
Level tertinggi mencintai bukanlah memiliki, tetapi mengikhlaskan ~ Samuel Gionino Petrus
Mentari bersinar terang menggantikan bulan kembali keperaduannya, harum aroma embun pagi yang begitu menyejukkan, serta nyanyian burung yang saling bersahutan menambah keindahan pemandangan di pagi hari
Gerhana sudah menjadwalkan untuk selalu menemani istrinya jalan-jalan di pagi hari, dan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada ketika istrinya membutuhkan bantuannya
"Apakah kamu lelah, Sayang?" Tanya Gerhana saat melihat istrinya nampak tak bersemangat
Gendis hanya menggeleng sebagai jawaban, ia kemudian mengajak suaminya untuk duduk beristirahat di bangku taman
"Apakah kamu merasa bosan? Atau kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Gerhana seraya menatap istrinya
"Tidak ada, aku hanya merasa sedikit lelah!" Jawab Gendis dengan menggenggam jemari kokoh sang suami
Setelah puas berjalan-jalan, Gerhana mengajak istrinya kembali kedalam rumah untuk sarapan bersama. Setelah sarapan ia mandi dan berganti pakaian kemudian berpamitan untuk pergi bekerja bersama Banyu
Saat Gerhana sudah berangkat bekerja, Gendis hanya menghabiskan waktu menunggu suaminya kembali dengan berjalan-jalan ditaman, melukis, makan, atau sekedar menonton drama
***
Tak terasa matahari sudah hampir tenggelam dan akan segera digantikan dengan rembulan yang menyinari bumi
Sebuah mobil mewah sudah terparkir sempurna dihalaman luas kediaman Gerhana, dua pemuda tampan keluar dari mobil dan berjalan dengan elegan memasuki rumah mewah bercat putih tulang itu
Para pelayan sudah berjajar dengan rapi seperti biasanya, dua orang pemuda tersebut masing-masing menenteng dua kantong besar berisi berbagai macam buah dan cemilan yang akan mereka persembahkan untuk sang Nyonya rumah
Nyonya rumah yang tak lain adalah Gendis sedang menikmati cemilan di sofa kamarnya. Hari-hari terlalu santai begitu membosankan bagi Nyonya rumah yang biasanya aktif di dapur kini hanya diperbolehkan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai
"Sayang!" Panggil Gerhana lembut ketika memasuki kamar
Gendis menengok, sedetik kemudian senyum mengembang diwajah ayunya. Gendis berlari menghampiri Gerhana lalu memeluknya dan menciumi wajah suaminya itu
"Jangan lari-lari!" Ucap Gerhana dengan memeluk istrinya, "apakah kamu ingin makan sesuatu?"
Gendis hanya menggeleng dalam dekapan suaminya
"Apakah sikecil menyusahkanmu hari ini, Sayang?" Tanyanya lagi
__ADS_1
"Tidak, Sayang!" Jawab Gendis, ia lalu mengajak suaminya untuk duduk di sofa
"Memang anak-anak Daddy yang terbaik!" Ujar Gerhana dengan mencium perut istrinya yang mulai membuncit
Setelah berbincang sejenak dengan istrinya, Gerhana memutuskan untuk segera mandi. Kemudian ia mengajak istrinya duduk di ruang santai untuk menikmati cemilan yang telah ia dan Banyu beli sepulang kerja seperti biasanya
"Sayang, makanlah ini!" Ujar Gerhana dengan menyerahkan cemilan yang sudah ia beli, ia kemudian mengupaskan buah-buahan untuk istrinya
"Makan yang banyak, Ndis!" Ujar Banyu kemudian duduk disebelah kiri Gendis
"Terlalu banyak makan nanti aku jadi gendut, Kak!" Balas Gendis masih terus menikmati cemilannya, "nanti kalau aku udah melar, Mas Gerhana cari perempuan yang langsing."
"Siapa yang bilang!" Tiba-tiba Gerhana muncul dari belakang Gendis dengan membawa sepiring buah yang sudah dikupas dan dipotong
Gendis hanya tercengir melihat suaminya, sedangkan Banyu hanya bisa merasa iri dengan keromantisan saudaranya itu
"Mau kamu gendut, mau kamu melar, mau kamu jelek, aku nggak peduli!" Ucap Gerhana kemudian duduk disamping kanan istrinya, "bagiku kamu tetep perempuan tercantik dalam hidupku, karena kamu jadi seperti ini karena demi melahirkan keturunan untukku."
"Uuuh aku terharu sekali!" Suara Royyan yang tiba-tiba begitu mengejutkan Banyu, Gerhana dan juga Gendis
Royyan berjalan menghampiri keponakannya itu dan memberikan sebuah bingkisan ditangannya. Tiba-tiba Micko dan juga Harris menyusul dibelakang Royyan, masing-masing dari mereka menenteng bingkisan untuk Gendis
"Hanya makanan kecil, untuk calon keponakan tercinta!" Jawab Micko santai
"Ge, gue nggak nyangka sekarang elo bisa ngucapin kata-kata romantis yang bisa bikin perempuan meleleh!" Ujar Harris dengan menyenggol pundak Gerhana
"Hey, Bro! Semua itu bakal berkembang seiring berjalannya waktu!" Sahut Royyan
"Semakin cinta seseorang, maka semakin manis pula kata-katanya!" Banyu tak mau ketinggalan
"Perlu belajar nih dari yang udah ahli biar bisa lebih deket sama jodoh!" Micko tak mau kalah menyahuti
"Terimalah kami semua sebagai muridmu, Guru!" Ujar Harris dengan mengedipkan mata kearah Gerhana
Gerhana hanya menatap mereka dengan kesal, sedangkan Gendis hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan para sahabat suaminya itu
Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena suami yang begitu mencintainya, keluarga serta para sahabat yang begitu memperhatikan dan menyayanginya
__ADS_1
Mereka berbincang dan menghabiskan waktu bersama dengan terus bercanda serta sesekali mereka saling lempar ejekan untuk menggoda Gerhana yang semakin hari semakin menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya
***
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kehamilan Gendis sudah menginjak usia empat bulan. Henny dan Hendra kembali dari Inggris hanya untuk mengadakan syukuran empat bulanan kehamilan menantunya
Acara empat bulanan diadakan dengan mengundang para anak yatim untuk mendo'akan kebaikan untuk Gendis dan bayi kembarnya
Gerhana mengundang para sahabatnya serta para karyawan dikantornya pun tidak lupa ia undang untuk menghadiri acara tersebut. Gerhana juga mengundang Samuel untuk ikut mendo'akan sang istri dan calon bayinya
Samuel datang dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna navi, rambut yang tertata rapi membuatnya nampak dewasa dan semakin tampan dimata semua orang yang melihatnya
Samuel berjalan dengan elegan, tangan kirinya menggenggam erat jemari mungil perempuan cantik yang berjalan dibelakangnya. Mereka nampak seperti pasangan yang begitu serasi
Mereka terus berjalan menuju tempat dimana si Tuan rumah sedang menyalami para tamu undangan. Senyum Samuel terus mengembang menatap binar bahagia di mata gadis yang pernah dan selalu ia cintai itu
"Selamat, ya!" Ucap Samuel ramah dengan menyalami Gerhana
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang!" Balas Gerhana kemudian memeluk Samuel
"Selamat, ya Nda!" Ucap Samuel ramah sembari menyalami Gendis, "semoga ibu dan bayinya sehat selalu!" sambungnya tersenyum
"Makasih, ya El!" Balas Gendis dengan senyum merekah
Hati Samuel menghangat melihat senyum manis yang selalu ia rindukan, wajah ayu yang dulu selalu ia harapkan bisa ia lihat sebelum tertidur dan bisa ia tatap ketika terbangun, kini sudah menjadi milik orang lain
Tapi ia sudah belajar mengikhlaskan semua yang sudah digariskan oleh takdir untuk hidupnya dan juga untuk kehidupan wanita yang ia cintai
Ia merasa tenang setiap kali melihat wajah bahagia wanita yang ia cintai, ia juga dapat menyerahkan dengan ikhlas Gendis ke tangan pria yang juga begitu mencintai Gendis
"Selamat, ya Gendis!" Ucap gadis cantik yang berdiri di belakang Samuel, "semoga dilancarkan saat persalinan nanti, selalu sehat untuk ibu dan bayi!" Sambungnya dengan memeluk Gendis
"Makasih, ya Pricillia!" Balas Gendis seraya membalas pelukan Cia, "aku selalu nunggu kabar bahagia dari kalian berdua loh! Sambungnya tersenyum ramah
***
Jangan lupa jejak ya readers, salam sayang buat kalen semua
__ADS_1
Peluk cium via online 🤗😘