
Hamparan ladang dan sawah yang membentang luas, dengan hijaunya tanaman palawija, menjadi penyambut kala Gendis kembali ke Malang
Ia begitu merindukan suasana kampung halamanya, rasanya sudah terlalu lama ia meninggalkan tempat dimana ia tumbuh itu. Matanya menyapu pemandangan yang disuguhkan, rasa yang begitu sejuk dan damai
Disepanjang jalan ia tak sedikitpun memudarkan senyumnya, bayangan masa kecilnya seolah berlarian mengajaknya kembali kemasa itu, masa dimana semua terasa mudah dan indah, walau hanya tinggal bersama kakek dan neneknya
Gerhana tersenyum simpul melihat istrinya yang nampak sangat bahagia. Sedangkan Dion menatap putrinya dari kaca spion dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa rindu, sedih, kecewa dan amarah disana
"Apa kau bahagia, Sayang?" Tanya Gerhana dengan lembut
Pertanyaan suaminya membuat Gendis mengalihkan pandangannya kesamping, "tentu!" jawab Gendis, namun seketika wajahnya berubah sendu kala mengingat orang yang paling dirindukannya, yang menjadi tempat ia kembali sudah di pangkuan illahi
Gerhana menatap manik teduh istrinya yang berubah sendu, "ada apa?" tanya nya
"Aku rindu nenek, tapi sekarang nenek sudah tiada." Ucapnya dengan bulir bening yang mulai berjatuhan
Gerhana menarik istrinya kedalam dekapannya, "ikhlaskan nenek tenang disi Allah!" Gerhana mencoba menenangkan istrinya dengan terus mengusap lembut bahunya
Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi telah terparkir sempurna dihalaman rumah Gendis. Rumah yang dahulu selalu bersih, kini menjadi tak terawat dengan rumput yang tumbuh dimana-mana, bahkan menjalar hingga teras rumah
Bunga-bunga yang dulu tumbuh subur dihalaman rumah, kini layu bahkan banyak yang telah mati karena tak ada yang merawat. Lantai yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba, menjadi pemandangan yang mengiris hati Gendis
Sementara Dion menatap iba dengan rumah yang selama ini ditinggali putri dan mertuanya. Ia yang hidup bergelimang harta berbanding terbalik dengan putrinya yang hidup serba pas-pasan
Mereka kemudian bergegas untuk membersihkan rumah terlebih dahulu, Gendis bertugas membersihkan dapur, suaminya membersihkan kamar-kamar, sedangkan pak Encup sibuk membersihkan halaman, dan Dion membersihkan dalam rumah. Mereka semua adalah team yang solid dalam hal bersih-bersih
"Kalian tidak perlu repot seperti ini, Mas, Yah!" Ucap Gendis segan karena ia tahu bahwa suami dan ayahnya tidak pernah sekalipun memegang peralatan untuk bersih-bersih
"Wah, dia meragukan kemampuan kita, Yah!" Balas Gerhana dengan melirik mertuanya
"Kami para pria siap membantu wanitanya yang sedang kerepotan!" Dion menimpali dengan bangga, "bukan begitu, Ge?" Lanjutnya melirik sang menantu
"Benar sekali, Yah." Jawabnya bangga
Setelah dirasa bersih, Gendis segera memasak bahan makanan yang ia beli saat diperjalanan tadi. Tangannya dengan cekatan mencuci, memotong sayuran, memasak lauk pauk untuk mereka makan malam nanti
Gerhana yang sudah selesai dengan tugasnya, bersandar pada tembok dan melipat kedua tangannya seraya menatap sang istri yang sedang sibuk dengan masakannya. Ia berjalan mendekati wanitanya, kemudian
Grep
__ADS_1
Gerhana memeluk istrinya dari belakang, ia menyandarkan dagunya pada bahu sang istri
"Sayang, berhentilah menggangguku!" Ucap Gendis tanpa menengok, ia sudah terlalu hapal dengan aroma maskulin parfum yang dikenakan suaminya itu
Bukannya menjawab, Gerhana malah semakin mengeratkan pelukannya, ia hirup dalam-dalam aroma menenangkan diceruk leher istrinya
Gendis berbalik hingga berhadapan dengan suaminya, tangannya menarik leher suaminya agar menunduk dan mencium bibirnya singkat
"Aku harus memasak, Ayah dan Pak Encup pasti sudah lapar!" Ucapnya kemudian berbalik untuk membalik ayam gorengnya
"Aku lapar, ingin melahapmu sekarang!" Bisik Gerhana tepat ditelinga istrinya
"Sayang!" Gendis mulai kesal
"Baiklah, baiklah, Nyonya!" Ucapnya mengakhiri kejahilannya, "apa yang bisa saya bantu, Nyonya?" lanjutnya bertanya
"Tidak ada, Tuan! Lebih baik lekaslah mandi!"
Gerhana melihat tumpukan perkakas dalam bak pencuci piring, ia berjalan mendekat dan mulai mencuci piring satu persatu
"Sayang, sudahlah biar aku saja!" Cegah Gendis
"Tapi....."
"Aku bisa jika hanya mencuci piring, karena sering melihatmu!" sela Gerhana memotong ucapan istriny
Seumur-umur baru kali ini ia merasakan menyentuh sabun pencuci piring, namun ia merasa senang karena bisa menikmati momen romantis memasak bersama istrinya
Dion yang telah memyelsaikan pekerjaannya berjalan kedapur untuk mengambil minum, namun netranya menangkap keromntisan anak dan menantunya yang sedang memasak bersama, hatinya seketika basah, ia teringat momen-momen kala memasak bersama istrinya dulu
Flashback On
"Mas udah biar aku aja!" Ucap Anggi sembari merebut pisau ditangan suaminya yang sedang memotong bawang dengan berlinangan air mata
"Tapi, Mas mau bantu kamu Dek!" tolak Dion
"Ya udah, Mas cuci piring aja, dari pada potong bawang sambil nangis, nanti ingusnya jatuh ke bawangnya gimana?" Ucapnya bercanda
Akhirnya dengan berat hati Dion mencuci perkakas bekas masak istrinya. Setelah semuanya siap mereka kemudian menyantap hasil masakan istrinya bersama dengan penuh kehangatan dan canda tawa
__ADS_1
Flashback Off
Tak terasa netra Dion berembun kala teringat kenangan bersama istrinya, wanita yang paling dicintainya
Setelah selesai memasak dan semua sudah mandi, mereka berkumpul dimeja makan sederhana dirumah Gendis. Ia mempersilahkan pak Encup untuk mengambil makanan terlebih dahulu, lalu ia mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk suaminya, kemudian ayahnya, setelah itu ia mengambil makanan untuknya sendiri
Semua menyantap hasil olahan Gendis dengan lahap, Dion pun melahap semua yang diambilkan putrinya, ia ingat betul rasa masakan ini sama persis dengan masakan Anggi. Tiba-tiba hatinya kembali terasa sakit
***
Keesokan harinya saat mereka telah bersiap-siap untuk ziarah, tiba-tiba datang seorang wanita bertubuh dempal memeluk Gendis dengan lelehan air mata yang menganak sungai
"Kamu apa kabar, Nduk?" Ucap wanita tersebut setelah melepaskan pelukannya
"Alhamdulillah baik, Bude!" Jawab Gendis sopan
Orang tersebut adalah bude Sri, tetangga Gendis yang membawanya bekerja ke Jakarta dulu
"Kamu bisa bicara, Nduk?" Tanya Bude Sri terkejut karena baru pertama kali mendengar suara lemah lembut Gendis
Gendis mengangguk sebagai jawaban
"Gendis sudah sembuh dari trauma masa kecilnya, Bude," ucap Gerhana, ia kemudian mengulurkan tangannya bersalaman dengan Bude Sri
"Alhamdulillah!" Ucap Bude Sri turut bahagia
"Oh iya, Bude! Kenalin ini Ayahku, dan kalau yang ini pasti bude sudah tau kan!" Gendis memperkenalkan ayahnya
"Ayah?" Bude Sri semakin terkejut
Gendis mengangguk, "iya, dulu nenek memintaku untuk mencari ayah di Jakarta, karena suatu kesalah pahaman hingga membuat kami terpisah!"
Bude Sri semakin tak bisa membendung air matanya, ia menangis memeluk Gendis, "akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu, Nak!" Ucapnya disela tangis
Setelah itu pak Encup melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih diselimuti kabut menuju ke pemakaman
***
Jangan lupa jejak ya gaes, dan terimakasih buat yang udah nyumbangin Vote serta poin kalian buat Gendis dan Gerhana
__ADS_1
Salam Sayang buat kalen semua, peluk cium Via online🤗🤗😘