Tawanan

Tawanan
Bab 8


__ADS_3

Tak terasa sudah dua bulan Gendis bekerja di jakarta, tak lupa setiap gajian ia mengirimkan uang untuk biaya hidup neneknya


Cita-cita untuk kuliah itu masih ada, keluarga Lusi pun mendukung untuk Gendis melanjutkan kuliahnya. Mereka sudah menganggap Gendis seperti anak sendiri, Abi pun sering kali menawari Gendis untuk melanjutkan study nya


Tapi seorang Gendis tidak pernah ingin merepotkan orang lain, ia terpaksa menunda keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya. Ia sudah mulai mengumpulkan uang dari hasil gajinya yang sebagian untuk nenek nya dan sebagian ia tabung untuk kuliah tahun depan


Gendis sudah membulatkan tekad untuk melanjutkan pendidikannya tahun depan, biarlah setahun ini ia bekerja mengumpulkan uang untuk biaya kuliah nantinya


Malam ini ia begitu gelisah, ia mencoba memejamkan matanya untuk berselancar kedunia mimpi namun nyatanya tak bisa


Ia keluar mengambil wudhu untuk sholat malam, setelah sholat ternyata pikirannya masih saja gelisah


"Ada apa ini? Kenapa malam ini aku nggak bisa tidur!" Gumam Gendis


Ia mencoba beristighfar sebanyak-banyaknya agar ia bisa terlelap. Namun nyatanya ia masih tak bisa memejamkan mata indahnya


"Apa mungkin karena aku kangen nenek, jadi sulit tidur" pikir gendis "Seandainya Mbok Minah ada, paati aku tidur dikamarnya!"


Mbok Minah sedang pulang kampung, karena putrinya sedang melahirkan. Ia berjanji hanya dua minggu di kampung, dan sekarang baru satu minggu yang berarti masih satu minggu lagi Mbok Minah baru akan kembali


Gendis begitu merasa kesepian sejak Mbok Minah pulang kampung, tapi beruntunglah masih ada Abi yang sering mengajaknya jalan-jalan untuk menghilangkan suntuk


Abi memutuskan untuk mengurus perusahaan papanya yang ada di Indonesia, sedangkan yang di England ia serahkan kepada asistennya disana


Abi merasa menemukan sosok adik dalam diri Gendis, ia dan orang tuanya begitu menyayangi Gendis. Bahkan mereka berencana bulan depan untuk datang ke kampung halaman Gendis di Malang


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01:30 dini hari, namun mata gendis masih belum bisa terpejam. Pikirannya begitu tidak enak


Gendis keluar kamar untuk mengambil minum di dapur, namun ia mendengar keributan di ruang keluarga


"Siapa ribut malam-malam gini?" Gumam Gendis


"Kalau Bapak sama Ibu nggak mungkin, mereka tidak pernah berbicara keras selama ini!" Gendis terus bergumam dengan pikirannya sendiri


"Apa mas Abi?" Gendis bertanya pada dirinya sendiri


"Aaaah nggak mungkin, Mas Abi bilang hari ini ia tak pulang karena ke Bandung!"


"Atau jangan-jangan perampok?" Gendis bergidik ngeri membayangkan


Gendis yang penasaran akhirnya memutuskan untuk mengecek keadaan


Ia berjalan pelan menuju ruang keluarga, dan betapa terkejutnya ia melihat Guntoro dan Lusi sudah tersungkur bersimbah darah


Dengan wajah sepucat mayat dan tubuh yang gemetaran, Gendis berlari kearah Guntoro dan Lusi tapi suara Guntoro menghentikan langkahnya

__ADS_1


"Pergi, Nak! Lari lah! Jangan kemari!" Teriaknya, ia masih bisa berteriak meminta Gendis pergi walau darah sudah mengucur dari pahanya


Sedangkan Lusi sudah terkulai lemah dengan luka tembak didadanya


Belum sempat Gendis bergerak untuk menyelamatkan diri ataupun menyelamatkan Guntoro dan Lusi, secepat kilat para penjahat itu menyergap Gendis dan membekap mulutnya dengan menggunakan sapu tangan yang sudah diberi cairan bius


"Gendiiiis!" Teriak Guntoro yang masih bisa didengar oleh Gendis, setelah itu Gendis kehilangan kesadarannya


"Lepaskan dia, dia tidak bersalah! Tidak ada hubungannya dengan kalian!" Guntoro terus berteriak dengan sisa tenaga yang ada


"Kumohon lepaskan dia!" Lirihnya kemudian tak sadarkan diri karena darah yang terus mengalir


"Bawa dia!" Ucap seseorang yang menggunakan maskerbdan topi


"Baik Tuan!" Ucap mereka, kemudian membopong tubuh Gendis dan memasukkannya kedalam mobil


Mereka lalu melajukan mobilnya membelah malam dan meninggalkan kediaman Guntoro yang bersimbah darah


Flashback On


Dua orang pria tampan, sedang duduk diruang kerja. Salah satu dari mereka sedang menyesap kopi dengan santainya


"Apa rencana Lo sekarang?" Tanya pria tampan yang duduk di sofa sambil memainkan gawainya


Ia melatakkan kopinya diatas meja, kemudian ia berjalan kedekat jendela dan menatap kosong keluar "Gue rasa udah cukup ngebiarin mereka bahagia selama ini, bukan?"


"Lo udah tau kan jawabannya!" Ucapnya dingin dengan masih menatap kosong bintang yang bertaburan


"Baiklah, kita eksekusi malam ini!" Ucap pemuda lainnya


"Siapkan segalanya, jangan sampai meninggalkan jejak setitikpun!" Ucapnya lalu menatap temannya dengan seringai mengerikannya


Pemuda satunya lalu keluar ruangan tersebut dan melajukan mobilnya kesuatu tempat. ia mengumpulkan anggotanya disebuah tempat yang serupa base camp


"Kita eksekusi malam ini!" Ucapnya datar


"Baik Tuan!" Ucap mereka kompak


Terdapat sepuluh orang diruangan tersebut yang memang secara khusus direkrut untuk misi ini


"Retas semua CCTV yang ada disekitar rumah target!" Ucapnya


"Kirimkan makanan untuk satpam komplek dan berilah cairan bius agar mereka pingsan!" Ucapnya mulai menyusun rencana


"Siap laksanakan, Tuan!" Jawab mereka serentak

__ADS_1


Pria datar tersebut lalu melajukan mobilnya menuju kembali membelah jalanan Ibu kota yang macet karena lalu lalang para pengendara


Tepat pukul 12 malam, 3 buah mobil sudah terparkir sempurna dikomplek perumahan mewah pondok indah


Tepat pukul satu dini hari, mereka keluar dari mobil tersebut, terdapat dua belas orang dengan pakaian serba hitam dan menggunakan masker serta topi masuk kesalah satu rumah mewah di komplek tersebut


Mereka nampak sudah begitu profesional saat hendak membuka pintu, tanpa menimbulkan suara dan tidak meninggakkan kerusakan. Mereka lalu masuk dan menuju kamar target


Sebelum melakukan eksekusi, mereka terlebih dahulu meretas semua CCTV yang ada dikomplek tersebut untuk menghilangkan jejak dan mempermudah menemukan kamar target


Para security pun saat ini tengah pingsan setelah menyantap makanan yang diberikan oleh salah satu pelaku, dengan dalih ia diminta untuk membagi-bagikan makanan oleh target


Setelah masuk kekamar target, salah satu pelaku yang disinyalir adalah bosnya menyalakan lampu agar target beserta istrinya terbangun


Dan benar saja, mereka terbangun karena cahaya lampu yang menyala terang


"Si si siapa kalian?" Target bertanya dengan gugup


Tanpa menjawab pertanyaan target, sang bos memberikan kode agar anak buahnya membawa mereka keluar


Setelah tiba diluar, tanpa berbasa basi, Sang bos langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat dipilipis target, sedangkan salah satu dari pelaku yang disinyalir adalah wakilnya sudah siap menarik pelatuk pada pistol yang sudah tertempel sempurna dikepala istri target


"Mau apa kalian?" Istri target memberanikan diri untuk bersuara "Kalau kalian mau harta ambil lah!"


Bagi Lusi harta tidaklah penting dibanding keselamatannya dan Guntoro. Ya target tersebut adalah Guntoro dan keluarganya


"Kami mau nyawa kalian!" Ucap seseorang yang menempelkan pistolnya dikepala Lusi


"Siapa kalian?" Guntoro bertanya, firasatnya mengatakan bahwa pelaku adalah seseorang dari masalalunya


Tanpa menjawab pertanyaan Guntoro, pelaku dengan teganya menembak paha sebelah kiri Guntoro. Sedangkan pelaku yang lain menembakkan pistolnya tepat didada Lusi


Lusi tersungkur sambil memegang dadanya, Guntoro yang sama merasakan sakit seketika mendekati istrinya yang sudah terkulai lemah


"Ma, bangun, Ma!" Ucap Guntoro yang sudah tidak dapat didengar Lusi


Saat pelaku sudah bersiap untuk menarik pelatuknya kembali, tiba-tiba Guntoro berteriak


"Pergi, Nak! Lari lah! Jangan kemari!"


Flashback Off


****


**Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers

__ADS_1


Dengan cara tekan like, komen dan vote. Jadikan favorit jika kalian menyukai cerita ini**


Salam Samyang dari author, peluk cium via online๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2