Tawanan

Tawanan
Bab 37


__ADS_3

Gendis menatap suaminya yang semakin mendekat, semua orang memandangnya seolah mengejek dan mengatakan 'tamatlah riwayatmu'


"Apa kamu lebih mempercayai mereka dibandingkan istrimu sendiri, Sayang?" Gendis menatap dalam manik hitam tajam suaminya, "apakah mungkin bibirku ini bisa mencaci dan memaki orang lain?"


Gerhana mematung, seolah ada jutaan bunga sedang bermekaran didalam hatinya, untuk pertama kali Gendis mau berbicara langsung menggunakan suaranya, matanya menatap dalam manik indah sang istri


"Apa tadi, dia memanggilku apa?" batin Gerhana bersorak sorai, rasanya melebihi mendapatkan give away boxer


"Tentu aku akan lebih mempercayai Nyonya Gerhana dibandingkan mereka," ucapnya seraya melepas jas yang dikenakan kemudian ia pakaikan ke istrinya


Banyu, Micko, Harris, serta Royyan melongo mendengar suara lembut Gendis, mereka saling pandang untuk mencari jawaban


"Banyu!" panggil Gerhana dingin


Banyu segera mendekat dan menatap Gerhana serta Gendis


"Lo tau kan, apa yang harus lo lakuin untuk semua orang yang sudah berani mengganggu istriku," ucapnya penuh penekanan, "batalkan semua kontrak kerja sama kita, cabut semua saham yang kita tanam dan buat tidak ada satu perusahaan pun yang mau bekerja sama dengan mereka."


Banyu nengangguk, ia sudah paham dengan sifat Gerhana, siapa yang mengganggu miliknya jangan harap ia bisa bernapas lega esok hari


"Permata sepertimu tidak pantas berada diantara batu kerikil seperti mereka." Ucapnya sambil menatap istrinya


Gerhana kemudian keluar sambil menggenggam jemari Gendis menuju lobby


"Apa yang terjadi? Kenapa tadi Abang liat Gerhana murka?" tanya Bang Dion yang tak lain adalah Abangnya Royyan


"Ada yang berani bermain-main dengan Nyonya Gerhana!" Tukas Micko


"Nyonya?" Bang Dion mengernyit, "apakah Gerhana sudah menikah?"


Harris dan Royyan mengangguk


"Kenapa tak mengundang abang?"


"Jangankan Abang, kami saja tidak ada yang tau" Sahut Harris berbisik


Banyu segera menyelsaikan tugas yang diberikan Gerhana, ia meminta data semua yang hadir disana dan meminta rekaman CCTV agar mengetahui apa yang terjadi.


Semua orang yang berada disana dan hanya menonton kala Gendis dibully, saham Gerhana yang ada diperusahaan mereka segera Banyu tarik, seketika keluarga Regatra jatuh miskin akibat ulah putrinya


Semua mendapatkan jatah hukuman dari Banyu, tak terkecuali. Saat ia melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan Gendis membanting Alice dengan mudahnya membuat pikirannya travelling kemana-mana


"Kalau diliat dari cara dia ngebanting Alice, jelas kalau Gendis bisa bela diri," cicit Micko yang ikut serta melihat rekaman CCTV tersebut

__ADS_1


"Lo bener," Harris membenarkan, "kalau nggak bisa bela diri nggak mungkin dia bisa dengan mudahnya membanting Alice"


"Kalau dia bisa bela diri, lalu kenapa waktu dia kabur dan mau diapa-apain sama penjahat dia nggak melawan?" Banyu kebingungan


"Saat itu Gendis terkena tonic Immobility," jawab Micko


Semua mengernyit, apa itu tonic immobility pikir mereka


"Tonic immobility menggambarkan keadaan kelumpuhan yang tidak disengaja dan di luar kendali, di mana seseorang tidak dapat bergerak atau dalam banyak kasus, juga tidak dapat berbicara," jelas Micko, "biasa korban pemerkosaan tidak dapat melawan atau berteriak karena mengalami kelumpuhan sesaat, yang diakibatkan ketakutan yang luar biasa." lanjytnya menerangkan


Mereka semua mengangguk mengerti dengan penjelasan Micko yang seorang dokter


"Lalu kenapa ternyata dia bisa berbicara?" sahut Royyan


"Untuk itu kita tanyakan langsung dengan suaminya," ucap Banyu


Mereka semua membantu tugas yang diemban Banyu, malam itu pula banyak orang kaya yang mendadak jatuh miskin karena saham yang dimiliki Gerhana rata-rata diatas 30% diperusahaan mereka


***


Disepanjang perjalanan Gerhana hanya diam sambil memeluk istrinya, ia benar-benar merasa menjadi suami yang tak berguna. Untuk kali pertama mengajak istrinya keluar dan sudah membuat istrinya terluka


Setelah sampai dikediamannya, Gerhana segera meminta Exel untuk keruangannya. Gendis benar-benar khawatir kalau Gerhana akan membunuh Exel karena lalai menjaganya, padahal itu semua adalah kesalahan Gendis


Exel mengangguk, wajahnya sudah pucat pasi sejak melihat kejadian yang menimpa Nyonya Mudanya. Kringat dingin bercucuran dari dahinya, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti


"Sayang," panghil Gendis dengan lembut, "ini semua salahku, aku yang meminta Exel mengambilkan minum, aku sangat haus tadi," Gendis mencoba untuk meredakan emosi suaminya itu


Gerhana menatap manik hitam istrinya dengan lembut, "apa kau tidak sedang membelanya?"


Gendis menggeleng, "aku berbicara apa adanya dan sejujur nya" ucapnya seraya menggenggam jemari Gerhana, "jika aku tak memintanya mengambil minum, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku yang sudah membuatmu malu."


Gerhana segera memeluk istrinya, "aku tidak ingin ada yang berani mengganggumu, apa lagi menyentuhmu"


Exel akhirnya bisa bernapas lega, "Terimakasih Nyonya, jika bukan karena anda entah bagaimana nasib saya" batinnya


"Lekas gantilah pakaianmu," titah Gerhana seraya melepaskan pelukannya


"Apakah anda tidak ingin menemani saya, Tuan?" Gendis sengaja merayu agar Gerhana tidak menghukum Exel, ia benar-benar takut mengingat kejadian yang mereka alami saat Gendis mencoba kabur


"Baiklah, Nyonya!" ucapnya lalu membopong Gendis


"Turunkan saya, Tuan!" Pekik Gendis

__ADS_1


"Biarkan Tuan Muda melayani Nyonya muda." tegasnya


Exel tersenyum senang menatap Tuan dan Nyonya nya yang terlihat bahagia, "hanya anda yang bisa mengendalikan Tuan Muda, Nyonya" Exel membatin


Setibanya dikamar, Gerhana membawa Gendis ke kamar mandi, dan menurunkannya perlahan


"Apakah Tuan Muda boleh membantu Nyonya untuk membersihkan diri?" tawarnya dengan senyum nakal


Gendis menggeleng, ia bisa berganti pakaian sendiri pikirnya


Namun bukan Gerhana namanya jika dengan mudah menyerah, ia merayu Gendis dengan rayuan yang menurut usahanya sudah maksimal


"A a aku malu, Sayang" ucap Gendis gugup


"Kenapa? Aku adalah suamimu" jawab Gerhana santai


"Ta Tap Tapi" Gendis semakin gugup karena tatapan Gerhana


Gerhana semakin maju, mengikis jarak diantara mereka. Hembusan napasnya terasa hangat menyapu permukaan kulit mulus Gendis


Segera ia ******* bibir ranum istrinya, tangan kirinya melingkar diperut ramping Gendis, sedangkan tangan kanan sudah dengan lihainya membuka resleting gaun yang Gendis kenakan


Gaunya sudah terbuka, mengekpose pungguh mulus Gendis, tangan nakalnya tak mau diam, dengan santainya jemari Gerhana sudah menari-nari dipunggung istrinya


Lum*tannya semakin menuntut, dengan sigap tanggannya menarik gaun Gendis hingga terjatuh dan secepat kilat ia melepas kait bra istrinya, menampilkan keindahan yang pernah Gerhana lihat namun dalam keadaan yang berbeda


Jemarinya beralih, menyapu benda kenyal yang bisa membuatnya gila. Cium*anya semakin turun, ia memberi beberapa tanda kepemilikan dileher dan tulang selangka istrinya. Lidahnya menari kesana kemari, menikmati halus lembut kulit wanitanya


Entah kemana otak warasnya berada, ia semakin menggila menatap keindahan didepan matanya. Bibirnya dengan rakus menyesap sesuatu yang bisa dipastikan akan membuatnya candu


Napasnya tersengal saat bibirnya melepaskan hisapannya, sorot matanya menginginkan lebih dari istrinya, ada bara disana bara gairah yang menggebu


"Bolehkah aku meminta hakku?" ucapnya dengan suara parau, "aku ingin kita segera memiliki penerus," lanjutnya seraya menatap manik mata istrinya


****


Lanjutannya silahkan menghalu sendiri gaes 🤣🤣🤣


Mawar yang polos ini tidak sanggup menghalu lebih dari ini, maafkeun Mawar yeee


Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘


Jangan lupa jejak

__ADS_1


__ADS_2