
Gendis memandang suaminya penuh tanya, wajahnya berubah pias menatap darah dikemeja yang dikenakan Gerhana
"Kamu kenapa, Sayang?" Gerhana menangkup wajah istrinya
Gendis tak menjawab, tapi mimik wajahnya menandakan ketakutan yang luar biasa
Gerhana kembali merengkuh tubuh mungil Gendis kedalam pelukannya. Ia mengusap pelan punggung Gendis untuk membuatnya sedikit tenang. Ia tak tau apa yang pernah terjadi pada istrinya sehingga setiap kali melihat darah ia selalu ketakutan
"Aiiiiish." Gerhana mendesis karena ia baru merasakan nyeri dibagian lengannya
Gendis mendongak menatap wajah suaminya, "kenapa?"
Gerhana menggeleng, ia kemudian melipat lengan kemejanya dan baru menyadari bahwa lengannya terluka
Gendis yang melihat itu wajahnya semakin pucat, tanpa ia sadari air matanya sudah mulai berjatuhan.
"Sayang, tenanglah," ujar Gerhana seraya mengusap air mata istrinya, "aku tidak apa-apa, sungguh!" sambungnya meyakinkan
"Tanganmu terluka seperti ini dan masih bisa mengatakan tidak apa-apa?" tanya Gendis terisak, ia benar-benar takut melihat darah
Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka dengan Micko berjalan keluar, ia segera menghampiri Gerhana
"Gimana keadaannya?"
"Semua baik-baik aja, suster akan memindahkannya keruang rawat!" jawabnya
"Alhamdulillah," ujarnya sambil mengusapkan kedua telapak tangannya kewajah sebagai tanda bersyukur, "lo obatin tangan gue, Ko!"
"Tangan lo kenapa?"
"Kena sabetan samurai, bocah lucknut tadi!" jawabnya enteng
Micko mengajak Gerhana keruangannya dengan Gendis yang mengekori. Setelah sampai Micko meminta Gerhana untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena badannya yang penuh darah itu
"Sayang!" Gerhana memanggil istrinya
Gendis menatap penuh tanya
"Bisa bantu aku membersihkan diri?" Modusnya
"Mulai, mau pamer kemesraan mentang-mentang udah sah!" Micko mencebikkan bibirnya
"Makanya nikah, Ko! Biar nggak tekanan batin ngeliat gue sama istri." Jawab Gerhana mengejek
"Udah buruan!" Tukas Micko mengakhiri bibit-bibit yang akan memojokkan jiwa jomblonya
Gerhana menelpon Exel untuk mengantarkan baju gantinya keruangan Micko, sedangkan Banyu yang menunggui Samuel. Hingga saat ini Gendis belum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya
Gendis membantu Gerhana membersihkan diri, dengan telaten ia menggosok tubuh polos suaminya. Ia juga membatu mengeringkan rambut sang suami didepan Micko, membuat jiwa jomblo sang empunya ruangan meraung-raung ingin dapat gandengan
"Berasa kek nonton drama romantis secara live" guman Micko
__ADS_1
Setelah selesai Gerhana bangkit berjalan ke meja Micko, namun sebelum itu ia mengecup bibir yang selalu membuatnya candu sesaat
Wajah Gendis bersemu merah karena malu, sedangkan Gerhana selalu tampak biasa saja, seolah itu hal yang wajar karena mereka sudah menikah. Sementra Micko segera memalingkan muka seolah tidak tau apa-apa
Micko segera mengobati luka sahabatnya itu, setelah selesai Gerhana dan Gendis langsung menuju ruangan Samuel dirawat
Gendis yang baru mengetahui kalau Samuel dirawat segera berlari dan menangis sejadi-jadinya
"Apa yang terjadi, El?" ucapnya terisak
Gerhana memeluk tubuh rapuh istrinya, "ada yang mengeroyok Samuel tadi, tapi sekarang mereka sudah diamankan oleh para bodyguard." ujarnya menenangkan
Gerhana lalu menceritakan bagaimana ia bisa bertemu Samuel
Flashback on
Sepulangnya dari kantor, Banyu meminta Exel untuk lewat jalan pintas agar menghindari kemacetan. Namun saat di jalanan yang sepi, Gerhana melihat segerombolan pemuda sedang mengeroyok seseorang dengan membabi buta
"Xel, berentiin mobilnya! " Titah Gerhana
Exel lalu menepikan mobilnya sesuai permintaan Tuan Muda
"Kenapa, Ge?" Tanya Banyu heran
"Lo liat mereka sedang main keroyokan!" Ujar Gerhana menunjuk segerombolan pemuda yang tengah asik menghajar lawannya
"Sejak kapan lo peduli sama orang, Ge!" cicit Banyu
Saat Gerhana dan Exel serta Banyu berjalan mendekat, Gerhana langsung berlari karena melihat pemuda tersebut akan menghunuskan samurai ditangannya untuk nenghabisi korban
Dengan sigap Gerhana menendang bokong sipelaku hingga jatuh tersungkur. Sedangkan Exel dan Banyu menghajar kawanan pemuda tersebut
flashback off
Gendis menangis terisak mendengar penuturan suaminya, hatinya benar-benar hancur kala melihat sahabat sekaligus orang yang masih ia cintai terbaring lemah
Gerhana dan Gendis memutuskan untuk tetap menunggu Samuel, sedangkan Banyu dan Exel pulang kerumah
Ruang rawat yang ditempati Samuel adalah ruangan khusus, yang diperuntukkan keluarga Gerhana, disana ada kamar tidur, kamar mandi, sofa, kulkas, dan segala macam kemewahan lainnya, sudah selayaknya hotel berbintang hanya yang membedakan ada ranjang untuk perawatan bagi pasien
Gerhana tidur dikamar, sedangkan Gendis terus terjaga untuk memastikan keadaan Samuel. Awalnya Gerhana melarang dan menyuruh Gendis tidur dikamar biarlah dia yang akan menjaga Samuel. Tapi Gendis menolaknya dengan alasan selama ini Samuel yang selalu menjaganya, dan sekarang gantian ia yang harus menjaga Samuel
Gerhana berusaha keras untuk menutupi rasa cemburunya. Hatinya terasa dicubit kala melihat betapa khawatirnya Gendis melihat Samuel. Tapi ia selalu berusaha meyakinkan diri bahwa Gendis hanya miliknya dan akan tetap menjadi miliknya
***
Samuel mengerjapkan mata, kepalanya masih terasa pusing berdenyut dan sekujur tubuhnya terasa remuk. Ia berfikir semalam adalah malam terakhir ia bisa bernapas didunia, namun Tuhan masih menyayanginya sehingga ia masih bisa selamat
Samuel memandang sekeliling untuk melihat dia ada dimana, tangannya terasa berdenyut kala selang infusnya tertarik karena ia mencoba bangkit
Gerhana yang baru selesai mandi segera menghampiri Samuel ketika melihat Samuel telah sadarkan diri
__ADS_1
"Tidurlah! tubuhmu masih lemah."
Sontak Samuel menengok mendengar suara yang tidak asing baginya, "Kak Ge?" ujarnya
Gerhana berjalan mendekat dan mendudukan diri dikursi samping ranjang Samuel, "apa sudah lebih baik dari semalam?"
Samuel mengangguk, "aku ada dimana ini, Kak?" tanyanya bingung
"Klinik," ujar Gerhana, "siapa mereka?" sambungnya
"Jadi kakak yang udah nolong aku semalam?" Ujar Samuel, "Terimakasih banyak, Kak! Aku nggak tau gimana nasibku kalau nggak ada kakak."
"Iya, kebetulan aku lewat sana semalam dan melihat seorang yang sudah tak berdaya dihajar habis-habisan." jawabnya santai, "kamu kenal siapa mereka?"
Samuel menggeleng, "aku tidak tau" jawabnya
"Apa kamu punya musuh?"
"Seingatku tidak, Kak!" ujar Samuel seraya mengingat, "aku selalu berusaha menghindari perdebatan dengan siapapun selama ini"
Mereka terus membahas mengenai siapa orang yang telah mengeroyok Samuel, tanpa Samuel sadari bahw mereka semua telah diamankan oleh anak buah Gerhana.
Banyu masuk kedalam tanpa mengetuk pintu, ia sudah membawakan sarapan, serta baju ganti untuk Gerhana
"Gimana keadaan lo, Sam?" tanya Banyu setelah meletakkan sarapan diatas nakas
"Lebih baik dari kemarin, Kak!"
"Syukurlah."
Gerhana masuk kedalam kamar untuk membangunkan istrinya sekalian ia akan berpamitan untuk kekantor. Ia sengaja memindahkan Gendis kedalam kamar setelah istrinya terlelap, dan Gerhana lah yang tidur disofa
Ia mengecup setiap inci bagian wajah istrinya dengan Gemas, agar Gendis mau membuka matanya. Gendis yang merasa terganggu pun akhirnya membuka mata
"Morning, Sayang!" Ucapnya seraya mengecup bibir Gendis singkat
"Kenapa aku tidur disini, Sayang?" balas Gendis heran
Gerhana tercengir, "Segera lah mandi dan sarapan, aku akan meeting dikantor."
"Sudah akan berangkat?"
"Tentu, nanti setelah pulang, aku akan kemari lagi!"
Gendis pun mengangguk, lalu berjalan kekamar mandi
****
Gimana kabar gaes? Sehat?
Semoga selalu dilimpahkan kesehatan ya gaes, dan jangan lupa selalu makan makanan seimbang, jangan begadang dan jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
Salam Sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘