
Sinar mentari sudah mulai memaksa masuk melalui sela-sela tirai, hingga cahayanya menerpa wajah ayu seorang wanita yang masih terlelap dibawah selimut tebalnya
Cup
Cup
Cup
Gerhana menghujani wajah ayu istrinya dengan ciuman bertubi-tubi, namun Gendis masih tak terganggu dengan kelakuan suaminya, ia masih tetap tak bergeming dari posisinya
"Sayang!" Panggil Gerhana
Gendis masih pada posisi semula dan tak menjawab panggilan suaminya
"Sayang, bangun!" Gerhana mengguncang perlahan bahu istrinya
Ia sedikit khawatir karena tidak biasanya Gendis seperti ini. Biasanya setelah sholat subuh ia akan pergi memasak atau sekedar berjalan-jalan, tapi sekarang setelah sholat ia tidur lagi dan sangat sulit dibangunkan hingga Gerhana sudah rapi hendak ke kantor
"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Gendis, tapi ia masih tak membuka matanya
"Apa kamu tidak enak badan, Sayang?" Gerhana mulai cemas
"Tidak, aku hanya mengantuk saja!" Gendis menjawab dengan suara khas bangun tidur, namun masih belum membuka matanya
"Aku akan menelpon Micko agar segera kemari!" Ujar Gerhana, ia segera mengambil ponselnya
"Aku baik-baik saja, Sayang!" Ucap Gendis, membuka matanya dengan malas, "hanya mengantuk dan sedikit lesu saja."
"Tapi aku tidak akan tenang meninggalkanmu jika kamu seperti ini, Sayang!"
"Sudahlah, tidak apa!" Gendis bangun dan duduk bersandar dikepala ranjang, "Aku akan baik-baik saja, pergilah bekerja!"
"Tapi.... "
"Ayolah, ada Mama juga di rumah, jadi tidak masalah dan aku baik-baik saja!" Gendis memotong ucapan suaminya yang hendak melayangkan protes
"Baiklah!" Balas Gerhana mengalah, "apa kamu mau sarapan dibawah atau diantar kemari?"
"Biar nanti aku turun sendiri," Gendis bangkit dan berjalan mendekati suaminya, "apa kamu sudah sarapan, Sayang?"
Gendis memasangkan dasi suaminya, dengan cekatan Gerhana memegang pinggang istrinya dan mencium kening Gendis mesra
"Tidak, aku akan bawa makanan dan sarapan di mobil, ini sudah terlambat!"
Gendis mencium tangan Gerhana sebelum ia melangkah keluar kamar, setelah Gerhana pergi ke kantor, Gendis kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda
__ADS_1
Baru setengah jam memejamkan mata, perut Gendis sudah keroncongan meminta haknya untuk diisi. Gendis segera berjalan menuruni anak tangga untuk pergi ke dapur
Namun saat masih ditengah tangga, netranya menangkap seseorang yang tak asing dan tak ingin dilihatnya baru saja duduk di ruang keluarga
"Carrot!" Gumam Gendis
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menelpon pelayan agar mengantarkan sarapan untuknya
***
Sementara itu diruang keluarga
Carolina yang baru saja tiba, dipersilahkan duduk oleh pelayan. Kemudian pelayan tersebut memanggil Henny karena Carol ingin bertemu dengannya
"Pagi, Tante!" Sapa Carol dan berjalan mendekati Henny lalu memeluknya dan mencium pipi kanan dan kiri Henny
"Pagi, Carol!" Henny membalas sapaan Carol dengan dingin, "kapan kamu kembali dari Inggris?" Sambungnya basa-basi
"Sudah lebih dari seminggu, Tante." Balas Carol tersenyum
Mereka mengobrol beberapa saat sekedar berbasa-basi karena sudah lama tidak pernah bertemu, lebih tepatnya Carol mencari tau tentang pernikahan Gerhana dan Gendis
"Maaf, Tante! Bukan maksud saya menjelek-jelekkan menantu, Tante. Tapi kapan hari itu saya melihat dia pergi ke restaurant bersama dengan seorang pria, dan mereka terlihat sangat akrab sekali" Ucap Carolina dengan wajah sedih yang dibuat-buat
"Oh ya?" Henny berpura-pura terkejut
"Saya sungguh tidak menyangka jika gadis yang dinikahi Gerhana adalah seorang yang seperti itu!" Ujarnya menunduk, "Saya pikir dia gadis baik-baik, maka saat Gerhana memperkenalkannya kepada kami, kami semua mengagumi sosok lemah lembut itu
"Tapi, dibalik wajah polosnya tersimpan pisau tajam yang kapan saja siap untuk menghancurkan Gerhana. Saya hanya tidak ingin dia terluka, Tante!" Ucap Carol dengan airmata buayanya
"Sudah puas menjelek-jelekkan menantu saya, Carol?" Tanya Henny dengan tatapan tajam
"Ma maksud, Tante?" Carol tergugup
Henny bangkit dari sofa dengan melipat tangannya didepan dada dan menatap Carol tajam, ia tersenyum mengejek
"Kamu tau siapa pria itu?" Henny menatap dengan tatapan membunuhnya
"Dia pasti selingkuhan istrinya Gerhana!" Balas Carol gemetaran
Henny berjalan memndekati Carol, dan
Plak
Tamparan keras melayang dari tangan Henny mengenai pipi mulus Carol, tamparan itu membekas merah dipipinga
__ADS_1
"Kamu sengaja menjelek-jelekkan Gendis didepan saya, agar saya membencinya dan menghasut Gerhana untuk menceraikannya?" Tanya Henny dengan senyum mengejek
Prok
Prok
Prok
Henny bertepuk tangan dengan senyum mengembang
"Kamu sungguh sangat rendahan, Carol!" Henny mencibir, "pria itu adalah Royyan, Om nya Gendis! Pada saat itu, Gerhana juga ikut makan siang bersama!"
"Ma, ada apa? Kenapa Mama terlihat tidak senang?" Gendis berjalan mendekati Henny
Carol tertegun dengan jawaban Henny yang tak sesuai dengan ekspektasinya, ditambah lagi melihat Gendis yang terlihat sangat cantik dihadapannya
Dengan gaun berwarna hijau emeral sebatas lutut, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih, kalung berlian keluaran brand ternama yang baru diluncurkan bulan lalu, beserta anting dan juga gelang, dipatok dengan harga lebih dari 10M
Tas dan sepatu keluaran terbaru milik brand kenamaan pun ikut menjadi pelengkap OOTD Gendis, riasan tipis yang natural pun menambah kesan anggun Nyonya Geehana
'Sial*n! Itu semua barang yang dia pakai ori dan kalung itu, gue bahkan nggak kebeli!' Batin Carol kesal
"Tidak apa-apa, Sayang!" Jawab Henny menatap menantunya, "apa kamu mau pergi, Sayang?"
"Aku hanya ingin mengunjungi Ayah setelah itu aku ingin ke kantor Mas Gerhana, Ma!" Jawab Gendis sambil melirik Carol yang berwajah masam karena terabaikan, "Apa Mama mau ikut?"
"Hmmm kamu pergilah sendiri, Sayang! Mama mau pergi bertemu teman lama!" Balas Henny tanpa menghiraukan keberadaan Carolina
"Oh, ada Carolina disini!" Ucap Gendis dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat, "maaf, ya Carol! Aku sungguh tidak melihatmu." Sambungnya dengan menahan tawa karena wajah Carol yang nampak sangat jengkel
'Ha ha ha, rencanaku berhasil! Kau harus tau siapa aku, dan siapa kau! Agar kau tak melewati batasanmu!' Gendis bersorak sorai dalam hati
Sesaat setelah sarapan tadi, Gendis segera merapikan diri dan sengaja berhias serta memakai barang-barang mewah hadiah dari suaminya, untuk menunjukkan jati dirinya sebagai Nyonya Gerhana dihadapan Carolina
Setelah itu Gendis berpamitan kepada Henny dan segera melesat diantarkan oleh Max. Begitupun Carolina yang merasa harga dirinya jatuh sejatuh jatuhnya pun pergi untuk melakukan pemotretan
Henny tertawa bangga melihat menantunya yang sudah berhasil membuat mental pelakor Carolina anjlok seanjlok anjloknya karena tampilannya
Ia sudah berjanji dalam hatinya untuk tidak akan membiarkan Carolina memiliki sedikit pun peluang untuk menjadi pelakor di kehidupan rumah tangga putra dan menantunya
***
Kabarnya readers? Sehat?
Mawar ngucapin banyak-banyak terimakasih buat kalen yang masih tetep setia nunggu kelanjutan kisah romantis Gendis dan Babang Ge, jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya gaes
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di karya terbarunya Mawar yang berjudul "Oh Baby"