
Gendis menunjukkan arah kerumahnya kepada sopir, tak sampai dua puluh menit mereka tiba dirumah
Gendis berlari saat turun dari mobil, ia sungguh sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan neneknya. Ia membuka pintu yang tak dikunci itu, ia segera masuk dan mencari keberadaan neneknya
Ia melihat neneknya terbaring lemah diatas ranjang, tubuhnya begitu kurus tak terawat, ia berjalan mendekat, seketika memeluk neneknya erat. Air matanya pun sudah tak terbendung lagi
"Gendis!" Lirih Nenek Tini
Gendis semakin mempererat pelukannya, sungguh hatinya teriris perih menyaksikan keadaan neneknya
"Kamu sudah pulang, Nduk?" Ucapnya seraya perlahan membuka mata menatap sayu cucunya
Gendis mengangguk, air matanya bak anak sungai yang terus mengalir. Nenek Tini meraba wajah Gendis dengan tangan yang gemetaran, membuat Gendis semakin terisak pilu
Gerhana menatap iba Gendis dan Nenek Tini, ada rasa bersalah yang seolah menggerogoti hatinya. Seandainya ia tak menjadikan Gendis tawanannya, mungkin keadaan Nenek Tini tidak akan separah ini pikirnya.
Sedangkan Gendis dan Nenek Tini belum menyadari keberadaan Gerhana yang hanya diam mematung di depan pintu kamar, banyak rasa yang berkecamuk didalam hatinya. Rasa sesal, rasa iba, rasa sedih yang terlalu banyak untuk dijabarkan
"Apakah wanita iblis itu menemuimu lagi, Nak?" Geram Nenek Tini. Ia sungguh muak dengan wanita yang terus menerus mengganggu cucunya itu
Gendis menggeleng
Nenek Tini melirik pemuda tampan dan gagah yang berdiri didepan pintu, "dia siapa, Nduk?" tanyanya
Gendis menengok, ia baru teringat kalau dia pulang bersama Gerhana. Sedangkan Gerhana menampilkan ekspresi yang yak terbaca
"Dia temanku, Nek! Dari Jakarta, dia yang mengantarkan aku pulang," jawabnya dengan bahasa isyarat
Nenek Tini mengangguk. "Apa dia yang menculik cucuku?" Batinnya
Gerhana berjalan mendekat dan mencium tangan Nenek Tini. Walaupun Gerhana adalah pria arogan, tapi ia masih punya sopan santun terhadap orang tua
Nenek Tini tersenyum hangat menatap Gerhana, "terima kasih karena sudah mengantarkan Gendis pulang, Nak."
Gerhana hanya membalas dengan senyuman dan anggukan
Gendis membereskan rumahnya yang berantakan, wajar saja karena Nenek Tini sudah terbaring lemah satu minggu ini. Sedangkan untuk makan dan minum, para tetangga yang secara sukarela bergantian memberikannya
__ADS_1
Gerhana meminta sang sopir untuk berbelanja banyak bahan makanan, sebenarnya ia ingin memesan makanan siap saji, namun karena Gendis tinggal dipedesaan membuat sopirnya kesulitan untuk mencari rumah makan
Sang sopir tiba dengan sekantong besar belanjaan ditangannya, segera Gendis mengolahnya untuk makan malam mereka
"Gue bantu, ya?" tanya Gerhana
Gendis menggeleng lalu mengisyaratkan agar Gerhana duduk saja. "Apa jadinya jika pria kejam itu membantuku?" Gendis membatin
Gendis dengan cekatan mengolah bahan makanan yang telah di beli oleh sang sopir. Ia membuat ayam kecap, orek tempe, dan tumis kangkung. Ia sengaja memasak beberapa menu, mengingat kala dirumah Gerhana, si Tuan Muda makan dengan berbagai menu masakan
Setelah selesai, Gendis meminta Gerhana untuk mandi, ia sudah mengambilkan baju ganti yang dibawa Gerhana didalan kopernya
Gerhana yang tak biasa mandi dengan kamar mandi diluar membuatnya meminta Gendis untuk menungguinya diluar
"Pokoknya, lo harus nungguin sampe gue selesai!" Tegasnya
Gendis hanya mengangguk pasrah, tidak di Jakarta tidak di Malang, sikap arogannya tidak pernah berkurang sedikitpun pikir Gendis
Sejak kepulangan Gendis, kondisi Nenek Tini sudah lebih baik, ia sudah bisa duduk dan berjalan walau perlahan.
Nenek Tini, Gerhana, Gendis maupun sopir Gerhana yang bernama pak Encup sudah duduk rapi dimeja makan sederhana yang Nenek Tini miliki. Gendis menyendokkan nasi untuk Neneknya terlebih dahulu, kemudian mengisinya dengan lauk pauk. Setelah itu ia menyendokkan untuk Gerhana, barulah ia menyendok untuknya sendiri
Saat Gendis hendak menyuapkan nasi kedalam mulutnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang baru datang
"Nenek, Sam......" Samuel tak melanjutkan kata-katanya, sama halnya dengan Gendis, ia terkejut melihat Gendis sudah berada dirumah. Padahal dari kabar yang dia dengar bahwa Gendis sedang diculik
Samuel memutuskan pulang ke Malang untuk menengok Nenek Tini dan memastikan tentang kebenaran itu. Tak jauh beda dengan Gendis, Samuel pun baru tiba di Malang siang ini
Sebenarnya Samuel dan Gendis berada dalam satu pesawat yang membuat mereka tak bertemu adalah Gendis dan Gerhana duduk di business class sedangkan Samuel duduk di economy class
"Manda," Samuel serasa tak percaya melihat gadis yang teramat sangat ia rindukan
"El!" lirih Gendis dengan mata berkaca-kaca
Samuel berlari menghampiri Gendis, sedangkan Gendis langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Samuel. Tanpa aba-aba Samuel langsung memeluk Gendis erat dan Gendis pun membalas pelukan Samuel sama eratnya
Sedangkan Gerhana menatap adegan itu dengan raut wajah tak bisa dibaca. Saat melihat Samuel, Gerhana seolah teringat akan sesuatu, tapi apa pikirnya
__ADS_1
"Sketsa! Ya, dia yang ada disketsa itu" Gerhana hanya bisa membatin melihat Gendis dipeluk Samuel
Gendis terisak didalam pelukan Samuel, ia ingin menceritakan semuanya. Namun ia sudah berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang kejadian malam itu. Gerhana sudah terlalu baik hati mau membebaskan dan mengantarkannya pulang
Gendis mengajak Samuel ikut bergabung untuk makan malam bersama. Samuel melirik Gerhana lalu menatap Gendis penuh tanya
"Nanti aku ceritakan." Ucapnya dengan isyarat
Setelah makan malam, Gendis mengajak Samuel untuk duduk diteras rumahnya. Rasanya sudah sangat lama sekali ia meninggalkan rumahnya
"Manda!" Panggil Samuel setelah saling diam dengan pikiran masing-masing
Gendis menengok
"Siapa pria itu, Nda?" Tanya Samuel
"Dia yang sudah menyelamatkan aku, El" Jawab Gendis lirih
"Maksudmu? Apakah dia yang menyelamatkanmu dari penculik itu?"
Gendis menggeleng "Saat aku kabur dari penculik itu, aku bertemu dengan para penjahat dan dia yang menyelamatkan ku" Jawab Gendis tidak sepenuhnya berbohong
"Maafkan aku, Nda! Yang tidak bisa menjagamu disana." Ungkapnya penuh sesal
"Ini bukan salahmu, El! Bahkan disana kita tidak pernah bertemu, lalu bagaimana kamu akan menjagaku?"
Samuel menunduk sedih, ia sangat menyesal karena tidak mampu melindungi sahabatnya
Gendis menggenggam jemari Samuel, "Semua sudah terjadi dan aku bisa melewatinya, dan kamu lihat, El! Aku baik-baik saja." Ungkap Gendis, sungguh hatinya begitu perih membayangkan hidupnya. Tapi ia tak ingin membuat Neneknya dan Samuel bersedih
Samuel kembali memeluk Gendis erat untuk menumpahkan kerinduannya
Mereka menikmati malam dengan canda tawa dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengawasi dengan raut tak terbaca
***
Jangan lupa dukung Mawar dengan tinggalkan jejak ya gaes,
__ADS_1
Caranya like, komen dan vote. Biar Mawar tambah semangat up nya
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘