
Gerhana mengantar Gendis untuk berziarah kemakam Bunda dan Kakeknya, ia menyetir sendiri karena sang sopir sedang sibuk membantu para warga mempersiapkan acara akad, walaupun hanya akad tetapi warga sudah sibuk memasak dan menyiapakan berbagai macam kue untuk menyambut penghulu,
Gerhana sudah menyerahkan semuanya kepada sang sopir, karena ia yang lebih paham mengenai hal itu
Setelah tiba dipemakaman, Gendis berjalan didepan dengan Gerhana yang mengekor dibelakangnya. Mereka berjongkok dan memanjatkan do'a untuk Kakek dan Bunda, Gendis menangis disamping pusara sang Bunda.
"Bunda, hari ini putrimu akan menikah." Lirihnya sambil memeluk batu nisan Bundanya, bulir bening sudah menumpuk dipelupuk mata indahnya
"Berarti putrimu sudah besar kan, Bunda?" Ucapnya dengan tersenyum getir
"Seandainya Bunda ada disini, pasti Bunda juga akan bahagia karena menyaksikan putrimu dipersunting oleh pria yang sangat tampan," ucapnya dengan buliran bening yang sudah mulai berjatuhan
"Restui pernikahan kami, Bunda. Semoga langgeng sampai maut yang memisahkan, seperti kakek dan nenek,"
"Maafkan Gendis, Bunda! Karena Gendis bunda jadi seperti ini," lirihnya dengan terisak
"Kalau Gendis bisa memilih, lebih baik Gendis tak usah dilahirkan dari pada menjadi pembunuh." Gendis terisak pilu
Gerhana bisa mendengar setiap apa yang diucapkan Gendis, walau begitu pelan. Suara yang begitu lembut, yang selalu dibencinya. Hati Gerhana serasa diremas mendengar isakan Gendis, ia juga kehilangan orang tuanya tapi ia masih beruntung mempunyai Hendra dan Henny sebagai pengganti orang tuanya
Dulu dia berfikir, dialah orang yang paling malang di dunia ini, namun nyatanya masih banyak yang lebih tidak beruntung darinya dan mereka masih bisa mengucap syukur.
Sungguh Gerhana merasa menjadi manusia yang tidak pernah bersyukur selama ini, ia terus menerus menyalahkan takdir yang telah merenggut nyawa orang tuanya. Ia selalu memandang keatas tanpa mau memandang kebawah hingga ia lupa akan rasa syukur
Gerhana memeluk Gendis erat dan mengusap punggungnya perlahan, Gendis semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang Gerhana dan semakin terisak. Membuat hati Gerhana teriris pilu
"Ayo pulang!" Ajaknya "mereka pasti sudah menunggu kita
Gendis mengangguk dan berpamitan kepada Bunda dan Kakeknya, mereka lalu berjalan keluar makam. Gerhana melajukan mobilnya kembali ke rumah Nenek Tini
Setibanya dirumah Nenek Tini, mereka sudah disambut para tetangga. Para tetangga memandang takjub melihat mahakarya Tuhan yang begitu sempurna dalam wujud Gerhana
***
Disudut kamar, seorang pemuda tampan duduk termenung dengan tatapan kosong kedepan. Dia adalah Samuel, bagaimana mungkin ia akan merelakan cintanya kandas begitu saja
Hatinya sangat sakit membayangkan Gendis akan dipersunting oleh Gerhana. Di bandingkan dengan dia, sosok Gerhana jelas lebih unggul segala-galanya.
__ADS_1
Mulai dari wajah, usia, harta, dan yang terpenting seiman dengan Gendis. Sungguh hati Samuel terasa seperti tercabik-cabik memikirkan itu
"Apa kamu tidak ingin menyaksikan akad nikah Gendis, Sam?" Antonius bertanya
Samuel menengok, memandang sekilas ayahnya, kemudian mengalihkan pandangannya kedepan seperti semula
"Ayah tau kamu sedih, kamu sakit, kecewa, dan terluka," Ucapnya seraya mengusap pundak putranya lembut, "tapi cobalah pikirkan kembali perasaan Gendis, bagaimana terlukanya ia saat sahabatnya tidak datang dan memberinya dukungan."
Samuel menunduk, bulir bening kembali berjatuhan
"Kamu tau kalau Gendis terpaksa menuruti keinginan Neneknya, Gendis juga sama terlukanya dengan kamu, Sam. Apa kamu tega membiarkan Gendis ikut merasakan kekecewaanmu, sedangkan ia juga sama kecewanya denganmu. Dia sudah menanggung kesusahan selama hidupnya, apakah kamu juga akan menambah beban pikirannya?" Antonius terus memberikan nasehat kepada putranya.
"Segera ganti bajumu, dan ayo kita berangkat bersama!" Ucapnya berlalu pergi
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, Gerhana sudah duduk didepan penghulu, dan Gendis duduk disebelahnya. Dibelakang mereka sudah duduk berjejer para tetangga
Mata Gendis menangkap sosok pemuda tampan yang duduk dibelakang penghulu dengan senyum yang dipaksakan. Tak terasa bulir bening meluncur begitu saja dari pelupuk mata Gendis
Gendis pun sama terlukanya dengan Samuel, sama halnya dengan Samuel ia harus tetap memaksakan tersenyum demi Neneknya
"Apakah Mas Gerhana dan Gendis sudah siap?" Tanya pak penghulu sebelum ijab qabul dimulai
Gerhana dan Gendis mengangguk sebagai jawaban
"Apakah kalian menikah karena keinginan sendiri atau terpaksa?"
"Keinginan sendiri, Pak," Gerhana menjawab
"Mbak Gendis mau minta mas kawin apa?" tanyanya sembari menatap Gendis
"Seikhlasnya Mas Gerhana, Pak," tulis Gendis
"Mas Gerhana mau ngasih mahar apa?"
"Seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan," Jawab Gerhana cool
__ADS_1
"Apakah Mas ikhlas memberikan itu semua?"
Gerhana mengangguk, "Insha Allah saya ikhlas."
"Baiklah, kita mulai sekarang!"
"Ananda Gerhana Rafardhan Shakeel Rahardja bin Baratha Rahardja, kunikahkan dan ku kawinkan engkau dengan saudari Gendis Alamanda Maheswari binti Dion Mahendra, yang wali nikahnya diwakilkan kepada saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai" Ucap penghulu
"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Alamanda Maheswari binti Dion Mahendra dengan mas kawin tersebut, Tunai." Ucapnya dengan satu tarikan napas
"Bagaimana saksi?"
"SAH!" Jawab mereka kompak
Gerhana memakaikan perhiasan yang menjadi mas kawinnya itu, beruntunglah orang-orangnya bisa diandalkan disaat mendesak seperti ini. Sejak semalam ia sudah meminta pak Encup untuk mencarikan perhiasan di daerah Malang
Gendis lalu mencium tangan Gerhana, dan Gerhana membacakan do'a dipuncak kepala Gendis dengan dituntun oleh penghulu, setelah itu ia mencium puncak kepala Gendis, hatinya menghangat saat itu juga
Bulir bening menetes dari netra Gendis, terlalu sakit saat pernikahan yang seharusnha dilakukan dengan orang yang mencintai dan dicintai olehnya, namun malah dengan pria arogan yang mati-matian ingin Gendis hindari
Samuel merasa benar-benar telah kehilangan cintanya saat ini, ia menatap sendu Gendis, dipeluknya gadis itu erat untuk nenumpahkan rasa sesak didalam dadanya
"Berjanjilah untuk selalu bahagia, Nda. Kalau sampai kamu tidak bahagia, maka aku lah yang akan membahagiakanmu dengan caraku."
Gendis terisak dipelukan Samuel, sungguh sakit rasanya merelakan takdir yang seoalah mempermainkannya
Gendis dan Gerhana sedang menyalami para tetangga dan orang tua Samuel yang juga hadir disana
Namun tiba-tiba, tubuh Nenek Tini ambruk
***
Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya gaes, karena kalau bukan dari diri sendiri, siapa lagi?
Jangan terlalu sering begadang, inget lagunya Mbah Rhoma kan? Nah, jangan kaya Mawar yang seperti kalong
Kalau siang waktu kerja dunia nyata mengantuk, giliran malam mata sulit terpejam. Insom Gaes
__ADS_1
Ok, jangan lupa selalu dukung Mawar dengan cara like, komen dan vote
Love u everybody, peluk cium via online ya🤗😘