
Hari telah berganti, tak terasa sudah empat bulan Gendis menjadi Nyonya Gerhana, hari demi hari yang mereka lalui begitu indah. Hidup Gerhana yang awalnya begitu dingin dan datar kini menghangat sejak kehadiran Gendis
Apakah Gerhana sudah mencintai Gendis? Jawabannya adalah sangat, sangat nencintai istrinya. Seorang pria arogan yang tak mengenal cinta kini bertekuk lutut di hadapan seorang Gadis kampung yang begitu polos
Sungguh kehidupan itu bagaikan roda yang terus berputar, tak ada musuh yang abadi dan tak ada teman yang abadi. Namun Gerhana selalu berdo'a agar gadisnya bisa menjadi teman hidup yang abadi
Cinta dan benci itu beda tipis setipis kulit ari, saat kau terlalu membenci seseorang, maka pikiranmu hanya akan dipenuhi oleh orang tersebut hingga seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya
Begitupun sebaliknya, saat kau terlalu mencintai seseorang dan menggantungkan seluruh hidupmu hanya untuknya, maka akan dengan sangat mudah bagi orang tersebut untuk mempermainkanmu, setelah itu timbulah kebencian yang mendalam didalam hatimu
Begitupun dengan Gerhana, yang awalnya menjadikan Gendis sebagai alat untuk membalas kematian orang tuanya, kini malah menjadikannya tawanan cinta untuk selamanya, semoga saja bisa untuk selamanya
***
Pagi yang mendung dengan rintik hujan yang mulai membasahi bumi yang gersang, membuat siapa saja enggan meninggalkan selimut hangatnya, tak lain halnya dengan pasangan pengantin yang sedang dimabuk cinta ini. Siapa lagi kalau bukan Gerhana dan Nyonya Mudanya
Gendis masih terlelap dalam balutan selimut dengan tangan kokoh yang selalu setia memeluk pinggang rampingnya. Setelah sholat subuh berjama'ah Gerhana mengajak istrinya untuk tidur kembali, kata tidur dalam artian yang luas
Gerhana yang telah terbangun lebih dulu mengusap perut rata istrinya dengan lembut, membuat sang empunya menggeliat karena merasa terganggu. Tapi bukanya membuka mata, Gendis malah memeluk pria tampan disebelahnya itu.
Gerhana sengaja membuka selimut yang menutupi tubuh polos mereka untuk mengganggu istrinya. Namun Gendis malah semakin membenamkan wajahnya didada bidang suaminya
"Sayang!" panggil Gerhana dengan terus menciumi pipi mulus istrinya
Dengan malas Gendis membuka matanya, "Hmmm" ucapnya dengan suara parau
Gerhana mengusap lembut perut istrinya dan memberikan kecupan bertubi-tubi, membuat Gendis menggeliat karena geli
"Hentikan, Sayang!" Ucapnya dengan memcoba mendorong wajah suaminya
"Sayang!" Gerhana kembali memanggil istrinya
Gendis menatap mata tajam suaminya
"Aku ingin, malaikat kecil segera tumbuh disini," ucapnya dengan mengelus perut rata Gendis
Gendis tersenyum memandang suaminya, "bukankah kita sudah berusaha dan terus berdo'a. Untuk urusan anak kita hanya bisa berpasrah kepada Allah, anak itu titipan, kita tidak bisa memaksa untuk meminta dan kita juga tidak bisa menolak saat kita diberi amanah," ucapnya lembut
Gerhana tersenyum, sungguh beruntungnya ia mendapatkan istri yang penyabar seperti Gendis
"Sayang, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" tiba-tiba Gerhana mendapatkan ide untuk mengajak istrinya keluar rumah, karena selama ini ia hanya sekali mengajak Gendis keluar saat ulang tahun Alice kala itu
__ADS_1
"Sepertinya bukan ide yang buruk," jawab Gendis, "tapi, aku takut akan membuatmu malu, Sayang." lanjutnya menunduk kala mengingat kejadian ia membuat keributan karena membanting Alice
"Aku tidak malu, tapi aku sangat beruntung karena mendapatkan gadis seistimewa dirimu, Sayang!" Gerhana mengecup kening istrinya
"Kalau begitu lepaskan tangamu dari perutku ini, aku akan mandi, Sayang!" ucap Gendis dengan menyingkirkan tangan suaminya
Tanpa aba-aba Gerhana bangkit dan membopong istrinya menuju kamar mandi, Gendis yang kaget menjerit histeris meminta untuk diturunkan
"Biarkan Tuan Muda untuk melayani, Nyonya!" ucapnya dengan tersenyum nakal
Akhirnya mereka mandi bersama, mandi dalam artian yang sangat luas seluas samudera
Setelah selesai dengan ritual mandi bersama, Gendis menyiapkan baju untuk suaminya dan dirinya sendiri. Gerhana membantu mengeringkan rambut Gendis dengan telaten
Kemudian mereka turun kebawah untuk sarapan atau makan siang, kalau untuk ukuran orang sarapan itu sudah terlalu siang, namun untuk makan siang itu masih terlalu awal. Para pelayan sudah tidak heran saat hari libur Tuan dan Nyonya mereka akan menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan didalam kamar
Setelah menghabiskan sarapannya, Gerhana meminta Exel untuk mengantarkan mereka dengan membawa beberapa bodyguards yang menjamin keselamatan Tuan dan Nyonya Muda
"Mau kemana kalian?" Tanya Banyu saat berpapasan dipintu utama
"Ngedate!" Jawab Gerhana singkat
"Nah gitu donk, sesekali Nyonya muda diajak jalan agar tidak bosan dan stres!"
Disepanjang perjalanan Gerhana tak henti-hentinya menggoda sang istri, membuat jiwa jomblo seorang Exel meronta-ronta karena merasa iri
"Bisakah anda berhenti membuat saya tidak fokus dijalanan, Tuan! " Batin Exel geram
Setelah tiba di Mall, Gendis memandang takjub pusat perbelanjaan yang ternyata milik RHC. Ia kemudian mengingat Abimana yang telah membawanya kemari
"Bagaimana kabar mereka sekarang?" Gendis hanya bisa membatin tanpa berani bertanya, ia takut jika Gerhana akan murka karena salah paham saat ia menanyakan keadaan keluarga Guntoro
"Apa yang ingin kau beli, Sayang?" tanya Gerhana
Gendis nampak berfikir, apa yang ingin ia beli, semua kebutuhannya sudah tercukupi oleh Gerhana. Bahkan masih banyak pakaian yang belum pernah ia gunakan dilemari
Gerhana mengajak istrinya ke toko perkengkapan wanita ternama, "pilih sesukamu, Sayang!" ucapnya dengan terus mengikuti langkah kaki istrinya
Semua pelayan berjajar rapi karena kedatangan tamu agung, yang tak lain adalah pemilik pusat perbelanjaan itu
Gendis sangat bingung, ia hanya terus berputar dan sesekali memegang dress atau atasan yang dipajang disitu, kadang sepatu, kadang tas, tapi tak ada satu puj yang menarik hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi mengambilnya
__ADS_1
"Bagaimana, Sayang?" tanya Gerhana lembut, sebenarnya ia sangat lelah tapi demi istri tercinta, jangankan hanya berjalan keliling pusat perbelanjaan keliling dunia pun ia rela, asalkan naik pesawat pikirnya
Gendis hanya menggeleng, tanda tak ada yang cocok menurutnya
"Bungkus semua yang sudah disentuh istriku!" ujarnya memberi perintah
"Baik, Tuan!" jawab para pelayan dan segera bergerak untuk mengambil semua dress, dalaman, sepatu dan tas yang sudah disentuh Nyonya Muda
"Sayang!" ucap Gendis seraya menggeleng tanda tak setuju
"Tidak masalah demi istriku tercinta!" jawabnya santai
"Bagini rasanya jadi istrinya sultan, semua yang tersentuh harus dibeli! Sebenarnya seberapa kaya suamiku itu?" Gendis membatin
Para pelayan toko sudah menyiapkan semuanya, dan segera memberikannya kepada para pengawal. Para pengawal nampak kesusahan membawa barang belanjaan Nyonya Mudanya, sedangkan Gerhana masih melakukan pembayaran
"Kita mau kemana lagi, Sayang?" tanyanya setelah selesai melakukan pembayaran
"Mau makan!" jawab Gendis
Gerhana menggenggam jemari istrinya seraya terus berjalan, "Mau makan apa? Masakan Jepang, Korea, Timur Tengah, Thailand, atau apa Sayang?"
"Terserah Tuan Muda saja!"
Gerhana sangat Gemas dengan jawaban istrinya, ia secepat kilat mengecup bibir ranum yang selalu membuatnya candu itu
"Ini tempat umum, Tuan!" Gendis mencubit pinggang suaminya dengan kuat
"A aaaampun, Nyonya!"
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sedari tadi dengan tatapan tajam menusuk
"Rasanya sudah cukup untuk kalian bersenang-senang, Sayang!" Ucapnya dengan seringai mengerikan
***
Hallo gaes, masih ada yang setia nunggu up nya TAWANAN?
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya gaes
Salam Sayang dari Mawar, peluk cium via online
__ADS_1
Satu lagi, jangan lupa selalu jaga kesehatan ya gaes, dengan makan makanan seimbang dan tidur teratur
Sayangi dirimu, karena sehat itu mahal