersimbah darah


Brak


Tiba-tiba ia jatuh tersungkur dengan wajah membentur tanah, ia mendongak untuk melihat siapa yang telah berani menendangnya dengan begitu kuat


"Siapa lo? Berani-beraninya gangu urusan gue!" Teriaknya penuh kebencian


"Banci!" ujar seorang yang menendangnya tadi


"Sial*n!" Teriaknya, ia bangkit dan bersiap untuk menghunuskan samurainya ketubuh seseorang itu


Kemarahannya benar-benar tak bisa dibendung lagi setelah melihat Samuel lah korban pengeroyokan tersebut. Ia berjalan mengambil samurai yang jatuh ketanah dan hendak ia hunuskan ke tubuh pemuda 'Banci' tersebut, namun....


"Udah, Ge! Kita harus selametin Samuel," Banyu berlari kearah Gerhana. Ya, pria tersebut adalah Gerhana


"Kalian, urus cecunguk-cecunguk ini dan jangan biarkan mereka kabur!" Titahnya kepada para bodyguards yang selalu mengikutinya kemana-mana


Exel dan Banyu segera membawa Samuel kedalam mobil, Exel segera melajukan mobilnya setelah Gerhana duduk memangku Samuel. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam ini


Setelah sampai di klinik milik keluarga Micko, Samuel segera mendapat perawatan kelas satu karena nelihat Gerhana lah yang membawanya


Micko segera berlari untuk menangani Samuel tanpa banyak bertanya terlebih dahulu saat melihat mimik wajah Gerhana


"Xel, jemput Gendis dan bawakan baju ganti untukku!" Ujarnya dingin


Exel mengangguk dan segera melangkah menuju parkiran. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai dikediaman Tuan Mudanya.


Setelah sampai, ia segera meminta Bibi Keke dan Mela untuk nemanggil Nyonya Muda dan mengambilkan baju ganti untuk Tuan Muda. Tapi ia tak memberi tahu alasannya agar tak membuat Nyonya muda khawatir


"Nyonya, Exel datang untuk menjemput anda!" Ujar Bibi Keke setelah masuk kedalam kamar Gendis

__ADS_1


Gendis mengernyit, kenapa pikirnya. Namun ia tak mau banyak bertanya karena bisa dipastikan itu hal yang penting. Karena selama ini Gerhana tak pernah menyuruh Exel menjemputnya


Jangankan nenjemputnya, Gerhana saja tidak pernah mengajaknya keluar, sekalinya keluar sudah membuat onar pikirnya


"Tuan meminta untuk dibawakan baju ganti, Nyonya!"


"Ada apa? Kenapa mesti membawa baju ganti?" Gendis sudah tak kuasa menahan untuk tidak bertanya


"Kami kurang tau, Nyonya. Karena Exel tidak memberitahu alasannya"


"Baiklah." Jawab Gendis kemudian berlalu keruang ganti untuk mengambil baju suaminya dan mengambil sweater serta Shall yang akan ia kenakan untuk menutupi kiss mark yang dibuat Tuan Muda


Gendis segera turun dan mengikuti Exel menuju mobilnya tanpa banyak bertanya. Exel kembali melajukan mobilnya menuju klinik Micko dengan kecepatan sedang. Ia tak mau mengambil resiko karena sedang bersama Nyonya


Jika hanya mobil yang rusak, Tuan Muda akan dengan sangat mudah membelinya lagi. Namun saat Nyonya tergores, tamatlah riwayat Exel


Gendis semakin tak mengerti karena Exel membawanya ke sebuah Klinik besar yang lebih terlihat seperti Rumah sakit. Pikirannya travelling kemana-mana, seketika wajahnya pucat pasi karena pikirannya mengarah ke Gerhana


Gendis tak mampu berkata-kata, walau hanya sekedar bertanya pun ia sudah tidak mampu. Ia setengah berlari bersama Exel, air matanya sudah tak terbendung lagi.


Air mata Gendis sudah berjatuhan disepanjang koridor Klinik. Ia terus menangis tanpa suara sampai didepan ruang ICU. Gendis berlari ketika melihat Gerhana dan Banyu berdiri didepan ruangan itu


Gendis segera menghambur memeluk suaminya erat dengan isakan tertahan. Gerhana kebingungan melihat istrinya seperti itu, ia mengusap pungung istrinya lembut untuk menangkannya


"Ada apa, Sayang?" Tanya Gerhana sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi sang istri


"A aa aaku takut!" jawabnya terisak, "aku takut kamu kenapa-kenapa, aku takut kamu akan meninggalkan aku seperti Bunda, Kakek dan Nenek!"


Gerhana meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat, ada kelegaan karena sepertinya Gendis sudah mulai membuka hati untuknya, namun ada rasa sakit saat melihat air mata istrinya terus berjatuhan


"Aku baik-baik saja, Sayang," ucapnya lembut, "ayo duduk!" Ajaknya seraya menarik tangan istrinya


"Lalu kenapa disini kalau kamu baik-baik saja?" tanya Gendis menatap suaminya, "ini darah siapa?" lanjutnya dengan wajah berubah pucat


***


Halo gaes? Gimana, masih nungguin Gendis dan Gerhana enggak nih?


Setelah bergelut dengan pekerjaan dunia nyata, akhirnya Mawar bisa up juga walau udah terlalu malam๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Salam sayang buat kalian yang setia sama Gendis dan Gerhana, peluk cium via online dari Mawar๐Ÿค—๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2