
Entah, ada apa dengan takdir, terkadang ia begitu baik, tapi terkadang ia begitu kejam. Ia bisa dengan mudah mempertemukan dan mempersatukan tapi ia juga bisa dengan mudah memisahkan dan menghancurkan ~ Samuel Gionino Petrus
Samuel kembali kerumahnya dengan perasaan yang hancur lebur, cinta yang selama bertahun-tahun tumbuh subur kini seolah dipangkas secara paksa oleh takdir.
Seandainya boleh meminta, ia ingin dilahirkan kembali dengan tanpa adanya tembok tak kasat mata yang memisahkan dirinya dan gadis yang ia cintai
Ia menyetandardkan motor maticnya, kemudian ia berjalan gontai masuk kedalam rumah, hatinya benar-benar hancur, pikirannya kacau, dan batinnya menangis meraung-raung
"Sam, kamu kenapa, Nak?" Maria bertanya
Samuel berjalan ke arah Bundanya dan tiba-tiba ia memeluk lalu menangis dalam pelukan Maria, biarlah dikata cengeng. Tapi hati Samuel benar-benar hancur saat ini
"Apa yang terjadi, Sam?" Maria sangat bingung melihat putranya yang tiba-tiba terlihat rapuh
Samuel hanya bisa diam dengan air mata yang terus menetes
"Apa Nenek Tini tidak baik-baik saja, Sam?" Maria semakin bingung karena putranya hanya diam dengan air mata yang terus menetes
"Apakah ada cinta yang salah, Bunda?" bukannya menjawab, Samuel malah balik bertanya
"Tidak ada cinta yang salah, Sam," Maria menggenggam tangan putranya "Yang salah itu cara kita menempatkannya." Lanjutnya
"Kenapa kami berbeda, Bun?" ucap Samuel dengan tatapan sendunya, "kenapa kami tidak dilahirkan dengan keyakinan yang sama?"
"Apakah aku salah jika aku mencintai dan menginginkan bersanding dengan dia yang tidak seiman denganku?" Samuel nampak begitu kacau
"Apakah aku salah jika memaksa untuk menghancurkan tembok tak kasat mata yang jadi pembatas kami?"
"Kenapa takdir begitu kejam pada kami, Bun? Kenapa kami dipertemukan jika akhirnya dia dipersatukan dengan orang lain!"
Sekarang Maria tau arah pembicaraan putranya dan kenapa dia serapuh ini. Ini lah yang Maria takutkan sedari dulu, jika salah satu dari mereka menemukan cinta yang seiman, maka salah satunya akan terluka
Namun jika memaksakan untuk terus bersama merekapun tak bisa, dengan alasan kuat masing-masing.
"Bukan takdir yang kejam, Nak," Maria menghela napasnya sebelum melanjutkan ucapanya, "Setiap insan diciptakan berpasang-pasangan, jika Gendis menemukan pasangannya, suatu saatpun kamu pasti menemukan pasanganmu juga.
"Terkadang dua orang yang saling mencintai tidak bisa saling memiliki dengan alasan yang kuat, kita boleh mencintai siapa saja, tapi kita tidak boleh egois harus bisa memilikinya." Maria terus mencoba memberikan pengertian kepada putranya
Samuel mencoba memahami setiap kata yang diucapkan Bundanya
__ADS_1
"Jika kamu mencintainya, ikhlaskan dia, biarkan dia bahagia walau tidak bersamamu," Maria menatap dalam manik mata putranya "Apakah kamu mau egois untuk dia hanya mengharapkanmu, tapi kamu tidak bisa mewujudkan harapan itu?"
"Tentu kamu tau, menunggu itu hal yang membosankan, apalagi menunggu tanpa kepastian."
***
Sinar jingga dari sang mentari yang masih bermalas-malasan untuk beranjak keperaduannya, kicauan burung yang saling bersahutan, serta wangi aroma embun pagi ditambah pemandangan yang masih terselimuti kabut, membuat mata betah berlama-lama memandang.
Gerhana ingin menikmati paginya dengan berjalan-jalan keliling kampung, ini adalah kali pertama baginya datang dan singgah diperkampungan membuatnya ingin mengeksplor semua yang ada didaerah sini
"Gue mau jalan-jalan sebentar, apa lo mau ikut?" Tawarnya kepada Gendis
Gendis menggeleng lalu menulis dilayar ponselnya "Tuan Muda, sebaiknya anda tetap beristirahat karena ini masih terlalu pagi, disini cuaca sangat dingin dipagi hari."
"Gue oengen menikmati pemandangan disini, nampak masih sangat asri, beda dengan kota Jakarta yang banyak polusi," Ucapnya
Nenek Tini yang mendengar kalau Gerhana ingin berjalan-jalan pun segera meminta Gendis untuk menemaninya
"Nduk, kamu temenin Gerhana jalan-jalan, kasian nanti dia nyasar!"
Gendis akhirnya mengangguk dengan malas dan mengikuti kemana Gerhana akan mengajaknya berkeliling
"Saya mau jalan-jalan, pak! Bukan mau berkeliling naik mobil," Ucapnya dingin
"Baik, Tuan!" Jawab Pak Encup
"Siapkan segala sesuatu untuk akad nikah nanti jam sepuluh!" Ucapnya sebelum pergi
Dari percakapan yang dilakukannya dengan Nenek Tini semalam, hasilnya adalah Gendis dan Gerhana akan menikah hari ini jam sepuluh pagi. Hanya acara akad nikah biasa, sedangkan untuk mengurus buku nikah dan lainnya akan dilakukan Gerhana setelah tiba di Jakarta.
Gendis dan Gerhana berjalan menyusuri sawah dan ladang yang menghijau, sungguh pemandangan yang memanjakan mata pikir Gerhana
Saat berjalan di perbatasan antara petak sawah satu ke yang lain karena kurang berhati-hati akhirnya Gerhana terpleset dan jatuh terduduk disawah yang belum ditanami
"Sial*n," Gerhana mengumpat kesal, "tolongin gue, Ndis!" teriaknya, karena Gendis sudah berjalan dahulu didepan
Gendis menengok, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Gerhana yang tengah terduduk dilumpur. Ingin sekali rasanya Gendis tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Gerhana
Gendis tersenyum dan menghampiri Gerhana, ia mengulurkan tangannya untuk pegangan Gerhana agar bisa bangkit dari lumpur. Namun bukannya bangkit, Gerhana malah sengaja menarik Gendis hingga terjatuh menindih tubuhnya
__ADS_1
Sesaat mata mereka saling bertemu, tanpa sadar Gerhana memiringkan wajahnya lalu tangannya meraih tengkuk Gendis, kemudian ia menyentuh bibir ranum itu dan mel*matnya dengan lembut, ia semakin memperdalam ciumannya saat Gendis hanya diam terpaku
Ini adalah pertama kalinya bagi Gendis, dia benar-benar terkejut dengan tindakan Gerhana yang tiba-tiba menciumnya. Gendis tersadar saat tangan Gerhana dengan nakalnya menjelajahi lekuk tubuhnya dan membuka kancing piamanya
Ia mendorong dada Gerhana agar melepaskan ciumannya, memang mereka akan menikah hari ini, tapi perbuatan ini tidaklah dibenarkan bahkan diharamkan saat belum menjadi pasangan yang sah
Gerhana tersadar saat Gendis mendorong dadanya, dan segera melepaskan ciuman mereka. Melihat bibir ranum yang nampak memerah karena ulahnya serta wajah merona Gendis membuat adik kecilnya turn on
'Sial*n, tahan Ge, tahan. dia masih anak-anak Ge, ingat!' Batinnya memperingati
Gerhana mengancingkan kembali piyama Gendis yang sudah terbuka dua kancing, "Maaf" Ucapnya
Mereka lalu berjalan beriringan saat pulang, disepanjang jalan mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing
"Kapan pulang, Nduk?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang kebetulan berpapasan dengan Gendis
"Kemarin, Pakde," tulis Gendis, Lelaki paruh baya itu adalah Pakde Karji, tetangganya
"Loh ini siapa, kok badannya kotor sekali?" tanya pakde Karji menatap Gerhana
Gerhana mengulurkan tangannya "Saya Gerhana, calon suami Gendis, dan kami tadi jalan-jalan disawah, lalu saya terpeleset karena jalannya terlalu licin," Gerhana menjelaskan
"Malah arep nikah wesan? Ganteng banget meneh calon e" ucap Pakde Karji
*Malah sudah mau nikah? Ganteng banget lagi calonnya
Gendis hanya tersenyum menanggapi. Dan Gerhana hanya diam karena tidak tau artinya
Mereka kemudian kembali melanjutkan langkahnya setelah berbasa basi dengan pakde Karji
***
Halo readers, gimana kabar? Sehat selalu kan?
Jangan lupa selalu jaga kesehatan diri sendiri ya dimusim seperti ini, banyakin makan buah dan sayur-sayuran, serta perbanyak minum air putih.
Karena sehat itu mahal, gaes! Dan jangan lupa selalu berdo'a agar selalu dilimpahkan kesehatan
Salam sayang dari Mawar, peluk cium via online🤗😘
__ADS_1