
Dua puluh hari sudah Gendis dan suaminya menghabiskan waktu berdua di London dengan melakukan banyak hal seperti jalan-jalan, belanja, mengunjungi tempat-tempat wisata, dan mengunjungi kantor Gerhana yang ada di Inggris, dan hari ini mereka sudah sampai di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Indonesia
Mereka dijemput oleh Banyu dan Dion, Gendis segera berlari dan memeluk ayahnya untuk melepaskan rindu karena sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu. Sedangkan Gerhana berjalan mengekor dibelakang istrinya
Gerhana segera mengulurkan tangannya untuk menyalami mertuanya setelah Gendis melepaskan pelukannya, kemudian ia memberi tos ala-ala kepada Banyu
"Gimana kabar kalian?" Tanya Dion menatap menantu dan putrinya secara bergantian
"Jangan ditanya lagi, Bang!" Sahut Banyu sinis, "sudah pasti mereka sangat baik karena abis bersenang-senang!" Sambungnya
Ucapan Banyu sontak mengundang gelak tawa dari Gendis dan Gerhana tak ketinggalan Dion
"Makanya buruan nikah, Nyu!" Ujar Dion sambil menepuk pundak Banyu pelan, "biar bisa bersenang-senang!"
"Iya, Nyu! Buruan, keburu tua nanti!" Gerhana menimpali
"Haiiiis kalian ini," Ucap Banyu kesal, "nggak bapak, nggak anak, semua suka nindas gue! Ayo, Ndis kita tinggalin mereka!" Sambungnya hendak menggandeng Gendis namun secepat kilat tangan Gerhana terlebih dahulu menghalangi
"Jangan sentuh!" Ketus Gerhana, ia lalu menarik tangan istrinya dan mengajaknya untuk keparkiran
Banyu, Dion dan Gendis melongo melihat tingkah Gerhana yang cemburu dengan Banyu
"Liat tuh, Bang! Bucinnya tingkat akut!" Ucap Banyu kemudian berjalan mengekori Gerhana dan Gendis
"Biarin, Nyu!" Balas Dion sambil berjalan disamping Banyu, "orang kalau dulunya dingin, angkuh, dan arogan, mereka akan berubah saat jatuh cinta."
"Tapi cemburunya kebangetan!"
Dion hanya tertawa menanggapi Banyu yang mengomel sepanjang jalan
***
Para pelayan dan pengawal sudah berjajar rapi menyambut kedatangan Tuan dan nyonya muda mereka. Dengan kompak mereka memberikan salam kepada Gerhana dan Gendis
"Selamat datang kembali, Nyonya, Tuan!"
Gendis dan Gerhana hanya tersenyum membalas salam para pelayan dan pengawal, mereka segera menghampiri Mama, Papa dan para sahabatnya yang juga sudah berjajar rapi menanti kedatangan mereka
Gendis dan suaminya menyalami mereka satu persatu, Gendis kemudian memeluk Henny, ia sangat merindukan sosok ibu seperti mertuanya itu. Henny pun membalas pelukan menantunya, dan mencium pipi Gendis saat pelukannya terlepas
Henny kemudian mengajak semua orang untuk duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang sejenak, setelah itu ia mengantarkan menantunya untuk beristirahat di kamarnya
__ADS_1
"Gimana, Ge?" Tanya Hendra menatap putranya
"Apanya, Pa?" Jawab Gerhana bingung
"Calon ponakan buat kita lah!" Sahut Micko sambil mengunyah kacang bawang
"Iya, Ge!" Timpal Harris tak mau ketinggalan, "kita semua udah pengen banget punya mainan lucu yang bisa jadi penghibur buat kita!"
"Bener tuh, Om Yan. Juga udah nggak sabar pengen ngajakin cucu tersayang jalan-jalan sambil ngegodain gadis-gadis cantek!" Cicit Royyan dan langsung mendapat jitakan dari Dion
"Auuuuh sakit, Bang!" Ucap Royyan sambil mengusap kepalanya
"Kalian ini, enak aja calon cucuku mau diajarin nggak bener!" Ucap Dion
"Iya, awas aja nanti kalau cucuku diajarin yang ngak-ngak!" Ancam Hendra
Mereka terus berbincang hingga waktu makan malam tiba. Kemudian mereka makan malam bersama, setelah itu Micko, Harris, Royyan, dan juga Dion berpamitan untuk pulang
***
Seminggu telah berlalu, semua sudah kembali berjalan seperti sediakala, Gerhana dengan rutinitas kerjanya sedangkan Gendis dengan kegiatan melukis dan merawat tanaman serta sesekali berjalan-jalan dengan Mama mertuanya
Malam ini Gerhana pulang larut malam, ia begitu sibuk mengurusi pekerjaan yang begitu menumpuk setelah ia tinggal bulan madu. Walau sudah seminggu ia kembali bekerja, namun pekerjaanya masih terasa tiada habisnya
Ceklek
Ia membuka pintu kamarnya secara perlahan agar tak membangunkan istrinya, ternyata istrinya tertidur disofa, dengan tv yang masih menyala
"Ini namanya bukan menonton tv, tapi ditonton tv" Ucap Gerhana kemudian mengambil remote control yang ada di sebelah istrinya
Setelah mematikan tv, ia beralih menatap wajah damai sang istri. Tangannya terulur membenarkan anak rambut yang berantakan menutupi wajah ayu istrinya. Ia kecup lembut puncak kepala Gendis sebelum memindahkannya keranjang
Setelah itu ia segera mandi dan berganti pakaian yang telah disiapkan istrinya. Kemudian ia merebahkan tubuh leleahnya disamping sang istri yang memeluknya
Semua rasa lelah serasa sirna setelah menatap wajah tenang dan damai istrinya. Tangannya mengusap lembut perut rata istrinya kemudian ia bangkit dan mengecup perlahan perut Gendis
"Semoga malaikat kecil yang akan semakin mempererat hubungan kita segera hadir disini, untuk menambah kehangatan keluarga kita!" Lirihnya kemudian menyusul istrinya menuju alam mimpi
***
Kicau burung yang saling bersahutan menyambut hangat sinar mentari pagi, namun tak sedikitpun mengganggu tidur lelap sang Tuan Muda. Ia setelah sholat subuh berjamaah dengan istrinya melanjutkan tidurnya
__ADS_1
Sedangkan Gendis sudah sibuk berkutat dengan peralatan dapur menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Pagi ini ia terlihat begitu bersemangat saat memasak
Setelah semua masakan untuk sarapan selesai dan sudah disajikan diatas meja makan, ia segera berjalan menaiki tangga menuju kamarnya
Ia melihat suaminya masih tertidur lelap dibawah selimut nyamannya, ia membelai lembut pipi suaminya untuk membangunkannya. Sebenarnya ia tak tega untuk membangunkan sang Suami, namun mengingat pekerjaan suaminya yang menumpuk mengharuskan ia berbuat tega
"Sayang, bangun!" Ucap Gendis seraya mengguncang perlahan pundak suaminya, namun Gerhana masih tak bergeming dari tempatnya
"Sayang, sudah jam enam!" Lirihnya tepat ditelinga suaminya, namun lagi-lagi ia tak melihat pergerakan dari suaminya
"Aha, aku punya ide!" Ucapnya girang, ia kemudian berbaring disebelah Gerhana dan menciumi setiap inci wajah suaminya namun masih tak bergeming. Ia lalu ******* bibir suaminya perlahan
Tanpa diduga Gerhana membalas pagutan istrinya masih dengan memejamkan matanya. tangan nakalnya sudah bergerilya kemana-mana menjamah seluruh lekuk tubuh istrinya
Gendis mencoba melepaskan tautan bibir mereka karena ia serasa sudah kehabisan napas. Namun tangan nakal sang suami sudah menemukan tempat favoritnya dibawah kaos oblong istrinya
"Sayang, sudah!" Ucap Gendis berusaha menarik tangan suaminya, "ini sudah siang! Apa hari ini nggak ngantor?"
Dengan malas Gerhana membuka matanya dan tersenyum nakal menatap istrinya
Gendis bergidik ngeri melihat tatapan suaminya yang seolah siap melahap Gendis tanpa sisa
"Satu kali aja, ya!" Pinta Gerhana dengan wajah dibuat seimut mungkin
"No!" Tegas Gendis, "ini sudah siang!" Sambungnya
"Sekali aja, please!" Ucapnya dengan wajah memelas, "semalem aku nggak dapet loh kalau kamu lupa!" Sambungnya mengingatkan
Gerhana dengan cepat menindih tubuh mungil Gendis dan mulai ******* bibir ranum yang selalu membuatnya candu itu. Tangannya pun ikut bekerja dengan membuka kait bra yang digunakan istrinya
Gerhana membantu istrinya untuk membuka baju, setelah itu ia mulai melancarkan aksinya dengan menciumi setiap inci bagian tubuh istrinya. Tak ketinggalan ia meninggalkan jejak kepemilikan dileher, punggung, dada, dan tempat rahasia lainnya di tubuh sang istri
Setelah puas bermain-main, ia langsung pada inti permasalahan karena ia sudah tak tahan setiap kali mendengar lenguhan yang keluar dari bibir sexy Gendis, darahnya semakin mendidih saat menatap wajah istrinya yang sudah merona
Ularnya mulai mencari tempat favorit yang selalu dirindukannya, ular tersebut mulai berulah dengan maju mundur nyungsep, setelah satu jam lebih ular tersebut kelelahan ia mabok seperti biasa dan muntah-muntah didalam gua yang gelap
***
Jangan lupakan jejak gaes, biar Mawar tau kalau kalian masih setia sama Gendis dan Babang Ge
Tekan tombol favorite biar tau setiap kali Mawar up eps baru, kalau kalian suka sama Babang Ge dan Gendis jangan lupa vote nya ya
__ADS_1
Salam sayang buat kalen semua, peluk cium via online🤗😘